Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Slime


__ADS_3

Terdengar keributan di dalam mansion. Diana yang sedang asyik merawat tanamannya segera masuk. Dia merasa heran, karena mendengar suara Francesca menangis dengan meraung-raung.


Diana bergegas mencari anak-anaknya. Dirinya sangat penasaran, bagaimana mungkin pengasuh tidak segera menenangkan anak-anak.


Sayup-sayup terdengar pula suara Francesca yang berteriak.


"Aaronnn jahatttttr... Huaaaaa. " raung Francesca dengan terisak.


"Alon kan udah say sorrryy. " balas Aaron dengan tak kalah nyaring.


"Huaaa... Rambut Francess... Huaaaa."


Diana masuk ke ruang bermain. Dan dia melihat Francesca menangis sambil memegang rambutnya. Sementara kedua pengasuh tampak berusaha menenangkan masing-masing anak. Mereka tampak kewalahan.


"Apa yang terjadi, kenapa kalian bertengkar. "


Diana heran dengan anak-anaknya yang tampak saling marah.


"Mommyyyy... Aaron nakallll... Huaaaaa. " Francesca berlari kedalam pelukan Diana.


Diana memeluk balik Francesca. Aaron memandang di depan dengan raut wajah yang tidak terima.


"Alon ndak nakal!" Seru Aaron tidak teroma karena Frances mengadu.


"Ada apa Francesca, apa yang dilakukan Aron?"


"Rambut Frances rusakkk... Huaaaa."


Diana melihat kearah yang ditujukan oleh Frances. Disana tampak gumpalan slime yang sudah lengket dan menggumpal.


"Ooo ini. Wah, dipotong ya sayang. "


"Huaaaa... Frances ndak mau rambut pendek, " Tolak bocah perempuan itu.


"Aaron nakalll. " Rengek Francesca dengan kesal


"Aalon kan sudah say solly." Balaas Aaron ngotot.


"Aaron kenapa rambut kakak di kasih slime. Ini kan jadi lengket sayang, " Tanya Diana dengan perlahan.


"Tadi Aalon buat pita dari slime, buat lambut kak Flances bial walna walni. Bagus mommy. Slime nya wangi pelmen."


Aaron nampak bangga dengan hasil karyanya.


"Rambut Frances sudah wangi. Gak perlu slime lagi." Francesca tampaknya masih ngambek.


"Tapi wangian slime. Haluuuummm."


Ujar Aaron tak mau kalah.


"Sudah ayo berhenti bertengkar ya. Frances, ini slime nya dibersihkan dulu ya. Frances tenang dulu." Diana mendudukan Frances di kursi.


Pengasuh segera mencoba membersihkannya. Teteapi ternyata sudah sangat lengket dan menyatu di rambut. Pengasuh memandang Diana dengan putis asa.


Sedangkan Aron masih dengam tampak tak bersalahnya, berusaha membantu penhasuh itu. Dia menarik slime dari rambut Francesca.


"Aduhhhh sakitttt, hikssss" Frances menjerit.

__ADS_1


"Cengeng!" Aaron mengolok.


"Sini rambut Aaron, Frances tarikkk yaaaa." Balas Francesca dengan marah.


"Iii.... ndak kena. Ndak kena.." Aaron lari menghindar.


"Sudah. Ayo hentikan. Aaron minta maaf dulu sama kakak. Lihat rambut kakak rusak." Diana mengulurkan tangannya agar Aaron mendekat.


Aaron mencibir sambil menghelengkan kepalanya.


"Mommy sama kakah Frances mau ke salon lohhh. Habis itu makan ice creammm... Hmmm enakkkk sekali." Pancing Diana.


"Aalon mau ikuttttt." Aaron meloncat-loncat dengan gembira.


"Eitsss. Minta maaf dulu ke kakak. Ayo anak mommy kan pintar dan baik."


"Oke dahhhh. Kakak, Aalon minta maaf." Aaron mengulurkan tanganya. Dengan masih sesegukan Frances membalas uluran tangan Aaron.


"Itu kan, Alon baik hati dan pintel, mau memaafkan," ujar Aaron dengan bangga.


"Heh?" Diana mengurungkan niatan nya untuk protes. Dia yang minta maaf bukan memaafkan. Diana hanya tersenyum lebar. Bagaimanapun juga Aaron belum genap empat tahun.


"Ayo sekarang, kita ke salon ya. Rambut Francesca nanti di potong model baru, terus di cuci yang harummm ya. Ini Girl time. Bagaimana?"


"Ayo mommy, belangkat sekalang. Alon juga mau cuci lambut pakai shampo wangi." Aaron menarik tangan Diana yang belum sempat menggandeng Francesca.


"Frances ikuttt.... ihhh Aaron...." Francesca berlari menggandeng sisi tangan Diana satunya.


"Nanny Maria, tolong persiapkan baju ganti untuk anak-anak. Nanny Matilda tolong katakan pada Papito, kita mau keluar. Sekalian menjemput Conrad."


"Baik nyonya."


"Itu belkat Aalon, kakak sekalang ke salon sama jalan-jalan." Ujar Aaron dengan bangga.


"Wekk." Frances mencibir.


"Wekkk," Aaron balas mencibir.


"Lambut slimeee. Lambuttt slimeee," Aaron masih mengolok Francesca.


"Si ompolll. Si ompoll," balas Francesca.


"Alon ndak ompolll. Alon ndak ompolll," teriak Aaron dengan nyaring.


"Iyaaaa, kemarin ngompol kan, wekkk ompol... ompoll." Franaces senang akhirnya bisa membalas Aaron.


"Ndak ompolll. Ndak ompolll. Hali ini Alon nndak ompolll." Aaron berteriak hampir menangis.


Diana langsung menggendong anaknya yang masih kecil, sebelum mengamuk.


"Muah. Iya Aaron hari ini tidak ngompol ya. Pinter. Makanya kalau mau pipis, langsung bilang ke nanny yaaa. Biar gak ngompol. Kan malu sudah besar ngompol." Bujuk Diana agar Aaron berhenti marah.


Aaron mengangguk.


"Francess ayo jangan menggoda adik yaaa."


"Ya mommy."

__ADS_1


Di dalam mobil.


"Alon mau duduk di sini sama mommy."


"Flances mau duduk disini juga sama mommy."


"Alon ndak mau ditengah."


"Flances ndak mau dekat Aaron."


Diana yang biasanya duduk di piggir pintu mobil, dibelakang kursi penumpang, akhirnya mengalah.


"Ayo. Mommy duduk di tengah. Aaron di belakang Papito. Frances di sini."


"Ndak mauuu. Alon mau di belakang kursi kosong." Protes Aaron.


"Ndak mauuu, Frances di sini saja."


"Tukallll tukalll... " teriak Aaron sambil berdiri di atas kursi.


"Ndak mau tukal, Aalon loncat-loncat loh ya." Ancam Aaron.


"Bentar. Aaron gak boleh loncat-loncat di mobil ya. Nanti kepalanya kejeduk. Frances ke sini dulu sama mommy." Diana memangku Frnacesca, kemudian menekuk kursi agar nanny Matilda bisa leluar dari sab belakang.


"Nanny duduk di depan ya. Nah sekarang sama kan semua nya. Kursi depan sudah terisi."


Diana mengembalikan Francesca di kursi mobil.


"Okeyyy... ayooo Papito, melunculll," teriak Aaron dengan penuh semangat.


Perjalanan menuju ke salon di dalam sebuah mall yang cuma tiga puluh menit, serasa berjam- jam lamanya. kedua bocah itu tak berhenti berebutan mencari perhatian ibu nya.


Mereka ribut untuk menanyakan apa saja yang di lihatnya di jalan. Dan saling menonjolkan diri mereka sendiri.


Sesampai nya di mall.


"Ayo Aaron, sini Frances gandeng." tangan Francesca terulur menggapai tangan Aaron.


"Iya. Alon mau jaga kakak. Bial tidak ada yang ganggu." Aaron berkata dengan angkuh layaknya seorang dewasa.


Diana tersenyum melihat mereka yang sudah berbaikan. Seditik bertengkar sedetik pula berbaikan. Dia membiarkan kedua bocah itu bergandengan, sementara dirinya dan nanny berjalan di belakang mereka.


Papito setelah menurunkan mereka di lobby mall langsung meluncur menjemput Conrad di sekolah. Perjalanannya jadi terasa sunyi dan membosankan seketika.


Sementara Aaron dan Francesca di sepanjang jalan di dalam mall menunu ke salon, tak berhenti berkicau dan memandang isi etalase toko. Mereka saling mengomentari apa saja yang dilihat.


Sesampai nya di salon. Mereka disambut dengan ramah. Seisi salon sudah mengenal mereka. Diana sering mengajak anak dan pengasuhnya di salon terbaik di mall tersebut. Diana memang sangat jarang mengunjungi salon kaum elite.


Dan kedua pengasuh itu pun sangat senang jika diajak ke salon. Karena Diana akan memanjakan mereka dengan creambath bergantian. Bonus.


"Okey, Francesca manis rambut cantik nya mau dipotong model bagaimana?" tanya seorang pegawai salon.


"Dipotong kaya Aalon. Bial jadi kembalan."


Aaron dengan bangga menunjukan rambut cepaknya.


"Ndak mauuuuuuu!!!" teriak Francesca dengan nyaring.

__ADS_1


...💗💗💗💗💗💗...


__ADS_2