
Jam sudah menunjukan pukul 22.00 ketila Andrew tiba di Lobby condominium. Tanpa mengucapkan sepatah kata, Andrew melempar kunci mobil kepada Valley dan segera menuju lift . Petugas Valley segera memarkirkan mobil Andrew dan memberikan kunci mobil kepada reseptionist di lobby.
Andrew segera memasuki pintu lift yanh terbuka dan kebetulan kosong, Memencet no 17 dan tidak sabar menanti lift tiba lantai 17.
Perasaannya menjadi jengkel sekali ketika lift berhenti di lantai 3 dan orang tersebut batal masuk karena dia menyangka lift akan turun ke lobby. Dengan tidak sabar dipencetnya tombol closed berulang - ulang agar pintu lift segera tertutup.
Kembali pintu lift terbuka di lantai 5 dan sepasang anak muda masuk ke dalam lift sambil berpelukan . Andrew tidak menghiraukan lirikan gadis yang sedang dalam pelukan pemuda disampingnya. Pemuda tersebut memencet tombol 20 , mereka tampaknya akan menuju cafe roof top disana. Lantai 20 adalah lantai tertinggi yang digunakan untuk cafe dan kolam renang serta tempat berjemur. Memang tidak banyak lantai digedung ini karena beberapa lantai digunakan sebagai ruangan condominium satu setengah lantai.
Kembali lift berhenti di lantai sepuluh dan dua orang wanita masuk ke dalam lift tersebut. Salah satu Wanita memandang Andrew dengan girang seakan menemukan sesuatu yang dia incar selama ini , dengan gaya elegant nya wanita berambut hitam memencet lantai 20 di depan Andrew padahal dia bisa saja memenvet tombol di sisi sebelah kiri yang kosong. Setelah memencet tombol pintu lift tertutup dan mulai bergerak naik keatas wanita tersebut pura - pura terhuyung tubuhnya menabrak Andrew.
"Maafkan saya." Wanita itu tersenyum kepada Andrew yang tidak menghiraukan perkataan maupun senyumannya. Dan tidak berusaha sedikitpun membantu wanita yang baru saja menabraknya.
"Sombong sekali." bisik wanita satunya berbisik.
"Tapi sexy kan. Dia pria yang kemarin aku ceritakan ." balas wanita yang menabrak Andrew.
"Ow yang baru pindah ?"
wanita berambut hitam mengangguk.
Lift bergerak keatas kembali dan berhenti lagi dilantai 11. Wanita berambut hitam itu segera bergeser merapat ke arah Andrew hingga menyentuh lengan Andrew. Andrew merasa risih dengan sikap wanita itu tapi dia tidak menghiraukannya. Seorang pria setengah baya yang masih gagah masuk kedalam lift dan mengangguk menyapa mereka.
"Hai aku Eva." Wanita itu memperkenalkan diri nya kepada Andrew .
Andrew hanya menoleh tanpa menghiraukan. Dalam benaknya hanya tertuju pada Gadis yang sedang menantinya saat ini. Ingin rasanya mengutuk betapa lama nya lift ini membawa dirinya untuk sampai di tujuan. Seharian ini dirinya terhalang dengan berbagai macam pertemuan yang ridak dapat dia hindarkan . Betapa kerasnya dia berusaha untuk menyelesaikan semua urusan pekerjaan tetap saja tidak dapat menghindari kemacetan yang disebabkan oleh kecelakaan. Dan saat ini ketika seharusnya hanya perlu waktu tujuh menit untuk sampai ke gadis yang sangat ingin di peluknya, ternyata menjadi perjalanan panjang yang menjengkelkan.
"Aku Eva." Sekali lagi wanita itu memperkenalkan iri.
__ADS_1
Andrew hanya mengangguk tanpa senyuman.
"Kau hendak ke lantai 20 atau 17?" wanita itu tetap berusaha menjalin komunikasi meskipun tahu Andrew tidak menghiraukannya. Andrew tidak menjawab. Dia sudah lelah seharian berbicara dalam rapart dan negosiasi. Baginya percakapan dengan wanita itu tidak lah berguna. Seberapapun usaha wanita tersebut berusaha menarik perhatiannya tidak menarik baginya.
Tiba-tiba pemuda di belakang Andrew menyeruak diantara mereka , mengucapkan maaf dan memencet tombol 15.
Andrew memandang tombol 15 yang menyala merah dengan wajah geram membuat wanita yang bernama Eva mundur. Satu lagi pemberhentian sebelum tiba di tujuan.
"Kan... sombong sekali dia." Teman Eva berbisik.
"I know. Tapi dia handsome bangettt. Lihat pantat sexy nya, ehem." eva berdehem dan menelan ludah.
"Awas serial killer. " teman Eva tersenyum menggoda.
"Pembunuh hati wanita ahhhh. Setidaknya aku tau dia tinggal dilantai 17. "
"Aku rasa tinggal dan dia pemilik baru lantai 17.
Kau tau lantai 17, 18 dan 19 adalah yang terluas. "
Akhirnya pintu lift terbuka di lantai 17. Andrew segera bergegas keluar tanoa menghiraukan mereka yabg berada didalam Lift terlebih tidak menoleh sedikitlun pada Eva yang melambaikan tangan.
Setibanya di dalam condominium miliknya, Andrew langsung melangkah keatas dan masuk kedalam kamar. Disana Diana masih tertidur pulas memeluk bantal. Andrew menghampiri Diana membelai rambut nya dengan perlahan menyentuh pipinya. Dia pandangi gadis dihadapannya dengan penuh kerinduan, di kecupnya kening Diana yang masih saja terlelap seperti bayi. Andrew membelai pipi, leher dan bahu Diana tapi tetap saja ia terlelap. Ingin sekali ia mencumbu gadis dihadapnnya dan memeluk erat melepaskan kerinduan tapi dia tahan keinginan itu melihat wajah canyik yang terlelap tanpa dosa. 0Ternyata benar kasurnya terlalu nyaman sehingga membuat penghuninya terlelap nyenyak.
Andrew beranjak dari kasur dan mulai melepas jas dan kemeja sambil terus memperhatikan Diana yang tidak berubah posisi dia masih berharap mata cantik itu terbuka dan menatapnya . Tak sabar rasanya Andrew hendak mendekap gadis dihadapanya , mencium dan menikmati aroma tubuhnya. Tapi ditahannya keinginan itu mengingat perjalanan panjang yang telah ditempuh Diana.
Andrew beranjak ke kamar mandi, mulai menguyur tu buhnya dengan air hangat. Mencuci rambut dan menggosok setiap sudut tubuhnya. Setelah puas mandi di keringkan tubuhnya dengan handuk dan keluar dengan hanya mengenakan handuk menutupi bagian bawah tubuh. Andrew melangkah menuju kasur, Diana masih saja terlelap. Dalam hati dia berdecak apa jadinya gadis ini apabila ada orang asing yang masuk .
__ADS_1
Andrew melangkah menuju lemari melempar handuk ke keranjang disudut ruangan dan mulai mengenakan boxer.
Berkutatat sebentar dengan ponselnya dan menekan tombol power off kemudian mengecharge handphone.
Kembali dihampiri nya Diana. Kali ini dia langsung naik keatas kasur dan tidur disisi gadis cantik yang dia rindukan. Wajah mereka berhadapan hembusan nafas Diana menyapu wajah Andrew perlahan lembut. Wajah Diana yang putih mulus tanpa hiasan make up dan bibir nya yang merona merah muda tanpa lipstik menarik minat Andrew untuk mengecup perlahan.
Kecupan dibibir tidak juga membuat Diana membuka matanya.
Andrew kemudian memeluk Diana , menyandarkan kepala Diana di dadanya . Gadis itu masih saja diam.
"Gadis nakal. Aku tahu kau sudah bangun. Jangan pura-pura tidur lagi." Andrew mengusap punggung Diana mencari tali bra dan melepaskan kaitannya.
Diana masih saja meringkuk dalam pelukan Andrew. sesungguhnya sedari tadi dia sudah bangun. Tapi entah kenapa rasa malu, grogi dan debaran dijantung membuatnya memilih diam dan pura-pura tidur.
"Kau tahu debaran jantungmu terlalu keras membutuhkan obat penenang." Andrew membalikan tubuh Diana dibawah tubuhnya.
"Gadis nakal, kau akan mendapat hukuman karena sudah tidak menghiraukan aku. "
Diana membuka matanya dan tersenyum malu.
"Kau sudah pulang, jam berapa ini?" tanya nya untuk menghindari rasa canggung sambil berusaha menenangkan debaran jantungnya.
Andrew tidak menjawab pertanyaan Diana . Dipandangi kelopak mata lentik yang baru saja terbuka dan memandang dirinya. Satu Tangan Diana berada dibahu dan tangan satunya membelai rambut Andrew. Mata Diana memancarkan kerinduan.
Tidak ingin menunggu lama lagi, Andrew segera ******* bibir Diana. Ciuman panjang dengan lembut melepas kerinduan. Rasa rindu terhadapa seorang wanita yang baru pertama kali dia rasakan. Ciuman itu begitu lembut dan dalam dan tak mengenal waktu .
ππππππππππππππππππππ
__ADS_1