Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
32. Rachel


__ADS_3

"Meredith kau yakin gadis itu?" tanya Rachel sambil menunjuk kearah Diana.


"Benar aku yakin dia. Aku pernah melihatnya bersama Andrew secara langsung." Meredith meyakinkan Diana.


"Kalau begitu akan aku hampiri dia." Rachel mengepalkan tangannya geram.


"Hei jangan buat keributan disini. Kalau tidak kita akan diusir." Meredith mencegah Rachel melangkah lebih jauh.


"Lalu apa yang akan kita lakukan?"


"Hmmm begini. Dia orang asia tampak nya masih lugu, kita pakai pendekatan saja untuk mempermalukan dia. Jangan kekerasan, Andrew bisa marah besar. Perlahan-lahan kita akan buat dia meninggalkan Andrew. " Maredith mulai menyusun rencana. Sedari tadi dia memperhatikan tindak tanduk Diana dari awal gadis itu hendak memasuki gedung Gereja.


"Kau berlutut dibawah patung Bunda Maria sana seperti orang berdoa. aku akan melihat situasi selanjutnya bagaimana caranya gadis itu yang akan mendekati kita. " Meridith menunjukkan ke arah sudut ruangan. Rachel menyeret Conrad dengan cepat.


"Mommy aku capekkk aku laparrr " Conrad merengek.


"Diam disana tidak usah merengek. Mommy sedang sibuk. "


"Tapi aku lapar mommy. Aku bosan disini." Conrad merengek sambil menghentakan kaki nya.


"Jangan berisik Conrad!" Rachel membentak Conrad perlahan.


"Biarkan dia Rachel. Bagus. Bagus sekali. Rengekannya menarik perhatian gadis itu." Meredith melihat Diana yang mulai menoleh dan memperhatikan mereka.


"Menangislah Conrad yang kerasss!" Meredith memerintahkan Conrad untuk terus merengek.


"Unty Mer anehhh aku laparrr. Ayo pergi mommy aku bosann."


"Bagus Conrad bantu mommy untuk menghancurkan selingkuhan daddy." Rachel melirik pada Conrad seraya melepaskan tangan Conrad yang menarik - narik bajunya.


"Jangan nakal. Rusak baju mommy nanti !"


"Mommy jahatttt !!!! " Conrad berlari meninggalkan Rachel dan Meridith.


"Tetap berlutut Rachel. Kita beruntung Conrad lari dan menabrak wanita itu."


"Jadi rencana kita berhasil?" tanya Rachel.


"Benar. Kita akan dekati wanita itu dan membuat dia mendengarkan kita. "


"Awasi mereka Meredith, jangan sampai lengah. "


"Tentu saja. Aku benci wanita itu. Tampangnya saja yang kalem tapi tingkahnya menyebalkan. Dasar wanita murahan. Bagaimana mungkin dia bisa berpikir memiliki Andrew. I hate Her. " Meredith berapi-api.


Beberapa saat mereka mengawasi tindak tanduk Diana dan Conrad akhirnya Mereka memutuskan untuk menghampiri.

__ADS_1


"Mommyy." suara Conrad yang ceria memanggil Rchel sambil melambaikan tangannya dan memamerkan cokelat pemberian Diana. Setelah saling berkenalan dan bertukar nama,


"Diana ayo kita cari tempat untuk mengobrol. " Rachel mengajak Diana keluar.


"Maaf, saya tidak bisa karena harus segera kembali bersama teman saya." Diana menolak dengan sopan sambil menunjuk kearah Yanti.


"Ayolah hanya sebentar di cafe depan sana. " Rachel menunjuk ke arah cafe di depan area gedung.


Diana berpikir sejenak sambil melihat jam ditangannya. Dia berjanji pada Andrew akan kembali ke kapal jam 14.30. Sedangkan saat ini sudah menunjukan pukul 12.45 . Sedangkan perjalanan yang akan dia tempuh dengan kereta kembali ke kapal sekitar satu jam.


"Maaf saya benar- benar tidak bisa." Diana kembali menolak halus.


"Kalian bisa mengobrop sambil berjalan . " Meredith tiba - tiba buka suara.


Akhirnya mereka memutuskan berjalan bersama ke arah luar gedung melewati halaman parkir yang luas.


Sementara Conrad tampak puas dengan sebotol air minum yang ditawarkan pejaja keliling dan tangan kecilnya menggandeng Diana dengan erat.


Diperjalanan Rachel mulai berkeluh kesah.


"Aku sedang kalut dan tadi berdoa didalam ketika kau menjaga anakku. Itu karena suamiku yang amat sangat aku cintai sedang tergoda dengan wanita lain." Rachel menoleh kearah Diana yang masih menatap lurus ke depan, kemudian Rachel menghela nafas panjang sambil memutar bola matanya jengkel.


"Wanita itu bahkan hanya pegawai rendahan. Tapi tidak tahu malu menggoda suamiku. " Rachel melanjutkan kalimatnya dan menoleh kearah Diana. Pandangan mata mereka bertemu . Diana yang sedari tadi diam karena tidak ingin campur tangan atau menanggapi masalah pribadi orang lain melihat bila Rachel menunggu komentarnya.


"Mungkin anda salah paham." Diana akhirnya membuka suara.


"Mungkin suami anda tidak berselingkuh. Mungkin mereka hanya berteman saja. " Diana berbicara sekenanya , karena sesungguhnya dia tidak mengerti dengan inti persoalan mereka.


"Tidak mungkin salah. Banyak buktinya. Aku memiliki foto-foto kemesraan mereka. " Rachel terdiam sejenak dan melirik kearah Diana yang masih berjalan santai sambil mengayunkan gandengan tangannya dengan Conrad.


"Bahkan wanita itu sudah berani menemui suamiku dan merayunya tiap minggu. Karena wanita sialan itu bahkan dia mulai jarang menghabiskan waktu dengan Conrad. Tidak pernag pulang dan malah menghabiskan waktu dengan wanita Ja###g itu. "


Suara Rachel mulai berapi - api.


Diana mengayun-ayunkan tangannya yang menggenggam Conrad membuat bocah itu tertawa gembira. Dia berusaha mengalihkan perhatian Conrad agak tidak mendengar perkataan Rachel yang menurutnya tidak pantas di dengar oleh anak kecil.


"Mungkin anda perlu berbicara dengan suami anda. "


Diana berusaha memberikan saran yang sederhana.


"Bicara dengan dia? Bertemu saja susah. Dia menjadi orang yang berbeda semenjak dekat dengan wanita Ja#a#g itu . Tidak bisa dikendalikan."


kalimat Rachel yang mengatakan dikendalikan menjadi suatu pengertian yang membingungkan.


Apa maksud dikendalikan, apakah suami istri itu harus salah satu yang pegang kendali, bukannya mereka adalah partner yang sama-sama saling mendukung dalam suatu kendali? Suami selingkuh atau istri selingkuh, siapa yang salah ataupun siapa yang benar tidak dapat ditentukan begitu saja.

__ADS_1


"Wanita seperti itu harusnya digunduli, dipermalukan." Meredith ikut angkat bicara.


"Kau mendengarkan aku kan, benarkan apa yang aku katakan?" Rachel berhenti menghadang jalan Diana.


Diana memandang Rachel, wanita ini cantik , tubuhnya tinggi -+ 175cm, langsing semampai. Rambutnya pirang terurai rapi bahkan ta goyang karena hembusan angin. Pakaian mahal yang membungkus tubuhnya. Tas dan sepatu mahal bahkan perhiasan yang dia pakai. Berdiri dihadapannya dengan wajah sombong dan pandangan yang merendahkan. Sedangkan wanita satunya yang tak kalah cantik dan angkuh berdiri dihadapannya membuat Diana semakin heran, untuk apa wanita-wanita ini menceritakan semua dan seakan-akan pendapatnya penting. Kenal saja baru beberapa menit yang lalu. Pendapatnya apakah begitu penting.


"Iya saya mendengarkan. Menurut saya anda sebaiknya mencari cara untuk bertemu dan berbicara dengan suami anda. Katakan anda mengetahui perselingkuhannya dan tanya kenapa dia melakukan. Kemudian anda bisa menyelesaikannya permasalahan bersama-sama . " Diana berusaha memberi pendapat tanpa memaksa mempengaruhi secata sepihak.


"Penyelesaiannya hanya dengan membuang wanita matre itu . " Pandangan mata Rachel seakan mau menguliti Diana.


Yanti dan suami yang melihat kedua wanita tersebut seakan menyudutkan Diana, merasa kasihan dan mulai bertindak.


"Maaf kami harus segera pergi. Anda sebaiknya menyelesaikan masalah tanpa melibatkan Diana. "


menoleh kepada Diana dan menarik tangan Diana. "Ayo Din. "


"Iya .Sebentar ." Diana merasa lega Yanti menarik tangannya.


"Conrad, unty pergi dulu yaa. Jangan nakal yaa." Diana mengecup kening bocah itu dan melelpaskan gandengan tangannya.


"Kapan ketemu Conrad lagi unty?" tanya bocah itu dengan polos. Diana tidak menjawab hanya tersenyum dan melambaikan tangan sekaligus menganggukan kepala kepada Rachel dan Meredith.


"Lihat tingkahnya sok suci, sok manis." Meredith mengobarkan api kembali.


"Apa yang Andrew lihat dari wanita kampungan itu."


Rachel memandang sinis kepergian Diana.


"Ayo cepat kita harus pergi ke tempat itu sekarang juga." Meredith menarik tangan Rachel . Mereka berjalan tanpa menghiraukan Conrad yang setengah berlari mengikuti.


Sementara itu setelah keluar dari kompleks Gedung gereja dan berjalan ke arah toko souvenir, Yanti bertanya kepada Diana, "kau mengenal mereka ?" Diana hanya menggelengkan kepala.


"Wanita-wanita gila, pantas saja kalau suaminya selingkuh." Yanti melengos kesal.


"Dah biarin bukan urusan kita." ujar Diana sambil melangkah memesan kopi susu disebelah toko souvenir.


############


Halllooo.. temen- teman pembaca...


Apa yang akan terjadi selanjutnya yaaaa...


Bantu vote, like dan comment nya yaaaa.. Bantu share jugaaaa...


Mohon bantuan Kritik dan sarannya yaaa...

__ADS_1


Trimakasih banyak teman - teman pembaca.


Semangat !!!


__ADS_2