Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Perjanjian


__ADS_3

Saat melihat ketiga adiknya tampak begitu akrab dengan Jasmine, Conrad yang memperhatikan dari jauh tersenyum. Sesekali dia melayangkan pandangannya ke arah mereka. Dia merasa santai saja membiarkan Jasmine dan Robert bersama adik-adiknya, karena mereka tampak dengan mudah akrab dengan keluarganya, tanpa harus dirinya menjadi penengah.


Berbeda dengan Ruby, yang tampak malu-malu dan kikuk. Bahkan dihadapan Diana, Conrad bisa melihat jika Ruby berusaha menyusaikan diri dan tampil menyenangkan. Beberapa kali Conrad menepuk tangan Ruby dengan mesra untuk membuat gadis itu santai.


Sikap Ruby yang lembut dan malu-malu membuat hati Conrad makin tergelitik. Dia semakin merasa jika Ruby adalah wanita yang tepat untuk nya. Ruby tampak seperti Diana yang tenang dan lembut di mata Conrad. Latar belakang Ruby yang sederhana seperti Diana, pasti akan menjadi pasangan yang luar biasa layaknya kedua orang tua nya. Conrad yakin, dia akan dapat membahagiakan Ruby dan keluarganya.


Ruby tampil begitu cantik hari ini. Ruby tanpa kacamata, tampak semakin cantik. Manik mata hitamnya yang malu-malu, sangat menggoda. Bibir ranum dan hidung mungilnya, membuat Ruby tampak menggemaskan.Tubuhnya yang putih dan tinggi langsing, rambut hitam berkilau tergerai di pundak yang sedikit terbuka, membuat penampilan Ruby yang casual semakin menarik perhatian Conrad.


Diana yang merasa sudah lama berbincang dengan Ruby, meninggalkan mereka karena tertarik dengan Jasmine yang tertawa lepas bersama anak-anaknya. Jasmine tidak berusaha berada di antara Conrad dan Ruby, membuat Diana berpikir jika Jasmine tidak tertarik dengan putranya.


Disaat melihay Diana berpindah meja ke keluarga nya, Ruby merasa tidak nyaman.


"Apakah kita akan bergabung dengan mereka juga?" tanya Ruby.


Conrad menoleh kearah meja dimana keluarganya berada.


"Sebentar lagi. Aku masih ingin menikmati waktu berdua bersamamu."


Perkataan Conrad yang lembut membuat Ruby tersipu. Raut wajahnya memerah dan dia tidak sanggup membalas tatapan mata Conrad. Ruby merasakan jantungnya berdebar. Raut wajah Ruby yang tersipu membuat Conrad semakin menyukai nya. Ingin rasanya Conrad mengulurkan tangannya dan membelai wajah cantik itu.


"Apa kau akan bermain musik hari ini?" tanya Ruby. Ruby berusaha mencairkan suasana, agar ada pembicaraan diantara mereka berdua.


"Apa kau ingin melihatku bermain musik?" tanya Conrad dengan lembut.


"Tentu saja. Apakah kau seahli mereka?" tanya Ruby lagi.


"Hmm rumayan. Setidaknya jika aku gagal menjadi dokter, aku masih bisa bermain musik untuk.mata pencaharianku." ujar Conrad berseloroh.


"Hahaha ada-ada saja." timpal Ruby tertawa geli. Pemain musik jika terkenal dan bisa menembus Hollywood memang akan menghasilkan uang banyak.Tetapi jika sekedar pengamen jalanan atau peghibur di cafe, maka sama saja bohong.


Mereka kembali berbincang dengan akrab hingga sesuatu menimpuk Conrad.


...❤❤❤...


"Jadi dimana alamat rumah tante, biar Jasmine antarkan masakan untuk kalian semua." ujar Jasmine tulus.

__ADS_1


"Jangan! Jangan dirumah!" teriak Conrad. Dia tidak mungkin membiarkan Jasmine dan yang lainnya mengetahui keadaan dirinya. Conrad masih merasa aman dalam penyamarannya.


Jasmine terkejut dengan kata-kata Conrad yang kasar. Dia semakin merasa, jika Conrad tidak menyukai kehadirannya. Jasmine langsung terdiam.


"Conrad jangan begitu." ujar Diana.


"Kasar loe bro!" ujar Aaron sambil menimpuk Conrad dengan es batu.


"Maaf... maksudku... aku tidak mau kau bersusah payah membawa makanan. Adikku banyak dan rumah kami kecil." ujar nya memperbaiki sikap.


"Kecill. hahhahha. " Aaron tertawa.


Conrad melotot ke arah adiknya, yang tampak tidak mau bekerja sama.


"Bawa saat kita bermain base ball saja kakak!" teriak Archie.


"Benar! Benar! Tumben kau pintar Archie." celetuk Anna.


"Kapan aku bodoh, heh?!" Archie melotot.


"Duh... takut." Anna pura-pura bergidik.


"Oh iya benar. Kapan dan dimana?" tanya Jasmine dengan semangat tanpa menghiraukan Conrad yang menatapnya heran.


Sudut mata Jasmine bisa melihat bagaimana tangan Ruby menyentuh tangan Conrad. Dan Conrad menggunakan ibu jarinya untuk mengusap tangan Ruby yang menumpang di tangannya. Jasmine merasa cemburu, tetapi dia memilih tidak menghiraukan apa yang dia lihat. Dia harus fokus pada hal lain, agar dadanya tidak terasa sakit.


"Sebentar. Dimana ya.... Main di area golf saja, tidak berdebu. Kasihan Adel, tidak tahan debu." sahut Francesca.


"Di area golf?" Jasmine tampak berpikir dan memandang Robert.


Robert yang sedari tadi diam saja. Mengerti maksud pandangan Jasmine. Adiknya meminta pertolongan dirinya. Melihat Jasmine yang tampak senang berkumpul dengan anak-anak remaja itu, membuat Robert melupakan kekesalan hatinya kepada Conrad, yang sudah mengacuhkan Jasmine.


"Akan aku atur. Nanti biar Jasmine yang mengirim pesan pada kalian." ujar Robert.


"Horeee. Akhir pekan ya kakak. Aku akan mengajak Shawn dan Mathew." ujar Anna melonjak kegirangan.

__ADS_1


"Mana no telphone kakak, sini aku isi nomerku." ujar Adel yang paling dekat dengan Jasmine.


Jasmine memberikan Handphone nya pada Adel. Dengan segera Adel mengisi nomor nya dan menyimpan nomor Jasmine. Mereka sudah fix bertukar nomor. Ruby sempat mengerutkan kening nya heran, melihat I phone yang digunakan oleh Adel. Tergolong handphone mahal. Bahkan dia hanya menggunakan I phone keluaran lama.


Adik-Adik Conrad tampak begitu akrab dengan Jasmine. Mereka tidak ada yang menghiraukan Ruby. Ruby tetap memperhatikan mereka semua dan merasa tenang dengan tangan Conrad yang menggenggamnya. Jasmine memang supel dan kaya, itu sebabnya dia percaya diri dan mudah bergaul, pikir Ruby.


"Ayo Aaron. Main lagi." ajak Francesca.


"Gak ah, malas!" sahut Aaron cuek. Dia masih merasa nyaman berada di sisi Velina.


"Tapi kamu hutang padaku!" Francesca mendelik.


"Aku bayar lain kali saja." sahut Aaron cuek. Sinar matahari sore menerpa rambut dan wajah Velina, menjadikan rambut coklat keemasannya semakin bercahaya dan tampak sangat cantik. Aaron tidak memperdulikan Francesca yang melotot. Dia ingin mengambil kesempatan ini untuk memfoto Velina.


"Bagaimana jika..." Ocehan Robert dihentikan oleh Jasmine.


"Kakak!" Jasmine mencegah Robert yang hendak mengajukan diri untuk bermain musik dengan Francesca. Jasmine khawatir semakin akrab dengan Francesca, maka Robert akan menggoda gadis remaja itu.


"Kau bisa pegang gitar, Robert?" tanya Conrad yang mendengar percakapan mereka


"Wah, ternyata kau tahu aku ada disini. " ledek Robert yang hanya dibalas senyuman oleh Conrad.


"Iya aku bisa gitar."


"Kalau begitu. Bagaimana jika kita main bersama. Aku pegang keybord, kau pegang gitar akustik." ajak Conrad.


"Baiklah. Ayo."


Francesca dengan gembira mulai bermain lagi. Beberapa penvawal yang ditugaskan untuk memvideo, mulai siap lagi. Mereka selalu rajin mengunggah dalam kontent Youtube Francesca. Diana membiarkan hal itu, karena menurut therapys yang pernah merawat Francesca, gadis itu memerlukan kegiatan yang membuat dia fokus dan sepenuhnya lupa akan masa lalu yang kelam. Semenjak aktif bermain musik dan disibukan dengan konten youtube nya, Francesca sudah jarang bermimpi buruk.


...❤❤❤❤❤❤...


Sabar yaaa emak-emakku sayanggg.


Biasalah anak muda lagi bingung memilih.

__ADS_1


Conrad masih mencari jati diri dan cinta yang tulus.


Doain Conrad menemukan cinta yang tulus yaaa


__ADS_2