
Sebelumnya.
Di kampus, seperti biasa jika Conrad ingin bertemu dengan Ruby, maka dia akan segera pergi ke perpustakaan. Di sana seperti biasa Conrad mendapati Ruby. Kali ini Robert datang lebih awal dan mereka sudah duduk berdampingan.
Ketika Conrad hendak mendekati mereka, beberapa wanita mencegatnya.
"Hai Conrad, happy Valentine."
"Trimakasih." sahut Conrad singkat.
Conrad berlalu begitu saja, membuat beberapa wanita tersebut menjadi kecewa. Mereka hanya memandang Conrad dengan hampa. Pwmuda itu langsung duduk, didepan Robert.
"Hai..." sapa Conrad kepada mereka berdua.
"Hai," sapa Robert.
Sementara Ruby hanya menyahut dengan senyuman.
Sikapnya yang tampak tenang justru membuat Conrad penasaran, berbeda dengan gadis lain yang selalu mencari perhatiannya.
"Hai semuaaa... happy Valentine." Jasmine yang baru bergabung tersenyum dengan gembira.
"Kau tidak punya acara khusus kan hari ini?" tanya Jasmine pada Conrad.
"Kenapa?" tanya Conrad balik.
"Kita kencan ber empat yukkk, pasti seru." ujar Jasmine dengan mata berbinar.
"Aku tidak bisa." sahut Conrad.
Jawaban Conrad membuat tiga pasang mata, menatapnya serempak.
"Eh... aku ada acara keluarga, biasa kalau Valentine selalu berkumpul bersama." ujar Conrad cepat, ketika merasakan ketiga pasang mata itu memandangnya dengan curiga.
"Oh. haha. heheh.. kirain sudah punya pacar." celetuj Jasmine lega.
"Kalau begitu, bagaimana jika kita keluar bersama siang ini. Di Riverviewed pasti banyak acara." ajak Jasmine.
"Baiklah."
Mereka kemudian mengemasi buku-buku dan berjalan bersamaan. Ruby kali ini tidak menolak. Dia berjalan dengan senyuman bersama dengan Jasmine. Ruby berangkat semobil dengan Jasmine dan Robert. Sementara Conrad membawa mobil bya sendirian.
Mereka tiba di Riverview mall. Tampak sekalian keramaian di sana. Bunga, balon berada dimana-mana menghiasi area sekitar mall. Musik romantis mengalun dengan lembut, memenuhi seisi mall.
Mereka melewati sebuah toko yang menjual bunga. Harum semerbak dan warna-warni yang indah, sangat memikat mata.
"Ayo bunga untuk pasangannya..." ujar si penjual bunga.
"Tentu saja. Dua bunga. Satu ikat mawar merah dan satu ikat mawar warna-warni." pinta Robert.
Robert memberikan Seikat mawar merah untuk Ruby dan yang warna-warni untuk Jasmine.
"Terimakasih Robert," ujar Ruby malu-malu.
"Ah, kakak... tumben kau memberiku bunga, biasanya juga coklat." ujar Jasmine menggoda Robert.
"Bagaimana kalau kali ini, aku yang membelikan kalian coklat." Conrad menawarkan diri.
"Wahhhh... asyikkk. Valentine kita kali ini serasa memiliki pacar, ya Ruby." Jasmine menyenggol lengan Ruby.
"Hahhaha... iya benar." Ruby tertawa.
"Rubyyy kamu cantik sekali kalau tertawa." ujar Jasmine tulus, membuat Ruby tersipu.
Mereka memasuki toko yang menjuak berbagai varian Coklat. Conrad membiarkan mereka memlilih coklat yang disukai. Jasmine tampak sudah mengerti apa yang dia inginkan. Dia mengambil satu kotak coklat berkotak hati dan tersenyum ceria sambil menunjukan pilihannya. Conrad mengangguk. Sementara Ruby tampak ragu-ragu memandang sekotak coklat persegi berukuran besar.
"Kau sudah memilih?" tanya Conrad.
"Hmmm... ini?" tanya Ruby ragu. Kemudia dia mengembalikan lagi kotak coklat tersebut ketika melihat jika yang dipilih Jasmine berukuran kecil.
"Kenapa dikembalikan?" Conrad merasa heran.
"Tidak, yang ini saja. Terimakasih." Ruby mengambil satu kotak yang berukuran lebih kecil dan membawanya ke cashier.
Conrad kemudian mengambil lagi satu kotak besar coklat yang di kembalikan oleh Ruby. Dia kemudian membayar ke tiga coklat tersebut di cashie dengan tiga bungkus kantong yang berbeda.
"Buat siapa satunya?" tanya Jasmine penasaran.
Conrad hanya tersenyum. Jasmine mencibirkan bibirnya penasaran.
__ADS_1
Mereka menikmati makan siang bersama. Kali ini Conrad yang membayar makan siang tersebut. Mereka menghabiskan makan siang bersama hingga jam empat sore.
"Maaf, aku harus pulang sekarang, karena adik-adiku pasti sedang menanti." ujar Conrad berpamitan.
"Ahh... menyenangkan sekali. Kau pasti kakak yang luar biasa dan perhatian dengan adik-adikmu. Tidak seperti yang satu ini." Jasmine meninju lengan kakaknya.
"Kau tahu aku selalu sibuk dengan kegiatan sosial. Aku kan harus sering berbuat amal kebajikan untuk mereka yang membutuhkan." ujar Robert terkekeh.
"Hebat sekali kau." ujar Conrad kagum. Robert tertawa lebih keras.
"Ruby, kau bisa pulang bersamaku. Aku rasa jalur kita hampir searah." ajak Conrad.
"Baiklah." Sahut Ruby dengan cepat.
"Hati-hati ya dijalan." Jasmine melambaikan tangan kepada Ruby dan Conrad.
Sepeninggal mereka, Robert berbisik pada Jasmine.
"Kau tidak cemburu, melihat mereka pergi berduaan?"
"Sedikit." sahut Jasmine.
"Kok sedikit?"
Jasmine angkat bahu.
"Kau sendiri tidak cemburu?" tanya Jasmine pada kakaknya.
"Aku sih santai saja. Aku juga belum melancarkan serangan untuk mendapatkan Ruby. Tenang saja aku akan menjauhkan dia dari Conrad." ujar Robert santai.
Jasmine menggelengkan kepala.
"Aku ingib bermain adil. Jika Conrad dan Ruby saling menyukai, maka aku akan tetao menjadi teman yang baik bagi mereka. Dan kau kakak, sebaiknya berbuat yang sama." ujar Jasmine menegaskan.
"Kita lihat saja nanti." sahut Robert cuek.
*
Di dalam mobil, hanya ada kesunyian antara Conrad dan Ruby. Conrad berkali-kali melirik pada Ruby yang diam saja. Conrad bingung apa yang harus dia katakan pada Ruby sebagai bahan percakapan.
"Kau tidak merayakan Valentine dengan siapapun?" tanya Conrad.
"Hanya dengan kalian." jawab Ruby lirih.
"Bagaimana dengan kekuargamu?" tanya Conrad.
"Kami tidak pernah merayakan Valentine." sahut Ruby.
"Ah..."
"Kau bilang, jika keluargamu selalu merayakan valentine bersama?" tanya Ruby penasaran.
"Iya, aku dengan ke lima adikku."
Ruby terkejut.
"Wow. Kau kekuarga besar ya, enam bersaudara." Ruby berdehem.
pasti sangat ramai dan memusingkan.
"Kalau kau berapa bersaudara?" Conrad menoleh pada Ruby. Pandangan mata mereka bertemu. Ruby tersipu malu. Dan Conrad menyukai expressi malu yang tersirat di wajah Ruby.
"Aku tiga bersaudara. Aku menpunyai seorang kakak perempuan dan seorang adik laki-laki juga." sahut Ruby sambil menerawang jauh kedepan.
"Ah, jadi kau tidak pernah merasa kesepian dong?" ujar Conrad, mengingat bagaimana Jasmine pernah mengeluh kesepian dirumah.
Ruby hanya tersenyum simpul mendengar perkataan Conrad.
"Aku antar sampai rumahmu?" tanya Conrad.
"Ah, tidak perlu, disini saja." ujar Ruby cepat dengan gugup.
Conrad menghentikan mobilnya di daerah pertokoan yang sama. Kemudian Conrad memberikan sekotak Coklat dengan box besar yang awalnya dipilih oleh Ruby.
"Ini untukku?" tanya Ruby tidak percaya.
"Iya. itu untukmu."
"Tapi, bukannya aku sudah memilih tadi." tanya Ruby tak mengerti.
__ADS_1
"Aku ingin memberimu lagi." sahut Conrad penuh makna.
"Terimakasih Conrad. Selamat Valentine." ujar Ruby dengan tersenyum manis.
"Selamat Valentine Ruby." Conrad terpana dengan senyuman manis dan lebut dari Ruby. Ia kemudian menjalankan mobilnya perlahan sambil memperhatikan Ruby dari kaca spion. Ruby tampak masih diam di tempat yang sama hingga Conrad menghilang di tikungan. Setelah mobil Conrad tidak tampak, Ruby bebalik arah, Dan menyusuri jalan sejauh dua blok, kemudian berbelok.
Ruby memasuki lorong yang sempit dan tiba di sebuah flat yang sangat sederhana ( rumah susun ). Dia memencet kode di pintu depan dan kemudia melangkah naik kelantai empat. Tidak ada lift di flat yang dia tempati.
Di dalam flat Ruby melihat ayahnya yang duduk di kursi roda dan adik laki-lakinya sedang menonton televisi, kakak perempuannya sedang memasak. Sedangkan ibu Ruby yang seorang kepala perawat, tidak tampak. Pastinya sedang sibuk bekerja.
"Kau sudah datang Ruby?" tanya Rose dari ruang dapur.
"Hooh." jawab Ruby sambil menegak segela air dingin.
"Wah, kau mendapatkan coklat dan mawar yang indah sekali dari seseorang pria?" tanya Rose dengan mata berbinar.
"Iyaa... " Ruby tersenyum sendiri. Gadis itu mengambil secangkir gelas dan mengisinya dengan air untuk Seikat bunga mawar dari Robert.
"Adiku yang cantik, wah.. sudah semakin besar." ujar Rose.
"Apa itu Coklat dari Josep?" celetuk Ryan.
"Bukan!" sahut Ruby ketus.
"Oh, bukan dari Josep? Apa kalian sudah putus?" tanya Rose heran.
"Ah, sudahlah kakak. Aku tidak ingin membicarakan Joseph terlebih dahulu. Aku mau masuk ke kamar. Nih coklat untuk kalian." Ruby meletakan sekotak cokalat yang kecil diatas meja. Dia mengecup kening ayahnya sebelum masuk kedalam kamar.
"Eh, dia apa sudah putus dengan Joseph?" tanya Rose heran pada Ryan.
"Tauk ah, yang penting ada coklat enak." sahut Ryan dengan gembira.
Rose hanya menggelengkan kepala sambil masuk kembali ke dalam dapur dan melanjutkan memasak.
Di dalam kamar, Ruby membaringkan diri di atas tempat tidur. Dia memandangi mawar dan coklat yang sudah diletakan diatas meja. Ini pertama kalinya bagi Ruby memiliki teman dari kalangan atas. Dan ini Valentine pertama yang dia lalui dengan mewah. Seikat mawar yang mahal juga sekotak coklat mewah.
Panggilan masuk di handphone Ruby. Nama Joseph tertera disana. Dengan malas Ruby mengangkatnya.
"Ya Joseph."
"Ruby, selamat Valentine sayang. Bisakah kita keluar malam ini?" pinta Joseph.
"Hmmm..."
"Ayolah... sudah satu minggu kita tidak bertemu. Kita akan ke cafe yang kau sukai." rayu Joseph.ĺ
"Baiklah." sahut Ruby dengan malas.
"Nanti malam aku akan menjemputmu, cintaku. muah." ujar Robert mesra. Ruby segera mematikan sambungan telphone.
Dia kembali memandang bunga mawar pemberian Robert, dia cium aroma wangi yang mewah. Ruby menyadari, mawar berkualitas memang berbeda dengan mawar biasa. Pandangan Ruby beralih pada kotak coklat yang dia daparkan dari conrad.
Ruby membukanya perlahan dan melihat coklat mewah dengan mata berbinar. Coklat tersebut di bungkus dengan kertas berwarna emas yang sangat bagus. Ruby membukanya satu dan memakan perlahan.
Ketukan di pintu kamar Ruby. Tok.Tok.Tok
Ruby dengan segera menutup kotak cokelat dan memasukannya kembali ke dalam laci. Menguncinya rapat. Kemudian Ruby mengelap bibirnya baru membuka pintu.
"Ya Rose ada apa?" tany Ruby.
"Apakah nanti malam kau akan tetap dirumah?" tanya Rose.
"Memangnya kenapa?"
"Jeremy mengajak ku keluar. Jika kau tidak keberatan, menggantikanku menjaga ayah." pinta Rose penuh harap.
"Tidak bisa. Aku sudah berjanji pada Joseph." sahut Ruby datar.
"Ah, baiklah."
"Suruh saja si Ryan. Dia kan sudah besar." ucap Ruby.
"Ryan juga ada acara dengan teman-temannya." sahut Rose.
"Ah... " Ruby tidak menjawab. Dia kemudian menutup pintu kamar.
Jika bukan ibu yang meminta, Ruby tidak akan rela ditinggal berdua dengan ayahnya. Ayah Ruby mengalami stroke. Dan ekonomi mereka yang sederhana tidak memungkinkan untuk membawa ayah ke perawatan intensive.
__ADS_1