Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Benjol


__ADS_3

"Bagaimana kalian bisa kehilangan mereka berdua?" Diana merasa marah dan lelah menghadapi kedua kurcaci yang saat ini membuat ulah dengan entah bersembunyi di mana kali ini.


"Maaf nyonya, kami akan mencari nya lagi." Ujar bibi Matilda dan bibi Maria ketakutan.


"Suruh semua pelayan jika perlu pengawal untuk mencari mereka." Perintah Diana.


"Baik nyonya."


Sore hari itu, Diana dikejutkan laporan oleh pengasuh jika Aaron dan Francesca tidak ada di kamar. Awalnya mereka sudah yakin jika kedua anak itu sudah tidur siang. Oleh sebab itu pengasuh berani meninggalkan mereka.


Tetapi ternyata ketika waktunya untuk membangunkan mereka, pukul empat sore. Kedua anak tersebut sudah tidak ada di kamar. Pengasuh sudah mencari kemana- mana, tapi mereka tidak menemukan.


Saat itu, Diana lewat dan menanyakan apakah kedua bocah itu sudah bangun, dan yang didapatinya malah laporan dengan wajah takut dari kedua pengasuh.


Sementara Matilda mencari keseluruh ruangan, Maria menuju rumah keamanan untuk meminta mereka mencari jejak kedua anak itu melalu cctv.


Setelah beberapa saat, tampak di cctv jika mereka sudah keluar kamar dan menuju ke dapur. Tapi, mereka tidak tampak keluar dari dapur. Dan yang disayangkan sekali cctv antara dapur dan lorong belakang rusak.


Akhirnya semua pengawal dan pengasuh mencari Aaron dan Francesca. Dapur mereka telusuri, taman belakang, kolam renang. Tapi nihil.


Wajah Matilda dan Maria semakin pucat, karena kedua anak itu hilang dibawah pengawasan mereka. Mereka sangat khawatir dengan keselamatan Kedua bocah itu, apakah mungkin mereka diculik? Tapi bagaimana bisa, jika rumah ini memiliki penjagaan ketat. Apa yang akan terjadi jika tuan Andrew pulang.


Saat semua sedang panik. Dari arah rumah belakang, tempat tinggal para pekerja, tampak Cheft Paul berjalan dengan tertawa-tawa. Tubuhnya yang besar tampak menghalangi sesuatu di belakang nya.


Tentu saja semua jengkel, saat semua orang sedang panik, cheft Paul malah tertawa sambil meliuk-liukan tubuhnya yang tanpa pinggang. Dan dia melakukan hal itu tanpa bersalah.


"Tuing.... Tuingg... Ngengg... Ngenggg.. " Ucap cheft Paul lucu.


"Yeaaakkkk Chef Paulll jangan ngebom dongggg!! " Teriakan di belakang tubuh cheft Paul membuat semangat yang hampir lenyap dari para pelayan dan pengawal, segera bangkit.


Aaron dan Francesca tampak senang sekali habis mengolok-ngolok cheft Paul. Kedua anak itu berlari mendahului cheft Paul dengam tertawa riang, tanpa rasa bersalah sedikitpun sudah membuat semua orang panik.


"Aaaronnnn dan Francesca kemana saja kalian? Aduhhhh bibi dan semua nya bingung mencari kalian. Ayo sini bibi gendong. Buruan dicari sama mami. Aduhhh... " Maria segera menggendong Aaron, sementara seorang pelayan lain menggendong Francesca.


Cheft Paul kebingungan dengan apa yang terjadi, apalagi sekarang Matilda berkacak pinggang di depannya. Matilda yang sering membuat Cheft Paul berdebar-debar, tampak melotot kesal. Tentu saja dia merasa bingung. Cheft Paul tidak ingin Matilda membencinya.


"Ada apa? Kenapa kau marah?" Tanya Cheft Paul dengan heran.


"Kau main culik saja. Tidak taukah dirimu, aku kerepotan mencari mereka. Eh... Kau malah menyembunyikan dan asyik tertawa-tawa. " Ujar Matilda dengan emosi.


"Loh... Aku tidak menculik, mereka yang datang padaku di dapur tadi siang dan meminta untuk disiapkan bubur. Aaron dan Francesca ingin menjenguk butler Jhon. " Ujar cheft Paul dengan bingung.


Butler Jhon, hari ini dikabarkan sedang tidak enak badan.


"Tetap saja salah. Seharusnya kau melapor padaku! " Ujar Matilda kesal.


"Aduhh... Jangan marah dong, kalau kau marah, nanti tidak manis lagi. " Rayu cheft Paul.


"Memangnya aku gula?" Matilda mendelik disamakan dengan gula.


"Tentu saja kau gula bagi ku." ujar Cheft Paul malu-malu.


"Hiiii...udah gak usah mengacau. " Matilda hendak pergi, namun dihalangi oleh Cheft Paul.


"Jangan marah padaku dong. Kau tahu kenapa aku gemuk?" tanyanya dengan tersenyum simpul.


"Ya karena makan mu banyak. " Jawab Matilda ketus.


"Salah."

__ADS_1


"Trus? "


"Karena aku suka memandang wajah manismu. " Rayu Cheft Paul yang membuat pipi Matilda merona.


"Cieee... Cieeee... Diabetes dong... " Gurau pelayan lain yang mendengarkan percakapan mereka.


***


"Ayo daddy... Ayooo jangan kalah, serang terusss. " Francesca berteriak dengan ramai dibelakang Andrew.


"Ayooo kak Conrad, jangan sampai kalah, hajarrrrr ? musnah kannnn semuaaa. " Aaron tak kalah bersemangat berteriak di belakang Conrad.


"Ciat.. Ciattt. Ciattt " Teriak Aaron menirukan serangan Conrad untuk mengalahkan zombie.


"Dor. Dor. Dor. " Francesca menirukan gerakan senjata api yang dimaikan Andrew.


Kedua bocah itu tamoak bersemangat sekali melihat permainan video game yang dimainlan oelh Andrew dan Conrad. Mereka seakan pemain latar.


Aaron tampak berlari ke lemari mainan, dia mengeluarkan pedang plastik dan mulai menirukan gerakan pahlawan yang digunakan Conrad.


Ciatt.. Ciattt... Pedang yang di pegang Aaron bergerak dengan lincah menebas kesana kemari.


Francesca tidak mau kalah, anak gadis itu segera berlari mengambil pistol mainan dan mulai bergerak lincah seperti pahlawan yang digunakan Andrew.


Dor. Dor. Dor


"Ayo nakkk serang. Peluru daddy mau habis." Teriak Andrew bersemangat.


"Ah daddy, cepat cari peti amunisi. Ini nyawa Conrad mau habis, harus cari kotak obat." Sahut Conrad dengan lantang.


Ciat... Ciatttrr... Conrad yang masih bersemangat mengayunkan pedangnya, tanpa sadar mengenai kepala Conrad.


Pletak!


"Maafff." Teriak Aaron tanpa nada menyesal.


"Ah, kakak, sama adik sendiri aja, kan gak sengaja. " Ujar Andrew menengahi.


"Sakit dad. "


"Tenaga anak kecil saja, masa sakit. " Ujar Andrew meremehkan.


"Huh! " Conrad diam.


"Ayooo daddy semangattt, itu ada kotak peluru. Ambilll." Teriak Francesca.


"Yeaaaa," Francesca bersorak gembira ketika Andrew mendapafkan kotak peluru.


Dor. Dor. Dor, dengan gesit Francesca menirukan Andrew membasmi zombi.


Andrew tampak lebih bersemangat dengan teriakan Dukungan dari Francesca.


"Daddy hebattt, " Teriak Francesca dengan penuh semangat.


"Ayooo kakak. Ciat. Ciat. Ciat." Aaron tak mau kalah bersemangat.


Tak! Tak! Pletak!


Aaron menirukan gerakan Conrad yang bersemangat membasmi zombi. Tapi ternyata karena terlalu bersemangat bergerak dan berputar, pukulan Aaron mengenai kening Andrew dengan keras.

__ADS_1


"Aaaronnnnnn! " Kali ini ganti Andrew yang berteriak dengan keras.


Bagaimana tidak. Tiga pukulan pedang Aaron mengenai keningnya. Andrew melotot menahan rasa sakit di keningnya.


"Maaf daddy." ujar Aaron dengan serius.


Dia bukan menyesal karena takut melihat Andrew melotot, tetapi melihat telur yang muncul di kening ayahnya. Benjolan itu tampak aneh bagi Aaron dengan warna biru yang jelek sekali.


"Ah daddy, kenapa marah. Aaron kan masih kecil. Masa kalah dengan tenaga anak kecil." sekarang Conrad dengan senang hati membalas ejekan Andrew.


"Tapi ini sakit sekali. Nah kannn. Hero daddy sampai kalah." Andrew dengan gemas mengusap keningnya yang terasa sakit.


"Oh My God. Jangan bilang kening daddy benjol."


Andrew bergegas menuju ke cermin dan dia melotot melihat benjolan besar di keningnya. Andrew mengusap-ngusap keningnya yang terasa sakit.


"Conrad, kepalamu tidak apa-apa? tidak sakit? tidak benjol?" tanya Andrew drngan khawatir.


"Ah, pukulan anak kecil saja, mana sakit. Ayo daddd jangan mental cewek dongg." ejek Conrad tanpa memalingkan wajahnya dari layar televisi.


Andrew menggerutu. Senjata makan tuan. Dia keluar dari kamar bermain.


"Daddd ayo kembaliii, itu nyawanya masih ada." teriak Conrad.


Di luar kamar bermain.


"Ada apa? kenapa kau marah?" tanya Diana heran.


"Lihat kepalaku." Andrew menunjukan kepalanya yang benjol.


"Apa yang terjadi, apa kau jatuh?" Diana mengernyitian keningnya dan berjalan ke arah kotak obat. Dia kemudian mengambil sebuah salep untuk di oleskan ke benjolan di kening Andrew.


"Aduh, sakittt." ujar Andrew manja.


"Yaelahhh... jangan kaya anak kecil ah, segini aja." Diana kembali mengoleskan salep di kening Andrew yang dengan manja menyandarkan kepalanya di pangkuan Diana.


"Beneran sakit." rajuk Andrew.


"Kalau gini sakit mana?" Diana memencet benjolan Andrew.


"Aow lebih sakittt!" teriak Andrew lebih manja.


"Apakah benjolan ini bakal hilang nanti malam?" tanya Andrew khawatir.


Diana menggelengkan kepala.


"Besuk?" Andrew tambah panik.


Diana menggelengkan kepalanya.


"Hah? lalu berapa lama?"


"Biasanya sih sekitar tiga atau empat hari." ujar Diana sambil menahan geli.


"Oh tidakkk!" Andrew menjerit kesal.


"Kenapa?"


"Bagaimana aku bisa ke kantor dengan keadaan seperti ini? Apalagi besuk ada rapat. Aaaa.. Aaron... kenapa buat daddy seperti ini." keluh Andrew kesal.

__ADS_1


"Ya tinggal bilang saja, kalah perang dengan anak." sahut Diana ringan.


Andrew melirik kesal tidak terima.


__ADS_2