Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Penjelasan Yoora


__ADS_3

Siang itu Diana sudah membuat janji untuk bertemu dengan Yoora. Mereka akan bertemu di sebuah cafe terdekat yang berada ditengah-tengah antar rumah mereka.


Diana benar-benar harus tahu siapa dan apa maksud orang yang mengirim foto itu, melalui Yoora agar sampai kepadanya.


Andrew bukannya tertawa melihat foto-foto yang dikirimkan ke ponsel Diana, tetapi dia justru marah besar. Pasalnya, Andrew tahu hal tersebut sempat membuat Diana sedih.


"Aku memang ingin melihat kau cemburu, tapi tidak ingin melihat raut wajah sedihmu, apalagi jika kau menangis," ujar Andrew dengan wajah marah.


"Jika kau masih ragu, aku bisa meminta rekaman cctv ruangan tersebut, atau Mike menjadi saksi jika aku benar-benar mengacuhkan Gladys."


"Aku benar-benar harus membuat jera mereka yang berbuat seperti ini,"


"Aku tidak memerlukan bukti apapun selain kejujuranmu, sayang. Kau sudah bisa merasakan bukan, kalau aku percaya padamu."


Tentu saja, semalam setelah percintaan hebat mereka ditambah lagi dengan naga yang menggeliat didalam gua, Diana mendapati dirinya sudah diguncang Andrew saat terbangun pagi hari.


Andrew merengkuh Diana dalam pelukannya.


"Aku akan selalu jujur padamu. Apapun yang terjadi kau harus percaya padaku, suamimu." ujar Andrew dengan penekanan pada setiap kata nya.


"Tentu saja suamiku."


Dan siang ini dengan meninggalkan baby Aaron ditangan pengasuh nya, juga dalam pengawasan butler Jhon, Diana sudah menanti Yoora di dalam sebuah cafe.


Tidak perlu menunggu lama karena lima menut kemudian Yoora sudah datang.


"Hai Diana, maaf aku terlambat ya," ujar Yoora seraya meletakan pantatnya di kursi.


"Aku baru saja tiba," sahut Diana.


Pelayan wanita menghampiri mereka.


"Selamat siang nyonya, anda hendak memesan sesuatu?"


"Aku mau black coffe dan sepotong brownies,"ujar Yoora dengan cepat.


"Aku belum minum coffee pagi ini," bisik Yoora pada Diana.


"Kalau anda nyonya?" tanya pelayan itu seraya menoleh pada Diana.


"Berikan earl grey tea dan apple strudle."

__ADS_1


"Baiklah nyonya, tunggu lima menit, pesanan anda akan segera siap."


Pelayan itu meninggalkan mereka.


"Hahhh... hari ini aku dibuat pusing oleh anak-anakku. Mereka tidak mau bangun dan berangkat ke sekolah. Yang malas lah, yang sakit kepala. Bahkan aku harus turun tabgan dan menyeret mereka menuju kamar mandi. Coba pikir mereka sudah ada di grade 6 dan 4. Benar-benar melelahkan," ucap Yoora panjang lebar.


"Begitulah anak-anak," sahut Diana dengan senyum kecil.


"Tapi anakmu yang besar, dia tampaknya bukan tipe pembuat onar kan?"


"Tentu saja tidak, Conrad anak yang baik."


"Kau dan suami mu hebat, berjiwa besar mengadopsi anak tanpa menggemborkannya di media masa," kata Yoora dengan wajah serius.


"Yoora, mengenai foto-foto yang kau kirim kepadaku..."


"Ah iya, foto itu, benar... bagaimana, kau sudah melihatnya bukan. Ah, Diana maafkan aku. Aku merasa kau harus mengetahuinya sebelum terlambat." Yoora memotong perkataan Diana dan mulai menunjukan keprihatinannya.


"Dari mana kau mendapatkannya?"


"Apakah itu penting?" tanya Yoora.


"Iya itu penting." Yoora mengangkat bahunya.


Diana terdiam sesaat, memberi keaempatan pada pelayan untuk menghidangkan pesanan mereka. Dan mengucapkan terimakasih ketika pelayan itu pergi.


"Bagi ku itu penting. Karena foto pertama yang di berikan olehmu adalah foto masa lalu suamiku. Sedangkan foto kedua, benar foto itu baru saja terjadi, tetapi aku bisa yakin kalau hal itu sengaja," ucap Diana dengan tegas seraya menuangkan teh ke gelas kecilnya.


"Apakah kau bertanya pada suamimu?" tanya Yoora dengan menaikan alisnya.


"Dia bercerita sebelum aku bertanya," sahut Diana dengan tenang sambil memotong apple strudle dan mengunyahnya perlahan.


Yoora diam sejenak seraya mengaduk-aduk coffee dihadapannya. Dia memandang Diana dengan tatapan takjub. Bagaikana mungkin wanita yang lebih muda darinya, bisa bersikap tenang melihat foto-foto kemesraan suaminya dan wanita lain.


"Aku tidak tahu siapa yang mengirim foto itu kepadaku," kata Yoora tiba-tiba.


Kemudian dia mwngambil smartphone nya dan membuka layar pesan. Dia menunjukan pada Diana no tanpa nama yang mengirimkan foto tersebut ke smartphone Yoora.


"Aku sudah mencoba menghubungi nomor tersebut, tetapi tidak tersambung," kata Yoora sambil membiarkan Diana memegang smartphone nya.


Diana mengambil smartphone miliknya dan memindahkan nomor tersebut, kemudian mencoba menghubungi nomor tersebut. Dan hasilnya seperti yang dikatakan Yoora, nomor tersebut sudah tidak aktif.

__ADS_1


Diana menghela nafas. Otaknya mulai bekerja meruntut segala hal yang terjadi beberapa waktu ini, dan diriinya tidak memiliki kecurigaan pada siapapun juga.


"Apakah hanya kau yang menerima foto ini?" tanya nya lagi.


"Entahlah," ujar Yoora sambil mengangkat bahu.


Dan tiba-tiba saja smartphone Yoora berdentingan tanda pesan masuk. Ketika dia buka tampak no yang tidak dikenal mengirimi nya sesuatu. Ketika dibuka, tampak kembali foto-foto Andrew dengan beberapa wanita cantik.


Yoora langsung menunjukan pesan itu kepada Diana. Nomor yang digunakan oleh orang tersebut kembali adalah nomor yang berbeda dengan sebelumnya. Dan Diana kembali menegang menyaksikan foto-foto tersebut.


Beberapa wanita tersebut dia mengenalinya sebagi masa lalu dari Andrew. Tapi apa maksud orang tersebut harus mengungkit foto lama itu kembali dan mengirimkan pada Yoora. Bagaikana dia bisa tahu kalau dirinya dan Yoora saling mengenal.


Segala pertanyaan begitu mengganjal dalam benak Diana. Siapapun orang yang melakukan itu mereka menyatakan permusuhan. Karena jika tidak, mereka tidak akan menyebarkan foto-foto lama kepada orang lain.


Ting! Sebuah pesan masuk. Diana mengarahkan kursor ke arah pesan tersebut.


Lihatlah, dengan masa lalu seperti ini dan para wanita cantik luar biasa, bagaimana seorang pria bisa bertahan.


Gerahan diana bergemelatukan. Diana segera menekan tombol untuk menghubungi nomor tersebut tetapi sia-sia saja. Nomor tersebut sudah mati.


"Aku mengerti perasaanmu," kata Yoora dengan prihatin.


"Alasanku mengirim semua foto itu kepadamu, agar kau bisa mengetahui lebih dini. Tidak seperti diriku. Aku terlambat mengetahui perselingkuhan suamiku."


Yoora menyeruput coffe nya untuk sesaat dan kemudian meletakan kembali ke diatas meja tanpa melepaskan tangannya dari gelas coffee tersebut.


"Suamiku memiliki simpanan di beberapa negara. Di Malaysia dan Thailand itu yabg aku tahu. Entah ada berapa lagi yang aku tidak tahu. Dia sering bepergian terkait dengan bisnis yang dia jalankan. Dan semenjak memiliki anak, aku tidak pernah mengikutinya. Dan inilah pengorbanan ku menjadi istri pengusaha sukses, jika aku mengikuti suamiku, makan aku kebilangan kebersamaan dengan anakku."


Yoora berhenti sejenak kemudian memotong brownies dan memakannya. Dia memerluian sesuatu yang manis untuk mengatasi cerita pahit yang membuatnya sedih.


"Dan aku memilih kedua anakku, akibatnya aku kehilangan sebagian dari diri suamiku. Meskipun dia selalu kembali ke sisiku, tetapi setiap dia memeluk dan menciumku, disaat itu pula aku bisa membayangkan bagaimana dia menyentuh wanita-wanitan lain brengsek itu," cerita Yoora dengan kesal.


Diana memandang Yoora dengan prihatin, dia tidak menyangka kehidupan rumah tangga Yoora akan seperti itu. Awalnya dia merasa jengkel dan marah pada Yoora, namun sekarang dia bisa mengerti alasan Yoora.


"Yang terpenting kau memiliki cinta anak-anakmu. Dan kau harus berjuang untuk memenangkan cinta suami mu kembali," ujar Diana sambil menyentuh tangan Yoora.


Yoora menengadahkan wajahnya dan menatap Diana. Dia mengambil tisyu untuk menghapus air mata yanng menggenang di kelopak matanya.


"Aku senang mengenal engkau sebagai temanku," ujar Yoora dengan bersunggung -sungguh.


"Dan aku berjanji akan mencari tahu siapa yang bermaksud buruk kepadamu."

__ADS_1


*


__ADS_2