
Mendengar suara Andrew yang memanggil nya, Diana melupakan keinginan untuk membaca diary tersebut. Di letakannya diary itu di meja dan segera keluar kamar.
Dia mendapati Andrew yang baru saja kembali. Wajah pria itu tampak tegang.
Diana mengambil tas kerja Andrew dan membawanya ke ruang kerja. Sementara pria itu duduk sambil meneguk segelas ai lemon dingin.
"Bagaimana, apa ada kabar terbaru?" tanya Diana setelah kembali dari ruang kerja Andrew.
"Greg sudah menemukan jika taxy yang membawa Caroline dan Conrad menuju ke arah bandara." Ujar Andrew.
"Tapi, kemana dia hendak membawa Conrad pergi?" Diana panik dan heran.
"Aku tidak tahu. Greg sekarang sedang di bandara dan bekerja sama dengan pihak bandara untuk menelusuri kemana mereka pergi. Apakah kau sudah menghubungi handphone Conrad?" Tanya Andrew lagi.
Diana mengangguk.
"Berkali-kali. Tapi tampaknya telphone nya sudah dimatikan." Ujar Diana lesu.
"Apakah dia meninggalkan pesan?" Andrew menatap Diana lekat.
"Tidak ada. Aku sudah memeriksa kamar Conrad. Tapi tidak ada pesan apapun juga.
Andrew apakah mungkin, Caroline sengaja menculiknya?" Ujar Diana dengan takut.
Diana teringat saat dimana Dylan dan Rachel menculiknya, hingga berakhir dengan penembakan yang membuat dia koma. Diana takut jika hal itu terjadi pada Conrad. Meskipun Caroline kemungkinan benar adalah ibu kandung Conrad, tetapi tampaknya emosi wanita itu labil. Dia egoise.
"Mungkin. Tapi arghhh... Kenapa Conrad harus menurutinya? Kenapa dia harus mendengar dan mengikuti perkataan wanita itu. Wanita yang baru dia kenal." Ujar Andrew dengan gereget.
Diana memandang lurus ke depan. Tak terasa air matanya jatuh menetes. Hatinya terasa ngilu, mengingat kemungkinan penyebab Conrad menuruti Caroline.
"Mungkin...karena Caroline adalah ibu nya. Dia... ingin berbakti pada wanita itu." ujar Diana lirih.
Andrew menoleh dan melihat air mata yang menetes di pipi istrinya. Dia menyeka air mata itu dengan lembut. Dan merengkuh Diana kedalam pelukannya.
"Kau adalah ibunya." Ujar Andrew menenangkan.
"Aku hanyalah ibu angkatnya, Andrew. Dia sudah tidak membutuhkanku lagi saat bertemu dengan ibunya. Aku hanyalah orang asing bagi dirinya." Isak Diana dengan pilu.
Dia merasa sangat sedih, dengan penolakan Conrad selama beberapa bulan ini. Baru saja hatinya merasa senang, ketika bocah itu kembali memeluk dirinya pagi ini. Sekarang, anak itu sudah pergi mengikuti ibu kandung yang baru dia kenal.
"Tenangkan hatimu. Dia hanya perlu waktu. Aku yakin dia tidak pernah bisa memalingkan wajahnya dari mu. Jika hal itu terjadi, maka... aku yang akan membawa dirinya kembali padamu." Tegas Adrew dengan lembut.
"Aku takut kehilangan dirinya, Andrew. Aku tidak bisa terima dia pergi dengan cara seperti ini. Kau tahu aku menyayangi dirinya meskipun dia bukan anak kita. Kau tahu itu..." Diana menangis tersedu dipelukan Andrew.
__ADS_1
Dia menumpahkan segala perasaan yang mengganjal dihati. Kehilangan seorang anak itu sangat menyakitkan. Andrew dapat merasakan cinta dan ketulusan istrinya. Kasih sayang yang dia miliki itu sangat tulus.
"Aku tahu. Aku tahu sayang. Hatiku pun terpukul dengan kepergiannya. Tunggu, hingga Greg menemukan Conrad, aku akan membawa anak itu kembali." ujar Andrew menenangkan.
"Iya. Pastikan dia baik-baik saja, jika... dia memilih Caroline aku harus merelakannya." ujar Diana dengan pilu.
"Kau harus bisa menenangkan dirimu. Aku tidak ingin jika perhatianmu kepada Aaron berkurang karena hal ini. Aaron membutuhkan mommy disisinya." Ujar Andrew memperingatkan.
Diana mengangguk lemah.
*
"Dimana kau?" tanya Mike dengan gusar melalui sambungan telphone.
"Heh? baru sekarang kau menghubungiku, penghianat!" sahut Caroline disisi lain.
"Kenapa kau harus membawa anak itu pergi, ada apa dengan dirimu? Kau tidak menyukai anak-anak." desak Mike.
"Kau tidak benar-benar mengenalku. Aku sudah melahirkan dua anak. Bagaimana mungkin kau bisa mengatakan aku tidak suka anak-anak?" ujar Caroline dengan sinis.
"Karena kau membutuhkan mereka untuk memperoleh keinginanmu. Dan entah kebodohan apa yang ada di benakmu, sehingga menelantarkan anakmu dengan Andrew."
"Tutup mulutmu, Mike. Rachel yang membuat aku meninggalkan Andrew!" ujar Caroline dengan berapi-api.
"Sial kau Mike. Kau adalah sekutuku. Kita sudah pernah membuat kesepakatan. Kau tidak takut aku mengatakan pada Andrew tentang kita?"
Ancam Caroline.
"Kau pikir mereka akan percaya padamu? Sekarang katakan dimana dirimu dan mengapa kau membawa Conrad bersamamu."
"Apa perdulimu? Ah... aku tahu hhahahhaha, kau ingin tampil menjadi pahlawan bukan di depan Andrew. Itu tidak akan mungkin terjadi."
"Dengar Caroline. Kembalikan Conrad pada Andrew. Anak itu akan lebih aman bersama ayahnya. Kau tidak akan bisa merawatnya dengan kondisi keuanganmu seperti ini." nasihat Mike.
"Jangan campuri urusanku!" Bentak Caroline.
"Saranku, kau bawa Conrad kembali pada Andrew. Dia tidak akan menelantarkan dirimu, karena Andrew pasti tidak ingin mengecewakan Conrad. Biarkan Diana yang merawat anakmu dan kau bisa menjalani hidup yang tenang bersama Francesca." ujaar Mike panjang lebar.
"Kau pikir dirimu seorang Dosen dan aku mahasiswi mu? Simpan bualanmu untuk dirimu sendiri. AKU CAROLINE akan selalu mendapatkan yang aku mau." Bentak Caroline sebelum menutup sambungan telphone nya.
Satu detik sebelum sambungan telphone mati, Mike mendengar suara anak kecil berbicara. Mommy. Nada suara takut dari seorang anak perempuan. Mike berpikir keras sesaat. Hingga terbersit sesuatu di benaknya.
Mike menghubungi Andrew.
__ADS_1
"Aku rasa aku tahu dimana Conrad," ujar Mike dengan yakin.
"Katakan."
"Tuscany. Aku yakin Caroline membawa Conrad ke kediamannya." ujar Mike menyakinkan Andrew.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?" tanya Andrew heran.
Dalam benak Andrew, apa untungnya wanita itu membawa Conrad ke Itally. Apalagi dengan kondisi ekonominya yang tidak stabil seperti ini. Membawa Conrad pergi berarti dia harus membiayai anak itu, kecuali jika...
Andrew tersentak dengan kemungkinan yang dia pikirkan.
"Aku menghubunginya. Aku mencoba mengorek keterangan tentang keberadaan Conrad. Meskipun Caroline bersikeras menutupinya, tapi suara anak wanita membuatku berpikir seperti itu. Aku rasa aku benar."
"Jika begitu... aku harus membawa Conrad kembali." ujar Andrew.
"Tidak Andrew jangan pergi. Biar aku yang pergi. Aku yang akan membawa Conrad kembali." Mike menawarkan Diri.
Dia merasa bertanggung jawab dengan kejadian ini. Jika saja dirinya dulu tidak bersedia bekerja sama dengan Caroline untuk memisahkan Andrew dan Diana, maka Conrad tidak akan menjadi korban. Mike ingin menebus rasa bersalahnya.
"Tidak. Aku yang harus pergi." ujar Andrew.
"Kau tahu, itu yang dia harapkan." ujar Mike bersikeras.
"Aku tahu. Dan saatnya aku mengaskan jika dia tidak akan memperoleh keinginannya. Jika dia memaksa, maka aku akan mengambil jalur hukum." Dengan tegas Andrew berbicara.
"Baiklah. Tapi, biarkan aku menemanimu." pinta Mike.
Andrw diam sesaat, kemudian berkata, "Raja yang akan menemaniku."
Mike menarik nafas dengan berat. Mungkin kesempatan untuk menghapus dosa-dosanya belum tiba.
...💗💗💗💗💗...
Hallo semuaaaa
Selamat Tahun Baru 2021
Semoga di tahun yang baru, semua makin bahagia, sehat dan dilimpahi rejeki.
Semoga makin cinta juga dengan karya author.
Tetap semangat dan selalu sehat.
__ADS_1