
Aaron segera masuk ke dalam kamar nya. Remaja itu segera mandi, mencuci rambut dan mengeringkannya lagi. Kemudian merebahkan diri di atas tempat tidur. Dia masih sempat tertawa membayangkan wajah lucu Archie. Archie yang cemberut dan melotot padanya, karena gumpalan buruk yang dia perbuat pada Pastel tersebut.
Dia sudah melupakan rasa penasarannya akan Velina. Karena dalam pikiran Aaron, Velina adalah anak atau keponakan salah satu pegawai. Aaron terlelap, tanpa sadar jika jam sudah menunjukan pukul lima lebih empat puluh lima di sore hari. Dalam waktu tiga puluh menit lagi, dia harus berkumpul ke ruang makan.
Archie dan Anna masuk ke kamar Aaron tanpa mengetuk pintu. Dan mereka heran mwlihat Aaron yang tertidur pulas. Wajah Aaron mengarah ke langit kamar, sedangkan mulutnya terbuka. Archie dan Anna saling menatap dan tersenyum licik.
*******
Adelaide sudah bisa bernafas normal setelah menghirup oksigen murni. Dia kembali tersenyum lega. Adel menyentuh tangan Diana dan meminta wanita yang melahirkannya itu, untuk tidak lagi tegang.
"Mommy.... maafkan Adel ya, sudah membuat mommy khawatir lagi." ucap Adel dengam lembut.
"Oh anakku. Tidak perlu meminta maaf, nak. Dengan kau berjuang, mommy sudah bahagia." ujar Diana sambil membelai rambut Adel.
"Mommy... kenapa Adel begitu lemah dan selalu menyusahkan mommy?" guman Adel lirih.
"Sayang, kau tidak pernah menyusahkan mommy."
"Tetapi, Adel selalu membuat momy panik. Adel tidak bisa selincah Anna dan semanis Velina. Adel... Adell..." Nafas Adel kembali sesak ketika emosi nya naik turun.
"Sssttt Adel. Jika tidak ada Adel, maka mommy akan kesepian. Siapa coba yang menemani mommy? Saudaramu yang lain memiliki kesibukan sendiri. Hanya Adel manis yang setia pada mommy." ujar Diana lembut.
"Semua saudara mu, memiliki kesibukan dan bakat mereka sendiri. Coba lihat Adel, meskipun belajar dirumah, tetapi pintar sekali bukan? Bahkan jago melukis. Hmmm... mommy saja iri sama Adel. Mommy gak bisa apa-apa." hibur Diana sambil membelai rambut putrinya.
"Ih mommy. Mommy itu hebat. Mommy itu sabar, bisa beberapa bahasa asing, jago buat kue dan pandai merawat anak, suami juga tanaman." Adel balik memuji ibunya.
"Hahhaha iya iya. Nah kan, kalau Adel tidak ingatkan, mommy lupa lohhh."
Adel tersipu mendengar pujian Diana. Mereka berdua terus berbincang dan saling menyanjung satu sama lain. Karena fisik Adel yang lemah, Diana secara otomatis lebih dekat dengan Adel. Bahkan mereka bagaikan sahabat yang saling bertukar pikiran. Adel meskipun baru berusia sepuluh tahun, tapi dia anak yang cerdas dan lebih dewasa daripada usianya.
Saat mereka sedang asyik berbincang, Maria masuk membawa Velina yang tampak sudah rapi. Velina menghampiri Adel dan Diana kemudian duduk di sebrang tempat tidur Adel.
"Wah... Velina sudah mandi, harum ya. Tadi tepung nya tidak masuk mata kan?" tanya Diana.
"Tidak tante." jawab Velina dengan lembut.
"Velina bermain dengan Adel dulu yaaa. Tante mau cek dapur dulu."
"Iya tante." sahut Velina dengan ramah.
Diana tersenyum meninggalkan kedua anak yang hanya selisih satu tahun tersebut. Sudah beberapa kali Diana membawa Velina ke mansion. Namun, baru kali ini Velina tinggal hingga sore dan menginap.
Diana tidak pernah melupakan Velina. Meskipun Andrew melarangnya untuk mengadopsi Velina, tetapi Diana selalu mengirimkan dana khusus untuk gadis itu. Diana merawatnya melalui Pasangan Ron yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan anak panti asuhan.
Velina tetap bersekolah seperti anak panti asuhan lainnya, disekolah negeri. Gadis itu tumbuh dengan cantik dan pandai. Diana memohon pada pasangan Ron, untuk mengadopsi Velina menjadi anak mereka. Karena dalam lubuk hati nya dia, dia tidak rela jika Velina di adopsi orang lain. Diana tidak ingin Velina terlepas dari pengawasannya.
Andrew yang mengetahui perbuatan Diana, tidak melarangnya. Dia hanya memohon agar Velina selalu memakai pakaian tertutup dan tidak memamerkan tato di pundaknya. Tato itu semakin jelas seiring usia Velina. Andrew masih mengkhawatirkan asal usul Velina.
****
Di kamar Aaron, Archie dan Anna tampak sibuk mengerjai Aaron. Mereka sudah diam-diam masuk ke kamar Diana dan mengambil alat make up. Anna sudah memasang headphone ke telinga Aarron, mengalun kan lagu kesukaan Aaron.
Sementara dengan gerakan lembut mereka mulai merias wajah Aaron. Meletakan warna natural di wajah Aaron. Menorehkan lipstik berwarna merah menyala. Tidak cukup itu saja. Anna berlari ke kamar nya dan mengambil ikat rambut. Dia menguncir rambut poni depan Aarron menjadi dua.
Archie dan Anna tampak senang sekali berhasil mengerjai Aaron, yang seringkali membuat mereka berdua jengkel karena keusilannya. Anna mengambip ponsel Aaron. Mengabadikan riasan di wajah Aaron dan menjadikannya wallpapper.
Setelah puas. Archie dan Anna keluar dari kamar Aaron perlahan sambil mematikan musik di I tunes.
Kedua anak jahil itu kemudian masuk ke kamar Adel. Mereka berbincang dan saling bertukar cerita dengan Velina. Bagaimana keseruan di panti asuhan.
***
Conrad yang baru saja selesai menyewa sebuah flat segera pulang ke mansion dan mengatakan maksudnya pada Diana. Tentu saja Diana terkejut mendengar keinginan Conrad. Karena hingga Conrad berusia dua puluh tahun ini, dia tidak pernah jauh dari ibunya.
__ADS_1
"Apakah harus seperti itu? Apakah kau tidak akan kembali kemari lagi?" tanya Diana dengan sedih.
"Tentu saja aku pasti akan kembali lagi. Keluargaku kan ada disini. Aku hanya sesekali saja akan tinggal di flat. Ya... mommy kan mengerti maksudku. Aku hanya ingin mengenal dekat Ruby." kata Conrad dengan memohon.
"Kau begitu menyukai gadis itu?" tanya Diana.
"Hemm... Ruby mirip mommy." Conrad merebahkan kepalanya di pangkuan Diana. Mereka saat ini berada di ruang keluarga lantai atas.
"Apakah kau sudah mengenal dirinya dengan baik?"
Conrad menggeleng.
"Dia terlalu pendiam dan tertutup. Tapi aku menyukai sikap nya yang tampak selembut mommy." ujar Conrad menatap wajah ibunya.
"Sayang.... Kau sudah dewasa dan mulai mengenal Wanita. Harus kau ingat tidak selamanya orang yang mirip berarti sifat mereka sama. Dan tidak selamanya orang yang tampak baik pasti baik, demikian juga sebaliknya tidak selamanya orang yang tampak jahat itu berarti dia jahat." nasihat Diana pada putranya.
Kehidupan Diana ketika dia bekerja di kapal pesiar, dengan berkomunikasi lebih dari tujuh puluh nationality, dengan berbagai sifat dan kebiasaan. Dari sana lah Diana memahami jika apa yang tampak di luar belum tentu sama dengan isi hati nya. Penampilan terkadang mengecoh kepribadian.
"Kau tahu mommy?"
"Hmmm...?"
"Kau benar-benar sehati dengan daddy. Dia mengatakan hal yang sama jika penampilan tidak selalu menunjukan isi hati."
"Hahhaha benarkah?"
"Ah.. aku ingin menemukan pasangan yang tepat seperti Daddy menemukan mommy." gumam Conrad.
"Kau pasti akan menemukannya. Selalu utamakan doa dalam segala hal. Tapi jujur, mommy salut loh, Conrad mau belajar rendah hati dan mandiri. Semoga kau menemukan wanita yang tepat untukmu."
Conrad tersenyum bahagia mendengar nasihat Diana.
****
Jam segini, Andrew dan Conrad pasti sudah kembali ke Mansion. Dan biasanya mereka akan berkumpul, berbincang dan bercanda di ruang makan, hingga tepat pukul tujuh malam. Makan malam akan disediakan, begitu Andrew duduk bersama mereka.
"Ayo Velina, bergabung dengan kami. Kau bisa duduk disebelahku." ajak Adelaide.
"Tapi, aku malu semeja dengan kalian. Lebih baik aku bersama dengan pelayan saja di dapur." tolak Velina.
"Eh... jangan. Kau kan teman kami." ujar Archie.
"Iya. Ayo sudah. Nanti kau bisa duduk diantara aku dan Adel. Aman sudahhh." tambah Anna.
"Aku..." Si kecil Velina ragu. Ini pertama kalinya dia berada bersama dengan mereka. Kebaikan mereka membuat Velina terharu. Tapi, dia tetap tahu diri jika dirinya hanyalah tamu. Dan dia bisa seperti saat oni karena kebaikan dari nyonya rumah, yaitu ibu mereka. Tidak pantas Velina rasakan, jika tiba-tiba saja melunjak.
"Kita keluar saja dulu. Kita dengar apa kata mommy." ujar Archie.
"Atau kita bisa bersama-sama menemani Velina makan di dapur. Aku juga sering kok makan siang dengan mereka di dapur." celetuk Anna bersemangat.
"Betul kata Archie. Kita tanya mommy dulu." tambah Adelaide.
"Ayo kita bangunkan kak Aaron." Archie mengerdipkan mata pada Anna.
Anna cekikian. Kedua saudara kembar itu pun bergandengan tangan keluar dari kamar Anna. Sesampai nya di depan kamar Aaron mereka melakukan tabuhan musik di pintu sambil me yel-yel kan nama Aaron.
"dukk..Kak Aaron. dukk...duk.... kak Aaron. duk..dukk...dukk. kak Aaron."
"Kak Aaron tampan, bangun donggg. Ayo makan malammmmm." teriak Anna dengan suara lembut.
"Iyaaa aku bangun." sahut Aaron dadi dalam kamar. Dia masih duduk di pinggiran tempat tidur dan menggeliat ketika suara Anna dan Archie memanggil nya lagi.
"Kak ayooo cepat waktunya makan. Daddy sudaj datang lohhh." Teriak Anna dengan nyaring.
__ADS_1
"I'm comming!!!" teriak Aaron lagi.
Di luar kamar Adel dan Velina memperhatikan tingkah Archie dan Anna yang terasa aneh.
"Biarin saja kenapa. Kan nanti juga kakak turun."
ujar Adel.
"Ah benar. Ayo kita ke bawah saja Archie." Anna mengerdipkan matanya.
"Ayooo kita turun."
Mereka ber lima bertemu Diana di ruang makan.
"Mommy, apakah Velina akan makan malam bersama kita?" tanya Adel yang selalu duduk di sisi Diana.
"Tentu saja. Velina duduklah di mana kau suka. Kami semua adalah sahabat mu." ujar Diana hangat.
Dengan malu, Velina duduk di sisi Adel.
Tak lama Andrew yang baru tiba, sudah melepaskan jas dan mengganti sepatu dengan sliper. Dia duduk di meja paling ujung sebagai kepala keluarga. Diana lebih memilih duduk disisi Andrew daripada menempati ujung meja yang berjauhan.
"Andrew. Ini Velina." Diana memperkenalkan mereka.
"Selamat malam tuan Andrew. Perkenalkan saya Velina." Velina berdiri dan menganggukan kepala nya memberi salam pada Andrew.
"Duduklah Velina."
"Terimakasih tuan." ucap Velina dengan hormat.
"Kok manggil tuan, sih?" bisik Adel.
"Lalu aku harus panggil apa?"
"Uncle dong."
"Ah, malu." ujar Velina lirih.
"Mana Aaron?" tanya Andrew yang belum melihat kehadiran putra sulungnya.
"Itu baru datang." tunjuk Archie sambil cekikikan.
Semua menoleh ke arah Aaron yang baru saja masuk ke ruang makan dengan langkah percaya diri. Mereka menatap Aaron dengan heran. Dan tanpa dapat ditahan lagi tawa mereka meledak. Ruang makan itu menjadi ramai dan riuh melihat Aaron yang datang dengan riasan wajah juga kuncir dua.
Aaron merasa heran melihat mereka tertawa. Dia masih tidak dapat mengerti alasan keluarga besarnya tertawa. Apalagi daddy dan mommy pun ikut tertawa. Aaron duduk di kursi tepat di depan Velina. Remaja itu melambaikan tangannya pada Velina yang tertawa sambil menutupi mulutnya seperti halnya dengan Adel.
Melihat tawa Velina, Aaron terkesima. Tawa gadis ini tampak begitu cantik. Matanya menyipit membentuk bulat sabit yang indah. Aaron menyukai expressi wajah ayu dihadapannya. Dan dia tak berhenti terpana menatap Velina.
Sedangkan Anna dan archie tertawa sambip memegang perut dan air mata menetes. Aaron ikut tertawa melihay mereka tertawa. Dia masih heran sambil mendelik ke arah Francesca yang berusaha mengendalikan tawa.
"Kenapa sih? apa yang lucu?" tanya Aaron pada Francesca.
"Coba.... lihat... tampangmu di westafel." ucap Francesca sambil mengatur tawanya.
Aaron segeta melangkah menuju ke westafel. Dan dia menjerit kaget melihat keadaan dirinya.
"Aaaaaaa!!!! Siapa berani mengerjaiku???!!!!" teriak Aaron kesal.
Bagaikana tidak. Disana ada Velina, gadis cantik yang baru Aaron temui. Dan pertemuan pertama mereka sudah dua kali berlangsung berantakan. Pertama ketika Aaron membuatnya mandi tepung dan saat ini wajah Aaron bagaikan ondel-ondel tak berbentuk.
Matilda yang baru saha masuk meletakan makanan, terkejut mendengar jeritan Aaron. Dia menoleh pada Aaron dan melihat tampang berantakan Aaron. Saat Aaron melewati Matilda, hendak membersihkan wajah. Dengan nyaring, matilda berkata. "Karma nakkk Karma... hahhahahaha."
Aaron mendelik mendengarkan perkataan Matilda. Sementara Francesca langsung terdiam. Dia khawatir karma itu akan datang padanya.
__ADS_1