Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Tanah merah


__ADS_3

Hujan mengguyur dengan derasnya ditanah pemakaman yang mulai sepi. Mobil-mobil hitam mewah sudah mengangkut pemiliknya pergi yang datang hanya sebagai simbol sosialisasi ditanah pemakaman tersebut.


Bunga-bunga diatas kuburan mulai berserakan terbawa aliran air dan hembusan angin keras. Beberapa pelayat yang masih tersisa mulai beranjak meninggalkan Andrew sendirian yang masih menatap gundukan tanah dihadapannya.


Pria tampan itu tidak menghiraukan hujan deras yang mengguyur meskipun seorang pengawal masih memayungi dirinya tetapi tetesan air hujan tetap membasahi jas hitam yang dia kenakan. Sementara Briant dengan setia berdiri satu meter dibelakang Andrew.


Andrew menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, dia ingin melepaskan semua bebannya dan membiarkan angin juga air hujan membawanya pergi. Pergi dengan semua beban dan melapangkan jalan menuju kebahagiaan


Masih dia ingat dengan jelas beberapa saat yang lalu ketika peti tersebut diturunkan dan pendeta melantunkan doa dan mulai menaburkan bunga.


Dia enggan menjadi orang pertama yang menabur bunga meskipun harus dilakukannya.


Semua mata memandang tajam dirinya. Sebagian menghujat kehadirannya di tempat itu dan sebagian lain adalah mata para wanita yang mengharap posisi sebagai nyonya Knight yang telah terbuka. Tapi dia tidak perduli. Bahkan dia tidak menghiraukan basa-basi pelayat yang mengucapkan bela sungkawa. Sama hall nya dengan dia tidak perduli hujan yang mengguyur deras.


Setelah cukup puas menatap tanah kuburan tersebut, Andrew melangkah pergi meninggalkan tempat itu dengan langkah ringan. Meskipun matahari belum bersinar cerah dalam kehidupannya tapi setidaknya sebuah hambatan telah lenyap.


FLASH BACK


Malam yang mencekam. Saat itu Andrew dan Lia berjaga di samping Diana. Meskipun gelisah kedua orang tersebut masih berusaha tenang. Mereka hanya berdoa dalam hati.


Jam bergulir, menandakan waktu masa-masa kritis Diana akan segera usai. Dalam beberapa saat lagi, meskipun wanita itu belum sadar, tapi masa kritis akan usai.


Tiga puluh menit sebelum waktu yang ditetapkan, tampak dokter Bell dan beberapa dokter senior masuk kedalam ruangan dan memeriksa Diana.


Sementara Andrew dan Lia hanya daoat berharap cemas menanti dokter yang sedang sibuk melakukan tindakan.


Disaat gelisah itu, Jason kembali datang dan memberi dukungan. Jason memijat bahu Lia dari belakang. Pria sibuk itu entah bagaimana selalu meluangkan waktu dan muncul disisi Lia apalagi pada saat-saat penting. Bagi Lia dia adalah sahabat sekaligus dewa penolong.


Waktu bergulir dan dokter sudah selesai dengan observasi mereka. Dokter Bell dan doketer lainnya menghampiri mereka.


"Keadaan nyonya Diana sudah stabil. Masa kritisnya sudah berlalu. Saat ini tinggal proses pemulihan yang harus kita pantau agar dia cepat sadar." ujar dr. Bell dengam senyum tenangnya.


Akhirnya dua puluh empat jam masa kritis telah berlalu. Andrew dan Lia bisa bernafas lega. Satu persatu keadaan sudah mulai membaik. Proses kesembuhan sudah ada di depan mata.


Andrew segera menghampiri Diana dan menggenggam tangan wanita itu.

__ADS_1


"Kau dengar sayang, keadaanmu sudah membaik. Kau harus kuat dan segera pulih. Aku dan Aaron membutuhkan dirimu. Cepat lah bangun sayang, aku merindukan tatapan matamu, senyumanmu, belaianmu apalagi teguranmu." ucap Andrew sambil memegang tangan Diana.


Pria itu kemudian merebahkan kepalanya di sisi badan Diana dan meletakan tangan wanita itu di kepalanya.


"Aku rindu segalanya tentang dirimu. Aku bahkan rela memakan tempe penyet terpedas jika kau sadar segera." ucap Andrew sambil mengenang masa Diana menghukum dirinya.


Lia memandang mereka dengan air mata berlinang. Saat itu Briant masuk bersama Grisella.


"Bagaimana keadaan Diana?" tanya Briant disisi Lia. Gadis itu menoleh dan segera membenamkan dirinya dalam pelukan Briant.


"Kakakku sudah membaik, masa kritisnya sudah selesai." ucap Lia disela isak tangisnya.


Briant membiarkan gadis itu menangis dalam pelukannya sambil menepuk pundaknya perlahan.


Entah mereka sadari atau tidak, ada tatapan membunuh dari Jason dan pandangan kecewa dari Grisella. Tapi kedua orang tersebut memilih untuk tetap diam.


Saat itu, tiba-tiba seorang pengawal datang dan membisikan sesuatu pada Briant. Pria itu sontak menjadi tegang.


Dia melepaskan pelukan Lia dan membimbing gadis itu ke sofa disisi Grisella, sementara Briant menghampiri Andrew dan membisikan sesuatu padanya.


Kedua Pria itu keluar dan menuju ke kamar tempat Rachel dirawat. Tampak Isabella Doris, Agatha dan Bertha ada disana dengan wajah tegang. Semua peralatan di tubuh Rachel telah di lepaskan. Dan perawat akan memindahkan tubuh Rachel ke ruang lainnya.


"Semua karena kau, anakku meninggal!" desis Isabella dengan mata merah dan wajah tegang.


Rachel meskipun bukan anak yang paling dia sayangi, tapi hanya Rachel yang paling kaya diantara kedua kakaknya, karena Rachel memiliki otak yang paling Briliant diantara mereka. Rachel benar-benar memiliki sifat dan kehebatan Bill.


Andrew tidak menghiraukan perkataan mereka. Saat itu perawat mendatangi dirinya untuk proses regristasi dan penguburan, karena pegawai Andrew yang mendaftarkan mengatakan kalau Rachel adalah istri pertama Andrew.


Dan anehnya ketiga wanita yang sedari awal selalu menghujat dirinya, tampak tidak perduli ketika perawat mendatangi Andrew untuk proses pembuatan surat kematian dan sebagainya. Seakan keluarga itu tidak i gin mengeluarkan uang sepeserpun.


"Rachel akan dikuburkan disisi Bill." ujar Isabella tanpa tangisan.


Ketiga wanita itu masih tampak dingin. Tidak ada air mata menetes di wajah mereka meskipun tampak mereka lelah dan sedih. Entah terbuat dari apa hati mereka sehingga bisa mengontrol emosi begitu rupa.


"Silahkan anda mengatur semuanya nyonya. Jangan khawatir akan biaya rumah sakit. Aku akan menanggungnya." ujar Andrew.

__ADS_1


"Memang sudah sepantasnya, kau kan suami Rachel." kata Agatha dengan sinis.


Andrew tersenyum tipis.


Hari ini dia tidak akan mempermasalahkan apapun. Tapi esuk hari adalah hal yang berbeda, karena saatnya tiba dimana Andrew akan menuntut balik segalanya.


Polisi datang begitu pihak rumah sakit menghubungi dan mengabarkan kematian Rachel. Sebelumnya mereka sudah mendapatkan pernyataan dari banyak orang, jika tindakan penembakan terhadap Rachel dilakukan oleh Bill. Kedatangan mereka hanyalah sebagai formalitas.


Setelah menandatangani berkas-berkas, Andrew meninggalkan mereka. Bohong kalau dia tidak lega dan bersyukur. Tapi dia tidak ingin bersukacita disaat Diana baru saja melewati masa kritis dan kesadaran wanita itu belum juga pulih.


"Apa yang terjadi?" tanya Lia ketika mereka kembali.


"Rachel sudah menghembuskan nafas terakhirnya." ucap Andrew.


Lia menarik nafas lega.


"Apakah aku salah bersyukur atas kemarian seseorang?" tanyanya lirih pada dirinya sendiri.


"Kau tidak salah, wanita itu sudah menjadi duri terlalu lama didalam kehidupan Diana." ucap Grisella memberi dukungan.


Lia memandang Grisella membenarkan ucapan wanita itu.


"Dia wanita yang jahat." desis Lia.


"Mungkin dia lahir dari hasil kejahatan dan meninggal pun setelah melakukan kejahatan." ucap Lia lagi menumpahkan segala kekesalan dalam hatinya.


"Hei kucing liar, berhentilah menghakimi mereka yang sudah meninggal. Biarkan dia berurusan dengan penciptanya. Tidak ada seorangpun yang terlahir sebagai orang jahat, semua itu terjadi disebabkan karena keadaan dan pilihan hidup." Jason menasehati Lia dengan sabar.


Lia mengangguk membenarkan perkataan Jason. "Maafkan aku ya Tuhan karena telah menghakimi orang lain." ucap Lia lirih membuat Jason tersenyum.


Sementara Andrew menghampiri tubuh Diana yang masih tergeletak lemah tanpa daya. Kembali dia merebahkan kepala nya disisi Diana.


"Sayang, jalan menuju pernikahan kita sudah terbuka, sadarlah segera. Aku ingin menikahimu." ucap Andrew lirih.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—

__ADS_1


__ADS_2