Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Diana dan Rachel 2


__ADS_3

Malam itu Bill Willingthon tiba di rumah Rachel. Dia langsung masuk dan mendapati pengawal yang berjaga di kamar Diana.


"Apa ini kamar wanita itu?" tanyanya kepada kedua pengawal yang berjaga.


"Benar tuan." sahut salah seorang dari mereka dengan hormat.


"Buka." perintah Bill.


Pengawal membuka pintu kamar itu dan membiarkan Bill masuk kemudian menutupnya kembali.


Bill mendapati Diana sedang tertidur di kasur. Dia mengamati wajah Diana. Ini pertama kalinya dia melihat langsung wajah wanita hamil itu.


"Kau lebih cantik aslinya daripada di foto. Sangat mempesona. Pantas saja menantuku jatuh hati kepadamu. Hmmm... andai saja kau tidak hamil sebesar ini, aku pasti akan bersenang-senang denganmu." ujar Bill dengan seringai liciknya sambil menyentuh rambut Diana sebentar. Matanya menyapu sekujur tubuh Diana dengam menelan ludah kasar.


Kemudian dia melihat remote ac dan melepas baterainya.


"Ini hukuman buatmu sudah membuatku tidak dapat menikmati tubuh mu." ujarnya sebelum meninggalkan kamar Diana. Di luar ruangan dia memberikan baterai itu ketangan pengawal yang memandang Bill dengan heran.


Bill berjalan melewati lorong sebelum sampai ke kamar Rachel dan membuka kamar yang tidak terkunci itu. Rachel yang hendak tidur terkejut dengan kedatangan ayahnya.


"Kenapa kau kemari?" tanyanya gusar.


"Apakah kau tidak merindukanku?" tanya Bill balik sambil menyungging senyuman.


Rachel terdiam. Seandainya berani menjawab dia akan berkata, "keluar! Pergi kau! Aku membencimu tua bangka!"


Tapi kata-kata itu tak keluar sedikitpun dari bibirnya.


Bill melepaskan jas yang dia kenakan dan juga melepas beberapa kancing kemeja serta menggulung baju di pergelangan tangannya. Kemudian dia mendekati Rachel dan mulai mencium wanita itu.


"Balas ciumanku, Rachel!" serunya marah ketika Rachel hanya bersikap seperti patung.


Kemudian dia kembali menciumi Rachel dan mulai menggerayangi sekujur tubuh Rachel, disela-sela aktivitasnya dia membisikan kata, "aku merindukanmu Rachel."


Kemudian dia kembali bergerak diatas tubuh Rachel dan melucuti semua pakaian mereka. Penyatuan diri terjadi.


Rachel mendesah dan menikmati permainan membuat Bill semakin bernafsu. Permainan berlangsung satu jam, hingga kedua nya mengerang akan pencapaian mereka.


Bill terengah-engah disisi tubuh Rachel. Kemudian dia berbalik dan memeluk tubuh polos Rachel seraya bermain diatas puncak dada wanita itu.


"Kenapa tidak kau bunuh saja wanita itu." bisiknya.


Rachel terkejut dan menoleh pada Bill dengan tatapan tidak suka.


"Tidak! Andrew akan membenciku!"


"Kenapa kau harus perduli perasaan Andrew, dia sudah jelas-jelas mencampakanmu."


"Aku tidak perduli. Aku masih belum puas bermain-main dengan Andrew."

__ADS_1


"Lalu apa rencanamu?"


"Akan aku buat wanita itu menandatangani surat perjanjian yang menyatakan akan memberikan anak yang dia kandung padaku."


"Kau tidak suka anak-anak Rachel."


"Aku tidak harus menyayangi mereka. Aku hanya perlu memakai mereka."


"Kau licik sayang." ucap Bill sambil kembali menciumi dada Rachel.


"Berhentilah bermain-main, bunuh saja wanita itu, kemudian bunuh Andrew. Kau masih istri sah Andrew. Semua harta pria bodoh itu akan menjadi milikmu. Dan kau bisa bersenang-senang dengan pria muda manapun yang kau suka." ucap Bill mengintimidasi seraya menatap mata Rachel dari atas tubuh wanita itu.


Rachel diam. Perkataan Bill berkecamuk dalam pikirannya. Antara keinginan untuk memiliki Andrew atau menyingkirkan mereka semua.


Sementara Rachel berpikir, Bill kembali beraktivitas diatas tubuh wanita itu hingga membuat Rachel kembali mendesah dan mengerang melupakan keraguannya.


************


"Dia masih tidak mau makan juga?" tanya Rachel dengan kesal ketika dia duduk makan pagi di ruang makannya yang luas, sendirian.


Pelayan wanita itu hanya mengangguk sambil membawa nampan yang berisi makanan yang masih utuh. Dia berdiri mematung didepan Rachel menunggu perintah selanjutnya.


"Ya sudah pergi sana, jangan buat selera makanku hilang melihat makanan basi itu."


Pelayan tersebut segera membawa nampan tersebut ke dapur. Sesampainya di dapur dia membuang makanan itu ke tempat sampah sambil menitikan airmata.


"Tuan Andrew, saya hanya bisa membalas kebaikan anda dengan cara seperti ini. Saya bahkan tidak memiliki ponsel untuk memberitahu anda, wanita anda disini." Desah pelayan itu lirih.


Setiap ada kesempatan pelayan tersebut berusaha menjaga Diana dari kejauhan dengan sandwich dan sebotol air mineral.


Sementara Rachel yang selesai menyantap sarapan paginya, beranjak dari ruang makan menuju ruang kerja dan keluar lagi sambil membawa sebuah dokumen dan bolpoint.


Dia melangkah menuju kamar Diana.


Didepan kamar yang masih saja dijaga oleh pengawal Rachel berhenti sesaat sebelum pengawal tersebut kemudian membukakan pintu. Dilihatnya Diana duduk di kursi dengan tampang lesu dan badan gontai.


Wanita itu menegakkan duduknya ketika Rachel tiba.


"Ini." Rachel meletakan dokument itu diatas meja beserta dengan bolpointnya. Kemudian mengetuk-ngetuk bagian dokument yang tertera nama Diana Stevani.


Diana menengadah ke arah Rachel tidak mengerti. Kemudian mengambil kertas tersebut dan membacanya. Dokument tersebut ternyata berisi surat kuasa bila anak dalam kandungan Diana akn dia serahkan untuk pasangan Andrew Knight dan Rachel Willingthon. Dan Diana Stevani akan menghilang jauh dari kehidupan pasangan tersebut bahkan tidak akan pernah meminta kompensasi dalam bentuk apapun.


"Aku tidak mau tandatangan!" Ujar Diana tegas seraya menyodorkan kertas itu kepada Rachel.


"Kau harus mau!"


"Tidak!"


"Ini adalah satu-satunya jalan damai diantara kita." ucap Rachel dengan menekankan setiap katanya.

__ADS_1


"Aku tidak mau!"


"Jangan keras kepala bit#h!" Kali ini Rachel bertindak kasar dengan menjambak rambut Diana sehigga wajah gadis itu menengadah ke atas. Kemudia dia memegang dagu Diana dan meremasnya sedikit.


"Kau merasakan sesuatu?" Tanya Rachel dengan nada mengejek.


Diana merasakan ada sesuatu yang menempel di perutnya.


"Itu kaki ku. Bila kau bertindak bodoh dan keras kepala, aku akan yakinkan kaki ku ini akan menyapa bayi mu, jika masih kurang bolpoint ini akan bertindak." ancam Rachel sambil mengangkat bolpoint dengan posisi akan menusuk.


"Atau... kau ingin... pengawal didepan menyapa kandunganmu?" suara Rachel mengandung penuh ancaman.


Diana menjadi takut, tapi dia berusaha menekan rasa takutnya. Wanita dihadapan nya ini akan semakin gila bila menyadari dirinya sudah lemah.


Diana memutar otak bagaimana caranya lolos dari hal satu ini. Dia harus berbuay sesuatu.


"Ayo cepatttt!!!!" Seru Rachel dengan suara melengking.


"Atau perlu bantuan pengawal?" tanya nya dengan suara lembut.


"Baiklah. Setelah aku menandatanganinya hidupkan kembali ac dikamar ini. Dan biarkan aku mengolah makananku sendiri." pinta Diana.


Rachel memandang kearah AC yang mati. kemudian dia mengiyakan permintaan Diana yang dia anggap mudah. Toh, masih banyak pengawal yang berjada disekitar rumah.


Diana akhirnya menarik nafas panjang. Dia mulai membubuhkan tanda tangannya dan menulis sesuatu dengan aksara jawa dibagian bawah tanda tangannya.


Kulo di pekso tandatangan


Kemudian dia meletakan bolpoint diatas kertas dan mendorongnya kearah Rachel.


Rachel menyeringai lebar kemudian mengangkat dokument tersebut.


"Apa ini?" tanyanya sambil menunjuk pada bagian aksara jawa.


"Namaku." jawab Diana singkat.


"Kau orang Thailand atau Indonesia?" ujarnya heran.


Diana diam saja tidak menjawab kata-kata Rachel.


"Hahahahahaha. Sudah lah aku tidak perduli darimana asalmu." ucap Rachel dengan senang sambil memandang dokument tersebut.


"Sekarang bisa kau lepaskan aku?" tanya Diana cepat.


"Tentu saja tidak!" Sahut Rachel dengan tegas.


"Kau akan tinggal disini bersamaku sampai bayi itu lahir. Dan kalau kau bersikap baik aku akan memanjakanmu dengan kebebasan disekeliling rumah ini. Asal kau behave!" ucap Rachel dengan lembut tapi menekan setiap kata dengan tegas.


Diana mengurungkan niatannya untuk membantah. Kini Diana tahu kelemahan Rachel, dia harus membuat wanita ini merasa diutamakan, agar dirinya memperoleh kesempatan untuk bebas dan kabur.

__ADS_1


Rachel keluar dengan wajah penuh kemenangan, dia membiarkan pintu kamar Diana terbuka sementara salah satu pengawal mulai memasang kembali baterai remote dan menyalakan Ac. Diana memandang pintu yang terbuka tanpa pengawal. Dia harus mencari cela.


__ADS_2