Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Sogok menyogok


__ADS_3

Area Dewasa.


...πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•...


"Diana... ayo buka pintunya... Tolong jangan marah begitu," panggil Andrew dengan frustasi.


Pria itu masih menyandarkan keningnya di daun pintu, sementara tangan kanannya mengetuk pintu berkali-kali.


"Pergi kau! Aku tidak mau melihatmu!" ujar Diana dengan suara serak.


Diana duduk di lantai bersandar pada daun pintu. Dia mudah sekali terpancing emosinya saat hamil ini. Dan melihat noda lipstik di kerah kemeja dan juga bagian kemeja lainnya membuat Diana marah.


Andrew yang frustasi dan masih belum mengerti apa yang membuat istri nya marah, sangat sedih.


"Apa salahku sayang?" tanya nya lemah.


"Kenapa kau menghianati ku. Kenapa kau bercumbu dengan wanita lain?" ujar Diana dengan terisak sambil memegangi perutnya yang terasa kram saat dia menangis.


"Aku tidak mencumbu siapapun kecuali dirimu." jawab Andrew dengan lemah.


"Bohong! lihat noda yang ditinggal kan wanita itu di kemejamu."


Andrew melepaskan jasnya dan berusaha melihat noda di kemeja, tapi dia mengalami kesulitan. Akhirnya Andrew pergi menuju ke kamar mandi tamu, untuk melihat melalui cermin westafel kerah bajunya. Dan benar saja di sana ada noda lipstik, meskipun tidak membentuk bibir.


Andrew berpikir keras apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana dia mendapatkan noda tersebut. Sebuah kecurigaan terlintas di benaknya dan Andrew segera turun ke langai bawah untuk membuktikan kecurigaannya.


Sementara Diana yang di dalam kamar dan tidak mendengar suara Andrew lagi, menjadi semakin sedih. Dia menangis semakin pilu dan meraung. Dia merasa sedih, karena Andrew menghianati dirinya ketika dia sedang mengandung.


Diana merebahkan dirinya di lantai dekat dengan pintu. Dia mendekap diri sambil mengelus perutnya. Hatinya terasa hancur dan dia tahu, seharusnya dia tidak boleh membuat ketiga bayinya menjadi stress. Tapi Diana tidak dapat menahan perasaan sedihnya.


Sementara di lantai bawah, Andrew bergegas mencari Francesca. Hanya gadis kecil itu yang menempel pada dirinya, sebelum dia bertemu dengan Diana.


Andrew menemukan Francesca bersama dengan Aaron dan kedua pengasuh, sedang menonton spongebob. Andrew segera mendekati gadis kecil itu dan bertanya," Francesca, apakah hari ini Frances memakai lipgloss?"


Manik mata gadis itu memandang Andrew dengan khawatir. Dia bungkam seribu bahasa. Hal itu malah membuat Andrew semakin gelisah. Andrew harus mendapatkan kepastian.


Dan Andrew yakin, kali ini hanya gadis kecil ini yang bisa menyelamatkan dirinya.


"Francesca, daddy tidak marah jika Frances jujur. Nanti daddy belikan buket mawar yang lebih besar ya, asal Francesca jujur," Andrew mulai mengeluarkan jurus sogok menyogok.


Manik mata gadis kecil itu mulai berbinar. Sogokan tampaknya berhasil.


"Daddy benar tidak akan marah kan?" tanya nya menyakinkan.


"Iya."


"Daddy akan membelikan Frances buketawar yang besar kan, jika Frances jujur?" tanya nya lagi.


Andrew mengangguk.


"Frances tadi masuk ke dalam kamar mommy. Frances mengambil lipglos di kamar mommy. Baunya harum kaya strawberry. Ini daddy, harum kan?" Francesca mengeluarkan Lipgloss dari saku celananya dan menyodorkan ke Andrew.


"Frances mau cantik seperti mommy." ujar nya dengan mata berbinar.


Andrew menarik nafas lega. Kesalah pahaman saat ini bisa di luruskan dengan segera.

__ADS_1


"Frances, mau buket mawar sebesar punya mommy?" tanya Andrew. Sogok menyogok berlanjut.


Francesca mengangguk mantap dengan senyuman yang lebar.


"Okey! Kalau begitu Francesca harus bilang ke mommy ya, sudah mengambil lipgloss milik mommy dan menodai kemeja daddy. Frances harus minta maaf ya supaya mommy tidak sedih lagi."


"Mommy tidak akan marah kan sama Frances?"


Andrew menggeleng dengan tersenyum.


mommy tidak akan marah pada kalian, karena marahnya cuma sama Daddy. Ah istriku semakin menggemaskan ketika hamil, membuat diriku harus mengejar nya lagi seperti dulu.


Francesca dengan langkah ringan bergandengan tangan dengan Andrew. Sesampainya di depan pintu kamar Andrew masih mendengar sesegukan tangisan Diana. Dia mengetuk pintu kamar dengam perlahan.


"Sayanggg... perihal noda lipstik itu, hanya kesalah pahaman. Frances ada disini untuk menjelaskannya." ujar Andrew dengan lembut.


"Jangan menggunakan anak kecil untuk menutupi kesalahanmu." ujar Diana dengan suara tinggi.


"Mommy marah? Huaaaa.... mommy jangan marahhh... Huaaaa.... Frances tidak akan mengulangi nya lagi. Huaaaa..." Frances yang mendengar suara tinggi Diana menjadi kaget dan menangis.


"Daddy bilang mommy tidak akan marah kalau Frances jujur.. Hiksss... huaa."


"Francesss... Frances sayang, Cup Cup nak jangan menangis. Mommy tidak marah kok sama Frances." ujar Diana dari balik pintu kamar. Dia tidak menyangka jika gadis kecil itu saat ini datang bersama dengan Andrew.


"Jadi mommy marah sama Daddy?" tanya Frances disela sesegukannya.


Andrew mengangguk sedih.


"Tapi kenapa?"


"Mommy jangan marah sama daddy, huaaaa. Frances yang tadi ambil lipgloss mommy. Frances pakai biar cantik seperti mommy. Tadi tidak sengaja kena baju daddy. Baju daddy kotor karena Francess. Huaaa maafkan Frances ya mommy." ujar Gadis kecil itu sambil terisak di depan pintu kamar.


"Iya sayang, mommy tidak akan marah lagi. Frances tidak boleh sedih yaa." ujar Diana lega. Dia merasa lega karena kecurigaannya ternyata tidak beralasan. Tapi dirinya juga merasa malu, karena begitu saja menuduh Andrew.


"Mommy masih marah?" tanya Frances.


Diana menggelengkan kepala sambil berkata, "Tidak sayang."


"Kalau begitu buka pintunya, Frances mau peluk mommy." rayu Francesca.


Diana awalnya enggan untuk membuka pintu kamar. Dia masih merasa malu untuk bersitatap dengan Andrew. Walau bagaimana pun juga dia merasa bersalah sudah menuduh Andrew. Tapi berkat rayuan Francesca, Diana membuka pintu.


Begitu pintu kamar di buka, Frances segera memeluk ibunya dengan erat. Andrew yang merasa lega, segera membunyikan lonceng. Tak lama nanny Maria naik dan menjemput Francesca.


Andrew segera masuk kedalam kamar dan menutupnya rapat. Dia menahan tangan Diana yang hendak berlalu dari hadapannya.


"Sekarang kau percaya padaku kan, kalau kau adalah satu-satunya wanita yang kucumbu?" ujar Andrew dengan lembut.


Diana menundukan kepalanya dengan malu.


"Maafkan aku," ujar nya lirih.


"Apa sayang aku tidak mendengar dengan jelas. Jangan tundukan kepalamu."


"Maafkan aku," ujar Diana lebih keras masih dengan kepala tertunduk.

__ADS_1


"Tidak akan." jawab Andrew dengan tegas.


Diana menengadahkan wajahnya tidak percaya dengan jawaban Andrew. Bagaimana mungkin Andrew menolak untuk memaafkan dirinya. Sebegitu besar kah kesalahan yang telah dia lakukan.


"Tapi... Apa yang harus aku lakukan, Agar kau mau memaafkanku?" tamya Diana dengan sendu dan putus asa.


Andrew masih menatap Diana tajam tanpa senyuman. Meskipun dalam hati Andrew bersorak karena wanita dihadapannya melontarkan pertanyaan yang berbahaya.


Andrew merapatkan diri di tubuh Diana dan berbisik," Aku mau kau menyelesaikan pekerjaan yang tertunda tadi." Dia kemudian menyibak pakaian di bahu Diana dan sekali hentakan pakaian itu sudah teronggok di lantai. Andrew menyeringai lebar menatap dada yang semakin membesar.


Wajah Diana memanas menahan malu. Saat ini dia sudah berubah bagaikan gadis kecil yang pemalu. Diana membenamkan dirinya di dada Andrew ketika pria itu membawanya ke atas tempat tidur.


Andrew menatap istrinya dengan penuh Cinta sambil melepaskan semua pakaiannya.


"Andrew.. hmpfhhhh." Diana tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena saat itu juga Andrew sudah mengunci bibirnya.


Saat mereka berpagutan, jemari Andrew membelai perut Diana dan merambat kebagian inti wanita itu.


"Emhhhhh!"


Diana mendesah dalam ciuman Andrew ketika merasakan, bagaimana jemari tangan pria itu mulai memasuki dirinya. Dan jemari Andrew mulai aktif ditarik dan di dorong di bagian pusat inti istrinya.


Diana mendesah hebat, Andrew bahkan tidak memutuskan ciuman diantara mereka. Diana merangkul dan mencengkeram pundak suaminya ketika Andrew menambahkan satu jari lagi. Dia terengah-engah. Kehamilannya membuat tubuhnya lebih mudah menerima segala macam rangsangan.


Diana mengerang hebat ketika dia merasakan sensasi hebat itu.


Keringaat sudah membasahi tubuh Diana meskipun kamar itu ber Ac.


Andrew menjadi semakin aktif, melihat raut wajah Diana yang tampak semakin cantik setelah pelepasannya.


Dia dengan penuh gairah, meraba, mencium, menjilat dan menggigit setiap lekukan tubuh istrinya. Setiap sentuhan Andrew mengalirkan magnet kenikmatan bagi Diana.


Andrew kemudian melebarkan paha Diana dan mulai menggesekan naga perkasanya. Hal itu membuat Diana merintih sambil menggigit bibir bawahnya. Kenikmatan yang baru saja dia rasakan, mulai bangkit lagi dengan godaan itu.


"Aaarrrghhh"


Diana mengerang merasakan sang nag mulai beraksi dan menjelajahi dirinya dengan perlahan. Meskipun sudah sering dia berteduh di dalam goa lembab itu, tetapi tetap saja sang naga merasa kesulitan memasukinya.


Saat seluruh bagian tubuh naga sudah masuk seutuhnya. Andrew merapatkan diri dan berbisik pada Diana," bagaimana mungkin dia selalu sangat ketat, meskipun sudah sering kujelajahi."


Andrew mulai memacu panggulnya dengan perlahan. Dan ketika dia ingat jika Diana sedang hamil, Dia mengangkat Tubuh Diana agar berada di pangkuannya. Andrew menyandarka tubuh Diana di dada nya dan memeluk pinggang sehingga dia bebas meraba dada wanita itu.


Mereka memadu kasih hingga beberapa saat lamanya.


*


Sementara itu di lantai bawah, saat Francesca sudah turun. Aaron menodong dirinya.


"Kau habis berakting menangis?"


"Aku menangis sungguhan." ujar Francesca.


"Bohong. Kalau kau menangis itu bunyi nya hiksss... hiksss. Kalau aku yang menagis baru huaaa... huaaaa."


"Aaon! Kau menyebalkan!"

__ADS_1


...πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•...


__ADS_2