Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
91. Pasti akan mengalami keguguran


__ADS_3

Lia melihat bagaimana Jason memperhatikan kakaknya dengan tatapan mata yang lembut. Hal itu membuatnya jengkel. Bukannya dia tidak suka ada seseorang yang baik dan memperhatikan kakaknya, tetapi masalahnya Diana sudah ada yang memiliki. Ada stampel kepemilikan yang mengikat Diana dengan Andrew apa lagi ada bayi yang dalam kandungan yang mengikat.


Dan pria ini, seakan tidak perduli hal itu. Setiap saat muncul begitu saja semaunya. Hal yang menakjubkan adalah ternyata rumah pria ini hanya beradius seratus meter dari kediaman Andrew. Siapa mengikuti siapa atau hanya kebetulan.


Sekarang Lia menyadari sesuatu, pria ini sengaja menjadikan dirinya alasan. Dia sengaja menahan Lia di mansionnya agar memiliki alasan untuk bertemu dengan Diana lagi. Dasar tidak tahu malu!


Meskipun sedikit bangga sih memiliki kakak yang digandrungi oleh konglomerat. Siapa sangka anak yatim dan sudah dibuang oleh ibu sendiri bisa bernasib baik, meskipun ternyata Andrew masih memiliki ikatan dengan wanita lain, tapi setidaknya ada Jason yang membuka tangan lebar bila terjadi sesuatu. Begitulah pikiran Lia.


Sambil memperhatikan Jason, Lia mengambil minuman yang ada dan menegaknya hingga habis. Dia tidak menyadari kalau minuman itu adalah lemon madu milik Diana.


Selama dua menit tidak terjadi apa-apa. Lia bahkan masih sempat menuangkan segelas air jeruk untuk Jason. Namun kemudian, bertepatan dengan Sandra yang pergi meninggalkan mereka, Lia merasakan perutnya melilit, amat sangat sakit sekali. Satu tangannya meremas perut dan tangan satunya menggepal dengan keras. Wajahnya tiba-tiba pucat. Dia merasa ingin buang air besar tapi kakinya lemas sekali.


Sayangnya tidak ada seorang pun yang mengetahui keadaannya. Jason sibuk memandang Diana sedangkan Diana sibuk menjawab pertanyaan Conrad.


Dengan tertatih di menuju toilet terdekat, sakit tidak berhenti meskipun dia sudah membuang semua isi perut. Dan dia muntahkan semua mual yang melandanya. Kepalanya pusing badannya lemas. Lia melangkah keluar toilet dengan lemas. Kali ini matanya berkunang-kunang dan dia pingsan.


Jason yang mengetahui kepergian Lia awalnya tidak menyadari kalau gadis itu kesakitan. Tetapi ketika Lia keluar dari toilet sudut matanya melihat gadis itu sempoyongan dan saat dia memandang Lia sudah jatuh pingsan, tubuhnya terhempas ke tanah begitu saja.


"Liaaa!" Jason berteriak dan berlari memanggil Lia. Dia segera membopong gadis itu.


"Apa yang terjadi Jason?" tanya Diana dengan panik.


"Entahlah aku melihat dia tiba-tiba pingsan." jawab Jason sambil menepuk pipi Lia.


"Bawa ke dalam Jason."


Beberapa Pengawal sudah menghampiri mereka. Dan bersiap terhadap segala sesuatu.


"Aku rasa sebaiknya langsung ke rumah sakit. Lia wajahnya sangat pucat." saran Jason.


"Kau benar. Greg, siapkan mobil." Diana memerintahkan pengawalnya untuk segera bertindak.


Jason membopong Lia sambil mengikuti Greg. Diana yang panik mengikuti Jason sempat melihat Sandra duduk di rerumputan dengan tubuh gemetaran. Ada sebersit perasaan curiga terlintas dipikirannya.


Butler Jhon tergopoh-gopoh menghampiri Diana.


"Apa yang terjadi nyonya?" dia merasa bersalah karena sedari tadi dia sedang sibuk menghubungi kenalan lamanya untuk mau bekerja dan merawat Diana.


"Lia pingsan." sambil menjawab Diana menoleh kearah belakang, saat itu lah dia melihat Sandra bergegas membersihkan minuman dimeja. Hal yang membuatnya heran, ketika semua orang panik dan ingin tahu keadaan Lia, pelayan satu itu melakukan kegiatan yang bertolak belakang.


"Butler tolong hentikan wanita itu. Bawa semua makanan dan minuman, bahkan gelas kosong ke laboratorium untuk diperiksa."


Butler Jhon mengernyitkan keningnya, tapi tidak membantah. Dia pun mengetahui sikap mencurigakan Sandra. Seringkali Sandra dia temukan mengintip Diana ataupun Andrew secara diam-diam. Belum lagi bagaimana Sandra sering bersembunyi di taman dengan ponselnya. Kecurigaannya kali ini mungkin akan menemukan jawaban.


Tanpa banyak bicara butler Jhon menghampiri Sandra dan memerintahkan wanita itu untuk meletakan semuanya. Sementara dia juga memerintahkan pelayan lain untuk mengambil sampel dari semua makanan dan minuman.


Sandra hanya dapat diam dengan tubuh gemetaran sambil berpikir keras bagaimana melenyapkan botol kosong yang masih ada di saku baju.


****************


Sementara di rumah sakit.


"Ada apa dengan dirinya dokter?" tanya Diana setelah dokter Michael memeriksa Lia.


"Apakah dia sebelum ini mengkonsumsi sesuatu yang tidak hygenise atau mungkin obat pencahar?" dokter Michael mengernyitkan keningnya karena merasa heran, hal tersebut terasa tidak masuk akal.

__ADS_1


"Aku rasa tidak." jawab Diana dengan ragu sambil menoleh kepada Jason.


"Aku tidak melakukan apapun kepada adikmu. Makanan di rumahku semua hygenise." Jason menangkap maksud pandangan mata Diana yang menyelidik.


"Dia mengalami diare dan dehidrasi akut. Untung saja kondisi tubuhnya fit. Seandainya kau yang mengalaminya, pasti akan mengalami keguguran."


Diana terhenyak mendengarkan penjelasan dokter Michael. Tiba-tiba tubuhnya gemetaran. Rasa takut, marah dan khawatir bercampur jadi satu.


"Tenangkan dirimu. Dia akan baik-baik saja." Jason yang melihat Diana gelisah menjadi lebih prihatin. Jason hendak menyentuh pundak Diana namun dengan halus wanita itu melangkah menjauh.


"dokter Michael bisa kita bicara sebentar di luar?"


Dokter Michael mengangguk dan keluar dari kamar pasien.


"Jason, tolong jaga Lia sebentar."


Jason mengangguk menyanggupi permintaan Diana. Belum genap seminggu dia mengenal kakak beradik ini, namun ikatan yang terjalin membuat dia merasakan keakraban.


Di luar kamar pasien Diana mulai berbicara serius kepada dokter Michael.


"Tolong berikan hasil test penyebab penyakit Lia kepadaku dokter dan pastikan secara detail bahkan nama bakteri atau virus didalamnya."


"Apakah kau mencurigai sesuatu Diana?" dokter Michael merasa heran dengan permintaan Diana.


"Aku tidak yakin. Tapi seandainya aku yang mengkonsumsi apapun yang dimakan Lia, bayi ini...anakku.." bibir Diana bergetar menahan tangisan sambil memandang dan mengelus perutnya.


"Puji Tuhan, Dia maha melindungi." dokter Michael memberi keteguhan.


Saat itu Andrew datang dengan seorang pengawal menemani. Dia tampak tergesa dan meninggalkan pertemuan dengan client setelah mendapatkan telphone dari Diana.


"Apalagi yang dilakukan si brengsek itu hah? Apa dia yang membuat Lia seperti itu dan membuatmu gelisah?"


"Andrew..." Diana tidak menghiraukan setiap pertanyaan dan kecurigaan Andrew. Dia memeluk pria itu dan menangis dalam pelukan Andrew. Bahunya terguncang dalam isakan tangisannya.


"Ada apa sayang kenapa kau seperti ini. Katakan padaku apa yang terjadi."


Diana tidak menjawab, dia semakin mempererat pelukannya terhadap Andrew dan menangis lebih keras. Andrew membiarkan wanita yang dia cintai memeluknya erat. Dia mengusap rambut Diana dan menciumi kepala wanita itu dengan penuh kasih sayang.


Saat itu ketika tak sengaja sepasang mata Andrew bersitatap dengan sepasang mata Jason, tampak kilatan pedang api diantara mereka. Pandangan mata Andrew seakan-akan hendak merobek-robek tubuh Jason sementara pandangan mata Jason seakan-akan hendak melenyapkan Andrew dengan sekali kerjapan.


"Andrew aku takuttt." ucap Diana lirih setelah berhasil menguasai dirinya. Andrew mengajak wanita itu untuk duduk di sofa tunggu dan memberinya kesempatan untuk menenangkan diri lagi.


"Apa yang terjadi?"


"Lia tiba-tiba pingsan dan wajahnya sangat pucat, tubuhnya dingin sekali." Diana menghela nafas lagi.


"Aku takut kalau ketakutanku benar."


"Maksudmu?"


"Apapun yang dimakan Lia ditujukan untukku."


"Kenapa kau berpikiran seperti itu?" Andrew terrkejut mendengar perkataan Diana.


"dokter Michael bilang apapun yang masuk kedalam tubuh Lia, seandainya terjadi padaku, bayi kita... bayi kitaaa..." Diana tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena kembali dia menangis dalam dekapan Andrew.

__ADS_1


"Aku takuttt hal itu terjadi."


Gigi Andrew bergermelatukan menahan amarah. Wajahnya merah padam. Dia paham sekali wanita dipelukannya ini bukan lah tipe orang yang mudah berasumsi. Dia selalu melihat kebaikan dibalik keburukan. Saat ini apabila dia sangat takut, kemungkinan terbesar semuanya beralasan.


"Tenanglah. Aku akan memerintahkan kepala keamanan menyelidiki."


"Aku meminta butler Jhon untuk mengumpulan semua sisa makanan dan minuman untuk di test di laboratorium."


"Tindakan bagus. Aku akan memerintahka kepala keamanan untuk memeriksa cctv guna berjaga-jaga apabila salah satu orang kita adalah penghianat."


Andrew mengecup kening Diana dengan penuh kasih sayang untuk membuatnya lebih tenang.


"Kau kembalilah kerumah, aku akan memerintahkan butler Jhon untuk mengirim dua orang pelayan menemani Lia."


"Tidak Andrew aku ingin disisi Lia."


"Tapi kau harus memperhatikan kondisimu."


"Aku lebih aman disini Andrew, banyak perawat yang akan menjaga kami. Selesaikan semua urusan di rumah hingga aman bagi kami untuk kembali." pinta Diana dengan lembut.


"Baiklah, kalau itu yang terbaik menurutmu. Tapi ingat kau harus berisitirahat. Ada nyawa kecil dalam pertanggungjawaban mu."


"Tunggu disini. Aku akan mengusir pria itu." Andrew memandang ke arah ruangan Lia dirawat.


"Jangan Andrew. Dia yang membawa Lia ketempat ini dan dia pulalah yang menjaga Lia semalam."


"Brengsek itu sengaja melakukannya."


Diana tersenyum kecil melihat reaksi Andrew. Sesungguhnya dia menikmati kecemburuan Andrew. Sudah lama Andrew tidak pernah cemburu, selain dengan Dylan dan Maya.


"Suruh dia pulang. Aku tidak mau melihat dirinya disini bersama kita. Aku curiga bisa jadi dia otak dari peristiwa ini."


"Tidak mungkin." ingatan Diana kembali ke Sandra. Tapi dia mengurungkan niatannya untuk mengatakan hal tersebut karena belum tentu benar kecurigannya.


"Bagaimana tidak mungkin, dia selalu bertingkah hendak merebutmu dari ku."


"Apakah menurutmu aku semudah itu direbut?"


"Tentu saja tidak, karena aku akan mengikatmu seumur hidupmu." Andrew menyeringai kecil mengingat bagaimana dia harus mencari Diana diseluruh lorong kapal pesiar sewaktu gadis itu kabur dari dirinya dulu.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Hallo sobat pembaca...


Jangan lupa like ya, biar author selalu semangat updated.


Sedih loh kalau like nya sedikit sedangkan viewers bya banyak.


Baca nya kan gratis dibayar dengan Like aja ya, hehehe kan gak mahal.


Ayooo yang lupa like ( klik jempol ) scroll lagi dari episode pertama ya.


Terimakasih.


Salam sayang 😘

__ADS_1


__ADS_2