
Diana masih tidak dapat melupakan kejadian beberapa hari yang lalu. Tepatnya di dalam Gedung Restaurat Golden Star. Saat itu setelah pertunjukan Francesca di jalanan Riverview Squere, mereka menuju ke restaurant yang memiliki tiga lantai.
Lantai bawah adalah untuk pelanggan umum. Lantai tengah adalah untuk ruangan khusus ViP, dimana banyak sekali ruangan-ruangan tertutup, yang dijaga oleh beberapa pengawal. Dan ada jalan belakang untuk memasuki ruangan tersebut. Sedangkan lantai atas adalah roof top, restaurant dengan ruangan terbuka
Dari lantai satu menuju ke lantai tiga bisa menggunakan lift secara langsung. Untuk ke lantai dua harus disertai dengan petugas yang memakai kunci khusus agar bisa memencet tombol lantai dua. Mereka seringkali makan bersama di Golden Star, tanpa pernah mengunakan lantai dua.
Dan malam itu, disaat Diana hendak mengenakan toilet. Ruangan toilet di lantai tiga sedang penuh antrian. Karena tidak tahan lagi, Diana menuju ke lantai dua. Dia menuruni tangga yang kebetulan saat itu tanpa ada penjaga. Melewati ruangan tertutup, Diana mencari toilet.
Lorong ruangan itu tampak sepi. Dan dia masuk behitu saja ke dalam toilet yang sepi. Diana tidak berpikir buruk,dia hanya mencari area terdekat. Ketika keluar dari bilik, ternyata di sana ada seorang wanita cantik yang sedang merapikan diri. Bersama wanita itu ada wanita lain yang berpakaian jas rapi layaknya pengawal.
Diana awalnya bersikap biasa, memencet sabun dan mencuci tangan. Dia bisa merasakan tatapan dingin pengawal tersebut yang meneliti dirinya. Bahkan tatapan mereka jauh lebih dingin menusuk daripada pengawal Andrew. Atau, mungkin karena Diana sudah terbiasa dengan pengawal yang bekerja untuk keluarganya. Dia, menepiskan pikiran buruk tersebut.
Hingga ketika Diana mengeringkan tangannya. Dia melihat wanita cantik itu menyampirkan rambut hitam panjangnya ke samping. Gaun dengan punggung terbuka yang dia kenakan, memamerkan tato naga memeluk pedang.
Mata Diana berkilat terkejut melihatnya. Dia buru-buru memalingkan wajahnya. Jantung Diana berdebar kencang. Dan perubahan raut wajah dan sinar keterkejutan yang sekilas dia tunjukan, tertangkap oleh mata jeli wanita dengan tato itu.
Hanya satu detik, pancaran sinar keterkejutan di mata Diana, sudah dapat di tangkap oleh kedua wanita tersebut.
"Ada masalah nyonya?" tanya si pemilik tato.
"Saya, ah tidak. Hanya saja...perut ku, tiba-tiba melilit lagi. Maaf, saya harus kembali kedalam." Diana buru-buru masuk ke dalam toilet kembali.
Dia duduk diatas toilet dengan gelisah. Wanita itu memiliki tato yang sama dengan Velina. Seharus nya dia bahagia karena menemukan anggota keluarga Velina. Tetapi, sinar mata dingin dan raut wajah tanpa expresi dari pengawal wanita itu, membuat Diana merasa ngeri. Apalagi jika mengingat, bagaimana velina ditemukan.
Diana memencet flass, agar wanita di depan benar-benar mengira dia memiliki masalah pencernaan. Diana menunggu sesaat agar kedua wanita di depan, segera keluar. Dan ketika dia tidak melihat bayangan kaki mereka dari bawah pintu toilet, Diana segera keluar.
Dia keluar dari ruangan toilet, menoleh ke kiri dan ke kanan. Lorong ruangan itu benar-benar sepi. Dan dia segera menaiki tangga lagi. Di ujung tangga, Diana bertemu dengan seorang penjaga yang menegurnya.
"Anda tidak seharusnya masuk ke lantai dua, nyonya. Disana satu ruangan di pesan secara khusus."
"Maaf. Saya tadi terburu-buru karena sakit perut." ujar Diana singkat.
Dia kemudian bergegas kembali kepada keluarganya. Andrew asyik menggoda Aaron dan Anna. Mereka tertawa dengan ceria tanpa beban. Bahkan Adel pun tampak ceria dan sehat.
Diana menatap Velina. Dia bisa melihat jika mata Velina mirip dengan wanita bertato, yang dia temui di toilet lantai dua tadi. Tetapi, sorot mata mereka berbeda. Velina memiliki sorot mata yang memancarkan keteduhan, sedangkan wanita itu memancarkan aura dingin.
"Andrew, hari sudah larut malam. Ayo kita pulang." ajak Diana yang merasa resah, terlalu lama didalam gedung yang sama dengan wanita bertato naga memeluk pedang tersebut.
"Ini baru pukul Tujuh tiga puluh. Biarkan mereka bersenang-senang. Lagi pula dessert mereka belum juga habis." tolak Andrew.
"Tapi... ini dingin. Kasihan Adel." bujuk Diana.
"Apa kau sakit? Hamil lagi," bisik Andrew menggoda..
"Gila kau!" Diana menggelengkan kepalanya dengan gemas.
"Cuaca malam ini hangat dan tidak banyak angin bertiup. Bagaimana bisa kau bilang dingin?" ujar Andrew heran.
Diana terdiam. Dan saat itu wanita pengawal yang dia temui di toilet melewati meja keluarganya. Meskipun tidak menatap langung ke arah keluarganya, namun Diana merasa was-was jika mereka akan menemukan Velina.
Diana masih belum siap jika Velina bertemu dengan keluarganya, yang entah atas dasar konflik apa membuat anak itu terbuang.
Hari ini sudah tiga hari kejadian itu berlalu. Setiap hari Diana merenung dan menimbang untuk menceritakan pada Andrew. Dia khawatir jika Andrew marah kepadanya, karena dari awal Andrew memintanya untuk menjaga jarak dengan Velina. Namun, sifat lemah dan keibuannya, membuat Diana merasa harus menjaga Velina.
Bahkan pikirannya yang tertuju pada Velina, menbuatnya lupa mengenai Conrad. Diana lupa menceritakan pada anak sulungnya mengenai keadaan Jasmine yang sesungguhnya saat itu. Dia lupa untuk bertanya mengenai perasaan Conrad.
Diana menanti hingga Andrew selesai mandi. Malam itu, dengan gelisah Diana duduk di sofa sambil memandang kolam renang dan taman dari dalam kamarnya. Dia sudah memutuskan sesuatu, untuk menceritakan pada Andrew hal yang dia alami itu.
"Kau tampak gelisah. Ada apa? Apakah ada sesuatu dengan Adelaide?" tanya Andrew mendekati Diana dengan mengenakan jubah mandi, sambil mengeringkan rambut basahnya.
"Adel baik-baik saja. Keadaannya stabil."
"Lalu, apa yang membuat belahan hatiku gelisah?" tanya Andrew sambil duduk dihadapan Diana. Dia membelai wajah istrinya.
"Ini tentang Velina."
"Anak itu? Kenapa?"
Diana kemudian menceritakan apa yang dia alami di lantai dua Golden Star Restaurant.
__ADS_1
Andrew terdiam, menimbang cerita Diana. Dia memang pernah meminta Briant untuk mencari arti atau asal usul dari tato tersebut. Bahkan ketua pengawalnya pun menyelidiki.
Ada hal yang belum Andrew ceritakan pada Diana mengenai tato tersebut. Dia ingin mengubur semua itu agar tidak membuat istrinya khawatir. Namun, tampaknya hari ini dia harus mengatakan apa yang dia tahu.
"Tato itu.... sebenarnya aku sedikit memiliki informasi mengenai nya." Andrew menghentikankalimatnya ketika melihat raut wajah tegang Diana. Dia membelai wajah cantik itu agar lebih tenang.
"Katakan. Aku siap mendengarnya." ujar Diana setelah mengambil nafas panjang.
"Banyak sekali tato yang sama. Tetapi yang specific seperti milik Velina, itu sulit ditemukan. Tapi, Greg berhasil menyusup ke sistem pemerintahan. Tato itu adalah milik klan underground yang sangat ditakuti. Bahkan oleh pemerintah. Tato itu hanya dimiliki oleh keturunan langsung dari klan tersebut, yang sudah dianggap punah. Dan mereka bergerak dalam semua bisnis ilegal." Andrew menarik nafas panjang sambil memeluk istrinya.
Raut wajah Diana tampak tegang.
"Itu sebabnya aku dari awal melarangmu untuk terlalu dekat dengan anak itu. Aku pikir dengan berjalannya waktu, kalian akan saling melupakan. Tapi ternyata dia semakin akrab dengan keluarga kita." keluh Andrew.
"Aku menyayangi anak itu," desah Diana lirih.
"Dan aku melihat sinar mata yang melindungi dari Aaron." ujar Andrew.
"Kau menyadarinya juga?" Diana memegang tangan Andrew sambil menatapnya tajam.
Andrew mengangguk.
"Mereka masih terlalu muda. Dan aku khawatir jika Velina ditemukan saat ini, dia tidak cukup kuat untuk mengahadapi keluarganya." kata Andrew dengan khawatir. Bukan saja khawatir dengan Velina, tetapi juga dengan anak-anaknya.
"Apa ada sesuatu terjadi pada klan itu?"
"Di tahun kau menemukan Velina, ada pembantaian besar-besaran dalam sebuah organisasi mafia. Meskipun tidak ada jenasah dengan tato tersebut. Aku tetap khawatir. "
Desah Andrew.
Andrew berbisnis di jalur yang aman, terkadang dia harus berurusan dengan pemerintah, dengan gugatan-gugatan dari kelalaian sistem kerja, masalah dengan imigrasi karena adanya tamu yang kabur ataupun pekerja kapal yang menjadi imigran. Tetapi tetap saja, semua nya dia hadapi di jalur hukum yang benar.
"Atau mungkin jenasah dengan tato tersebut ditutupi pemerintah..." desah Diana menambahkan dengan khawatir.
Andrew mengangguk. Suasana hening. Sepasang suami istri itu larut dalam lamunannya. Mereka sama-sama merasa bertanggung jawab dengan kehidupan Velina dan masa depan keluarganya.
"Bagimana kalau kita biarkan Velina sekolah di luar negeri. Menjauh dari area ini?" usul Diana.
"Lia? Jason memiliki banyak pengawal dan rumah persembunyian."
"Aku rasa tidak bisa." tolak Andrew.
"Kenapa?
"Keluarga Jason terlalu terkemuka. Banyak konflik yang bisa terjadi dan itu bisa membuat Velina terekspos."
Diana kembali menghela nafas. Dia menyandarkan diri di dada Andrew. Sesaat kemudian dia menegakan tubuhnya dan menatap Andrew. Sepasang suami istri itu saling memandang dengan raut wajah, yang seakan hendak mengatakan sesuatu.
"Apakah kau berpikir yang sama dengan ku?" ujar Diana dengan pandangan menyelidik.
...❤❤❤❤❤...
"Tapi kenapa Mom, kenapa Velina harus pindah ke Indonesia?" tanya Aaron dengan wajah bingung dan mata yang sedih.
"Ini untuk kebaikan Velina sayang."
"Kenapa? Bukankah Velina baik-baik saja. Tuan dan Nyonya Ron menyayangi mereka bukan?" ujar Aaron yang masih tidak dapat menerima berita yang disampaikan oleh Diana.
"Benar. Tapi mereka juga mempunyai banyak tanggung jawab. Lihat lah anak-anak panti yang semakin banyak. Perhatian tuan dan nyonya Ron pasti terbatas."
"Bukankah Velina anak kandung mereka? Bagaimana mungkin mereka menjauhkan anak kandungnya dan merawat anak orang lain?" sahut Aaron dengan geram.
"Bukan begitu Aaron. Mommy yang menawarkan kesempatan itu pada Velina. Di sana, Velina bisa belajar ilmu pertanian dengan langsung terjun ke alam. Bukankah Velina menyukai alam, sayang?" Diana menggenggam kedua tangan Aaron yang tampak gemetaran.
Diantara semua anak nya, hanya Aaron yang paling sukar menerima kenyataan jika Velina akan pindah ke Indonesia. Negara itu terlalu jauh untuk dia gapai. Artinya kesempatan untuk bertemu dengan Velina juga akan semakin sukar.
Hal yang sukar dia mengerti adalah, kenapa gadis itu tidak bersekolah di Miami saja? Kenapa dia tidak dipindahkan satu gedung dengan Anna. Kenapa hanya Velina yang harus menjauh. Kenapa mommy mengusulkan hal itu kepada Tuan Ron dan kenapa mereka seakan tidak keberatan kehilangan anak itu. Orang tua yang tidak tulus! Aaron mulai menaruh pikiran negatif tentang keluarga Ron.
"Kalau begitu, Aaron akan ikut Velina pindah ke Indonesia dan hidup di pendesaan." ujar Aaron tiba-tiba.
__ADS_1
Perkataan Aaron membuat Diana tersentak. Dia tidak menyadari jika perasaan Aaron sedemikian kuatnya. Dia hanya mengira jika perasaan Aaron hanya dilandasi penasaran dan sekedar cinta monyet. Tetapi, kenyataannya Aaron rela menemani Velina
"Tidak Bisa!" ujar Andrew tegas ketika dia mendengar keputusan Aaron. Pria itu membalikan badannya yang sedari tadi diam sambil menatap langit yang kelam tak berbintang.
"Tapi kenapa?" tanya Aaron.
"Karena kau harus tetap disini. Masuk Harvard dan dapatkan gelar MBA!" Tegas Andrew.
"Arron tidak mau! Arron bisa sekolah bisnis di Indonesia saja." paksa Aaron.
"Tidak bisa. Banyak mahasiswa Indonesia yang mengantri untuk mendapatkan gelar MBA dari Harvard. Dan kau harus masuk kesana, Perusahaan kita dan nasib ratusan ribu karyawan akan menjadi tanggung jawabmu." ujar Andrew dengan tegas.
"Tapi kenapa harus aku? Masih ada kakak Conrad, Archie, bahkan saudara-saudara perempuanku." ujar Aaron dengan kesal. Emosi remaja nya saat ini sedang meledak. Dia yang baru pertamakali merasa berdebar saat melihat seorang wanita, tiba-tiba wanita itu harus dirampas dari kehidupannya.
"Karena kau anak tertua dari kami!" tanpa sadar Andrew mengeluarkan kata-kata itu.
Aaron terkejut mendengarkan nada tinggi dari suara Andrew. Andrew yang jarang sekali berbicara dengan keras pada keluarganya, membuat Aaron langsung terdiam. Dia menundukan kepalanya dengan berbagai emosi yang berkecamuk. Beruntung sekali pikiran kalutnya, tidak mencerna perkataan Andrew dengan baik.
Diana menoleh dan menatap Andrew tajam. Dan pria yang sudah sempat emosi nya naik akibat sikap Aaron, langsung terdiam. Tidak ada satupun dari anak-anaknya yang tahu jika Conrad adalah anaknya dengan wanita lain dan Francesca adalah anak seibu dengan Conrad. Kenyataan yang ingin dia kubur.
"Maksud daddy, Conrad sudah memilih jalannya sendiri di ilmu kedokteran." Tambah Andrew, menutupi kesalahan sebelumnya.
" Kita semua sudah setuju untuk mendukung kakak, bukan? Sekarang daddy sudah semakin tua. Dan kau akan beranjak dewasa. Kau harus mempersiapkan dirimu sebagai penerus. Kami semua memerlukan mu, Aaron. Bergantung padamu." ujar Diana dengan perlahan.
"Tentang saudaramu yang lain, tentu saja mereka juga bisa membantu mu, berbagi tanggung jawab. Tapi kau lah yang tertua. Sedangkan Francesca, kau tahu dia terlalu lemah dan terlalu lembut di dunia bisnis. Dia mencintai musik." ujar Diana menambahkan.
Meskipun kata-kata semakin tua yang diucapkan Diana, sedikit mengganggu pendengaran Andrew, tapi harus ia akui jika itu memang benar. Usianya sudah setengah abad. Kenyataan itu seakan menggores harga dirinya, mengembalikan pada kenyataan bahwa dia bukan lagi pria muda seperti saat dulu bertemu dengan istri tercintanya.
Aaron terdiam. Dia tidak memiliki alasan lain lagi untuk protes. Disatu sisi, dia ingin melindungi Velina. Menemani gadis kecil itu dan bersamanya. Tetapi disisi lain dia sadar jika keluarganya juga membutuhkan. Tapi bagaimana pun juga Aaron tidak dapat menyembunyikan kekecewaan hatinya, dengan alasan kepergian Velina yang tidak masuk akal.
"Apakah Velina setuju?" tanya nya dengan lirih.
"Iya nak. Dia senang sekali setelah melihat situasi disana, melalui you tube." ujar Diana.
"Bahkan aku tidak pernah pergi ketanah kelahiran mommy." protes Aaron kesal.
Diana merasa bersalah mendengar perkataan Aaron. Dia berkali-kali menunda keberangkatan mereka, dengan berbagai masalah yang timbul. Dan Andrew sempat menjanjikan, jika mereka akan mencapai Indonesia lewat Surabaya dengan kapal pesiar. Tetapi, keadaan Adelaide tidak memungkinkan bagi anak itu untuk bepergian jauh. Terlalu egois jika mereka bersenang-senang tanpa Adelaide
"Maafkan kami Aaron." ujar Diana dengan tulus.
Aaron menghela nafas dan menyandarkan punggungnya di kursi. Dia tidak lagi se emosi ketika masuk ke kamar orang tuanya. Aaron belajar menerima jika segala sesuatu tidak dapat dipaksakan. Dia harus bersabar menanti waktunya tiba.
"Selesaikan sekolahmu. Dan kita lihat, saat kau sudah dewasa. Kau bisa mengunjungi tanah kelahiran Mommy, menemui cinta pertamamu." ujar Andrew.
"Siapa bilang Velina cinta pertama ku?" sanggah Aaron dengan wajah memerah. Remaja itu kembali menegakkan punggungnya.
Andrew dan Diana saling berukar pandang.
"Daddy tadi tidak menyebutkan nama. Iya kan mom?"
Diana mengangguk sambil tersenyum.
"Jadi, Velina cinta pertamamu? Itu yang membuat dirimu protes hingga ingin menemani dirinya ke Indonesia?" tanya Diana sambil menahan senyuman.
"Siapa bilang? Aaron cuma merasa kasihan, jika dia disana nanti kesepian dan tidak ada yang menjaganya." sangah Aaron lagi dengan cepat dan kikuk.
"Ah begitu... jadi kita bisa dong menjodohkan Velina dengan anak Uncle Briant." ujar Diana masih menggoda Aaron.
"Mommyyy!!!! Masih kecil main jodoh-jodohan! Tidak boleh!!! Velina masih kecil! Masih harus belajar! Awas ya main jodoh-jodohan." ujar Aaron dengan berapi-api.
"Jangan marah sama mommy. Awalnya mommy berpikir untuk menjodohkannya dengan Aaron, tapi Aaron bilang gak suka." ujar Diana lagi dengan nada menyesal.
"Ihhh.. Mommy menyebalkan! Tidak mengerti anak muda saja."
Aaron meninggalkan mereka tanpa permisi, meninggalkan Andrew dan Diana yang saling menatap dalam senyuman. Mereka bisa bernafas lega, beberapa hari lagi Velina akan berangkat ke Indonesia
Sementara itu, Aaron berbaring di atas tempat tidurnya. Dia menatap langit-langit kamar dengan wajah Velina yang mengiasi. Aaron kemudian memasukan nomor pasword pada layar I Phone nya dan memencet simbol galery. Disana dalam album khusus, terdapat lebih dari seratus foto candid Velina yang dia ambil dalam berbagai kesempatan.
Aaron menggesernya satu persatu dan memandang foto gadis itu. Dia belai dengan penuh perasaan. Persaan rindu dan sayang yang berpadu, menciptakan getaran indah dalam hati Aaron. Remaja tampan yang selalu menjadi pujaan banyak gadis.
__ADS_1
"Mungkin... kau akan melupakanku. Tapi aku akan selalu mengingatmu. Dan saat aku dewasa, akan aku jemput dirimu untuk kembali disisiku, selamanya. Tunggu aku Velina."
......❤❤❤❤❤❤❤......