
Matahari hampir tenggelam ketika mobil yang dipacu Jason berhenti disebuah Villa dekat dengan pantai. Hampir satu jam mobil tersebut di pacu melintasi jalanan ramai menuju area yang lebih sepi. Lia tampaknya sudah lelah berdebat dengan Jason, dia hanya dapat diam pasrah, bahkan harapan apabila Jason akan berhenti sebentar untuk mengisi bensin ataupun sekedar buang air kecil hanyalah harapan kosong.
Berulangkali dia meminta Jason untuk berhenti dengan alasan ingin buang air kecil, tapi pria itu tidak menghiraukannya. Dia hanya terkekeh. Bahkan saat Lia mengancam akan mengompol di mobil mewah ini, Jason tidak perduli. Akhirnya dia hanya dapat diam dan pasrah sambil mengutuki kecerobohannya berada didalam mobil orang asing.
Jason turun dari mobil dan membiarkan Lia masih duduk didalam mobil. Tanpa menawarkan gadis itu untuk turun bahkan tanpa menoleh dia berjalan memasuki pintu rumahnya. Gadis itu menjadi lebih bingung harus bertindak bagaimana. Tetap diam dengan pemandangan pepohonan yang melambai dalam kegelapan atau mengikuti pria tersebut masuk kedalam rumah.
"Dasar lalat buah, kau bahkan tidak menyuruhku turun dan mengundangku masuk kedalam." Lia menggerutu di dalam mobil.
Hampir satu jam dia bertahan didalam mobil. Diratapinya ponsel yang sudah kehabisan baterai setelah terakhir kali mengirimkan pesan kepada Briant dua jam yang lalu.
"Kenapa aku gunakan menonton drama Korea tadi, begini jadinya. Arkhhh aku bahkan tidak membawa charger didalam tas ku." Lia menggaruk-garuk kepalanya sendiri.
Kruxxxkx, kriuxxx.
Perutnya sudah terasa lapar, belum lagi keinginan untuk buang air kecil yang sudah tidak bisa ditahannya lagi (Tau kan apa yang terjadi selanjutnya). Lia turun dari mobil dan setengah berlari menuju ke arah Villa, dia beruntung pintu tidak terkunci. Dibukanya pintu tersebut tanpa pikir panjang masuk kedalam dan ia kini sibuk mengitari ruangan dalam rumah mencari kamar mandi.
Lia akhirnya bisa bernafas lega ketika menemukan toilet. Setelah keluar dari toilet dia baru menyadari kesunyian sekaligus kemegahan villa tersebut. Aroma udara laut langsung menyeruak didalam tarikan nafasnya. Belum lagi matanya disuguhi dengan kemoderenan ruangan didalam rumah.
Rumah itu tampak sepi. Lia mengelilingi ruangan didalam rumah dan tidak juga menemukan Jason ataupun pelayan, enggan rasanya menaiki tangga yang ada didepan mata untuk memeriksa keberadaan Jason, akhirnya dia berputar dan menemukan dapur modern. Rasa lapar yang menusuk membuat sopan santun nya lenyap. Dan tidak lagi berpikir mengapa rumah sebesar ini bisa begitu sepinya.
Dia membuka setiap pintu di lemari pendingin mewah dan besar. Dengan cekatan ia mengambil beberapa bahan makanan, meskipun tidak ada beras untuk membuat nasi, dia beruntung karena menemukan french bread (roti pentung guys).
Lia mendapati dirinya sudah memasak dan mengolah makanan tanpa perduli apakah pemilik rumah akan marah atau mengusirnya.Rasa lapar menghilangkan tata krama. Yang diutamakannya adalah memdiamkan perutnya yang bernyanyi.
Lia tersenyum puas dengan hasil masakannya, sup cream jamur dan grilled salmon serta irisan french bread yang sudah dia potong rapi. Lia duduk di meja makan bersiap menikmati masakannya ketika tiba-tiba Jason sudah masuk, duduk dan mengambil mangkok sup nya.
"Ternyata kau bisa masak juga. Hemh.. not bad." Dengan lahap dia mencelupkan roti didalam sup dan menikmatinya. Jasoj menikmati masakan Lia seperti orang kelaparan.
"Hey, itu punyaku." Lia protes dengan sikap Jason yang berbuat seenaknya sendiri.
"Kau membuatnya dengan bahan masakan di rumahku tentu saja ini milikku." bantah Jason.
"Tapi, aku yang memasaknya. Jadi..." Lia tidak dapat protes lagi karena Jason sudah menyumpal mulutnya dengan sepotong roti yang sudah dicelupkan dalam sup jamur.
"Nah kau sudah memakannya bukan?" kata Jason tanpa menghentikan suapan ke mulutnya sendiri.
__ADS_1
Lia hanya bisa cemberut sambil mengunyah roti tersebut kemudian dia turun dan menuangkan sisa sup jamur di mangkok, mengambil dan memasak sepotong salmon kembali. Kenyataannya sia-sia beradu mulut dengan Jason karena apa yang dia katakan benar adanya. Rumah dan semua bahan makanan adalah miliknya. Setidaknya Jason tidak marah dia mengambil dan memasak bahan makanan tersebut. Lebih baik mengisi perut kosong daripada harus berdebat dengan lalat buah, itu lah yang ada dalam pikiran Lia.
Lia segera duduk setelah selesai memasak salmon dan kembali menikmati makanan tanpa banyak bicara. Dengan sudut matanya dia bisa melihat Jason menghabiskan semua masakan dengan lahap seraya menegak segelas anggur putih.
bisa juga pria konglomerat ini makan masakan orang biasa.
"Kau mau?" Jason menawarkan segelas anggur putih. Lia menggelengkan kepalanya.
"Ah benar, kucing liar cukup minum air putih." ejek Jason seraya terkekeh.
Lia tidak menghiraukan ejekan Jason lagi setelah selesai menikmati makanan, dia mencuci semua piring kotor.
"Ada mesin cuci piring disana." tunjuk Jason ke arah mesin cuci piring.
"Lebih bersih mencuci dengan tangan." Jason hanya mengangkat bahu mendengar jawaban dari Lia.
"Jason, tolong antar aku pulang." pinta Lia dengan sopan setelah menyelesaikan mencuci piring.
"Aku capek." tolak Jason dengan cuek.
"Kakakmu tidak akan menyadari kepergianmu, dia pasti sedang sibuk dengan kekasih dan anaknya." jawab Jason dengan sinis.
"Ayolah... please." pinta Lia dengan mengatupkan kedua tangannya di dada dan mata yang memelas, percuma berdebat dengan Jason pikirnya.
Saat itu dipandangan mata Jason, mata Lia mengingatkan nya pada kucing anggora yang manja dan ingin dipeluk.
"Kakak mu pasti senang tidak ada kucing liar yang mengganggu nya."
"Jadi kau senang kalau kucing liar ini mengganggumu?" kali ini Lia sudah kehilangan kesabaran.
"Hahahahaha. Teruslah mengeong kucing liar. " Jason beranjak meninggalkan Lia.
Lia mengikutinya.
"Setidaknya pinjamkan aku charger ponsel. Bateraiku habis."
__ADS_1
"Aku tidak punya charger untuk ponsel butut."
"Ayolah, bukannya semua charger sama."
"Tidak. Charger smartphone ku tidak boleh terkontaminasi dengan ponsel bututmu." Jason masih saja menyerang Lia dengan ejekan. Gadis itu mengikuti Jason hingga dia tidak sadar kalau mereka sudah berada di belakang rumah.
"Wah indah sekali." Disana dia melihat kolam renang yang indah dan beberapa meter didepan adalah lautan tenang. Ada speedboat yang terikat juga.
"Itu lautan? Speedboat itu untuk berkeliling bukan?" Lia sejenak melupakan urusannya dan sibuk mengagumi keindahan lautan dengan jejeran rumah-rumah mewah di tepinya.
Entah sejak kapan dan dari mana asalnya Jason sudah membawa dua gelas coffee lattee ditangannya dan memberikan satu pada Lia.
"Ini baru namanya coffee." ucap Jason dengan angkuh.
Lia menyeruput coffee tanpa membantah.
"Tolong antarkan aku pulang, setidaknya besuk, please."
"Tergantung moodku besuk." ucap Jason dengan terkekeh.
"Aku bahkan belum mandi dan tidak memiliki baju ganti." ucap Lia lirih dengan bahasa ibu.
πππππππππππππππππππ
Hallo sobat pembaca...
Jangan lupa like ya, biar author selalu semangat updated.
Sedih loh kalau like nya sedikit sedangkan viewers bya banyak.
Baca nya kan gratis dibayar dengan Like aja ya, hehehe kan gak mahal.
Ayooo yang lupa like ( klik jempol ) scroll lagi dari episode pertama ya.
Terimakasih.
__ADS_1
Salam sayang π