
Lia masih di dalam kamarnya ketika seorang pelayan memanggil dirinya untuk segera menuju ruangan make up.
"Iyaaa... sebentar lagi aku akan kesana." ujar Lia mencegah pelayan tersebut masuk ke dalam kamar.
Ditangan Lia masih tergenggam kotak berwarna emas bertaburan permata itu. Tergelitik keinginan untuk membukanya. Didalam kotak tersebut adalah sebuah diary bersampul merah. Sejenak dia pandangi diary tersebut, sebelum akhirnya dia tutup kembali kotak kecil tersebut.
"Belum saat nya aku membaca mu. Aku tidak tahu rahasia apa yang ada padamu, tapi belum saatnya aku membacamu dan tak akan aku biarkan kakak menemukanmu."
Kemudian Lia menyimpan kotak tersebut di dalam kotak lainnya dan menyimpannya dalam-dalam di antara tumpukan baju miliknya. Setelah itu dia keluar dari kamar menuju ruang make up. Disana dia mendapati Diana masih menggendong Aaron yang hendak tidur.
"Gimana kakak sudah tidur baby Aaron?" tanya Lia yang melihat Diana masih menggendong anaknya di kursi sementara make up artist masih merias wajah Diana.
"Sudah." Diana mengelus wajah puteranya dengan sayang.
"Nanny dibawa dong baby Aaron. Di gendong saja, supaya tidak cepat bangun. Jadi duo prince nanti segar waktu acara dimulai." Pesan Lia kepada nanny.
"Baik nona." jawab pengasuh anak tersebut.
"Hati-hati." ujar Diana saat menyerahkan anaknya ke dalam pelukan pengasuh.
"Nah... sekarang pengantin nya sudah bisa di rias sempurna." goda Lia.
"Jangan bicara saja, nanti make up mu berantakan." kata bibi.
"Iya. Iya. Sekarang aku diam." Lia memperagakan tangan mengunci mulutnya.
"Jason datang gak hari ini?" tanya Diana.
Lia mengangkat bahu nya.
"Kok ditanya diam saja."
"Katanya gak boleh banyak ngomong kalau lagi dirias." celetuk Lia jengkel.
"Iya tapi kan aku gak bisa menoleh." sahut Diana.
"Huuu. Aku gak tahu. Dia beberapa hari tidak menghubungi aku." sahut Lia kesal.
"Memangnya apa pekerjaan dia?" tanya bibi.
"Pengacara." sahut Lia asal.
"Pengacara, wah keren. Apa sehebat Hotman Paris?" tanya bibi takjub.
"Yeeee Hotman Paris kan pengacara beneran yang membela orang. Ini dia Pengacara artinya pengangguran banyak acara."
"Wah, jangan mau sama pengangguran nak. Bisa susah hidupmu. Meskipun kaya kalau hanya mengandalkan usaha orang tua dan tidak punya keahlian bisa bangkrut nanti, percumaaa... Cari yang seperti Andrew, tampan, pintar dan kaya. Kalau mau sama Briant sih boleh, bibu setuju. Dia orangnya kalem. Cocok sama kamu yang suka nyrocos saja. Bisa meredam sifat kekanak-kanakanmu." ucap Bibi panjang lebar.
"Ah bibi.. Jason bukan pengangguran. Dia seorang pengusaha juga." ucap Diana.
"Oooo... itu adikmu bilang pengangguran. Lia kalau diajak bicara sama orang tua yang serius, bikin panik saja." celetuk bibi agak kesal.
"Ah bibi, gak asyik ah." ujar Lia cemberut.
"Mereka kalau bertemu selalu bertengkar tapi ujung-ujungnya juga kompak." kata Diana kepada bibinya.
"Ih kakak... kapan aku kompak sama Jason. Udah ah... ini kan hari mu, ngapain coba godain kita." sahut Lia.
"Berapa no telphone Jason, aku mau menghubungi dia." tanya Diana sambil memegang ponselnya.
"1×××××××××××××" Lia menyebutkan sederatan nomor.
"Tuh kan bibi, hafal dia. Coba tanya no ku, gak balal hafal dia." goda Diana yangembuat Lia jengkel dan melempar spon pada Diana.
"Hahaha... kalau cinta mah jujur aja nduk" ucap Bibi.
"Eh, Diana... bibi jadi pernasaran wajah Jason. Kamu ada fotonya?" tanya bibi lago dengan serius.
"Lia pasti punya."
"Aku gak punya. Ngapain coba simpan foto dia."
"Ahhh... gengsi yaaaa. Dia gak pernah memfoto Jason, karena bisa googling langsung." ledek Diana.
"Nyonya, maaf bisa berhenti sebentar. Kami hendak merias tulang pipi anda." ucap make up artist.
Serentak ketiga wanita tersebut diam.
"Hallo semua, maaf aku baru datang." ucap Grisella yang baru saja masuk.
Diana dan Lia hanya melambaikan tangan.
"Ayo buruan nona. Waktunya tinggal satu jam lagi." ucap make up artist.
"Iya." Grisella yang merupakan salah satu pengiring wanita segera duduk dan membiarkan dirinya di rias.
Di tempat yang berbeda para pria pun sudah sibuk dengan make up artist yang mendadani mereka.
"Daddy, kau tampan sekali." ucap Conrad mengagumi ayahnya.
"Tentu saja, Conrad juga tampan."
"Iya baju kita kembaran yaa daddy. Sama dengan Aaron juga." celoteh bocah itu dengan tidak sabar.
"Daddy... nanti Conrad boleh kiss mommy gak?"
"Kan Conrad sudah tiap hari kiss mommy."
"Iyaaaa... tapi Conrad mau kiss mommy di depan altar."
"Boleh... tapi daddy dulu yaaaa."
"Daddy gak mau kalah." celetuk Briant.
"Iya ga pa pa. Daddy dulu. Habis itu Aaron terus Conrad. Yang paling terakhir nanti di peluk mommy paling lama. Yeaaaaa...." bocah itu berlari tertawa melihat Andrew melotot.
"Dia makin pintar dan makin mirip denganmu. Terkadang aku pikir dia adalah dirimu sewaktu kecil." ujar Briant dengan tawa kecilnya.
"Ah, mana mungkin sama denganku. Conrad kan keturunan Mexico." sahut Andrew.
"Tapi aku tidak melihat dia seperti orang Mexico." ujar Briant denfan serius.
__ADS_1
"Katakan padaku apa maksudmu berbicara seperti itu?" tanya Andrew dengan kesal.
Briant mengangkat bahunya.
"Katakan padaku, apa Conrad seperti orang mexico?" tanya Briant pada make up artist.
"Tidak tuan. Dia seperti orang America tulen, mungkin bolehlah ada campuran Eropa sedikit." Kata seorang make up artist yang disambut dengan anggukan oleh rekannya.
"Memangnya kamu tidak tahu siapa orang tua kandung Conrad?" tanya Chandra heran.
Andrew menggelengkan kepalanya.
Ada sesuatu yang menggelitik hatinya.
"Aneh, bagaimana kau mengadobsi dia?" tanya Chandra lagi heran.
Andrew melirik Briant.
Kenapa Briant baru kali ini mengatakan kemiripannya dengan Conrad.
Bukannya dia dan Rachel yang mengurus surat adobsi anak itu?
Suara seorang wedding organizer membuyarkan lamunannya.
"Oke pria-pria tampan. Para Ladies sudah siap. Kalian silahkan keluar dan berbaur dengan para undangan. Dan pengantin pria yang... ouwwww.... makin .... ouw...ouw..."
Pengurus pernikahan yang seorang gay itu melongo melihat Andrew.
"Kenapa dia melolong?" celetuk Chandra pada Andrew dan Briant sambil menahan senyuman.
"Hei, cepat bicara sebelum aku masukan lalat kedalam mulutmu." ucap Briant jengkel melihat tinggkah wedding organizer itu.
"Eh iya... maaf saya tersepona eh terpesona dengan ketampanan kalian semua. Duh... jadi pingin cepat-cepat nikah." celetuknya jenaka.
"Ayo cepat keluar. ... undangan sudah pada datang. Go...go...go.... handsome boy." ujar nya lagi seraya bertepuk tangan.
Ketiga pria tampan itu sudah keluar dari ruangan dan menuju ke taman belakang yang dihias begitu indah.
Sore yang ceria, cuaca sangat bersahabat di bulan november ceria ini. lampu-lampu kuning sudah dinyalakan. Ratusan mawar putih menghiasi taman tersebut.
Para undangan yang merypakan keluarga dekat dan beberapa executive tampak menikmati suasana, mereka berbincang-bincang dengan santai.
Alunan musik merdu romantin mengalun indah. Group boy band Westlife telah mereka booking untuk memeriahkan acara.
Mengalunkan melodi cinta sesuai suasana hari ini.
Andrew sudah berdiri di bawah pohon rindang yang mereka akan gunakan untuk mengikat janji pernikahan. Briant juga seorang sepupu Andrew lainya berdiri dengan gagah di belakang Andrew. Andrew gelisah dalam kebahagian menanti kekasih hatinya muncul.
Saat lagu Beautiful in White mengalun dengan merdu, saat itulah pertanda penantiannya telah berakhir. Wanita yang dia cintai telah muncul menyedot perhatian setiap orang.
Disana dia melihat Conrad mendorong kereta kayu kecil dimana Aaron sedang duduk dengan lucunya sambil menebar pesona kesetiap orang.
Diana dibelakang berjalan dengan anggun dengan digandeng oleh Chandra. Sedangkan bibi Nikki, Lia dan Grisella mengiringi dari belakang.
Hati kedua insan itu berdebar. Mereka saling bertatapan dengan penuh cinta. Hingga tiba saat Chandra menyerahkan Diana kepada Andrew.
"Aku percayakan adikku padamu. Ingat! Bahagiakan dia selamanya." ujar Chandra dengan tegas.
Pemberkatan dilakukan dan saat mengucapkan janji pernikahan, mereka mengucapkannya dengan mata berkaca-kaca. Hati mereka kini menyatu dalam ikrar suci.
Hingga maut memisahkan.
Setelah janji pernikahan Andrew mencium Diana dengan mesra diiringi tepuk tangan dari para undangan. Aaron dan Conrad tentu sajaa tidak ketinggalan mendapatkan perhatian dan ciuman dari Andrew dan Diana.
"Kami akan menyanyikan sebuah lagu khusus permintaan dari pengantin pria untuk mengiringi dansa mereka yang pertama kali sebagai pasangan suami isteri.
***You're*** ***My Everything from Glen Fredly***." ucap Shane salah satu penyanyi Westlife.
Cruising when the sun goes down
berlayar disaat matahari terbenam
Across the sea
menyeberangi lautan
Searching for
mencari
Something inside of me
sesuatu dalam diriku
I will find all the lost pieces
aku akan menemukan semua pecahan yang hilang
heart wil feel
hati yang akan merasakan
Deep and real
dalam dan nyata
I was blind but now i see
aku dulu buta tapi sekarang aku mengerti
*
Yeah…
You`re the one [2x]
kaulah satu-satunya
Yeah…
I can`t live without u
__ADS_1
Aku tidak dapat hidup tanpamu
Take me to your place
Bawalah aku ketempaymu
Where our hearts belong together
Dimana hati kita dapat bersatu
I will follow you
Aku akan mengikutimu
Cause you`re the reason that i breathe
Karena kaulah alasan aku bernafas
I`ll come running to you
Aku akan datang berlari kepadamu
Feel me with your love forever
Rasakan aku dengan cinta mu selamanya
Promise you one thing
berjanji satu hal padamu
I will never let you go
Aku tidak akan membiarkan kau pergi
*Cause you are my everythin**g*
Karena kau adalah segalanya bagiku
***You're the one, you're my inspiration***
Kaulah satu-satunya. Kau adalah inspirasiku
***You're the one,oh yes you're the one***
Kaulah satu-satunya, ya benar kaulah satu-satunya
***Y******ou're the light that would keep me safe and warm***
Kaulah penerang yang akan membuatku aman dan hangat
***You're the one, yess, you're the one***
Kaulah satu-satunya, ya benar kaulah satu-satunya
Like the sun goes down
seperti matahari yang terbenam
coming from above all
yang datang dari atas
to the deepest ocean and highest mountain
Ke laut yang paling dalam dan gunung paling tinggi
deep and real deep i can see now
Mendalam dan nyata aku bisa tahu sekarang
"Andrew lagu ini, membuatku terkenang masa saat aku bekerja?" bisik Diana saat mendengar lagu ciptaan Glen Fredly tersebut.
"Tentu saja aku tahu, kau sangat berani memutar music ini di lobby kapal Pride of the sea."
"Tapi, bagaimana kau tahu?"
"Aku sudah melihatmu saat itu dan sikapmu yang tidak berusaha menarik perhatianku, membuat aku tertarik."
"Eh... tapi saat itu..."
"Iya sayang saat itu aku memang disibukan oleh berbagai macam urusan pengawasan kapal sekaligus rapat umum yang melelahkan. Tapi setiap kali melewati lobby, melihat dirimu yang ceria membangkitkan semangatku." Andrew memandang Diana penuh dengan perasaan cinta.
"Maaf aku baru muncul kembali di hadapanmu empat bulan kemudian di Fancy cruise. Tidak sulit bagiku untuk menemukanmu, tetapi mencocokan jadwal yang paling sukar. Saat itu aku memang sengaja datang untukmu. Dan aku bertekad kau harus menjadi milikku." Andrew akhirnya menjelaskan kepada Diana awal pertemuan mereka bukan karena ketidak sengajaan, melainkan karena Andrew sudah jatuh hati padanya pada pandangan pertama bahkan jauh sebelum Diana menyadari.
"Ah Andrew..." jantung Diana berdesir bahagia. Tiada yang lebih indah daripada dicintai oleh orang yang kita cintai.
"Dan sekarang kau adalah milikku seutuhnya." Bertepatan saat lagu berakhir. Andrew mencium bibir Diana lembut.
Semua wajah penuh dengan sukacita. Kebagahagiaan yang berhasil direngkuh dengan penuh perjuangan akhirnya berhasil mereka rasakan. Sumpah hidup setia sampai mati menjadi ikrar yang mengikat pernikahan mereka dilambangkan dengan sepasang cincin pernikahan dan ukiran nama mereka.
Disudut taman, tampak seorang wanita tersenyum terpaksa menyaksikan kebahagian Andrew dan Diana. Dia menegak champagne ditangannya dan melangkah pergi begitu lagu My everything berakhir.
THE END
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Hallo semuaaaaanyaaaa.
Seassons pertama sudah usai yaaa.
Terimakasih banyakkk sekali atas dukungan kalian terhadap karya pertama recehan saya ini.
Seassons dua nya? Masih galau lanjut gak yaaaa...
Hehehehhe...
Oh ya ini inspirasi foto pernikahan Andrew dan Diana.
__ADS_1