Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
24. Awal Pertemuan


__ADS_3

"Briant cari informasi seberapa banyak Rachel tahu tentang Diana." Andrew langsung memberikan arahan kepada Briant ketika dalam perjalanan meninggalkan hotel setelah menuju ke Kantor Pusat.


"Mrs. Rachel? Seharusnya dia tidak tahu mengenai nona Diana." Briant tampak heran.


"Aku tadi bertemu dengan Merideth didalam. Tampaknya dia hendak memprovokasi Rachel untuk menyakiti Diana "


"Wanita itu memang sudah gila." Briant mendengus kesal.


"Betulkan dia gila. Aku sudah mengatakan itu padanya." Andrew tertawa sinis.


"Apakah dia mengambil visual anda?" tanya Briant lagi.


"Iya dan aku yakin dia mengirimkan pada Rachel."


"Apakah anda kuatir dia akan menyakiti Diana?"


"Benar. Gadis itu tampak begitu lemah. Aku tidak yakin dia bisa mengatasi Rachel."


"Anda yakin Mrs. Rachel akan terjun langsung mengambil tindakan?"


"Entahlah. Selama ini dia tidak memperdulikan aku dengan wanita manapun. Yang dia perdulikan hanya status sosial dan rekening. "


"Anda tidak perlu kuatir, saya akan mengurus nya. "


"Pastikan Meredith tidak berbuat macam-macam."


"Baik."


"Jangan lupa ubah tiket pulang pergi Diana dengan first class. Dia tak akan mengizinkan aku untuk membelikannya tiket. Hehhh silly girl.


Ingat Briant, aku tidak mau kehilangan yang satu ini. "


Briant mengangguk-angguk sambil melirik melalui kaca spion sepintas.


Andrew sudah berubah menurutnya. Selama ini dia tidak pernah perduli dengan wanita yang dia kencani. Tidak akan perduli apabila mereka saling menjatuhkan dan memperebutkannya. Dia hanya membiarkan mereka. Bagi Andrew wanita hanya kesenangan biasa penghilang penat dan stress karena kerja. Hiburan belaka. Gosip yang dimunculkan di tabloid manapun hanya bertahan beberapa hari, karena pada akhirnya wanita yang disorot pun selalu berganti sehingga tabloid pun kehilangan arah. Dengan para wanita itu bahkan tidak pernah tampak sekalipun Andrew memperlakukan mereka dengan perhatian dan kuatir seperti pada gadis kapal ini.


Memang Gadis yang satu ini tampak berbeda dengan wanita yang biasa dia bawa.


Sangat disayangkan dia terperangkap dalam jerat boss Andrew. Bahkan gadis ini tidak terlihat materilistis seperti wanita lain yang menemani Andrew karena uang.


Apakah akhirnya boss besar satu ini terjerat dalam pelukan gadis sederhana?


Tapi bagaimana nasib nya hidup bersama boss besar dengan segala konflik dan status sosial.


Semoga dia bisa tangguh dan menerima Andrew ketika mengetahui kebenaran tentang Andrew.

__ADS_1


Briant menghela nafas panjang melepaskan segala pikiran yang meresahkan.


"Apa yang kau pikirkan Briant?" Andrew yang mendengar suara helaan nafas Briant merasa heran.


"Maaf saya hanya berpikir apakah anda benar - benar serius dengan Diana?" hati - hati Briant bertanya.


"Entahlah tapi aku tidak mau dia lepas dari genggamanku. Aku ingin dia berada dalam pelukanku setiap hari dan menantiku di rumah sepulang kerja." Andrew terdiam sejenak. Merasa heran dengan kalimat yang diucapkan. Pengakuan sederhana yang tidak pernah terlintas dipikirannya sebelumnya.


"Entah kenapa aku bisa menginginkan seperti itu. Dia tanpa aku sadari banyak memberikan masukan positif." Andrew melanjutkan kalimatnya.


"Tapi, apakah anda tidak akan menyakiti dia ketika dia tahu kebenarannya?" Briant bertanya dengan nada pelan hampir seperti berbisik.


"Itu tugasmu! Kau harus pastikan dia aman tanpa ada Meredith dan Rachel mengganggunya."


"Baik boss." Andrew menganggukan kepala. Bertambah lagi tugas yang harus dia kerjakan.


*************


Beberapa tahun yang lalu.


Pesta tahunan Group pemegang saham inti yang dilakukan di sebuah restaurant di hotel Four Seassons kota M di negara Adikuasa , membuat pihak restaurant menutup reservasi .


Ruangan yang bisa menampung 500 orang hanya ditempati tidak sampai 200 orang kelas atas.


mempertemukan Para pemegang Saham Fantasy Cruise dan anak cabang cruise lainnya.


Jamuan makan malam kali ini bersifat buffet dengan seafood grill, ruangan restaurant yang terhubung dengan taman bunga menjadikan area yang bagus untuk acara mereka.


Acara dibuat sedemikian kekeluargaan , Tidak ada pembicaraan bisnis yang berat.


Para pemegang saham datang dengan keluarga mereka. Saling memperkenalkan diri dan menyapa. Gelak tawa diiringi alunan musik yang lembut.


"Andrew kenalkan ini sepupuku Merideth baru kembali dari negara A." Rachel memperkenalkan seorang wanita cantik berambut pirang keemasan.


"Hallo," Andrew tidak menghiraukan uluran tangan Meredieth.


"Keluarga Merideth mempunyai bisnis real estate di negara ini. Dan mereka sedang mengembangkan usahanya ke negara - negara lainnya." Rachel menjelaskan lebih lanjut tentang siapa Merideth.


Andrew hanya mengangguk dan tersenyum.


"Kau terlalu melebihkan Rachel. Aku hanya pemula." Meredith tampak merendahkan diri.


"Kau mungkin pemula tapi keluarga mu pemilik kerajaan bisnis real estate ternama. Andrew,mungkin kita bisa menggabungkan bisnis bersama."


"Usul yang bagus. Akan aku pikirkan." Andrew memandang Merideth sesaat. Wanita didepannya tampak sangat cantik dan memukau senja itu. Rambut pirangnya tampak berkilau keemasan dibawah sinar matahari yang hendak tenggelam.

__ADS_1


"Oke Andrew jaga sepupuku. Aku akan menyapa pemegang saham lainnya." Sebelum Rachel meninggalkan mereka, Rachel mendekati Andrew dan berbisik, " bersikap baiklah padanya agar dukungan semakin kuat berpihak padamu. "


"Meredith. Jaga Andrew okey. Jangan sampai diculik wanita lain." Rachel menggoda Dengan mengerlingkan mata.


"Jangan kuatir." Rachel tersenyum manis. Dan kemudian memanggil seorang waiter.


"Ambilkan setiap menu makanan di buffet dan bawakan kemari." Perintah Merideth.


Sesaat kemudian Pelayan datang dengan beberapa jenis makanan.


"Ayo kita makan bersama. Tidak perlu berdesakan dengan mereka. Membosankan." Andrew tidak menghiraukan perkataan Meredith dan hanya fokus menegak anggur merah.


"Kalau kau tidak menghiraukan ku akan aku suapi dirimu." Meredith memaksa.


"Baiklah." Andrew mengalah dan mulai menyantap makanan yang ada di meja.


"Ceritakan mengenai dirimu Andrew. "


"Tidak ada yang perlu aku ceritakan karena kau pasti sudah mengetahuinya. "


"Kau angkuh. Tapi aku suka dengan sikap angkuhmu." Meredith mengerlingkan matanya dan mulai mengusap kaki Andrew dengan telapak kaki nya.


"Dan kau wanita ramah yang selalu menebar pesona kepada pria manapun ."


"Hahahhahahahha Kau hebat sekali. Kau bisa langsung menebakku. Tapi tidak kepada semua pria, hanya yang menguntungkanku," Meredith tergelak kegirangan dan menegak champagne.


"Kau tahu, aku ada lah sekuntum bunga yang selalu mekar dan harum memikat setiap pria di sekitarku. "


"Iyaa kau bunga sedap malam, yang harum hanya di malam hari."


"Hahahhahahaha aku anggap kalimatmu sebagai pujian." Dan telapak kaki Meridith mulain mengusap paha Andrew.


"Aku dengar kau adalah seekor kuda yang perkasa. Perkasa dan tahan lama."


"Tentu saja. Tidak ada wanita yang bisa melupakanku setelah bersamaku. "


"Hahahhaha kita sama kalau begitu. Tidak ada seorang pria pun yang bisa melupakanku ketika sudah menyium aroma ku." Meredith mengerlingkan matanya. Menoleh kearah Rachel yang sibuk berbincang - bincang dengan tamu yang lain dan tidak menghiraukan keberadaan dirinya dan Andrew.


Kaki Meredith semakin berani mengusap jauh ke ************ dan menggoda keperkasaan Andrew.


Dasar Andrew playboy dia tidak merasa terganggu dengan tingkah Meredith dan membiarkan wanita itu bertingkah semaunya.


"Aku sudah selesai makan. Aku tunggu kau di kamar 1101. " Meredith melangkah pergi.


Tak lama kemudian Andrew melangkah pergi tanpa mengetahui Rachel memperhatikan mereka dengan tajam.

__ADS_1


__ADS_2