Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Negosiasi


__ADS_3

Pisau itu melekat di leher Leonel. Meski susah payah Bertha memegang Leonel yang bahkan tidak memiliki cukup tenaga untuk berdiri dengan tegak. Anak yatim piatu itu cukup menyedihkan dan sangat malang nasibnya. Sudah terlambat bagi dirinya mengetahui kebenaran, jika Bertha tidak benar-benar menyayanginya.


Bertha menyeringai lebar dengan mata nanar ke arah polisi, yang sedang mengacungkan pistol ke arah dirinya. Jika dia mati, maka Leonel juga harus mati. Tangannya semakin menekan ke arah leher Leonel dan berhasil menciptakan goresan disana. Leonel bahkan tidak mampu berbicara dengan bibir bengkak dan bernanah.


"Jangan bertindak gegabah, nyonya." ujar polisi tersebut. Dua orang rekannya masih berada di luar rumah berjaga-jaga. Mereka tidak mengetahui apa yang terjadi di dalam. Polisi tersebut melirik ke arah rekannya yang tergeletak di lantai, dengan darah yang mulai merembes keluar.


"Kalian mau menangkapku?" Mata Bertha bergerak-gerak.


"Kami hanya akan membawa anda ke kantor polisi, untuk memberi penjelasan mengenai kasus yang berkaitan dengan fantasy group." ujar polisi tersebut masih dengan posisi mengacungkan senjata.


"Haha..haha.. kalian hendak membawaku pergi? Aku tidak akan kemana pun!" ujar nya dengan tegas.


"Ada surat panggilan untuk anda, nyonya. Sebaiknya kita pergi. Lepaskan anak malang itu. Kita bisa membantu perawatannya." Polisi masih menciba untuk bernegosiasi.


"Kau pikir aku perduli dengan surat panggilan?! Aku akan membunuh anak ini, jika dirimu semakin mendekat!" Desis Bertha ketika melihat polisi itu semakin mendekatinya.


Polisi itu diam di tempat. Dia melihat di belakang wanita itu tidak ada jalan keluar. Rekannya pun tidak bisa masuk dan melumpuhkan wanita itu dari arah belakang. Jika dia terus mendesak maju, wanita yang sudah tidak bisa berpikir jernih tersebut, akan melukai anak malang tersebut.


"Maa... Maaa... Leee...oòoo..." suara erangan anaknya yang cacat itu, membuat Bertha menoleh.


"Sabar ya sayanggg... Sebentar lagi mommy selesai... Kemudian kita akan bersama-sama menemui ayahmu. Kau duduklah yang manis disana." ujar nya dengan suara lembut, yang sangat berbeda dengan bagaimana dia berbicara pada polisi.


Polisi tersebut menoleh kearah pemuda cacat tersebut. Masih dengan kepala miring dan air liur yang menetes, pemuda itu menitikan air matanya. Tampak sekali, meskipun tubuhnya lemah dan kesuliatan berbicara, otak pemuda itu masih bisa bekerja.


Dengan meminta maaf dalam hati, polisi itu menodongkan senjatanya pada pemuda cacat tersebut.


"Jika anda tidak melepaskan anak itu, maka saya akan berbuat kasar pada anak ini."


Laura tertawa kerasss. Suara tawa Laura membuat polisi yang berjaga segera masuk. Ada yang aneh dari nada tawa tersebut. Saat mereka masuk, mereka melihat adegan yang mengerikan itu. Kedua polisi lainnya segera mengeluarkan pistol dan menodongkannya ke arah Bertha.

__ADS_1


"Kalian polisi hendak membunuhku? Hahahha... Begitu kah sikap penegak hukum pada seorang wanita janda dan anak yatim?" Bertha berbicara dengan sinis.


"Jangan main-main, nyonya. Lepaskan anak itu dan kita bisa berbicara dengan baik-baik." ujar seorang polisi.


"Berbicara dengan baik, tapi kalian mengokang pistol dan menodongnya ke arah janda dan anak yatim?!" bentak Bertha dengan garang.


"Karena anda berniat melukai seorang anak dan mencederai rekan kami" balas polisi.


Sesaat suasana hening. Mata Bertha tampak berputar. Dia menatap kedua polisi yang ada di hadapannya. Seorang polisi sedang berjongkok dan memeriksa keadaan rekannya yang tergeletak. Tubuh polisi yang tergeletak tampak menghalangi jalan.


"Kau bisa membawa rekan mu pergi. Dan aku akan melepaskan anak ini jika kalian memenuhi syaratku." ujar Bertha akhirnya.


"Baiklah nyonya, apa yang anda inginkan?" ujar polisi lainnya. Dia mundur beberapa langkah dengam mata yang masih tak lepas dari Bertha. Dia memberi kesempatan pada Rekannya untuk menarik tubuh teman mereka yang masih pingsan. Setelah ditarik keluar dan disandarkan di dinding, salah satu polisi tersebut menghubungi atasannta


"Aku akan melepaskan anak ini, jika kau membawa Andrew kemari!" Pinta Bertha dengan tegas.


"Aku tidak mau! Aku mau Andrew datang kemari dan menemuiku sekarang juga!" Teriak Bertha dengan kasar dan pisau yang semakin menekan ke leher Leonel.


"Baik. Baik. Nyonya. Kita akan coba hubungi tuan Andrew." Polisi itu merentangan tangannya agar Bertha bisa lebih tenang.


"Saya akan meletakaan pistol ini. Kita bisa bernegosiasi dengan baik-baik."


"Aku hanya mau Andrew datang kemari! Hanya Andrew! Hahaha Hahaha." Suara tawa Bertha begitu kering.


"Baik nyonya, rekanan saya sedang menghubungi tuan Andrew. Tapi... kenapa anda hendak bertemu dengan dirinya? Apakah tuan Andrew suami anda?" Pancing polisi tersebut, berusaha untuk memecah konsentrasi Bertha.


"Suamikuu??" Tawa Bertha kembali membahana.


"Dia musuh terbesarku! Pria yang sudah membunuh adik dan kekasihku!" Mata Bertha melotot. Raut wajah nya tapak penuh kebencian juga sangat tegang. Urat-urat dilehernya dan di kening menojol keluar.

__ADS_1


"Musuh? Lalu apa yang akan anda lakukan pada tuan Andrew?"


Polisi itu terus mengajak bicara Bertha. Sementara salah satu rekannya sedang menghubungi kepala polisi, menceritakan situasi yang terjadi sekaligus persyaratan Bertha. Rekan yang lainnya lagi, perlahan mendekati pemuda cacat di kursi roda elektrik itu. Dia bermaksud membawa pemuda itu keluar, agar terselamatkan dari amukan Bertha.


"Tahan disana! Jangan Coba-coba bawa anakku pergiiiiii!!!!!!" teriak Bertha garang melihat kearah polisi yang berusaha mendorong kursi roda tersebut.


Tangan Polisi itu terhenti dari kegiataannya. Dia memandang ke arah rekanannya yang sedari tadi mengajak Bertha berbicara. Denngan sedikit menggelengkan kepalanya, dia melarang rekanan untuk melanjutkan kegiatan nya. Polisi yang bernegosiasi tersebut bisa merasakan, jika Bertha sementara ini tidak aoan membahayakan pemuda cacat itu.


"Kau baik-baik saja kan sayang?" ujar Bertha dengan lembut ke arah Anak cacatnya.


"Ii..ii... ii... iyaaa..." jawabnya dengan lemah dan gagap.


"Bagus. Aku tidak akan membiarkan mereka menyakiti apalagi membawa mu pergi dari sisi ku. Semua nya akan segera selesai dan baik-baik saja." ujar Bertha dengan lembut.


"Mom...mommy... Aku lelah..." Leonel akhirnya bersuara dengan lemah. Badannya merosot dari bersandar pada tubuh Bertha.


"Hai tegak bodoh! Kenapa kau harus lemah! Kau masih berhutang banyak padaku, saat nya menunjukan baktimu pada ku." bisik Bertha dengan tegas di telinga Leonell.


"Iya... mommy." ujar Leonel dengan susah payah.


"Nyonya... lepaskan anak itu. Kami berjanji tidak akan membawa anda ke kantor polisi. Kita bicaraoan lagi masalah ini dengan baik-baik." ujar polisi tersebut yang merasa kasihan melihat keadaan Leonel.


"Kau tidak apa-apa nak?" tanyanya pada Leonel.


"Tidak apa-apa. Aku sedang berbuat bakti pada mommy. " sahut Leonel dengan lirih.


Polisi itu tersentak mendengar jawaban Leonel. Anak kecil ini sungguh malang sudah tercuci otaknya. Bagaimana mungkin dengan dijadikan sebagai sandera bisa dikatakan berbakti.


"Cepattttt!!!!! Mana Andrewwww!!!!" teriak Bertha dengan keras dan penuh kemarahan.

__ADS_1


__ADS_2