Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Usaha


__ADS_3

"Nyonya ada tamu untuk anda," seorang pelayan menghampiri Diana.


"Siapa?" tanya Diana dengan heran.


Diana baru saja menidurkan Aaron dan meletakan balita itu di peraduan. Sementara saat ini dia masih berkutat di rumah kaca, tempatnya menghabiskan waktu senggang dengan memanam berbagai bunga di sana.


Hari masih siang dan sangat mengherankan apabila ada seseorang yang berkunjung tiba-tiba tanpa pesan terlebih dahulu. Diana yang tidak memiliki banyak teman, menjadi sedikit heran, karena jika itu Grisella, wanita itu sudah langsung masuk ke dalam.


"Nona Elina dan seorang pria." jawab pelayan tersebut.


Diana mengernyitkan keningnya. Tidak biasanya Elina berkunjung tanpa pesan. Dengan seorang pria? Apakah wanita itu datang dengan kekasih nya.


"Bawa mereka kemari. Aku akan menerima mereka disini," sahut Diana.


"Baik nyonya."


Pelayan itu dengan hormat meninggalkan Diana dan kembali dengan Elina dan seorang pria yang ternyata Mike.


"Hai Diana... maaf, ku berkunjung tanpa memberimu kabar terlebih dahulu."


Elina masuk dengan memberikan salam seraya tersenyum lebar. Dia tampak bahagia dengan kehadiran Mike di sisinya. Mike yang berjalan di samping Elina tersenyum lebar pada Diana.


"Hai Diana." Sapa Mike singkat.


"Hello semua. Kejutan sekali, kalian berdua datang kemari," sahut Diana sambil melepaskan sarung tangannya.


"Benar. Tadi Mike mengajakku makan siang. Dan setelah asyik mengobrol kami memutuskan untuk mengunjungi mu," ucap Elina dengan riang.


"Kau mempunyai banyak sekali tanaman cantik disini, Diana."


Mike berjalan menjauh dan melihat satu persatu tanaman cantik disana.


Banyak sekali jenis-jenisnya disana.


"Kau menyukai bunga?" Ujar Mike lagi menyela pembicaraan Diana dengan Elina.


"Iya."


"Jenis apakah ini?" tanya Mike di kejauhan membuat Diana harus melangkah mendekat menghampiri Mike.


"Ah ini anggrek bulan, bunga khas Indonesia." Diana membelai bunga anggrek dengan kelopak putihnya yang anggun dan selalu tampak mempesona.


"Kalau ini?"


"Itu anggrek jamrud."


"Yang ini pasti anggrek hitam."


"Benar sekali Mike."


"Banyak jenis mawar juga." Mike masih berjalan berkeliling sementara Elina masih duduk dan mengamati dari kejauhan.


Diana mengambil wadah untuk menyiram tanaman dan mulai sedikit menyiram tanaman mawar itu. Tiba-tiba saja Mike memegang tangan Diana yang sedang menggenggam wadah penyiraman.

__ADS_1


Diana terkejut dan sontak melepaskan wadah air tersebut dan untuknya Mike dengan sigap menangkap wadah tersebut hingga tidak jatuh.


"Maafkan aku, aku hanya ingin membantumu menyiram," ujar Mike dengan tenang.


Diana tidak berkata-kata, dia langsung pergi meninggalkan Mike dan menghampiri Elina. Bagi Diana sikap Mike sangat tidak sopan dan berlebihan. Jika dia hendak membantu, harusnya cukup meminta wadah itu, bukannya malah menyentuh tangan istri orang.


Jika saja tidak ada Elina yang datang dengan Mike, Diana yakin dia pasti sudah mengusir pria itu pergi. Ah tidak, bahkan dia tidak akan menerima kedatangan pria itu tanpa adanya Andrew dirumah.


Diana duduk di hadapan Elina dan saat itu lah seorang pelayan membawakan satu teko teh dengan tiga cangkir, beserta beberapa camilan.


Ketika Diana hendak mengambil teko untuk menuangkan teh, tangannya mengambang diudara, karena saat itu juga tangan Mike sudah mendahului nya. Mike menuangkan teh ke dalam tiga cangir yang telah tersedia.


Dia memberikannya segelas untuk Diana dan segekas lainnya untuk Elina. Saat itu entah bagaimana, dia merasa mual melihat sikap Mike. Pria itu menatap Diana dan tersenyum tanpa menghiraukan Elina yang mengucapkan terimakasih.


"Kalian berbincanglah terlebih dahulu, aku hendak melihat Aaron," kata Diana sambil tersenyum pada Elina dan meninggalkan mereka tanpa menyentuh teh yang telah dituangkan Mike.


"Diana memang pengertian sekali," ujar Elina dengan tersenyum malu.


"Oh ya, bagaimana mungkin?"


"Hmmm... dia memberi kesempatan pada kita untuk berduaan." Ujar Elina malu-malu.


"Ah, tapi sayang sekali, jika kita ditempat ini, jika tidak dapat berbincang dengannya," ujar Mike dengan senyuman masam nya.


"Begitu kah? Hmm... bagaimana lagi Diana bukanlah wanita single seperti kita."


"Bagaimana kalau kita makan malam bersama dengan Diana?" Usul Mike tiba-tiba.


"Tidak kah kau ingin dekat dengan Diana. Suami nya bisa menjadi pendukung bagi ayah mu."


Elina sesaat merenungkan perkataan Mike. Ayahnya yang seorang walikota memang selalu memerlukan dukungan dari pembisnis. Perkataan Mike benar adanya, meskipun Elina hanya ingin menghabiskan waktu berdua dengan Mike saja.


Sementara Mike terus melancarkan hasutannya pada Elina. Tampaknya Mike hanya menggunakan Elina sebagai alasan untuk mendekati Diana. Ada rencana tersembunyi disana.


*


*


"Tidak Elina, aku tidak mau meninggalkan anak-anakku sendiri," ujar Diana menolak ajakan Elina untuk makan malam di luar.


"Bagaimana kalau kita berkumpul disini?" Usul Mike tiba-tiba.


"Benar. Aku bisa mengajak Yoora dan Grisella." Elina bersemangat.


"Grisella sedang keluar kota," kata Diana.


"Ah sayang sekali,"


"Bagaimana kalau kita adakan barbeque disini, aku akan membelikan bahannya." Mike memberikan usulan.


"Benar, ah menyenangkan sekali. Boleh ya Diana, please." Elina merajuk.


Elina kemudian mendekatkan diri kepada Diana dan berbisik, "tolong bantu aku, agar bisa dekat dengan Mike."

__ADS_1


"Kenapa kau tidak ajak Elina berdua saja Mike, kalian bisa menghabiskan waktu berdua bersama," ujar Diana.


Mike terdiam, dia berusaha mencari alasan.


Elina yang melihatnya meskipun sedikit kecewa, tapi masih saja berusaha membela Mike.


"Disini saja, girls time. Mike bisa bermain dengan Conrad. Deal ya."


Akhirnya Diana hanya dapat tersenyum kecil.


*


*


Setelah mengantarkan Elina kembali dan berjanji akan menjemputnya lagi pukul setengah tujuh malam, smartphone Mike berbunyi.


"HALO." sahut Mike dengan kasar.


Dia terdiam sesaat mendengarkan perkataan orang diseberang sana


"Aku mengerti! Kau pikir hal yang mudah mendekati wanita itu?" Ujar Mike dengan nada kesal.


"Aku tahu apa yang aku lakukan. Kau tidak perlu lagi mengancamku. Wanita itu hatinya hanya untuk Andrew, sukar digerakan."


Sambungan telphone terputus. Mike dengan marah memukul stir mobil nya.


Setelah tenang dia menghubungi seseorang.


"Kau harus berusaha agar Andrew tidak segera kembali. Aku memerlukan oebih banyak waktu. Tiga hari tidak cukup." Kata Mike langsung setelah sambungan telphone diangkat.


"Kau pikir mudah? Dia bukan Andrew yang sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Wanita itu benar-benar telah membuat Andrew melupakanku." Sahut suara wanita membalas perkataan Mike.


"Lalu apakah kau menyerah, Caroline?"


"Tutup mulutmu, aku tidak akan menyerah. Jika terdesak aku akan menggunakan senjata terakhirku." Sahut Caroline dengan berang.


"Bagus. Tahan dia lebih lama bersamamu. Tunjukan kemampuanmu."


"Jangan menghinaku, Mike. Bukankah kau Pangeran penakluk, masa kalah dengan seorang wanita biasa." sindir Caroline lagi.


"Kau tahu, wanita biasa terkadang lebih sukar dibandingkan wanita kaya yang materialistis."


"Hahahhaha. Lalu kau pikir wanita itu tidak materialistis sehingga mau menjadi wanita simpanan sebelumnya?"


"Sudahlah kita satu tim tidak perlu berdebat. Kai bisa memiliki Andrew dan Aku akan memiliki Diana."


"Deal."


Caroline tersenyum puas dan membayangkan Andrew dengan kekayaannya akan segera menjadi miliknya.


Tapi satu hal yang dia tidak tahu, jika Mike lebih licik dari dirinya. Mike sudah mengetahui rahasia kekayaan Andrew.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—

__ADS_1


__ADS_2