Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Andrew pergi kerumah Rachel


__ADS_3

"Grandpa." seru Conrad ragu sambil menghampiri tuan besar yang sedang duduk di ruang keluarga lantai atas.


Tuan besar tidak pernah akrab terlebih menganggap Conrad cucu. Anak itu hanyalah anak yang diadopsi Andrew atas desakan Rachel, bahkan setelah itu Rachel enggan namanya dicantumkan dalam surat adopsi, mungkin takut kalau anak itu suatu saat akan menjadi ahli waris.


Sekarang dia berusaha memandang Conrad dengan cara yang berbeda, dengan mata seorang kakek seperti yang diajarkan Diana padanya.


Di samping Conrad juga berdiri gadis muda oriental, yang dia yakini adalah keluarga Diana.


"Kemarilah. Duduk disisi grandpa dan ceritakan apa yang sudah kau pelajari disekolah hari ini."


Conrad duduk disamping tuan besar dengan tidak percaya, dia mendongak kepada Lia. Lia mengangguk dan tersenyum memberi semangat. Agar kepercayaan diri anak itu tumbuh.


"Hallo tuan besar, perkenalkan namaku Lia. Aku adik dari Diana." Lia memperkenalkan diri tanpa mengulurkan tangan hanya dengan sedikit menganggukan kepala.


Baginya pria terhormart seperti tuan besar belum tentu mau berjabat tangan dengan dirinya. Jadi sedari awal dia mengurungkan niatnya untuk mengulurkan tangan.


Lia kemudian duduk disamping Conrad.


"Ayo Conrad ceritakan pada grandpa kalau kau mendapatkan nilai terbaik di esai dan sudah bisa pembagian." ucap Lia menyemangati.


"Benarkah?"


"Benar Grandpa." ucapnya malu-malu.


"Bagus! Anggota keluarga Knight harus menjadi orang yang pandai dan hebat." Ada nada bangga dibalik suara tuan besar.


Lia menatap tuan besar tidak percaya, benarkah pria tua itu sudah menyebut Conrad bagian keluarga Knight?


"Apakah daddy sudah memberimu hadiah?" tanya tuan besar lagi.


Conrad menggelengkan kepala.


"Biasanya mommy yang selalu membuatkan Conrad kue special." ucap Conrad.


"Kenapa kau tidak meminta suatu hadiah pada daddy mu?" tuan besar heran.


"Maaf tuan besar, kakak saya mengajarkan pada Conrad, kalau keberhasilannya di sekolah adalah tanggung jawab yang harus dia lakukan. Kakak akan memberikan sanjungan dan pelukan kebanggaan bila Conrad berhasil terhadap tugas-tugas kecil dan hadiah pada kenaikan kelasnya." Lia memandang Conrad dan mengelus rambut anak itu sambil mengecup keningnya.


"Dan dia sungguh bertanggung jawab dan melakukan tugasnya dengan segenap hati bukan karena imbalan." Tegas Lia.


Tuan besar yang mendengarnya hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Pelajaran moral lainnya dia dapatkan dari orang biasa.


"Conrad rindu mommy. Biasanya kalau Conrad dapat nilai bagus, mommy pasti buatkan kue tok, nastar, roti kukus. Hik.hik... Conrad juga ingin makan pisang goreng buatan mommy... huaaaa..." bocah itu menangis tersedu-sedu sambil memeluk Lia.


"Unty buatkan ya. Kalau cuma pisang goreng unty juga bisa. Hahhaha." ujar Lia sombong.


"Yakin bisa seenak buatan mommy." Bocah kecil itu menengadahkan kepalanya dengan raut wakah ragu. Pasalnya dia tidak pernah melihat Lia di dapur.


"Pasti bisa." ujar Lia yakin.

__ADS_1


"Tapi Conrad tetap mau mommy. Conrad kangen sama mommy. Huaaa.... " bocah itu menangis kembali.


Tuan besar melihat pemandangan itu dengan menahan haru. Benar-benar suatu pemandangan tentang ikatan sebuah keluarga. Bocah ini bahkan tidak punya ikatan darah dengan gadis di depannya bahkan dengan Diana yang dia panggil mommy. Tapi kasih sayang yang diberikan membuktikan ikatan itu ada.


Dia menyadari banyak hal yang ia lewati. Sedari dulu, bisnis keluarga yang utama baginya. Bahkan dia tidak pernah tahu kebiasaan dan kesukaan Andrew kecil atau keberhasilan yang dicapai apalagi kesukaran yang dilalui anaknya.


Sangat disayangkan sekali.


Saat mereka asyik berbincang-bincang, Briant tiba-tiba saja muncul dengan wajah tegang.


"Ada apa Briant? Apa ada sesuatu terjadi?" tanya tuan besar heran. Semua mata di ruangan itu memandang Briant dengan tajam.


Briant diam.


"Lia tolong bawa Conrad kekamar."


Lia yang melihat situasi tidak menyenangkan segera membawa Conrad ke kamar dan memanggil nanny untuk menamaninya.


Ketika dia kembali dia samar mendengar kalimat Briant yang mengatakan, "dia melarangku pergi."


Wajah tuan besar tampak tegang, tangannya terkepal.


"Ada apa brother? Apa yang terjadi?" tanya Lia pemasaran.


Dadanya sudah berdebar, semua panca inderanya mengatakan kalau sesuatu yang mengkhawatirkan telah terjadi.


"Duduklah." ujar Briant yang melihat Lia masih berdiri dengan tegang.


Lia menurut, dia duduk di sofa besar dihadapan Briant.


"Dylan menghubungi ponsel kakak ipar yang dipegang oleh Andrew. Dia mengakui kalau dia yang telah membawa pergi kakak ipar."


"Lalu, dimana kakakku? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia akan kembali? Apakah brother Andrew menjemputnya pulang? Aku mau ikut." Lia berdiri hendak beranjak dari tempat itu tapi langlahnya ditahan oleh Briant.


"Tunggu dulu! Duduklah, aku belum selesai."


Lia kembali duduk. Kedua tangannya saling mengkait satu sama lain dengan gelisah sambil berharap cemas.


"Dylan mengatakan kalau kakakmu sekarang berada bersama Rachel dan Andrew menuju kesana."


"Tidak! Wanita itu gila! Dia bisa berbuat hal gila pada kakakku. Kenapa kita masih disini. Kita harus kesana menjemputnya. Kita harus membantu brother Andrew." ucap Lia dengan panik dan nafas tersenggal-senggal karena luapan emosi dalam dirinya.


"Andrew sudah berangkat dengan sepuluh pengawal. Aku akan terap disini menjaga kalian." ucap Briant dengan tegas.


"Tapi dia kakakku, Aku harus melakukan sesuatu."


"Tenangkan dirimu. Jangan menambah kekacauan. Kepanikanmu tidak akan membantu menyelesaikan masalah." ucap Briant dengan gusar. Sesungguhnya Briant sendiri cemas, tapi melihat tingkah Lia membuatnya lebih cemas lagi.


Lia menatap Briant dengan gusar. Dia pergi meninggalkan Briant dan tuan besar dengan kesal. Seandainya Jason yang disana pasti akan lebih mendukungnya dan penuh dengan ide-ide gila.

__ADS_1


*Ah! Kenapa aku jadi merindukan Jason saat seperti ini. Apakah dia sudah kembali dari Kairo*?


Sepeninggal Lia, Briant dan tuan besar hanya diam saja dalam hening. Hingga kembali Briant disibukan dengan urusan pekerjaan.


Sebelumnya.


Setelah menerima telphone dari Dylan. Andrew dengan kondisi marah menuju rumah pengawal.


"Gregggg!!!" Suara nya menggelegar memanggil Kepala pengawal.


Kepala pengawal segera menghampiri tuannya dengan wajah datar tanpa expressi.


"Siapkan sepuluh orang anak buah terbaikmu dan persenjatai mereka. Sekarang aku akan pergi kerumah perempuan kejam itu!"


"Baik tuan." Dengan bergegas Greg mempersiapkan anak buahnya. Dalam waktu singkat sepuluh orang dengan pakaian kaos berwarna biru tua, celana panjang hitam dan sepatu kets nya telah siap.


Diana memang sempat mengubah penampilan mereka agar tidak mencolok ketika berada disekitarnya. Dia merasa risi melihat pengawal yang berpakaian layaknya Tukang pukul sebelumnya.


Ketika Andrew hendak berangkat Briant datang.


"Ada apa, apa yang terjadi sehingga kau membawa banyak pengawal, apakah kau.. ?"


"Iya, Dylan menghubungiku melalui ponsel Diana. Dia memang yang sudah menculik Diana tapi kemudian Rachel membawanya pergi. Aku akan kerumah Rachel untuk menjemput Diana." ucap Andrew dengan geram.


"Lebih baik kau dirumah biar aku yang pergi." ucap Briant menahan Andrew.


"Tidak. Aku yang akan pergi."


"Kehadiranmu hanya akan memicu perdebatan."


"Aku tidak perduli jika harus menyakiti Rachel. Diana adalah wanitaku! Dia tanggung jawabku!" Seru Andrew tegas.


Briant terdiam. Percuma dia bersikeras karena keinginan Andrew sudah teguh.


"Aku titip Daddy, Conrad dan Lia. Jika terjadi sesuatu dengan ku, kau tahu yang terbaik untuk mereka." pesan Andrew sebelum berangkat.


"Kau harus kembali dengan kakak ipar. Ingat mereka semua tanggung jawabmu, bukan milikku. Aku punya kehidupan sendiri. Ingat kau harus kembali!" ucap Briant dengan tegas memperingatkan Andrew.


Andrew tersenyum. Dia tahu sepupu, sahabat dan assistentnya yang satu ini adalah orang yang berhati besar.


Andrew memasuki mobil, ketika iring-iringan mobil sudah hendak melewati pagar, perjalanan mereka dihentikan oleh butler Jhon yang berlari dengan kencang.


"Tunggu tuan! Ini, makanlah dijalan. Anda belum makan sedari kemarin. Jangan membantah saya! Anda harus memiliki kekuatan untuk menjemput nyonya Diana. Dan ini untuk dirinya, jika dia tidak makan dengan baik." Dengan tegas butler Jhon memberikan dua bungkus Turkey Sandwich dan dua botol. Satu berisi susu dan satunya adalah teh.


Andrew menerima itu semua dengan terharu.


Iringan mobil bergerak diikuti dengan pandangan mata dari Briant dan butler Jhon juga beberapa penjaga rumah.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—

__ADS_1


__ADS_2