
"Kenapa mahluk itu ada disini?" tanya Andrew dengan berang ketika mereka sudah tiba di kamar utama.
"Kasar sekali. Dia itu temanku." sahut Diana tidak suka.
Andrew menarik nafas panjang masih merasa geram merasa dipermainkan.
"Iya. Kenapa dia ada dirumah ini." Andrew menekan suaranya.
"Dia mengunjungiku."
"Sial!" Andrew menggosok-gosok bibir dan tangannya. Bibir nya sempat menyentuh rambut Maya.
Diana berjalan menuju jendela, membuka gordain dan memandang keluar. Dia menahan tawa. Menyembunyikan raut wajah gelinya dengan memandang bintang.
"Kenapa kau bisa berada dikamar itu?"
"Kau menyuruhku bukan?"
"Eh! Kapan?"
"Seorang pelayan mengatakannya."
"Pelayan yang mana?"
"Perempuan."
"Namanya?"
"Mana aku tahu." sahut Andrew dengan kesal.
Diana menduga-duga pelayan yang sengaja mengirim Andrew kekamar Maya. Apa tujuan pelayan itu melakukan hal ini.
Diana menoleh dan melihat Andrew tampak frustasi sambil menggosok bibir dan mengacak rambutnya.
"Kau mencium Maya?" tanya Diana sambil menahan geli.
"**#*! Untung saja tidak."
"Tapi kau memeluknya!" seru Diana, kali ini dia agak merasa kesal.
"Seharusnya dia tahu kalau ada orang yang masuk kamar dan langsung bilang, tuan anda salah masuk kamar!" seru Andrew menyalahkan Maya.
"Salah mu sendiri. Kenapa kau tidak bisa membedakan?"
Andrew diam menatap Diana. Dia sendiri heran bagaimana mungkin hatinya tidak menurut pada otaknya. Jelas-jelas dia merasa berbeda tapi main terjang.
"Karena aku merindukanmu." sahut Andrew setelah menemukan penyebabnya.
"Alasan! Tiap hari kita bertemu."
"Iya. Tapi..."perkataan Andrew terpotong.
"Kau menikmatinya bukan?"
"Apa? Menikmati apa?"
"Memeluk Maya dan menempelkan tubuhmu padanya. Kau suka kan?" kali ini Diana benar-benar cemburu. Maya hari ini datang dengan dandanan yang super feminim. Seandainya dia tidak masuk ke kamar itu, apa yang terjadi? Ah mungkin Andrew akan mengusir Maya. Tapi kalau saja di kamar itu wanita lain, bagaimana coba? Apa Andrew akan menikmatinya?
"Jangan berpikir macam-macam. Kau tahu aku anti dengan mahluk aneh itu."
"Dia sahabatku."
"Oke. Oke. Dia sahabatmu."
"Huh! Itu baru Maya kau sudah main terjang. Bagaimana wanita lain disana?"
Andrew terperangah. Benar juga ini kesalahan dirinya yang terlalu merindukan wanita dihadapannya. Wanita yang bisa dilihat tapi tidak bisa disentuh.
"Kau cemburu?" tanya Andrew dengan berbunga-bunga. Cinta yang Diana sembunyikan kali ini terpampang jelas diahadapan Andrew.
"Cemburu? Jangan harap." sahut Diana jengah, sambil kembali memalingkan wajahnya dari hadapan Andrew.
Tidak ada jawaban dari Andrew. Tiba-tiba tangan kekar itu sudah memeluk bahunya.
"Aku merindukanmu. Aku tahu kau pasti sudah memaafkan diriku." kata Andrew dengan mesra ditelinganya sambil mengecup pipi Diana.
"Lepaskan aku." Diana meronta. Tapi Andrew dapat merasaka wanita dalam pelukannya ini tidak sungguh-sungguh meronta.
"Sayang, jangan cemburu. Semua ini terjadi karena aku seolah-olah melihat dirimu disana. Aku tidak akan pernah menyentuh siapapun selain dirimu." janji Andrew lembut terdengar ditelinga.
__ADS_1
Diana diam. Diamnya Diana, membuat Andrew merasa ada cela. Dia tidak akan membuang kesempatan ini.
Andrew mulai mencium leher samping kiri mencium leher samping kanan, menghisap leher itu ( bukan drakula ya. Mau buat ****** tapi hahhaha jejak cinta ).
Tanpa dia sadari Diana mendesah. Nafasnya mulai sesak menahan rasa. Sentuhan yang lama sudah tidak dia rasakan.
Dia memejamkan mata.
Andrew membalik tubuhnya dan langsung mencium bibir yang amat dia rindukan. Tidak memberi kesempatan bibir itu untuk beristirahat. Ciuman panjang dan dalam, ciuman kerinduan.
Gelora dalam hati Andrew bangkit. Adik kecil sudah menegang keras. Tangannya mulai meraba masuk kedalam pakaian Diana hendak bergerilya.
Saat itu diluar dugaannya, Diana mendorong tubuhnya. Dan berjalan menjauh dari darinya. Andrew menggapai tangan Diana dan menarik wanita itu kedalam pelukannya. Mencium dan memeluk mesra.
Diana mendorongnya lagi. " Andrew lepaskan!"
"Sayang?" Andrew todak mengerti baru saja wanita itu membalas ciumannya dengan mesra pula, tapi kenapa tiba-tiba menolak dan mejauhinya.
"Mau kemana?"
"Mandi."
Andrew bersorak dalam hati.
"Aku ikut."
"Tidak."
"Tapi kenapa?"
"Belum nikah!" Diana menutup pintu kamar mandi dan menguncinya. Andrew masih terperangah. Apa yang dikatakannya tadi? Sesaat dia membalas ciuman dengan penuh bara, tapi secepat itu pula menjadi dingin.
Beberapa saat kemudian, Diana keluar dengan gaun tidur tipis dan belahan dada rendah. Andrew menelan ludah. Adik kecilnya kembali bangun.
Diana melangkah menuju tempat tidur, mengebaskan rambutnya sesaat kemudian berbaring. Andrew kembali terperangah dan mulai sesak. Gerakan sederhana itu terlampau sensual di matanya. Dia segera menghampiri Diana. Berbaring disebelahnya dan mulai memeluk wanita itu.
"Jangan sentuh aku!" Wanita itu menepiskan tangannya.
"Sayang, jangan begitu." Andrew menelan ludah kasar lagi dan kembali merayu Diana.
"Lepaskan! Jangan sentuh aku." Kali ini Diana berbalik menghadap Andrew. Payudara wanita itu yang entah bagaimana tiba-tiba terlihat lebih besar hampir menampar wajahnya.
"Lepaskan." Dan kali ini Diana masuk kedalam selimut kemudian meletakan bantal pembatas lagi.
Andrew frustasi. "Sayang, please." Bara di dadanya sudah mencapai ubun-ubun.
"Tidak. Kita belum nikah. Dilarang!"
"Astaga! Lalu kenapa kau menggodaku?" Andrew frustasi.
Selama ini juga belum nikah, tapi dia merelakan, tapi saat mengetahui status asli Andrew. Dia menolak. Tapi kenapa menggoda. Arghh!!!
"Aku tidak menggodamu."
"Tapi lingerie itu?"
"Aku kepanasan bukan untuk menggodamu."
Andrew yang frustasi sedangkan bara belum bisa dia rendam segera masuk ke kamar mandi dan melampiaskannya.
Sementara Diana tersenyum kecil. Awalnya dia memang ingin menggoda Andrew. Tapi perkataan terakhirnya adalah benar. Entah mengapa suhu Air conditioner yang dingin tetap membuatnya gerah.
**************
"Cek, maafkan aku. Aku tidak menggoda dia. Serius cek." ujar Maya dengan memelas saat mereka menikmati sarapan pagi di teras, sementara Andrew memutuskan untuk berangkat pagi-pagi ke kantor tanpa sarapan. Masih malas harus berhadapan dengan Maya.
"Iya aku tahu."
"Kau memaafkan aku kan?"
"Iya."
"Kau memang sahabat yang terbaik." Maya merangkul Diana dengan girang.
"Tapi kau suka kan?" tanya Diana menyelidik.
"Astaga. Meskipun aku begini, aku juga punya hati, nyonya." Maya melotot pada Diana.
"Hahaha okey. Okey."
__ADS_1
"Tau tidak, aku lebih suka dengan pria berjas hitam yang selalu berdiri di depan rumah. Keren habisssss."
Maya menunjuk pada pengawal yang biasa mendampingi dirinya.
"Kenalkan ya."
"Iya nanti."
"Cek, kok bisa mr. Andrew salah masuk kamar?" tanya Maya penasaran.
"Dia bilang ada seorang pelayan yang mengatakan padanya kalau aku menunggu di kamar itu."
"Busyet, pelayan mana yang bodoh sekali itu."
"Aku rasa aku tahu siapa itu."
"Tunjukan padaku apabila dia lewat."
Diana mengangguk.
"Cek, mr. Andrew romantis juga ya."
"Maksudmu?"
"Tunggu. Jangan salah paham. Bukan karena aku. Tapi saat dia masuk kamar, dia selalu menyebut namamu, aku rindu, sayang dan sebagainya."
"He eh. Tapi dia bodoh."
"Kok?"
"Bagaimana dia tidak bisa membedakan aku dan dirimu."
"Kan semalam lampu sudah aku matikan dan aku tidur pakai baju mu juga ini." Maya menunjuk pada rambut wig panjangnya.
Diana diam. Memang bisa diterima logika, tapi masih saja menjengkelkan.
"Sudah jangan ngambek sama dia. Hari ini aku balik loh. Jangan sampai kalian bertengkar karena memperebutkan aku."
"Hadeh ge-er."
"Cek, itu." Diana memberi kode lewat matanya kepada Maya ketika seprang pelayan wanita masuk dan membawa dua gelas jus semangka.
"Aku kerjain ya."
"Terserah." ucap Diana tidak perduli.
Pelayan itu menghampiri dan hendak meletakan jus semangka di meja.
"Tunggu. Pegang dulu disana." kata Diana dengan kesal. Dia kemudian sedikit merapikan meja yang penuh makanan hendak memberikan celah untuk gelas jus tersebut.
Maya tersenyum manis pada pelayan itu, amat sangat manis dengan memamerkan gigi putihnya yang sudah diberi pemutih.
Pelayan itu membalas senyuman Maya dan menatapnya sejenak. Mungkin dia kagum dengan kecantikan Maya, mungkin juga dia heran kenapa Maya masih disini dan menikmati sarapan pagi bersama nyonya rumah dengan damai, kenapa kedua wanita ini tampak baik-baik saja tidak bertengkar, tidak saling menjambak atau mencaci.
Hanya sesaat saja dia heran karena selanjutnya dia seketika syok.
"Apa lu lihat-lihat!" suara bariton Maya yang keras membentaknya. Pelayan itu terkejut dan mundur ke belakang dengan tiba-tiba sehingga jus semangka yang dia bawa tumpah mengenai pakaiannya.
Diana dan Maya berdiri menatapnya kesal kemudian pergi meninggalkan pelayan itu.
Telapak tangan kanan Maya dijulurkan ke Diana yang segera disambut dengan tepukan ditangan itu. Mereka tersenyum puas!
πππππππππππππππππππ
Penasaran dengan penampilan Maya yang sexy. Ini diaaa... cakep gila kannnn ?????
Hallo sobat pembaca...
Jangan lupa like ya, biar author selalu semangat updated.
Sedih loh kalau like nya sedikit sedangkan viewers bya banyak.
Baca nya kan gratis dibayar dengan Like aja ya, hehehe kan gak mahal.
Ayooo yang lupa like ( klik jempol ) scroll lagi dari episode pertama ya.
Terimakasih.
__ADS_1
Salam sayang π