
"Andrew, kau harus mendengarkan aku. Aku datang menemuimu murni karena urusan bisnis. Benar-benar karena bisnis. Tidak ada maksud lain. Aku bersumpah." ucapanya cepat dengan panik ketika pengawal itu kembali berjalan mendekatinya.
Pengawal tersebut tidak menghiraukan perkataan wanita itu, karena mereka hanya mematuhi tuannya. Mereka terap bergerak maju mendekatinya.
"Mari nyonya, silahkan keluar dari ruangan ini," ucap salah satu pengawal dengan dingin.
"Andrew jangan melakukan ini padaku. Aku datang karena memerlukan bantuanmu untuk mengembangkan perkebunan anggur yang aku miliki, pleaseee dengar kan aku," ucap wanita tersebut dengan memelas.
Andrew tetap diam tanpa reaksi. Pandangannya tidak beralih dari berkas-berkas dihadapannya. Meskipun begitu, dia tidak dapat berkonsentrasi karena suara rengekan wanita dihadapannya.
"Nyonya silahkan berjalan sendiri sebelum kami paksa," kata pengawal itu lagi.
Wanita itu masih bertahan di posisi duduknya sambil menatap Andrew tajam.
Satu detik... dua detik... tiga detik...
Pengawal tidak lagi menahan diri.
"Mari nyonya," salah satu pengawal mulai menarik tangan wanita itu.
"Andrewwww jangan begini padakuuu... jangan berlaku kasar padaku, aku berjanji hanya bisnis. Kau boleh mengusirku jika kesepakatan yang aku ajukan tidak menguntungkanmu." Teriak wanita itu dengan histeris.
Andrew menggerakan tangannya, memberi tanda kepada pengawal untuk melepaskan wanita itu. Pengawal tersebut melepaskan tangan si wanita, bergerak menjauh dan keluar ruangan dengan patuh.
"Baiklah Caroline, katakan," ucap Andrew dengan mata tertuju pada personal computer nya.
Wanita yang bernama Caroline itu menarik nafas lega. Dia mengusap lengannya yang telah disentuh oleh pengawal Andrew. Meskipun tidak sakit, tapi dia merasa sangat kesal, karena diperlakukan demikian kasarnya.
Caroline merapikan diri dan berdehem. Tenggorokannya sedikit sakit akibat teriakannya. Caroline mengusap leher nya sambil menatap Andrew yang bahkan tidak melirik dirinya.
Dia merasa kesal dengan perubahan sikap Andrew. Meskipun benar mereka tidak pernah bertemu hampir sepuluh tahun, tapi bukankah dirinya adalah cinta pertama yang sempat membuat Andrew frustasi dengan gila.
Dulu pun ketika mereka berpisah selama hampir empat tahun, Andrew tidak seperti ini. Andrew masih mengejarnya, mendambakan bahkan memohon padanya agar jangan pernah pergi lagi.
"Kalau tidak ada hal berguna yang akan kau katakan, pergilah!" Suara Andrew terdengar tegas.
"A...aku memerlukan air. Ehem..hemm... tenggorokan ku sakit," ucap Caroline dengan memelas.
Andrew memencet sambungan telphone dan memerintahkan Patricia mengambilkan air minum. Hanya dalam beberapa detik Patricia datang dengan membawa sebotol mineral water dan gelas kosong beserta sedotannya.
Di letakan semuanya itu dihadapan Caroline. Caroline hanya diam tanpa mengucapkan terimakasih. Diaia merasa sangat kesal, karena Patricia bahkan tidak menuangkan air tersebut di gelas untuk dirinya.
Dengan wajah cemberut, Caroline membuka botol air mineral tersebut dan menuangkan isinya ke dalam gelas kosong, kemudian meminumya melalui sedotan dengan perlahan.
__ADS_1
Dia sengaja meminumnya dengan perlahan, seraya mengulur waktu, mencari kalimat yang tepat untuk menyatakan tujuannya kepada Andrew.
Dipandanginya wajah Andrew dengan kekaguman. Andrew tampak lebih tampan dan lebih matang daripada sepuluh tahun yang lalu.
Pria itu semakin berkharisma diusianya yang ke tiga puluh delapan.
Guratan halus di sudut matanya, rambut halus yang menghiasi wajahnya tampak menambahkan pesona pria itu.
Apalagi kekuasaan yang dia kendalikan di usia mudanya. Tentu siapapun yang bersanding dengan dirinya akan membuat setiap wanita merasa iri. Dan Caroline bisa menduga berapa banyak wanita yang iri kepada Diana.
Penampilannya yang luar biasa menawan itu, menggugah ingatan Caroline akan keperkasaan Andrew di ranjang. Tiba-tiba hawa panas menyeruak masuk kedalam dirinya, mengalirkan kejutan-kejutan listrik hingga terasa ngilu dibagian intim nya.
Dadanya berdebar. Caroline menautkan kedua pahanya dengan rapat dan menggeseknya perlahan, menahan sensasi yang menyeruak masuk kedalam kewanitaannya. Caroline menggigit bibir bawahnya menahan gejolak keinginan hatinya.
Tangan Andrew bergerak hendak memecet sambungan telphone lagi. Dia sudah merasa gusar menunggu Caroline yang tetap diam dan tidak juga berbicara. Andrew berniat memanggil pengawalnya kembali, sebelum wanita ini semakin lama berada disini hanya menjadi pajangan hidup.
"Tunggu!" Seru Caroline dengan cepat sebelum Andrew menekan tombol panggilan.
Dia menelan ludah kasar, ketika tangan Andrew masih mengambang di atas telphone. Tangan itu tampak kecoklatan dan begitu perkasa. Caroline mengerjap-ngerjapkan matanya, mengusir segala pikiran yang berkecamuk.
"Suamiku sudah meninggal. Dan dia meninggalkan perkebunan anggur yang sangat luas di Itally untuk ku." Caroline berhenti sejenak dan menarik nafas lega setelah melihat tangan Andrew yang bergerak menjauh dari telphone.
"Selain itu, perkebunan ku juga memproduksi wine yang diproduksi dan di sebarkan secara lokal. Kualitas anggur kami cukup baik." Caroline merasa senang karena saat ini Andrew mau menatap dirinya.
Caroline bernafas lega, akhirnya dia bisa menjelaskan tujuan utamanya datang menemui Andrew.
"Seberapa besar kapasitas pabrik wine mu?" tanya Andrew yang tampak mulai tertarik.
"Kami biasa memproduksi dengan cara traditional hingga lima ratus botol per bulan," ujar Caroline.
"Itu tidak cukup. Jika kau mau bekerja sama , setidaknya kau harus menyediakan lebih dari dua ribu botol per bulan. Itu pun tergantung dari standard dan kualitas anggurmu." ujar Andrew dengan lugas.
"Lalu, tidak kah kau bisa membantuku?"
Andrew mengangkat bahunya.
"Kau pasti bisa membantuku. Aku tahu, aku memerlukan suntikan dana untuk mendirikan pabrik lebih besar lagi. Karena anggur yang kami panen, tidak dapaat sepenuhnya kami olah."
"Aku harus melihat kualitas wine mu."
"Ah... itu, aku lupa membawanya."
"Heh! Bagaimana bisa kau berapi-api menyatakan hendak bekerjasama, jika hal penting ini bahkan kau lupakan," ujar Andrew dengan sinis.
__ADS_1
"Itu... tunggu kau bisa membuka website perkebunanku." Caroline beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke komputer Andrew. Dia tanpa segan menunduk di sebelah Andrew dan membuka laman google, kemudian mengetik sebuah alamat web.
Tak lama terbukalah situs yang dia maksudkan.
Sebuah perkebunan anggur ribuan hektar dan tampak sangat maju. Tampak juga penyulingan anggur yang traditional dan kemana mereka mengirimkannya selama ini.
Andrew mengamati nya dengan seksama. Memang selama ini dia mencari suatu perusahaan yang bisa memproduksi house wine dengan provit yang menguntungkan.
Andrew sedikit tertarik dengan penawaran yang di ajukan oleh Caroline. Meskipun begitu dia sedikit was-was dengan wanita ini. Walaupun dia tampak lebih anggun dan dewasa, tetapi sifat aslinya belum tentu hilang.
"Bagaimana? Kau bisa membangun pabrik anggur disana dan memproduksi wine sebanyak yang kau perlukan. Jangan kahwatir, Tuscany selalu menghasilkan wine terbaik. Kita bisa menggunakan anggur terbaik untuk wine berkualitas dan sisanya merupakan house blend. Bagaimana, menarik bukan?" Ucap Caroline panjang lebar.
"Aku akan merundingkannya dengan Briant."
"Tentu saja. Dan kau sebaiknya datang sendiri untuk meninjau lokasi. Bisnis ini pasti akan menguntungkan kita berdua," ujar Caroline dengan percaya diri.
"Patricia akan menghubungimu, bagaimana hasil perundinganku dengan Briant dan executive lainnya." Andrew memutuskan percakapan diantara mereka dengan menyiratkan kalimat agar Caroline pergi.
"Aku akan datang kembali besuk, Andrew. Aku harap kau akan mengambil keputusan yang tepat. Setidaknya datanglah ke tuscany dan lihat lah prospek yang menjanjikan." Caroline masih berusaha untuk menyakinkan Andrew.
"Kau bisa pergi sekarang bukan? Aku masih sibuk," kata Andrew dengan tegas.
"Baiklah Andrew, sampai bertemu besuk." Caroline meninggalkan ruangan setelah sesaat memandang Andrew lagi dengan seksama.
Dia mengigit bibirnya, karena rasa sensual itu mulai muncul lagi dalam dirinya.
*Dasar kau Andrew. Kau sudah membangkitkan gairahku dengan sikap dinginmu. Aku akan membalasnya padamu. Membalas setiap gairahku yang terpendam dan juga segala penghinaanmu hari ini.
ππππππππππππ
Jangan lupa yaaaa...
Tanggal 1 Desember novel Jason dan Lia tayang perdana.
Semoga menghibur kalian semua.
Jangan luap dukung karya-karya author yaaaa.
Terimakasih.
Jangan Lupa Baca Kisah Lia dan Jason ya. Seru, Kocak dan Halu bareng yukkkk
__ADS_1