Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
85. Dimana Lia?


__ADS_3

"Andrew apa yang kau lakukan disini?" Diana melihat Andrew duduk disudut ruang kantornya dengan segelas conag dan smartphone nya.


"Tidak apa-apa. Kemarilah." Andrew meletakan conag dan smartphone nya di nakas.


Diana menghampiri Andrew dan duduk dipangkuan pria itu. Andrew menlingkarkan tangannya ke pinggang Diana dan mulai mengusap perut wanita itu dengan lembut.


"Bagaimana keadaanmu dan baby?"


"Kami baik-baik saja." ucap Diana dengan lembut pula. Dia menyandarkan dirinya ke dada Andrew. Tangan Andrew mulai membelai rambut Diana dan tangan satunya mengusap perut wanita itu.


"Aku sudah memerintahkan butler Jhon untuk mencari seorang yang berpengalaman untuk merawatmu."


"Tidak perlu Andrew aku tidak apa-apa. Ada banyak pelayan disini."


"Mereka hanya pelayan biasa. Aku menginginkan seseorang yang profesional untuk merawat mu dan bayi kita." Andrew menyentuh wajah Diana membuat wanita itu menoleh kepadanya, kemudian dia mulai mengecup bibir nya.


"Uh lepaskan." Diana mendorong tubuh Andrew dan menjauhkan wajahnya.


"Mulutmu bau alkohol membuatku mual." tolak Diana sambil menutupi mulutnya.


"Sedikit saja sayang." Andrew memaksa.


"Uh! Lepaskan Andrew." Diana berontak dan melepaskan diri dari pangkuan Andrew kemudian berlari ke kamar mandi di ruang kerja, dia memuntahkan semua rasa mual yang tiba-tiba muncul.


Andrew datang kemudian menepuk punggung Diana perlahan. Beberapa saat kemudian mual mulai reda.


"Hentikan mengkonsumsi alkohol, bayi mu protes!"


"Aku tidak akan mengkonsumsinya di dekat kalian."


"Andrew! Tolong hentikan, kau harus menjaga kesehatanmu demi anak-anakmu." pinta Diana dengan suara tegas.


"Baiklah." Andrew hendak memeluk Diana kembali.


"Jangan peluk. Ayo kemari, mandi sana." Diana menarik Andrew keluar dari ruang kerja dan menuju kamar utama.


"Gosok gigi yang bersih. Pakai maouthwash." perintah Diana sebelum menutup pintu kamar mandi. Andrew tidak berkutik dia hanya menuruti perintah kekasih hatinya.


Diana menyiapkan pakaian ganti Andrew dan meletakan di kasur, setelah itu dia segera turun kelantai bawah. Di sana dia melihat Conrad sedang membaca buku pelajaran bersama Nanny.


"Hallo Conrad sayang." sapa Diana lembut sambil mencium kepala bocah itu.


"Mommy, sudah sehat?" tanya nya dengan mata berbinar.


"Iya. Bagaimana pelajaranmu?"


"Kecilll.. Conrad selalu dapat rewards dari guru." Dengan bangga Conrad menepuk dadanya.


"Anak mommy pintar."


Butler Jhon memasuk ruangan.


"Nyonya makan malam telah disiapkan, apakah ada tambahan menu malam ini?" tanya kepala pelayan senior tersebut dengan sopan.


"Tidak ada butler. Terimakasih."


"Satu lagi nyonya, apakah nona Lia akan makan malam bersama nanti."

__ADS_1


"Tentu saja."


"Baiklah. Tapi dimana nona Lia, kenapa dia tidak bersama nyonya ketika kembali dari rumah sakit?"


"Tunggu. Maksudmu Lia tidak ada di rumah sekarang?"


"Iya nyonya." butler Jhon mengangguk. Diana mengambil smartphonenya dan mulai menghubungi nomer ponsel Lia, berkali-kali dia mencoba tapi tidak bisa terhubung.


"Kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi. Apa yang dilakukan anak itu."


"Bultler Jhon kau yakin dia belum pulang?" Diana saat ini menjadi cemas.


"Benar nyonya, saya baru saja menghubungi penjaga pintu gerbang. Mereka juga belum melihat nona kembali."


Tanpa banyak bertanya lagi Diana segera naik kelantai atas dan masuk ke kamar utama, saat itu bertepatan dengan Andrew yang baru saja keluar kamar mandi dengan handuk melingkar di pinggangnya.


Diana tidak menghiraukan tubuh sexy yang selalu membuatnya menelan ludah dan gugup, saat ini pikirannya hanya tertuju pada Lia dan dia langsung memberondong Andrew dengan pertanyaan.


"Andrew, dimana Lia? Apa dia tadi tidak pulang bersamaan dengan kita?"


"Lia? Kenapa dia tidak ada dirumah?" tanya Andrew sambil menggosok rambut basahnya dengan handuk kecil.


"Tidak ada. Butler Jhon bilang seharian ini dia belum melihat Lia. Penjaga gerbang mengatakan kalau Lia belum kembali." Mata bulat Diana bergerak-gerak dengan panik yang membuat wajahnya tambah semakin mempesona.


"Aku sudah menghubungi Lia tapi ponselnya mati. Dimana dia sekarang, kenapa kau membuat kakak cemas."


"Tenanglah. Kemari dan duduklah terlebih dahulu." Andrew menuntun tangan Diana hingga di sofa.


"Kau disini dulu, tenangkan dirimu jangan panik." ujar Andrew dengan memegang pinggiran sofa dan memandang Diana. Setelah dilihatnya wanita itu mulai tenang, Andrew menegakkan punggungnya dan mulai membalikan badannya.


"Tunggu mau kemana kau?" tanya Diana dengan panik sambil menarik handuk di pinggang Andrew tentu saja akibatnya handuk itu terlepas dari lilitan terurai dalam genggaman Diana.


Andrew junior tepat berada dihadapan wajah Diana, masih dengan pose malu-malu.


"Kau ingin menggodaku atau membiarku mencari tahu keberadaan Lia?" tanya Andrew dengan pandangan mata yang menghipnotis tanpa menghiraukan handuk yang telah terlepas.


Diana gugup, dia menengadahkan wajahnya, "Lia.. Lia dulu. A..aku tidak sengaja." ucapannya tidak beraturan.


Andrew bukannya mundur malah maju kedepan sehingga junior nya hampir menempel di wajah Diana.


Diana langsung berdiri dengan posisi yang terdesak. Dia segera menutup junior dengan handuk ditangannya, dikaitkan melingkar di pinggang Andrew.


"Sudah, junior tidak boleh nakal ya. Senior harus bekerja." Diana tersenyum lucu sambil memandang junior dan beralih ke senior.


"Nanti kau harus bertanggung jawab sudah mengecewakan junior." ancam Andrew sambil menyeringai tipis.


"Tentu saja Senior." Diana mengerdipkan matanya.


"Apa yang alan kau lakukan sekarang? Bagaimana dengan Lia?" tanya Diana tanpa menghiraukan lagi pandangan menghipnotis Andrew.


"Aku mau mengambil ponselku dan menanyakan pada Briant."


"Oh iya benar Briant." ujar Diana sambil menepuk keningnya.


Andrew mengambil smarthphonenya di nakas dan segera menghubungi Briant.


"Ya Andrew?" suara Briant diseberang sana.

__ADS_1


"Apakah Lia bersamamu?" tanya Andrew langsung. Diana ada disisi Andrew sambil berharap cemas.


"Tidak. Dia kembali bersama Jason." jawab Briant diseberang sana.


"Kenapa dia bisa bersama dengan Jason?" tanya Andrew dengan heran.


"Entahlah, kejadiannya begitu cepat saat itu. Tapi dia sempat mengirimiku foto dan plat mobil Jason. Kenapa ada sesuatu terjadi?" tanya Briant diseberang sana.


"Dia belum kembali sampai saat ini." Andrew mulai ikut cemas.


"Apakah kau sudah menghubungi ponselnya?" tanya Briant lagi.


Andrew menoleh kepada Diana, "kau yakin sudah menghubungi ponselnya?"


"Sudah berulangkali, tapi ponselnya mati." jawab Diana dengan cepat.


"Dia tidak bersama Briant?" tanyanya dengan cemas. Andrew tidak menjawab pertanyaan Diana.


"Diana sudah menghubungi berulang tetapi ponselnya mati." Info Andrew kepada Briant.


Andrew menoleh kembali kepada Diana, "bagaimana dengan nomor Briant?"


Diana menggelengkan kepala. Dia merasa tidak memeiliki nomer Briant, tetapi pria itu memang sudah menyimpan nomernya.


"Katakan pada kakak ipar untuk tetap tenang. Aku akan mencoba mencarinya." Briant menutup sambungan telphone Andrew dan langsung menghubungi kepala polisi yang dia kenal untuk mencari alamat rumah yang terdaftar pada plat nomor Jason. Sekaligus menghubungi anak buahnya untuk menyusuri kota mencari keberadaan Lia.


Sementara di rumah, Andrew berusaha menenangkan Diana.


"Tenanglah, Briant akan mencarinya. Lia sudah dewasa dia cerdas dan bisa menjaga dirinya sendiri, tidak akan ada hal yang buruk terjadi padanya."


"Aku khawatir, dia bahkan baru beberapa hari di kota ini."


"Tenanglah. Bukannya kau mengenal Jason?"


"Aku baru mengenal Jason beberapa hari juga. Aku bahkan tidak mengingat pertemuan dengannya tiga tahun yang lalu seperti yang selalu dia katakan. Apakah benar aku bertemu dengan dia?"


Andrew tidak menjawab pertanyaan Diana. Dia menggandeng tangan wanita itu ke dekat kasur.


"Bantu aku mengenakan pakaian."


"Andrew aku sedang tidak ingin bercanda."


"Aku juga tidak bercanda, apakah kau ingin membiarkan aku sakit kedinginan tanpa pakaian?"


Dengan kesal Diana tapi tidak ingin berdebat, ia akhirnya membantu Andrew mengenakan tshirt dan melemparkan celana dalam ketangan Andrew.


"Ini belum selesai sayang." Andrew mengacungkan celana dalam nya.


"Pakai sendiri sudah besar." Kata Diana sebelum keluar dari kamar.


Andrew segera mengenakan pakaiannya dan menyusul Diana. Dia bukannya tidak pengertian dengan kegelisahan wanita itu, tapi dirinya hanya berusaha mengalihkan perhatian Diana agar tidak terlalu cemas.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Liaaaaa kemana dikauu?


Ngilang kan, makanya jangan nakal.

__ADS_1


Kakak mu pusing itu.


__ADS_2