Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Kejutan untuk Caroline


__ADS_3

Pagi ini Andrew dan Raja sudah bersiap menuju ke perkebenunan Theodore. Tampak supir pribadi Theodore menjemput mereka. Perjalanan tidak memakan waktu yang lama.


Sesampai disana, Caroline tampak sudah berada disana terlebih dahulu menanti mereka. Dengan senyum lebarnya Caroline menyapa Andrew.


"Selamat pagi Andrew, kau tampak luar biasa hari ini."


Caroline berjalan menghampiri Andrew seraya meregangkan kedua tanganya lebar, hendak memeluk Andrew. Tapi sayang sekali, Raja mendahului nya dan menyambut pelukan Caroline.


"Nona Caroline selamat pagi, anda tampak luar biasa cantik hari ini," ucap Raja sambil memeluk Caroline.


Andrew hanya tersenyum dan melalui mereka, menghampiri Theodore yang berjalan ke arahnya, kemudian kedua pria ini saling berjabatan tangan.


"Lepaskan aku. Dasar asistent tidak tahu diri!" Ucap Caroline jengkel.


"Ah nona, jangan begitu, lebih buruk lagi jika memeluk suami orang," bisik Raja.


Perkataan Raja membuat Caroline jengkel. Ingin rasanya dia membungkam mulut Raja dan membuang pria itu jauh-jauh. Kehadiran assisten satu yang bermulut extra ini benar-benar mengacaukan rencana Caroline.


"Nah, kalau dengan Duda tampan itu, anda bebas memeluk nya dan berduaan," bisik Raja lagi.


"Kau!" Suara Caroline tercekat karena detik berikutnya Theodore sudah mencium tangannya


"Senorita Caroline, selamat pagi. Anda tampak luar biasa cantik hari ini." Ucap Theodore dengan senyum yang memikat.


Sesaat Caroline terperanjat dengan sikap gentelment yang dilakukan oleh Theodore. Dia tidak menyangka pria Itally tampan ini, tiba-tiba tampak mempersona dan membuat nya berdegup kencang.


"Pa...pagi Senor. Anda juga tampak tampan hari ini." Sahut Caroline membalas sapaan Theodore.


"Mari, kita berjalan melihat perkebunan dan pabrik wine saya."


Theodore menggandeng tangan Caroline, membuat wanita itu jengah. Dia ingin menolak dan melepaskan genggaman tangan itu, tapi dia tahu harus menjaga sikapnya.


Karena Theodore adalah pilihan kedua bagi Caroline. Seandainya Andrew benar-benar menolak dirinya dan menolak menerima pasokan anggur dari perkebunannya, maka alternatif lainnya adalah Theodore. Jadi sebagaimanapun kesalnya Caroline, dia akan menjaga sikap dihadapan Theodore.


Perkebunan milik Theodore dua kali lebih besar daripada perkebunan yang diwarisi oleh Caroline. Bahkan pusat pengolahan anggur menjadi wine pun jauh lebih modern.


Caroline menyadari kesempatannya kecil dan untuk itu dia mengutuk almarhum suaminya dalam hati, karena hanya memberinya warisan perkebunan anggur yang dia benci. Sedangkan perusahaan real estate dan pabrik konveksi diwariskan kepada kedua anak kandungnya dari pernikahan pertama.


Caroline berjuang untuk hidup di tengah-tengah kebun anggur itu bersama anak gadis nya yang berusia tujuh tahun. Dan itu tidak mudah bagi dirinya yang buta terhadap perkebunan.


Dalam lubuk hatinya Caroline menyesal meninggalkan Andrew. Dua kali dia mencampakan pria itu. Lima belas tahun dan sepuluh tahun yang lalu.


Lima belas tahun yang lalu, ketika menyadari permasalahan dalam kapal pesiar milik Andrew, dia memutuskan untuk meninggalkan pria itu dan menikahi seorang bussineman.


Tapi sayang pernikahan mereka hanya berlangsung selama empat tahun. Pria itu menceraikan Caroline dengan alasan bosan. Tak lama kemudian dia menikahi seorang wanita lain yang jauh lebih muda dan cantik.


Dengan uang tunjangan perceraian, Caroline masih menikmati kehidupan mewah. Disaat itu lah dia mencari tahu mengenai kehidupan Andrew. Dan dia mengetahui bagaimana perusahaan kapal pesiar Andrew kembali bangkit dan meroket tajam dalam waktu singkat.


Saat itu, Andrew berstatus suami dari Rachel dan tentu saja Caroline mengetahuinya. Tapi wanita itu tetap datang dan menggoda Andrew, berusaha memikay pria itu dengan bayang-bayang masa lalu mereka berdua.


Andrew yang tidak pernah mencintai Rachel, menyambut kedatangan Caroline dengan terbuka. Caroline menangis dan meminta maaf pada Andrew, dia menyesali pernikahan pertamanya dengan alasan perjodohan.


Andrew yang dibutakan oleh cintanya pada Caroline dan juga perasaan tidak terima karena dicampakan dahulu nya, mempercayai perkataan Caroline, karena dirinya pun mengalami pernikahan paksa dengan Rachel.


Tapi sayang, Caroline hanya kembali membakar api dalam dirinya untuk beberapa saat saja. Karena beberapa bulan kemudian wanita itu kembali menghilang.


Caroline yang mengatakan menyesal dan ingin kembali merajut cinta dengan dirinya, memperbaiki masa lalu. Wanita itu pula yang berjanji akan bersabar menunggu proses perceraiannya dengan Rachel. Tapi kenyataannya wanita itu menghilang dan setahun kemudian dia mendapatkan kabar jika Caroline sudah menikah kembali dengan seorang pengusaha Italia ternama.


Tentu saja hal itu menjadikan Andrew semakin frustasi, sehingga dia menganggap semua wanita itu adalah tempat menyalurkan nafsu saja. Bukan mahluk yang pantas untuk dicintai. Andrew hidup dalam pergaulan malam yang membawanya terkenal di kalangan wanita haus belaian lelaki.

__ADS_1


Dan sepuluh tahun kemudian, Caroline kembali dengan sejuta rayuan. Tapi sayang sekali, hati yang kosong itu sudah terisi penyh oleh cinta dan kesabaran seorang wanita biasa dan sederhana. Wanita yang bahkan tidak ingin menonjolkan diri dan jauh dari kehidupan glamour dikalangan sosialita.


*


Andrew yang melihat kecemasan di wajah Caroline sedikit merasa kasihan. Dia membisikan sesuatu kepada Raja yang disambut dengan anggukan tanda mengerti dari pria blasteran India itu.


Raja berjalan menghampiri Caroline yang sedang termangu sendirian sambil menatap langit yang cerah. Raja berdiri disamping Caroline dan tampaknya wanita cantik itu tidak menyadari kehadiran Raja. Hingga Raja berdehem.


"Nona, jika boleh saya menyarankan, sebaiknya anda bergabung dengan perkebunan tuan Theodore. Perkebunan anda tidak akan menyanggupi untuk memenuhi kebutuhan pasukan wine bagi kapal pesiar tuan Andrew. Kapal pesiar miliknya sekarang bertotal tujuh. Masing- masing kapal bermuatan sekitar limar ribu penumpang. Belum lagi pekerja nya yang lebih dari seribu lima ratus orang per kapal pesiar." Raja menarik nafas sesaat sambil menatap Caroline.


"Anda tentu mengrerti bukan, satu kapal pesiar memerlukan pasokan wine yang biasa saja lebih dari sepuluh ribu botol perbulan. Dan itu melebihi kemampuan perkebunan anda. Kecuali perkebunan anda bisa menghasilkan anggur berkualitas yang dijual dengan harga lebih mahal. Itu pun setidaknya kami memerlukan pasokan sebesar Minimal tiga ratus botol per kapal per bulan."


"Saya rasa anda mengerti bukan, tuan Andrew hanya berbaik hati dengan datang melihat perkebunan anda, tetapi sedari awal perkebunan anda jauh dari kriteria yang kami butuhkan. Karena itu sebaiknya anda bergabung dengan tuan Theodore. Apa lagi menurut saya, pria itu menyukai anda."


Raja berusaha memberi kesadaran pada Caroline untuk berhenti memaksakan diri agar dia tidak mempermalukan diri nya sendiri, dan harga diri perkebunannya jatuh secara international. Tetapo jalan pikiran Caroline tampaknya berbeda.


"Tunggu, kau bilang, perkebunan ku sedari awal jauh dari kriteria?" tanya Caroline tiba-tiba.


"Iya."


"Jadi, mengapa Andrew datang ke tempat ini, itu artinya dia masih memiliki hati padaku kan?" Caroline tidak menunggu jawaban Raja dia segera menghampiri Andrew. Hal itu membuat Raja memukul keningnya sendiri.


"Hadoh susah bicara dengan wanita tidak tahu malu."


Caroline mendekati Andrew yang sedang menikmati anggur merah dengan Theodore. Hal itu membuat Andrew heran dengan sikap Caroline yang tiba-tiba berani dan mendekatinya secara langsung.


"Hahh.mm cuaca panas seperti ini, tentu lebih nyaman jika kita bisa berendam di kolam renang," ujar Caroline seraya membelai lehernya dan memandang Andrew.


Andrew yang kesal memandang tajam pada Raja. Raja yang mendapatkan tatapan tajam dari atasannya hanya dapat mengangkat bahunya. Dia sudah berusaha, tapi wanita itu termasuk jenis yang egois.


"Tuan Theodore, anda pasti bersedia membawa nona Caroline meikmati waktu di kolam renang milik anda," kata Andrew pada Theodore.


"Tentu saja, mari senorita, akan saya tunjukan kenyamanan kolam renang milikku." Senyum Theodore mengambang lebar.


"Bagaimana dengan dirimu Andrew, kau akan bergabung bukan?"


"Aku masih memiliki urusan lain yang mendesak hari ini. Silahkan nikmati waktu anda berdua." tolak Andrew dengan formal sambil berdiri.


"Sayang sekali. Mungkin nanti malam kita bisa menikmati makan malam bersama?" tanya Theodore.


"Aku rasa tidak tuan Theodore. Untuk masalah kerja sama selanjutnya, assistent saya akan mengirimkan email kepada anda. Kami permisi dulu." pamit Andrew dengan sedikit tergesa-gesa.


Caroline yang melihat Andrew berpamitan, menduga jika hal itu dilakukan karena pria itu merasa cemburu pada Theodore. Dan bersaman itu pula Caroline berpamitan pada Theodore pula.


Sementara di dalam mobil, Andrew meminta pada supir untuk mengantarnya ke pusat perbelanjaan. Dia hendak membeli oleh-oleh untuk istri dan anak-anaknya.


Sedangkan Caroline yang melihat kearah mana mobil Andrew menuju, tersenyum lebar.


"Ah, dia pasti hendak menghujaniki dengan hadiah seperti dulu. Sebaiknya aku bersiap-siap dan mengundangnya ke apartementku agar lebih bebas."


Caroline kemudian mengeluarkan ponsel nya dan mulai mengirim pesan kepada Andrew.


Sayang...


Aku tahu kau merindukanku, sama seperti aku begitu merindukanku.


Malam ini pukul sembilan malam, aku nanti dirimu seorang ke apartementku.


Ingat hanya kau seorang yang kunanti.

__ADS_1


Love,


Caroline


ps. apartementku di :


Tuscany Ressidence 17


Sent.


Pesan terkirim kepada Andrew.


Andrew membacanya mendengus kesal.


Raja melirik pada Andrew dan melihat jika tuannya baru saja membaca sebuah pesan.


"Ada yang bisa saya bantu tuan?"


"Wanita itu masih berpikir aku menginginkannya."


"Dia mengirim pesan pada anda, tuan?"


"iya."


"Boleh saya tahu pesannya, mungkin saya bisa membantu menyadarkannya." ujar Raja dengan yakin


Andrew memforward pesan tersebut, kemudian menghapus pesan Caroline di smartphone nya dan memblokir nomer wanita itu.


"Done tuan. Jangan khawatir, malam ini dia akan mendapatkan hadiah yang dia inginkan." ujar Raja dengan tersenyum licik.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Andrew penasaran.


Raja menunjukan ponselnya dan Andrew tergelak di buatnya.


*


Malam itu, Caroline sudah berdandan cantok dan mempesona. Dia sudah mempersiapkan segalanya. Pintu apartemen tidak dia kunci, sehingga mempermudah Andrew untuk masuk kedalam.


Lampu-lampu temaram dengan puluhan lilin aromatherapi yang wangi sudah dia persiapkan. Sedangkan dirinya sudah mengenakan pakaian yang menawan. Malam ini dia yakin Andrew akan datang dengan penuh cinta hanya untuk dirinya seorang.


Suara ketukan di pintu membuat Caroline semakin berdebar.


Dia begitu menginginkan malam ini. Dan dia tas pemandani, Caroline merebahkan diri menunjukan posisi sensual.


Dia mendengar seseorang masuk dan menutup pintu. Caroline memejamkan matanya dan dapat dia dengar hembusan nafas seorang pria yang berat. Pria itu mematikan lampu sebelum membuka pakaian dan merebahkan tubuhnya diatas Caroline.


Belaian dan ciuman hangat saling berbalas mereka lakukan dengan penuh gairah. Caroline memejamkan matanya menikamti setiap sentuhan dan kecupan di sekujur tubuhnya. Dia mendesah dan mengerng ketika merasakan penyatuan diri mereka.


Desahan hangat berpacu, Caroline benar-benar menikmati setiap detiknya. Hal yang sudah lama tidak dia rasakan. Hentakan dari pria ini membuatnya melayang. Saat Caroline semakin terbang dibuatnya, dia membuka matanya hendak menatap penuh cinta pada Andrew.


Tetapi, mata besarnya terbelalak menatap pria tersebut yang memacunya penuh hasrat. Suaranya tersekat di antara desahan kenikmatan yang dihantarkan oleh sekujur pusat inti tubuhnya. Dia tidak dapat mengelak dan menolak lagi. Serangan itu mematikan.


Caroline hanya dapat mendesah dan mulai bingung apakah dia bahagia atau kecewa.


Theo..do..re..


Arghhhhh Hmmpppffff ....


__ADS_1


__ADS_2