Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
S2 Mirip


__ADS_3

Setelah aktivitas membeli gaun dan pakaian untuk Andrew juga anak-anak selesai, keluarga kecil Andrew pergi ke mansion tuan besar Arthur. Tuan besar Arthur memilih untuk tetap tinggal di Manssion nya dengan alasan banyak kenangan disana. Meskipun demikian, terkadang dia datang berkunjung dan menginap di kediaman Andrew


Conrad tampak paling bersemangat karena semenjak akrab dengan ayah Andrew, Conrad sangat senang bermain dengannya. Bahkan hanya dengan mendengar dongeng masa kecil yang kebanyakan diceritakan oleh butler Markus.


"Grappa, waktu daddy seusia Conrad dia pinter apa gak?" tanya Conrad yang bersimpuh di pangkuan Arthur.


"Your daddy is always the best in his class." ( ayahmu selalu menjadi yang terbaik di kelasnya)


"Dia tidak pernah mengecewakan Grappa. Your Daddy selalu rajin belajar dan belajar bela diri." ujar Arthur mengenang masa lalu.


"Conrad tidak pernah itu belajar bela diri. Kenapa daddy tidak membiarkan Conrad belajar seperti daddy?" tanya Conrad sambil menoleh kepada Andrew yang bermain dengan Aaron di pangkuannya.


"Daddy pernah hampir diculik dulu, jadi langsung berinisiatif belajar bela diri." ujar Andrew tenang.


"Conrad mau."


"Mau apa? mau diculik?" goda Andrew.


"Ih... daddy. Mau belajar bela diri. Biar tidak ada yang berani ganggu Conrad dan bisa jagain adik Aaron." ujar Conrad dengan percaya diri.


Andrew dan Arthur tertawa mendengar semangat Conrad.


"Boleh. Nanti minta mommy masukan jadwal pada extrakuliler mu. Tapi ingat kau harus berkotmitmen untuk hal tersebut karena bela diri berarti juga melatih fisikmu." ujar Andrew dengan tegas.


"Siap daddy." ujar Conrad mantap sambil memberikan hormat kepada Andrew. Kemudian dia berpaling pada Arthur.


"Grappa kenapa daddy mau diculik?"


"Ya karena orang-orang tertentu yang malas bekerja dan hanya mengandalkan dengan pemerasan mereka berharap menjadi kaya."


jawab Arthur.


"Lalu apakah mereka ditangkap?"


Arthur mengangguk.


"Beruntung sekali daddy mu cerdik, dia tidak terkecoh dengan rayuan penculik dan segera memberikan kode kepada pengawal." cerita Arthur.


"Penculik itu menyamar menjadi salah satu pengawal yang menjemput daddy dari sekolah dengan alasan Grappa yang menyuruhnya. Beruntung daddy mengetahui sikap mereka yang mencurigakan. Daddy kemudian pura-pura hendak kembali mengambil handphone yang tertinggal dan mereka menerima umpan itu."


"Mungkin mereja tidak mau melewatkan kesempatan untuk memiliki handphone mahal yang mereka pikir selalu dimiliki oleh anak billioneir. Saat itu daddy juga menyadari jika kendaraan yang mereka pakai bukan milik Grappa."


"Jadi begitu kembali, daddy minta kepada satpam sekolah untuk menghubungi polisi sementara daddy menghubungi butler Markus. Dan ternyata pengawal dan supir yang biasa menemani daddy disekolah, sudah mereka buat pingsan." Andrew menceritakan proses ketika dia hampir diculik semasa kecil.


"Jadi, ingat Conrad, jika kau tidak mengenal siapa yang menjemputmu atau jikalaupun ada seseorang yang kau kenal datang menjemputmu tidak seperti biasanya, Conrad harus segera menghubungi mommy, memastikan jika benar orang tersebut menjemputmu dengan sepengetahuan Mommy." nasihat Andrew.

__ADS_1


Conrad mengangguk-anggukan kepalanya.


"Ingat, kau harus belajar dengan tekun dan bekerja dengan rajin, karena uang dari hasil mencuri ataupun dari pemerasan tidak akan bertahan lama, tetapi akal budi dan kecerdasan akan kau bawa seumur hidupmu." nasihat Arthur pada Conrad.


"Iya grappa." sahut Conrad dengan patuh. Dia tidak bisa membayangkan jika seandainya dia diculik dan hidup jauh dari keluarganya saat ini.


Conrad kemudian menoleh kearah sudut rumah dengan foto di dinding.


"Wah grappa kau menyimpan foto Cobrad disini?" ujar Conrad sambil berlari melihat foto di dinding.


Ini pertama kali nya bagi Conrad untuk berkunjung di rumah tuan besar Arthur dan dia benar-benar bersemangat untuk hal itu.


Itu sebabnya ketika dia melihat foto seorang bocah di dinding yang tampak seperti dirinya, Conrad langsung gembira.


"Mommy... ayo lihattt... grappa punya foto Conrad disini. Cakep ya?" ujar Conrad sambil menarik tangan Diana yang baru saja kembali dari ruang dapur dan membawa potongan buah.


"Wah, ceria sekali senyumanmu. Kapan grappa mengambil foto ini?" tanya Diana sambil mengusap rambut Conrad.


"Conrad ga tau, lupa." sahutnya ringan.


Diana memperhatikan foto tersebut. Ada yang berbeda meskipun sepintas mirip.


Warna rambut yang sedikit berbeda juga Diana tidak ingat jika Conrad memiliki pakaian tersebut.


"Ayo makan buah dulu. Aaron sama mommy ya." Diana mengangkat Aaron dari pangkuan Andrew dan mulai menyuapi anaknya.


Aaron tertawa girang kemudian dia mencoba menusukan garpu lagi dengan bantuan Diana, setelah berhasil balita itu mulai menjulurkan garpu buahnya kepada Conrad.


"Aaron mau menyuapi kakak yaaa. Aa kakak Conrad sini disuapi sama Aaron."


Conrad yang diseberang meja segera menjulurkan lehernya mendekati suapan dari Aaron. Dan kemudian dia melahapnya sambil tersenyum lebar sehingga membuat Aaron tertawa puas.


"Kau beruntung, bisa memiliki mereka," ujar Arthur lirih kepada Andrew.


Andrew tersenyum dan mengangguk.


"Dad, bukannya foto itu..."


"Iya itu foto kecil mu. Daddy juga baru menyadari, kalau kalian sangat mirip sekali. Seperti ayah dan anak kandung." ujar Arthur sambil memperhatikan foto di dinding.


"Banyak di dunia ini orang yang mirip, dad." ujar Andrew ringan.


Kenyataannya benar bukan, banyak sekali manusia di dunia ini yang mirip, apalagi kalau mirip dengan artis atau politikus maka akan langsung terkenal mendadak karena di sorot media. Itu yang ada dipikiran Andrew.


Mereka menghabiskan waktu hingga makan malam di kediaman Arthur. Dan Arthur menolak untuk ikut kembali ke Massion Andrew. Dia berjanji akan segera mungkin berkunjung ke kediaman mereka.

__ADS_1


Sesampai nya di Manssion, Conrad yang sudah sangat mengantuk di bopong oleh Andrew. Dia meletakan Conrad di tempat tidur dengan tidak lupa melepaskan pakaian anak itu perlahan dan menggantinya dengan piyama.


Di matikan lampu dan dinyalakan lampu tidur. Andrew mengecup kening Conrad. Dia begitu menyanyangi bocah itu sejak pertama kali bayi itu hadir dalam pelukannya.


Andrew meninggalkan kamar Conrad dan masuk ke kamar Aaron yang tampaknya sudah terbuai di tempat tidur. Dia menyentuh balita itu dengan telunjuk jarinya perlahan. Nampak mungil dan rapuh. Andrew mengecup perlahan kening Aaron sebelum meninggalkan kamar bayi nya.


Andrew kembali ke kamar utama, disana dia melihat Diana yang sudah mengenakan gaun tidur dan sedang mengoleskan krim malam di kulit wajahnya yang mulus.


Andrew mengalungkan lengannya di leher Diana dari belakang seraya menghirup aroma tubuh wanita itu


"Hemm... ayo ganti baju dulu dan cuci muka."


"Malas."


"Eh, kok malas. Itu gigi di gosok dulu, nanti keropos sebelum tua, malu."


"Biarin."


"Kalau copot terus ompong gimana?"


"Kan ada gigi palsu."


"Ih... dibilangin kok. Ayo ganti baju dan sikat gigi."


"Kalau aku ompong apakah kamu masih cinta?"


"Kalau ompongnya karena sudah tua dan keriput, tentu saja cinta. Tapi kalau ompong karena masih muda dan malas gosok gigi. Ogah ah... siapa yang mau menciummu? Apalagi kalau bibirnya tidak ada penyangga terus pesok ke dalam. Mau?" oceh Diana panjang lebar sambil mendorong Andrew kedalam kamar mandi.


Andrew terkekeh. Dia paling suka kalau melihat Diana mulai ceriwis. Mendengar kicauan wanita nya ini begitu lucu baginya.


Setelah membersihkan diri dan mengenakan boxer nya, Andrew menghampiri Diana yang sudah berbaring di tempat tidur dan memeluk nya dari belakang.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Andrew sambil mencium leher Istrinya.


"Foto di rumah daddy. Itu fotomu bukan?" tanya Diana yang masih mengingat foto yang terpajang di rumah Arthur.


"Hemh.." Andrew menggumam tanpa menghentikan aktivitasnya.


"Kau tampak identik dengan Conrad."


"Hemh.." sahut Andrew.


"Aaron juga pasti akan lebih mirip denganku nanti." ujar Andrew seraya membalikan tubuh Diana dan menatap lekat mata wanita nya.


"Tentu saja. Tetapi Aaron memiliki perpaduan dengan Asia dari ku. Sedangkan Conrad.. Ah... ah..." Diana tidak dapat melanjutkan perkataannya karena saat itu juga Andrew sudah mencium bagian inti tubuhnya sehingga dia tidak dapat berpikir lagi selain merasakan dan membalas setiap kecupan dan belaian dari suaminya.

__ADS_1


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


__ADS_2