Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
pergi


__ADS_3

Andrew segera masuk kedalam rumah tanpa permisi. Dia melihat tubuh Caroline yang di masukan ke dalam mobil ambulans. Di sana juga hanya ada seorang mandor dan pelayan setengah tua.


Melihat Andrew yang datang dengan tiga orang gagah di belakangnya, Lena dan mandor mundur kebelakang.


"A..anda si..siapa?" tanya Lena dengan terbata.


Dia khawatir jika Andrew adalah salah seorang kerabat Caroline dan akan menuntut dirinya. Meskipun Lena tidak bersalah, tapi selalu hidup dibawah kukungan wanita yang senang mengancam, membuat dirinya sering ketakutan.


"Aku ayah Conrad. Dimana dia?" tanya Andrew langsung.


"Ah... didalam." Sahut Caroline dengan lega.


Andrew langsung masuk kedalam rumah. Melewati ruang tamu dan tangga yang masih memiliki noda darah. Andrew merasa sedih, jika anaknya harus melihat hal seperti ini. Suatu peristiwa yang ia khawatirkan akan membekas di masa kecil Conrad.


"Disini tuan," ujar Lena menunjukan ruang dapur.


Belum sempat Andrew masuk ke dapur, Conrad sudah berlari menyongsong dirinya. Conrad meloncat dalam pelukan Andrew dan menagis di dada ayahnya.


"Dadddyyyý... hikkks.... maafkan Conrad. Huaaa..."


Bocah itu menangis tersedu-sedu. Dia menumpahkan semua rasa takut nya dalam pelukan Andrew. Conrad merasa senang bertemu dengan Andrew. Meskipun dia tidak tahu, bagaimana pria itu bisa secepat itu menemukan dirinya.


"Tenanglah. Daddy disini. Kita pergi dari rumah ini ya." Ujar Andrew sambil mengusap rambut Conrad yang masih tersedu.


Di hadapannya Andrew yang tengah memeluk Conrad, melihat seorang bocah kecil yang tampak lusuh dan sedang memeluk bonekanya yang kumal. Gadis kecil itu berdiri dengan memeluk kaki pelayan.


Gadis itu memandang Andrew dengan tatapan penuh harap. Ada air mata menetes perlahan disana. Saat Andrew memandang dirinya, dia menenggelamkan wajah kecilnya di rok panjang yang dikenakan pelayan disampingnya.


Andrew mengira jika gadis kecil itu adalah anak dari pelayan tersebut. Dia hanya tersenyum dan mengangguk pada mereka berdua, sementara tangan gagahnya masih memeluk Conrad dengan penuh cinta.


"Ayo Conrad kita pergi dari sini." Andrew menegakan tubuh Conrad dan menyeka air mata anak itu. Kemudian dia menganggukan kepalanya pada Lena dan gadis kecil itu. Andrew menggandeng Conrad pergi.


Mereka melangkah bersama menuju keluar rumah. Conrad menggenggam tangan ayahnya, khawatir jika terlepas lagi. Sesaat dia melupakan keberadaan Francesca.

__ADS_1


Di depan pintu rumah, conrad menoleh kebelakang dan dia melihat Francesca dan Lena yang berjalan mengikuti mereka. Francesca memandang Conrad dengan penuh harap. Conrad teringat perkataan gadis kecil itu, " aku ingin memiliki mommy seperti mommy mu."


Saat itu Conrad menghentikan langkahnya dan memandang Andrew.


"Daddy, bolehkan aku meminta sesuatu padamu?" Tanyanya penuh harap.


"Katakan nak," jawab Andrew penuh kasih sayang.


Conrad memandang Francesca lagi.


"Bisakah daddy membawa Frabcesca bersama kita?" tanya nya dengan memohon.


Andrew menatap Conrad dan Francesca bergantian. Dia tidak mengerti.


"Dia adikku, dad. Dia anak dari Caroline." Ujar Conrad tanpa mau menambahkan kata mommy di drpan nama Caroline.


Andrew menatap gadis kecil itu dengan heran. Dia mengira jika gadis kumal itu adalah anak pelayan tersebut. Dia tidak menyangka penampilan Caroline yang glamour sangat berbanding terbalik dengan anaknya.


"Dia anak Caroline?" Tanya Andrew memastikan.


"Tapi, apakah dia mau ikut dengan kita?" tanya Andrew lagi.


Conrad tersenyum. Dia segera erjalan menghampiri Francesca.


"Kau maukan pergi denganku. Dia daddy ku. Kau mau kan bertrmu dengan mommy ku?" tanya Conrad dengan gembira.


Francesca tersenyum, matanya yang srlalu memancarkan ketakutan dan kesedihan, kali ini penuh harap. Francesca memandang pada Lena, meminta izin.


Lena yang mengerti arti tatapan mata Francesca, dia mengangguk. Dia sadar, gadis ini tidak akan bahagia jika terus berada di sisi Caroline. Jikalau Caroline meninggal, Lena merasa jika dirinya tidak akan bisa memberikan kebahagiaan yang sama, apalagi di rumah dengan bayang-bayang Caroline.


"Tuan, bisakah kau menjaganya? Anak ini mengalami banyak penderitaan. Saya hanya berharap, jika dia menemukan kebahagiaan di tempat yang baru." Ujar Lena memohon.


Andrew mengangguk. Conrad dengan gembira menarik tangan Francesca dan mereka masuk kedalam mobil.

__ADS_1


"Aku akan membawa dia malam ini bersamaku. Dan kita lihat apa yang bisa aku lakukan lebih jauh untuk nya." Ujar Andrew pada Lena.


"Aku berharap dia bisa lepas dari bayangan nyonya Caroline, tuan." Ujar Lena dengan berlinang air mata.


Andrew mengangguk. Dia pergi meninggalkan kediaman Caroline bersama dengan Raja. Sementara kedua pengawal nya tetap tinggal di rumah Caroline.


Sepanjang perjalanan di dalam mobil, hanya ada kesunyian. Conrad yang duduk di tengah bersandar pada bahu ayahnya. Sementara Francesca dengan boneka lusuhnya, sesekali melirik ke arag mereka.


Frances hanya memiliki ingatan samar akan ayah kandungnya. Pria itu meninggal ketika usianya baru tiga tahun. Francesca hanya mengingat sosok Manuel sang ayah dari foto yang diberikan oleh Lena. Dia bahkan tidak tahu apakah ayahnya seorang yang baik atau buruk.


Sesampainya di hotel. Andrew mengajak mereka untuk masuk ke kamar Penthouse. Dan Andrew sudah meminta pada reseptionist untuk menyediakan pakaian tidur dan pakaian ganti untuk Francesca.


Meskipun butik di hotel tersebut sudah tutup, dengan status Andrew sebagai penghuni Penthouse, secepat kilat mereka mengusahakannya.


Di dalam kamar penthousem Andrew menyediakan air hangat untuk kedua anaknya mandi. Dengan di bantu oleh Raja, Francesca bisa membiasakan diri dengan fasilitas disana.


Setelah mandi dan meminum susu hangat. Francesca naik ke atas kasur. Dia tidak dapat berhenti mengusapkan tangannya diatas sprei kasur dan juga memencet-mencet bantal. Ini pertama kalinya dia merasakan semua hal ini. Sprei yang hakus tanpa tambalan dan bantal yang empuk juga harus.


Raja melihatnya dengan heran. Tapi dia tidak bertanya. Dengan mengecup kening Francesca, Raja mengucapkan selamat malam. Francesca tidak menjawab hanya memandang Raja dengan persahabatan.


Di luar kamar, tampak Andrew sudah duduk diruang tamu menanti Raja.


"Bagaimana? Anak itu sudah tidur?" Tanyanya pada Raja.


"Sudah Tuan Andrew. Aku kasihan melihat dirinya. Dia tampak pertama kali merasakan pakaian baru, sprei yang halus dan tempat tidur yang nyaman," ujar Raja dengan prihatin.


Andrew mengangguk. Dia bisa melihat membayangkan perkataan Raja.


"Lalu, apa yang anda rencanakan dengan anak itu tuan? Kita tidak bisa begitu saja membawanya ke Miami."


"Aku mengerti. Oleh karena itu, kita akan tinggal beberapa hari di tempat ini. Kau pergilah besuk melihat keadaan Caroline. Bawa pengasuh itu bersamamu. Kita lihat situasinya, bagaimana kita bisa menolong anak itu." Perintah Andrew pada Raja.


"Baiklah tuan." ujar Raja.

__ADS_1


...💗💗💗💗💗💗...


__ADS_2