
Berita yang sudah tersebar tidak akan mudah di hapuskan begitu saja. Bagaikan segenggam debu yang tertiup angin. Meskipun angin sudah berhenti tertiup, kita tidak dapat mengumpulkan kembali debu yang tersebar. Itu lah sebabnya pepatah mengatakan jika Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Rumor fitnah akan terus tersebar dari bibir-bibir dengki yang tidak bertanggung jawab.
Seperti saat ini, di sekolah Francesca harus mati-matian menghadapi teman-temannya yang mencecar nya dengan berbagai pertanyaan.
Dia bahkan bingung, bagaimana mereka bisa mendapatkan berita seperti itu.
"Daddy mu ternyata kaya karena memiliki penghasilan tambahan yaa..."
"Yang ditemukan cuma dua puluh orang? Mana tahu, jika di semua kapal, karyawannya berperan ganda."
"Wah... pantas saja ekonomi keluargamu selalu stabil meskipun krisis."
Wajah Francesca memerah mendengarkan semua perkataan yang menghina keluarga nya terutama Andrew. Gigi-gigi Francesca bergemelatukan. Semua yang menghina dihadapannya langsung, tentu saja pihak yang iri hati. Pihak pria iri karena setiap wanita yang dipacari, selalu membandingkan diri dengan Aaron. Sedangkan pihak wanita yang menghinanya adalah mereka yang tidak terima karena sudah ditolak oleh Aaron.
Dan mereka semua tidak berani bertanya langsung pada Aaron. Mereka malah melampiaskan rasa ingin tahu, kekesalan dan kebencian pada Francesca, gadis yang selalu diam dan mengalah. Mereka mengira jika Frances tidak mungkin akan berani melawan.
"Apa yang kalian katakan!!! Daddy ku adalah pembisnis yang handal. Dia orang yang jujur dan baik hati." teriak Francesca marah.
"Baik hati bagaimana?" sindir salah seorang dari mereka.
"Iya, kan beritanya sudah ada itu. Pelacuran di kapal pesiar."
"Kalian fitnah!!!!" ujar Francesca berang.
Mereka semua bahkan terkejut dengan sikap Francesca yang marah. Francesca selama ini selalu lembut dan pendiam. Dia lebih sering menyendiri dan pergi ke ruang musik. Francesca hanya memiliki sedikit teman dekat.
Bukan tanpa alasan dia bersikap seperti itu. Francesca sudah jenuh dengan sikap teman-temannya yang seringkali mendekati dirinya karena mengharapkan sesuatu.
Bukan sekedar karena mereka ingin dekat dengan Aaron melalui Francesca. Tetapi orang tua mereka selalu meminta, agar mereka bersikap baik dan memberikan hadiah kepada Francesca atas nama orang tua. Sekaligus berharap agar Francesca memberitahukan orang tuanya akan kebaikan mereka.
Disaat sebagian orang membuli dirinya akibat peristiwa skandal di kapal pesiar. Mencerca dan mengejek tanpa belas kasihan. Namun ternyata masih ada beberapa pihak juga yang membela.
"Itu urusan orang tua. Kalian tidak perlu membahasnya dengan Francesca." ujar Leoni.
"Benar. Apa hubungannya dengan kalian juga, apa keluarga kalian dirugikan dengan peristiwa itu?!" Tambah Keylin.
"Tapi... itu memalukan sekolah." Sahut Teddy.
"Belum juga terbukti. Lagian kamu Cowok kok bawel suka gosip." balas Leony dengan sinis.
"Ayo Frances, kita pulang saja." Keylin menarik tangan Francesca.
"Ehh... mau kemana anak pembisnis gelap." hadang Leonel.
"Iya kita kan belum selesai." ujar Marsha.
"Kalian mau apaan sih! Menyigkir! Jangan ganggu aku!" teriak Francesca marah.
"Aku laporin dengan bu guru." ancam Leony.
"Diiiihhh... dasar anak pembisnis kotor, bisa nya main lapor saja."
"SIAPA YANG PEMBISNIS KOTOR?!!"
Suara bentakan di belakang mereka membuat semua serentak terdiam. Ketika mereka menoleh kearah pintu tampak Aaron dan Dony juga beberapa gerombolan genk Aaron.
"Tentu saja daddy Mu!" Teriak Leonel dengan sinis.
"Tutup mulutmu! Daddy ku orang yang baik dan selalu berbisnis lurus!" Bentak Aaron tak kalah nyaring.
__ADS_1
"Bisnis lurus apa. Beritanya kan sudah tersebar." ejek Teddy.
"Mana buktinya? Kau punya link beritanya?" ujar Aaron dengan suara menantang.
"Tentu saja daddy mu bermain kotor dengan mengancam statiun televisi dan youtube. Kelihatan sekali kan, kalau mereka malu dengan scandal tersebut." ejek Leonel.
"Karena berita itu adalah kesalahan, makanya mereka menarik kembali." Aaron meluruskan keadaan
"Salah apanya. Pelacuran di salah satu anak kapal Fantasy Cruisline. Hahhaha siapapun sudah tahu itu. Daddy mu seorang mucikari!" ujar Leonel dengan sinis
"Kau sudah keterlaluan!" Aaron yang marah bergerak maju dan mencengkeram kerah leher Leonel.
Saat ini di dalam kelas Francesca sudah ada dua kubu yang saling bersitegang. Raut wajah mereka penuh dengan amarah. Anak-anak wanita yang melihatnya segera menggeser kesudut. Mereka semua terdiam dengan takut. Beberapa anak bahkan mengeluarkan ponsel untuk merekam kejadian tersebut. Lebih buruknya tidak ada satu pun yang berniat melapor pada guru.
Dari arah luar kelas yang dibatasi oleh kaca. Tampak banyak siswa lainnya yang sedang menonton. Saat Aaron terpancing emosi dan mencengkeram kerah baju Lionel puluhan kamera mengabadikanya. Francesca yang melihat kejadian itu, segera menahan Aaron.
"Aaron! Lepaskan dia. Jangan terpancing emosi melawan orang yang tak bearti." Francesca menahan tangan Aaron.
"Lepas Frances. Dia sudah menghina daddy!" geram Aaron muak.
"Aku tahu. Tapi ini di sekolah. Kau tidak akan membiarkan mereka semakin menghina dirimu kan. Tolong jaga nama baik daddy." ujar Francesca lembut.
"Nama baik apa, Daddy si penyelundup wanita. Hoiii kekakayaan mereka ternyata berhasil dari Perdagangan Manusia. Cih! Memalukan! Kau sudah berlagak bagaikan seorang superstar, Tapi ternyata hanya anak mucikari! hahhahah." Perkataan Leonel semakin membakar emosi Aaron.
"Kau!" Tangan Aaron sudah terkepal dan siap menghantam wajah Leonel, namun Francesca dengan sigap menahan tangan Aaron sekuat tenaganya.
"Aaron. Tidak disekolah!" bentak Francesca.
Aaron menoleh, menghadap Francesca. Francesca mengangguk agar Aaron melepaskan Leonel.
Remaja itu akhirnya melepaskan pegangan nya di kerah Leonel dan mendorong nya.
Aaron yang hendak membantah ditahan oleh Francesca.
"Dia bukan pengecut. Hanya saja aku kasihan jika Aaron mulai menghajarmu. Semua gigi mu akan rontok. Dan kau tahu, di usiamu sekarang ini, gigi yang lepas tidak akan tumbuh lagi. Kau seharusnya berterimakasih karena aku sudah menyelamatkan dirimu dari rasa malu, karena seumur hidup bakal menggunakan gigi palsu." ujar Francesca dengan tenang.
Leonel terdiam begitu juga Teddy dan gerombolan lainnya. Mereka hanya bisa memandang kepergian Aaron dan Francesca dengan penuh permusuhan. Hanya satu yang mereka inginkan, agar kedua orang itu merasa malu, semalu-malunya dan keluar dari sekolah ini. Sehingga popolaritas sekolah akan dimiliki oleh mereka.
"Aku seharusnya menghajar anak itu dan merontokan semua gigi nya!" desis Aaron geram.
"Tidak Aaron. Ingat yang mommy ajarkan. Jangan membalas kejahatan dengan Kejahatan. Hadapi dengan kebaikan." ujar Francesca dengan kedewasaannya.
"Tapi mereka sudah menghina keluarga kita. Mereka menghina daddy. Aku seharusnya membela daddy dengan menghabisi mereka."
"Lalu apa? Kau akan diskors dan mereka akan semakin senang menggosipkan dirimu. Kita lebih baik bersikap tenang, biarkan daddy menyelesaikan masalah itu. Kita tidak perlu menambah kan beban pada mereka."
"Tumben kau keren, Frances." ujar Aaron memandang Frances dengan kagum
"Jika kau tidak menahanku, sudah aku habisin si Leonel." Aaron meninju udara.
"Karena aku selalu mengingat nasihat mommy. Aku juga tidak mau kita di skors. Itu lebih memalukan untuk daddy." sahut Francesca tenang.
"Kira-kira bagaimana di sekolah Anna dan Archie ya. Apa mereka juga di bully?" Aaron penasaran.
"Seandainya iya pun. Aku yakin jika mereka bisa mengatasinya."
"Hmmm..."
❤❤❤❤
__ADS_1
Di kediaman Leonel.
"Mom, aku sudah berhasil menyebarkan isyu itu di sekolah." lapor leonel pada seorang wanita dengan lipstik warna merah menyala.
"Bagus! Kau sudah membuat setiap anak membencinya?"
"Iya mom." sahut Leonel dengan bangga.
"Anak pintar. Kau berguna juga." Wanita itu tertawa dengan keras sambil menghidupkan rokok nya. Tawa nya tak berhenti. Tawa yang mengerikan. Tawa yang terdengar menggambarkan duka dan kebencian yang mendalam.
"Kenapa mommy membenci mereka?" tanya Leonel dengan heran.
"Itu bukan urusanmu! Urusanmu hanya lah menuruti perintahku. Kau harus terus menghasut teman-teman disekolah agar mereka membenci kedua anak tersebut. Buat mereka mengadu pada orang tua nya sehingga akan ada rapat orang tua yang menuntut untuk mengeluarkan Aaron dan Francesca."
"Baik mom."
"Aku ingin keluarga itu hancur dan sengasara seperti yang mereka lakukan padaku. Aku ingin menginjak mereka dengan kakiku." ujarnya oernuh dengan kebencian.
"Ah, satu lagi. Sebarkan berita yang mengatakan Francesca adalah anak selingkuhan Andrew. Gadis itu pasti bukan anak kandung mereka. Karena anak mereka tertua hanya Aaron. " ujar wanita itu dengan penuh kebencian.
"Baik mom."
"Lakukan tugasmu dengan baik. Jangan sia-siakan uang yang aku keluarkan untuk memungut dirimu dari jalanan! Ingat! Kau berhutang budi padaku! Kau harus berguna bagiku!"
"Baik mom." Leonel menunduk patuh.
"Kau boleh pergi. Tapi sebelumnya siapkan makanan untuk kakak sulungmu."
Leonel mengangguk patuh. Dia pergi ke dapur, mengambil makanan yang sudah disiapkan oleh pelayan. Leonel kemudian membawa nya ke dalam sebuah kamar yang tidak tertutup. Di dalam sana ada seorang pemuda duduk di kursi roda. Pemuda itu masih muda, berusia sekitar dua puluh tahunan. Tetapi sayang sekali, pemuda yang seharusnya gagah dan menjalankan masa mudanya untuk menggapai mimpi, harus mengalami stroke.
"Kakak... Leonel datang, ayo makanlah." Remaja berusia lima belas tahun itu dengan penuh perhatian duduk di dekat kakak nya.
Dia mengambil air dengan dan kemudian meletakan sedotan ke dekat bibir kakaknya itu. Pemuda itu dengan lemah meminum air itu. Keadaanya sangat memilukan sekali. Ada kantong air kencing menggantung di sisi kursi roda. Mulutnya sudah miring dan dengan susah payah iya membuka mulut menerima suapan bubur hangat itu.
Leonel mengambil sesuap lagi dan meniup nya perlahan, kemudian menyuapkan ke mulut pemuda cacat itu. Kulit wajah pemuda itu sangat pucat begitu juga rambutnya yang tak berpigmen. Mata abu-abunya memandang sendu ke arah Leonel.
Tanpa sadari air mata mengalir di pelupuk mata pemuda cacat itu.
"Kakak jangan menangis. Jangan sedih. Leonel akan selalu berada di sisi kakak dan mommy." Janji Leonel dengan penuh kesungguhan.
Pemuda cacat itu menggelengkan kepalanya dengan lemah. Jempol jarinya bergerak dan bibir itu berusaha mengatakan sesuatu. Leonel mendekatkan telinganya ke bibir pemuda yang stroke tersebut.
"...pe...r....gii..." ujar nya dengan susah payah.
Leonel mengakkan tubuhnya dengan tegang. Dia menatap Pemuda yang lemah tersebut dengam tajam dan heran. Dengan tegas Leonel menggelengkan kepalanya.
"Jangan khawatir kakak. Aku tidak akan pergi meninggalkanmu seperti daddy dan Belinda. Aku akan sekolah dengan baik dan bekerja untuk kalian berdua. Aku akan membantu mommy membalaskan dendam kalian. Kalian lah keluargaku." ujar Leonel dengan serius.
Pemuda di kursi roda itu tidak mengeluarkan kata-kata lagi. Dia hanya menatap Leonel dengan sendu. Dia tidak memiliki tenaga lagi untuk mengeluarkan suara. Segera setelah bubur itu habis. Leonel membasuh mulut kakaknya dengan kain basah.
"Mari, aku bantu kau berbaring kakak." Leonel dengan penuh perhatian, mengangkat tubuh kakaknya dan menggeser pemuda itu ke atas tempat tidur. Dia kemudian membaringkan tubuh Kakaknya dan menutupi dengan selembar selimut.
"Selamat malam kakak. Mimpi yang indah. Aku akan membersihkan semuanya dan kembali menemanimu."
Leonel membereska semua perlatan makan. Kemudian dia meletakan di dapur. Leonel mengambil sisa bubur di panci dan memakannya dengan sedikit garam. Setiap harinya dia tinggal dirumah itu untuk merawat kakak angkatnya yang sudah stroke, dengan penuh kasih sayang. Leonel menikmati bubur itu dengan lahap. Remaja tampan itu kemudian membersihkan peralatan masak dan pergi mandi.
Serelah selesai mandi, Leinel kembali ke kamar. Dia mulai membuka laptop. Dan dengan menggunakan akun fiktif Leonel mulai menyebarkan berita jika Francesca adalah seorang anak selingkuhan. Dia memosting hal tersebut di face book, tweeter dan memberikan hastag nama sekolah mereka.
Setelah selesai dengan semua tugas yang diberikan ibu angkatnya. Leonel menutup lapptopnya, dia memeriksa keadaan kakak angkatnya. Melihat pria sakit itu sudah tertidur. Leonel mulai berbaring di kasur miliknya yang berada di seberang. Saat Leonel sudah berbaring, pemuda yang sakit itu membuka matanya dan menatap Leonel dengan sendu.
__ADS_1