
Andrew
Setelah menerima laporan dari Papito, Andrew mengumpat dan mengebrak meja kerjanya dengan marah hingga kertas-kertas yang berada di meja bertebaran di lantai. Gelas kopi bergelimpangan di atas karpet.
Para pelayan dilantai bawah tampak terkejut dan menoleh keatas saling bertanya penyebab asal suara itu. Apa yang terjadi dengan tuan mereka. Hanya seorang pelayan yang diam-diam tersenyum sinis.
Butler Jhon segera buru-buru naik keatas dan masuk dalam ruang kerja Andrew. Dia melihat kondisi meja andrew yang berantakan sementara kopi yang disajikan sudah jatuh dilantai. Perlahan dia membereskan kekacauan yang terjadi. Semua dia lakukan sendiri tanpa memanggil pelayan lain.
Wajah Andrew tampak menghitam. Gerahamnya bergemelatuk menahan amarah. Dengan berkacak pinggang dia menelphone seseorang dan tampak tidak sabar menanti jawaban dari balik smart phone nya. Sambil menunggu berkali-kali dia menghantam sofa.
Terdengar suara dari balik smartphone, "aku sudah tau Andrew." suara Bryant yang sudah menduga alasan Andrew menghubunginya. " Aku sedang meluncur kesana saat ini." ujar Briant lagi sebelum Andrew sempat mengatakan apapun.
"Cepatlah! Jangan sampai Rachel merusak segalanya. Sial! Kenapa dia berani sekali mengacau!" Kata Andrew dengan geram.
"Cepat atau lambat saat ini akan tiba. Kau harus mempersiapkan dirimu." kata Briant mengingatkan Andrew.
"Tapi aku tidak menginkan dia mengetahui dengan cara seperti ini." jawab Andrew dengan geram.
"Aku mengerti. Tenanglah supirku sudah mengendarai mobil dengan kecepatan maximal."ujar Briant berusaha menenangkan Andrew.
"Jangan biarkan wanita itu membuat kekacauan lebih banyak. Dan jangan sampai kehilangan Diana. Aku takut dia kabur lagi." perintah Andrew.
"Aku akan segera menyusul." klik Andrew mematikan sambungan dan menghantam dinding ruangan dengan sangat keras hingga darah bercucuran kemudian ia menoleh pada butler Jhon yang sedang membereskan ruangan.
"Butler Jhon siapkan mobil aku akan keluar."
"Baik tuan." butler Jhon segera turun dan melalui interkom rumah dia menghubungi rumah keamanan, memerintahkan mereka untuk mempersiapkan supir dan pengawal untuk Andrew. Butler Jhon terlalu kuatir apabila Andrew mengendarai kendaraannya sendiri apalagi dengan kondisi hati nya yang sedang sangat buruk. Segera setelah itu, dia menahan Andrew yang hendak pergi tanpa menghiraukan tangannya yang terluka.
"Anda harus mengobati luka ditangan terlebih dahulu. Jangan membuat nyonya Diana semakin khawatir." awalnya Andrew hendak mengacukannya tapi ketika butler Jhon mengunakan nama Diana sebagai alasan dia menurut.
Dengan cekatan butler Jhon membasuh luka, mengoleskan obat dan membungkusnya dengan perban.
"Tuan, bawa nyonya Diana kembali dengan selamat." pesan Butler Jhon ketika dia sudah selesai mengobati luka tuannya. Andrew memandang butler Jhon dengan sedih.
Mobil Andrew melaju kencang. Perlu waktu lebih dari satu jam dari Mansion menuju Condominium.
Dan saat ini dia hanya dapat menahan mengepalkan tangan menahan amarah.
Di Condominium
Rachel sudah berada didalam lift yang mengantarnya ke lantai 17.
Pintu lift terbuka tampak pengawal sudah menghadang di depan pintu.
"Minggir kau!" Bentak Rachel.
"Anda sebaiknya pergi nyonya." suara pengawal itu terdengar mengintimidasi.
"Kau pikir aku takut denganmu? Banyak cctv di tempat ini kau tidak bisa sembarangan berbuat kasar padaku." ejek Rachel dengan sinis.
__ADS_1
"Benar! Tapi saya bisa mengatakan anda sudah mengganggu kenyamanan nyonya saya." jawab pengawal.
Rachel merasa geram mendengar sanggahan dari pengawal yang masih saja mengahalangi pintu masuk.
"Biarkan dia masuk!" suara Diana terdengar lantang dari dalam.
Pengawal itu masih tidak bergerak dan tetap menghalangi pintu membuat Rachel tidak dapat masuk dan Diana tidak bisa keluar.
"Kau menuruti perkataanku untuk tidak menutup pintu tapi kau tidak mau menyingkir." desis Diana geram pada pengawal dihadapannya.
"Katakan apa mau mu?" Diana berbicara dari dalam. Dia sudah tidak perduli dengan keributan yang bakal terjadi. Lantai ini hanya ada tiga condominium dan disebelahnya adalah Grisella sedangkan sisi satunya jarang ditempati.
"Menyingkirlah dari Andrew!" kata Rachel dengan lantang.
"Kenapa aku yang harus menyingkir?" suara Diana terdengar sinis.
"Karena Andrew adalah milikku!" sahut Rachel dengan kasar.
"Kalau dia milikmu, kenapa dia selalu berada disisiku bertahun-tahun." jawab Diana dengan nada mencemooh. Dia sudah merasa kesal sekali dengan ucapan setiap wanita yang selalu mengatakan Andrew adalah milik mereka dan menghina dirinya. Meskipun Diana tahu dia tidak secantik dan sekaya mereka tapi dirinya tetap punya harga diri dan perasaan muak setiap kali mereka menyepelekannya.
"Karena kau mengacaukannya wanita sia#an! Kau tau kau hanya wanita simpanan!" sahut Rachel dengan lantang. Satu tangan Rachel menujuk kearah Diana dan satunya lagi sedang menenteng tas Hermes.
"Lebih dari sepuluh tahun aku bersama dia! Bahkan keluarga kami sudah saling mengenal!" sambung Rachel dengan mata yang berkobar.
Diana tidak percaya dengan pendengarannya. Meskipun dia bersama Andrew selama tiga tahun tapi tidak pernah sekalipun Andrew pergi jauh tanpa dirinya. Andrew selalu kembali di sisinya setiap malam. Dan dia selalu mendampingi Andrew di setiap perjalanan bisnis. Setiap hari mereka selalu bersama. Bagaimana mungkin dirinya hanya sekedar wanita simpanan. Bagaimana mungkin bila memang benar wanita itu adalah istri Andrew. Kata-kata lain yang mengusiknya adalah keluarga. Selama ini meskipun dirinya selalu bersama Andrew tapi tidak pernah sekalipun Andrew mengajak dia menemui keluarga Andrew. Kata-kata wanita itu begitu menusuk hatinya.
"Aku tidak percaya." desis Diana dengan geram.
"Nyonya sebaiknya anda pergi sekarang sebelum saya berbuat kasar!" Kata pengawal itu kepada Rachel dengan suara bariton kasarnya.
Rachel tidak menghiraukan perkataan pengawal tersebut dia melanjutkan perkataannya.
"Kau tahu dia suamiku! Suamiku!" Ujar Rachel dengan lantang.
Perkataan Rachel bagaikan suara geledek di telinga Diana. Matanya terbelalak, badannya bergetar, wajahnya memerah menahan emosi.
"Apa yang kau katakan? Kau bohong!" jawab Diana tidak percaya. Mungkin ini adalah suatu kebohongan lain dari wanita dihadapannya.
"Aku istrinya. Kami sudah sah menikah secara hukum." Ejek Rachel dengan wajah penuh kemenangan.
"Tapi itu tidak mungkin." desis Diana tidak percaya.
"Itu kenyataan! Kau yang perusak rumah tangga orang, tau!"
"Kenapa baru sekarang kau mengatakannya padaku?" tanya Diana masih tidak percaya.
"Aku pernah mengejarmu hingga ke Vatikan dan mencoba memberitahu mu secara baik-baik. Tapi kau tertalu bodoh." jawab Rachel dengan sinis.
"Nyonya sudah cukup anda berbicara. Sekarang juga anda harus pergi." Pengawal itu mulai maju dan dengan tubuh nya yang besar dia menghimpit Rachel hingga terpojok dan mundur dengan teratur.
__ADS_1
"Aku tidak percaya, bahkan dirimu tidak menggunakan cincin perkawinan! Dan... dan tidak satupun berita yang mengatakan Andrew sudah menikah." setelah Diana melirik ke jari tangan Rachel dia tidak melihat adanya cincin yang menyerupai cincin pernikahanmaupun pertunangan membuat dirinya menjadi semakin yakin perkataan Rachel hanya tipuan.
"Kau!" Suara Rachel tercekat! Detail yang dia
lupakan. Pernikahan mereka meskipun tercatat secara hukum tapi tidak ada cincin pernikahan tidak pernah dipublikasikan. Pernikahan mereka hanya sekedar bisnis. Ikatan untuk menyimpan rahasia dan aib. Kemudian dia teringat sesuatu dan mengeluarkan sebuah amplop coklat yang sudah dia lipat-lipat tak beraturan. Dia melemparkan amplop itu pada Diana keras-keras
"Itu buktinya. Kalau aku bukan istri sah kenapa dia harus mengajukan perceraian!"
Diana menangkap amplop itu dengan perasaan yang sukar di jabarkan.
Dengan tangan bergetar dia membuka amplop tersebut dan disana tertulis
***Divorces Decree Form***
Tampak disana nama Andrew Knight dan Rachel Willingthon.
Tubuh Diana bergetar hebat, wajahnya terasa panas, kepalanya menjadi berputar dan air mata mulai bercucuran. Dia terisak dalam diam. Gerahamnya bergemelatuk.
"Tidak mungkin..." suaranya sudah melemah dan tubuhnya limbung hampir jatuh tapi tertahan oleh meja kecil didekat pintu.
"Nyonya anda tidak apa-apa?" pengawal tersebut langsung bergerak cepat dan menghampiri Diana. Dia tidak berani menyentuh Diana karena wanita itu masih bisa bertahan. Penampilan Diana terlihat kacau dan pengawal tersebut merasa bersalah.
Rachel yang melihat pengawal tersebut melesat kearah Diana segera mengikutinya. Ia tersenyum puas penuh kemenangan melihat keadaan Diana yang tampak hancur. Saat itu dia mendengar pintu lift terbuka dan dia tahu keberadaanya akan tidak nyaman lagi oleh sebab itu Rachel masuk kedalam ruangan dan menyelipkan sesuatu ketangan Diana.
"Kau tahu kenyataannya sekarang, bukan? Tinggalkan Andrew sekarang juga. Pergi lah kenegaramu, kembalilah ke habitatmu." bisik Rachel dengan sinis di telinga Diana.
Diana terdiam dan menatap Rachel dengan nanar. pandangan matanya menjadi kabur karena banyak nya air mata yang bercucuran.
"Apa yang sudah kau lakukan Rachel!" Briant sudah datang dia langsung menghampiri Diana dan membawa gadis itu duduk di sofa. Diambilnya surat dan amplop dari tangan Diana.
"Kau tidak apa-apa kakak ipar?" tanya Briant dengan penuh rasa iba. Diana tidak menjawab, dirinya masih kacau. Serangan dari Rachel benar-benar telak.
"Kakak ipar? Cih! Akulah kakak iparmu." ucap Rachel dengan sinis.
"Aku tidak pernah mengakui kau sebagai kakak ipar. Pergilah. Dan segera tandatangani surat ini." Briant mengambil surat cerai dari tangan Diana dan menyodorkannya kepada Rachel.
"Kau bermimpi!!! Heh, Aku sudah puas melakukan apa yang sudah semestinya. Dia sudah tau kebenarannya. Biar Andrew merasakan kepedihanku." ujar Rachel dengan sinis dan melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan menuju ke lift.
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Hallo readersss! Apa yang akan terjadi selanjutnya yaaa.
Jangan lupa like, komen, share dan Vote yaaa.
Terimakasih.
__ADS_1
Oh ya ada beberapa episode awal yang sudah direvisi secara bertahap ya dengan alur cerita yang sedikit berbeda meskipun intinya sama. Sementara baru episode 9-13. Bab 1 - 4 juga ada direvisi, tapi sementara masih di review oleh pihak Manggotoon. Semoga kalian makin suka.