
Diana terbangun dari tidurnya karena dia mendengar suara keributan. Disana tampak Andrew sedang berargument dengan Jason.
"Cepat pergi!" ucap Andrew dengan kasar.
"Aku akan tetap disini sampai Diana bangun dan baik-baik saja."
"Itu tidak perlu. Pergilah. Terimakasih atas perhatianmu." ucap Andrew dengan sinis.
"Apa yang kalian ributkan?" tanya Diana heran.
"Kau sudah bangun sweety?"
"Kau sudah bangun sayang?"
Ucap kedua pria tersebut bersamaan
Kemudian mereka saling bertatapan dengan jengkel.
"Kau perlu sesuatu sayang?"
"Kau perlu sesuatu sweety?"
Kembali mereka mengatakan hal sama yang bersamaan.
"Hahahaha. Kalian lucu." Diana terpingkal melihat tingkah laku mereka.
"Tampaknya kalian cocok. Kenapa kalian tidak menjadi sahabat saja." kata Diana memberi saran sambil tersenyum lebar kepada kedua pria tersebut yang bertingkah seperti kanak-kanak baginya.
"Bersahabat dengan pria tua ini, tidak mungkin." sahut Jason dengan sinis.
"Siapa mau bersahabat dengan bocah ingusan sepertimu." sahut Andrew dengan ketus.
"Setidaknya aku masih single." ucap Jason menyindir.
"Kau! Keluar, kami tidak menerima pengunjung!" usir Andrew dengan sengit. Perkataan Jason membuat emosinya mendidih.
"Aduh, kamu ini suka buat ribut. Berisik!" kata Jason dengan cepat.
"Sweety, aku pulang dulu ya. Telphone aku bila pria ini membuatmu sedih. Penawaranku selalu berlaku." ucap Jason dengan lembut.
"Cepat keluar, tidak usah banyak bicara!" Andrew geram.
"Baby, daddy pulang dulu ya." Jason menyentuh perut Diana sekilas kemudian melirik Andrew dan menyeringai lebar ketika melihat Andrew bringas yang mana membuat dia menarik serta mendorong Jason keluar dari kamar pasien.
Di luar pintu Jason terkekeh, dia pergi berjalan menyusuri lorong sambil terkekeh membayangkan reaksi Andrew.
Karena sibuk dengan angannya, Jason tidak memperhatikan keadaan hingga bertabrakan dengan seorang gadis yang barus saja keluar dari lft.
"Hei! Lihat-lihat kalau jalan!" bentak Jason.
"Kamu yang perhatikan jalan! Masa Jalan dengan tertawa sendiri!" sahut Gadis itu tak kalah sengit.
Gadis itu kemudian berlalu melewati sisi Jason dengan cuek meninggalkan Jason yang terpaku.
*********************
"Apa yang dilakukan pria itu disini?" tanya Andrew dengan sebal.
__ADS_1
"Dia hanya menjenguk ku."
"Kenapa kalian tampak begitu akrab?" ada nada cemburu dibalik pertanyaan Andrew.
"Itu hanya perasaanmu." jawab Diana datar.
"Dia bahkan mengatakan kalau ini bayinya." Andrew tidak dapat menyembunyikan rasa cemburu dan kesalnya.
"Sudahlah Andrew, aku bahkan baru bertemu dengan dia kemarin. Dan dia membantu ku mengatasi Rachell." ucapan Diana membuat Andrew terdiam.
"Maafkan aku karena tidak pernah ada disisimu ketika hal itu terjadi." ucap Andrew dengan sedih.
"Aku tidak menyalahkanmu, bahkan aku tidak meminta izinmu sebelum keluar rumah." ucap Diana dengan lembut.
Andrew tersenyum dan menggenggam tangan wanita dihadapannya dan mengecupnya lembut.
Seberapa banyak wanita yang sudah duduk di kalangan atas dimana mereka sudah menikmati kekayaan dan kekuasaan masih berpikir dan mengutamakan perasaa pasangannya daripada dirinya sendiri? Tapi wanita ini seberapapun masalah yang terjadi, dia selalu tegar menghadapi dan selalu memikirkan perasaan pasangannya.
"I Love You." bisik Andrew lembut ditelinga Diana.
"Hayooo lagi ngapain?" suara seseorang membuka pintu membuyarkan kemesraan diantara mereka.
"Liaaaaa." pekik Diana kegirangan melihat adiknya tiba-tiba saja muncul dihadapannya. Tanpa sengaja dia mendorong Andrew dan melebarkan tangannya menyambut adik semata wayangnya.
"Kakak aku kangennn." Lia segera menghambur ke pelukan Diana. Kerinduan yang tersalurkan setelah dua tahun tidak pernah bertemu.
"Ehem." Andrew sengaja batuk, karena merasa tidak dihiraukan oleh kedua wanita dihadapannya selama beberapa saat.
"Hallo brother Andrew." sapa Lia tanpa melepaskan pelukan ke kakaknya.
"Bagaimana perjalananmu?" tanya Andrew sambil melirik posisinya yang tertukar oleh Lia.
"Bukannya Briant sudah mengatur orang untuk menjemputmu?" tanya Andrew dengan heran.
"Gak ada tuh. Aku akhirnya menghubungi Briant langsung dan naik taxi ke tempat ini."
"Kalau begitu aku akan memberitahu Briant untuk menghukum mereka yang bertugas menjemputmu." Andrew mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Briant.
"Tidak perlu hukuman, cukup teguran. Kasihan." kata Diana.
"Tapi kak, orang itu sudah menelantarkan aku. Lihat aku sampai kucel begini." Lia menggerutu.
"Tapi kamu baik-baik saja bukan? Tidak ada yang cacat. Kasihan, mereka pasti punya alasan kenapa sampai hal itu terjadi." kata Diana dengan lembut sambil membelai rambut panjang Lia.
"Dengar itu brother. Beruntung kamu memiliki kakakku. Awas kalau sampai disia-sia kan akan aku buat perhitungan!" ucap Lia dengan lantang.
Andrew yang baru saja selesai berbicara dengan Briant meletakan smarphone nya.
"Aku memang pria paling beruntung di dunia." kata Andrew dengan lembut sambil memandang Diana dengan sorot mata yang menghipnotis sehingga pipi Diana merona.
Lia memperhatikan semua itu.
"Huek! Sudah. Sudah. Kalian menjijikan." Lia bersikap seolah-olah hendak muntah.
"Eh, kakak lupa tanya. Kenapa kau tidak memberi kabar mau berkunjung?" tanya Diana dengan heran. Karena selama ini meskipun sering bertukar pesan, Lia tidak pernah memberitahu niat kedatangannya.
"Kan kejutan." sahut Lia dengan manja sambil merebahkan kepalanya di perut Diana.
__ADS_1
"Hei, awas baby!" kata Andrew dengan tiba-tiba seraya menarik tangan Lia menjauh kemudian mengelus perut Diana perlahan dengan lembut.
"Kau tidak apa-apa? Apa perlu kita minta dokter untuk usg? Sebentar akan aku hubungi brother Michael." kata Andrew dengan panik sambil mengambil smartphone nya kembali dan menghubugi dr.Michael.
"Aku tidak apa-apa, bahkan kepala Lia pun belum sempat di rebahkan diatas perutku." Diana menyentuh lengan Andrew menghentikan pria itu untuk menghubungi dr.Michael.
Tapi terlambat, suara dr. Michael terdengar diseberang sana.
Sementara Lia yang tidak mengerti menatap mereka heran.
"Apaan sih kalian berdua kenapa lebay sekali?"
"Apa itu lebay?" tanya Andrew yang tidak mengerti bahasa anak muda negeri seberang.
"Ah sudahlah, capek menjelaskannya." kata Lia sambil mengibaskan tangannya.
"Anak aneh." celetuk Andrew karena merasa heran dengan sikap Lia.
"Ada apa sih kalian ini, masa bersandar di perut kakak ku saja sampai sebegitu paniknya? Apa kakak sakit? Ada hal buruk kak? Ah, aku bahkan belum sempat bertanya kenapa kakak disini. Kau menyiksa kakakku ya?!" Lia memberondong semua pertanyaan dan pernyataan.
"Sudah Lia, tenang dulu. Kemarilah." Lia beranjak dari posisi berdirinya dan kemudian duduk di ranjang bersandar di bahu Lia.
Hal itu membuat Andrew berdehem lagi.
"Brother Andrew, cepat kedokter sana, pasti banyak virus di tenggorokannya." Perkataan Lia yang spontan membuat Diana tertawa sementara Andrew melengos kesal.
"Cepat katakan, ada apa denganmu kakak?" tanya Lia tanpa memperdulikan Andrew yang kesal.
Diana menatap Lia sejenak kemudian menundukan kepalanya. Dia ragu, takut dan malu mengatakan keadaan dirinya pada Lia. Sosok kakak sebagai panutan telah gagal dia lakukan.
"Kakak hamil." ucap Diana lirih.
"What's?" Lia tampak terkejut. Bibirnya membentuk lingkaran kecil yang lucu.
"Sebelas minggu." kata Diana lagi.
"Wah... Lia bakal segera jadi unty yaaa. Muah kakak cantik selamat ya." diluar dugaan Diana maupun Andrew, Lia memeluk Diana dan mencium kening kakaknya kemudian beralih ke perut Diana.
"Hei baby, ini unty Lia. Ingat-ingat ya suara unty yang cakep ini." Lia berbicara dengan nada yang lucu.
"Terimakasih adikku. Jangan marah ya Lia dan jangan tiru perbuatanku." rasa haru dan bersalah berkecamuk dalam hati Diana.
Lia hanya tersenyum kepada Diana, menepuk tangan kakaknya dengan lembut. Kemudian dia berbalik dan menatap Andrew dengan tajam.
"Brother, kapan kau akan menikahi kakakku?!"
ππππππππππππππππππ
Hallo sobat pembaca...
Jangan lupa like ya, biar author selalu semangat updated.
Sedih loh kalau like nya sedikit sedangkan viewers bya banyak.
Baca nya kan gratis dibayar dengan Like aja ya, hehehe kan gak mahal.
Ayooo yang lupa like ( klik jempol ) scroll lagi dari episode pertama ya.
__ADS_1
Terimakasih. π