
"Ayo kita kembali kekamar. " Ajak Andrew. Mereka kemudian bergandengan tangan meninggalkan loby.
Beberapa pasang mata yang sedari tadi melihat mereka, memandang dengan kecewa. Pemandangan indah telah pergi, Pria yang gagah, tampan, maskulin dengan wanitanya yang cantik, imut dan lembut. Mereka akhirnya kembali memandang pasangannya masing - masing dan menyakinkan diri bahwa orang dihadapannya adalah yang paling rupawan.
Sesampai nya di kamar, Diana masuk kedalam kamar mandi dan melepas pakaiannya mengganti dengan piyama tidur. Sengaja dia memilih piyama model tertutup berbahan satin yang lembut. Andrew pun selesai menggosok giginya dan duduk bersandar di tempat tidur.
"Kemarilah sayang." Andrew menepuk kasur disebelahnya. Setelah menyisir rambutnya Diana naik ke atas kasur dan duduk sambil menyandarkan kepalanya di bahu Andrew.
"Kau bahagia hari ini?" Andrew kembali mengulang pertanyaan yang sama .
"Tentu saja aku bahagia." Diana menjawab lembut.
"Venice adalah tempat yang indah bukan, kau bahagia disini?" Andrew kembali bertanya seraya membelai rambut Diana.
"Iya kota ini indah." Diana mulai meletakan tangannya melingkari badan Andrew.
"Dimanapun itu asalkan bersama mu aku bahagia. " bisik Diana lirih dalam pelukan Andrew.
"Aku ingin kau bahagia selalu disisiku." Andrew mengecup rambut Diana sambil memainkan rambutnya yang lembut .
"Apakah kau mau selalu disisiku dan percaya padaku?" Kembali Andrew bertanya .
"Tentu saja sayang. " Diana menengadahkan wajahnya menatap Andrew.
"Kau harus selalu disisiku, berjanjilah." perkataan Andrew sedikit aneh bagi Diana. Sangat jarang Andrew bersikap begitu serius dihadapannya. Apalagi nada suara dan pandangan matanya tampak begitu takut kehilangann diri nya.
Diana tertegun memandang Andrew, seakan mencari jawaban dari pertanyaan Andrew melalui tatapan mata nya.
"Berjanjilah kau akan selalu disisiku." Kembali Andrew menanyakan hal yang sama, kali ini dia membelai wajah Diana dan menatapnya tajam setengah memohon.
"Tentu saja aku akan selalu disisimu." Diana menikmati belaian jemari Andrew dan mulai mengecup jari itu ketika mengusap bibir nya.
"Dan kau berjanjilah tidak akan mencampakkanku. " Diana membuka suara menuntut hal yang sama.
"Tentu saja. Bagaimana mungkin kau berpikir aku akan mencampakkanmu." Andrew menjawab engan cepat dan bertanya dengan heran.
"Ah... aku tau seberapa banyak wanita yang disekelilingmu dan memperebutkan dirimu. Bahkan bergantian setiap waktu. " Diana sedikit cemberut mengingat hal itu dan ada nada sesak didadanya.
"Hhahahhaha... kau cemburu ?" Andrew menatap Diana yang diam tidak menjawab dan hanya mengalihkan pandangan matanya dari tatapan Andrew.
"Mereka tidak ada artinya dibandingkan dirimu. Mereka hanya berkerumun tetapi aku tidak pernah tertarik bahkan menyentuh mereka semenjak kau disisiku." Andrew berbisik lembut. Kalimat itu terasa indah di telinga dan Menghangatkan hati memberikan keyakinan pada diri yang terkadang gundah.
"Kau tahu , Aku mencintai mu dan akan selalu menggenggammu apapun yang terjadi. " Andrew berbisik lembut sambil mulai mencium bibir Diana lembut.
Ini pertama kali Diana mendengar Andrew mengungkapkan perasaannya. Kalimat Cinta yang diucapkan nya menggetarkan hati Diana, menyeruakan getaran indah di dalam dada. Moment ini akan selalu menjadi kenangan yang indah dan tak terlupakan bagi mereka.
__ADS_1
Ciuman Andrew mulai berubah dari lembut menjadi lebih menuntut. Tangannya mulai bergerak dengan aktif dan melepas kancing - kancing piyama Diana.
"Lain kali jangan memakai piyama ini. Terlalu lama membukanya. " bisik Andrew kesal dengan nada manja.
"Tidak. tidak. cukup. cukup. " Diana menghentikan gerakan tangan Andrew dan mulai melepaskan diri dari pelukannya. Nafas Andrew tersenggal dan menatap Diana heran.
"Kau perlu tidur sayang. Malam ini kita akan tidur saja. " Diana mengkancingkan kembali pakaiannya.
"Jangan begitu. Kau tahu aku menginginkannya. " Nafas Andrew masih tersenggal menahan gejolak dirii.
Cup. Diana mengecup pipi Andrew.
"Aku tahu sayang. Tapi tidak malam ini. "
"Tapi kenapa?" Andrew menarik kembali tubuh Diana kedalam pelukannya dan mengunci gadis itu dibawahnya.
"Kau butuh istirahat sayang. Seharian kemarin kau bekerja dan hari ini seharian pula menemaniku tanpa istirahat dari Roma sampai ke Venice." Diana menyentuh pipi Andrew yang diatasnya dengan kedua tangan.
"Tapi aku masih kuat. Kau tau staminaku hebat bukan." Andrew mulai mendaratkan ciumannya di leher Diana.
"Sudah hentikan. Staminamu memang kuat tapi kau juga perlu istirahat. Kesahatanmu yang paling penting. Kemarilah. " Diana mendorong tubuh Andrew kesampingnya dan menggulingkan tubuh besar Andrew agar memunggunginya. Kemudian di peluknya Andrew dari belakang seraya membelai rambut Andrew .
"Tidurlah yang manis sayang. Masih ada waktu besuk." berbisik lembut dibalik punggung Andrew.
Sesaat kemudian terdengar nafas Andrew yang mulai teratur dan dengkuran halus nya .
Diana membiarkan dirinya memeluk Andrew. Dia bersandar di punggung pria tersebut. Terasa nyaman dan hangat. Udara dingin di luar ruangan tidak dapat menembus ruangan kamar mereka apalagi ada mesin penghangat ruangan yang menyala memberikan kenyamanan.
"Kau jangan mencampakanku ya.. " Diana berbisik halus di balik tubuh Andrew.
hemmm... gumaman suara Andrew membuatnya tersenyum lebar menahan geli. Meskipun dia tidak tahu apakah Andrew mendengarnya atau mengigau dalam tidur. Akhirnya dia pun memejamkan mata dan tertidur .
Keesokan Hari nya.
Diana bangun pagi sekali, semalam hampir saja Dia susah untuk tidur, Karena entah berapa kali Andrew mengigau dan memeluk dirinya erat sambil mengucapkan kata jangan pergi... jangan tinggalkan aku.
Setelah fajar mulai menyingsing Diana memutuskan untuk bangun dan mandi terlebih dahulu. Ketika dia keluar dari kamar mandi tampak Andrew sudah bangun dan duduk di kursi disebelah jendela kamar yang besar.
"Kau sudah bangun sayang." Diana memberikan kecupan lembut di kening Andrew.
"he .eh . " Andrew menjawab singkat sambil memperhatikan gadis dihadapannya yang sedang mengeringkan rambut.
"Aku akan mandi kemudian kita akan sarapan dibawah dan pergi kepusat kota kemudian kembali dengan menggunakan gondola." Andrew beranjak menuju kamar mandi sementara Diana mempersiapkan dirinya untuk hari ini.
Udara pagi Venice dingin menyeruak masuk kesela sela coat yang dikenakan mereka. Eropa bulan awal November ini merupakan musim ini dingin, meskipun tidak ada salju. Matahari yang cerah pun tidak hanya bisa memberikan sedikit kehangatan.
__ADS_1
Mereka menikmati sarapan pagi di balkoni indah restaurant yang menyuguhkan pemandangan air dengan berbagai aktivigas dibawahnya.
Berlama-lama ditempat ini pun tidak akan membosankan. Setelah sarapan mereka berjalan menuju ke pusat wisata. Di st Marks Squere, area luas yang dikelilingi bangunan penting dan halaman luas ditengahnya dengan ratusan burung merpati yang terbang bebas merupakan pemandangan yang indah. Setelah puas berfoto dan bermain dengan burung merpati mereka melangkah kedalam bangunan museum yang dulunya merupakan istana penguasa Venecia.
Meskipun Diana tidak begitu mengerti tentang lukisan , dia tetap disisi Andrew yang tampak menikmati dan menilai indahnya lukisan disana.
"Kau menyukai ini?" Andrew menunjuk pada lukisan yang menggambarkan keadaan Venicia di malam ari dengan jembatan utama sebagi pusat lukisan. Paduan warnanya sangat indah seolah hidup.
"Iya indah sekali. Mengingatkan kita akan indahnya kota ini." Diana memandang lukisan tersebut. Semua lukisan memang cantik, tapi bagi dia ini memang berkesan. Membuay dia ingat pelukan hangat Andrew di jembatan tersebut semalam.
Andrew berjalan menghampiri seseorang , berbicata dengan bahasa Itally yang mirip dengan bahasa Spanish. Berbuay sesuatu dengan kartu hitamnya. 0 tak Lama kemudian mereka berjabatan tangan.
"Apa yang kau lakukan, apakah kau membeli lukisan ini?" tanya Diana heran karena Andrew kembali tanpa membawa apapun.
Andrew hanya tersenyum dan menggandeng tangan Diana keluar menuju ke Gereja tua yang selalu berdiri kokoh dan indah dengan mozaik berlapis emas.
Gereja tersebut merupakan salah satu tempat wisata yang ramai dikunjungi.
Andrew membawa Diana duduk di dalam Gereja.
"Sekarang kita disini. Meskipun kau bukan penganut agama Katolik. Tapi kau tahu kan Gereja adalah tempat yang sakral?" Diana menganggukan kepalanya.
"Berjanjilah disini bahwa kau akan selalu disisiku apapun yang terjadi. Kau akan menemaniku sampai tua." Kembali Andrew mengucapkan perkataan yang sama seperti semalam.
Diana memandang Andrew dan mengucapkan janjinya, "Aku berjanji akan selalu disismu apapun yang terjadi. " Dia berhenti sesaat dan kemudian berbalik bertanya, "Maukah kau berjanji pula bahwa kau tidak akan mencampakkanku dan selalu bersamaku selamanya?"
"Gadis bodoh! Tentu saja aku tidak akan pernah mencampakanmu dam akan selalu bersamamu. Aku berjanji. " kecupan di bibir Diana mengkunci janji Andrew.
Hari mulai sore, mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke hotel dengan menggunakan Gondola.
"Kau tau, meskipun aku beberapa kali berkunjung kesini, tapi menaiki gondola merupakan pengalaman pertamaku. " Bisik Andrew saat mereka menaiki Gondola dan duduk berdampingan sambil menikmati pemandangan .
Hallooo pembaca yang budiman. Semoga foto - fotonya bisa membawa pembaca ke suasana romantis yang dirasakan oleh Diana dan Andrew.
Selanjutnya updated agak sedikit terlambat ya, karena saya harus merevisi beberapa bab sebelumnya. Dan ada sedikit revisi judul dan cover ya. Semoga lebih menarik .
Terimakasih sudah setia menemani. Jangan lupa kritikan dan sarannya , juga like dan share yaaaa...
Trimakasih banyak pembaca yang budiman.
__ADS_1