Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
26. Kejutan


__ADS_3

"Hallooo cekkk aku ada di kota mu sekaranggg. Aku nginap di Hotel A. Ayo kita ketemuan . "


"Maya??? hoiiiii kamu sudah liburan juga?"


Diana bersorak girang .


"Iyaaa kamu kangen yaaa sama aku."


"Yeahhh mau mu. Tumben kamu ke kotaku. "


"Mau kasih kejutan buat kamu. "


"Ceileeee tunggu ya aku ke tempatmu. Habis ambil pasport ini. "


"Loh pasportmu kenapa cek ?"


"Habis request buat B2 Visa. "


"Wahhhh kamu mau kerja apa mau liburan pakai va itu?"


"Sudah cerita nya nanti saja. Aku mau ambil pasportku dulu. Sekalian bentar sekalian ke tempatmu. "


"Sipp aku tunggu. "


"Awas ga bawa oleh-oleh ya. "


Klik Diana mematikan handphone sebelum Maya menjawabnya. Dan segera menuju loket ketika nomor antriannya dipanggil.


Hotel A


"Ih gak ketemu kamu satu bulan makin cakep saja cekkk." Diana menowel pipi Maya gemas.


"Memang aku cakep dari lahir cekkk."


"Iya percayaaa."


"Apalagi kalau aku pakai gaun. Kamu kalah pesona deh. "


"Percayaaa percayaaaa."


"Kamu pasti Lia kan. ih Cakep banget kalau kakakmu."


"Adikku."


"Hallo kak Maya ternyata kakak memang rame dan asyik yaaa " Lia memperkenalkan diri.


"Emberrrr. Kamu pasti betah hang out sama aku. " Maya menepuk dada .


"Cekkk kamu kesini dengan siapa, kok kamar mu twin bed?" tanya Diana penasaran.


Maya yang ditanya hanya tersenyum-senyum.


"ngapain cengar-cengir segala. Sama cowok mu ya? " tanya Diana menggoda.


"Penasaran cowok kak Maya kaya gimana. Cakepam mana sama kak Maya ?" tanya Lia penasaran.


"Bukan bukan cowokku. Teman. Cuma teman. Teman yang dari jauh bela-belain ke sini hanya karena kangen sama kamu cek. " Perkataan Maya jadi penuh teka teki.


"Siapa, Mona? Kan dia mau ke Ausie." Diana menebak.


"Bukan Mona. Cowok. "


Diana jadi bingung. Dalam pikirannya tidak mungkin Andrew datang bersama dengan Maya apalagi sekamar. Kalau Andrew pasti sudah datang di kamar VVIP dan menjemput Diana dengan mobil pribadi.


Sambil memandang Maya yang tengah bersolek di depan kaca, Diana menimpuk nya dengan bantal.

__ADS_1


"Lecah itu kaca . Hahahhahahah"


"Bukan kaca perawanku nanti pecah." ujar Maya melambai.


"Memangnya kamu masih perawan?" Diana tergelak.


"Kakak ?!" adiku ikut tergelak dengan candaan diantara aku dengan Maya.


"Kakakmu alim ya di rumah. Kalau di tempat kerja ya begini ini, keras, tegas tapi juga konyol. "


"Konyol kelamaan deket sama kamu cekkk. "


"Nah itu dia. Kalau si doi patah hati kamu tolak, bisa berubah perhatiannya ke aku , ah aku masih bujangan." Maya kembali bersikap konyol sambil meletakan kedua tangannya didada.


"Siapa sih kak yang dia maksud?" tanya Lia yang penasaran juga.


Diana hanya mengangkat bahu karena dia pun tidak paham dengan maksud Maya.


"Bukan cowok mu kan yang telphone dan wa tiap saat?" tanya Lia penasaran.


"Pasti bukan dia." Jawab Diana yakin.


"Mr. Andrew masih suka telphone kamu cek?" tanya Maya menyelidik.


"Iya. "


"Tiap saat Kak Maya jangan sampai baterai hp habis waktu di telphone. Aduhh cowok satu itu manja banget." Lia mengadu.


"Oh ya aku pikir habis Vacation..." Maya tidak telanjutkan ucapannya, karena merasa tidak enak terlalu vulgar didepan adik Diana tentang kehidupan cinta dikapal yang seringkali hanya semusim.


"Kenapa memangnya kak Maya. " tanya Lia


"Enggak apa -apa. Mr. Andrew itu baik kok sama Diana. Cakep dan Tajir. "


"Trus yang datang dengan kakak ini siapa ?"


" tajir mana dengan mr. Andrew?" Lia masih penasaran.


" Gilaaaa ya tajir mr. Andrew jauhhhh jauh banget dah. "


"Ooo. oooo. "bibir Lia maju membentuk bulatan.


"Sama-sama cakep sih. Yang mama saja yang di buang aku mau kok menampungnya. "


"Hahahhahahah kalau cakep aku juga mau." Lia tertawa terbahak dengan Made.


Tengah asyik mereka bercanda, pintu kamar dibuka dari depan. Diana terkejut dengan sosok yang muncul dihadapan mereka. Sosok pria bule tampan yang dia kenal. Pria yang baru saja kembali dari fitness centre tampak sedikit terkejut melihat kehadiran Diana dan Lia. Hanya sesaat karena kemudian tampak matanya yang berbinar dan senyum lebar menghiasi wajahnya menghampiri Diana seraya menyodorkan tangannya dan menjabat tangan .


"Hai Diana apa kabar ?"


"Hai Dylan aku baik. Kamu apa kabar, kok tiba-tiba datang ke sini tidak kembali ke negara mu ?"


Diana memberondong pertanyaan .


"Hahahaha Aku baik-baik. Iya liburan ini aku mau menghabiskan waktu di negaramu. "


"Ini adikmu? Hallo aku Dylan. " Dylan mengulurkan tangan menyalami Lia


"Hai aku Lia."


"Sudah lama kalian disini?" tanya Dylan.


"Baru saja kok." Lia menjawab ketika dilihatnya Diana termenung sesaat.


"Loh sudah selesai kamu fitness ?Dylan cepat mandi sana kita jalan keluar kemana gitu." Made yang baru keluar dari kamar mandi tampak ta sabar ingin mencari hiburan keluar.

__ADS_1


"Okey. Kalian tunggu dulu ya. " Dylan membuka koper dan mengambil beberapa pakaian dan perlengkapan kemudian menuju kamar mandi.


Begitu pintu kamar mandi ditutup.


"Cekkk kok kamu bawa dia kesini sih aduhhh gimana ini." Diana merasa panik.


"Kenapa memangnya?" Made tak mengerti.


"Kamu lupa gimana Andrew ? "


"Kan kita disini cek. ajauhhh gak ada mata - mata. "


Made mengabaikan kepanikan Diana.


"Iyaàaa tapi kalau sampai ketahuan. Tamat karir Dylan."


"Ya jangan sampai ketahuan. Diem saja kalau dia tidak tanya. "


"Tauk dah. " Diana kesal dengan sikap Maya yang kelihatan menyepelekan . Dia merasa resah antara jujur pada Andrew atau membiarkan semua seperti kata Maya.


"Memangnya kenapa kak Maya?" Lia jadi penasaran.


"Mr. Andrew tidak suka Diana dekat dengan Dylan. Pernah mengancam akan memindahkan kerja bahkan memecat Dylan. "


"Dylan suka juga sama kakak ku?" tanya Lia penasaran.


" ya . Cinta banget dia. Cuma Diana saja yang gak menyadari."


"Kalau mr. Andrew ? Dia boss kalian?"


"Mr Andrew itu big big bigggģ boss. Pemilik saham terbesar dan Ceo cruise line tempat kita bekerja. Bayangkan ya ada sepuluh kapal pesiar miliknya, belum lagi usaha kerjasama lainnya. " Maya menjelaskan pada Lia.


"Wow keren kamu kak bisa dapat orang hebat. "


"Nah itu masalahnya, Mr. Andrew itu terlalu tingggiiiiii terlalu besarrrr sedangkan kita begini saja. Sulit bagi Diana untuk bisa masuk ke kelas Status Sosial nya. Kehidupan diatas sana kita tidak tahu seperti apa. Dia harus berubah total apabila siap masuk kelingkungan itu. Sedangkan dengan Dylan dia bisa tetap menjadi diri nya. Mereka bisa membangun diri dan masa depan bersama." Panjang lebar Maya menjelaskan pada Lia yang hanya mangut - mangut berusaha mencerna.


Sementara Diana yang berkutat dengan handphone nya tidak terlalu menendengar perkataan mereka.


"Audah selesai Visa mu kan?" tanya Andrew di wa.


"Sudah. ini. " Diana mengirimkan foto visa nya.


"Bagus. Segera kembali"


"Seminggu lagi ya. tiket nya kan seminggu lagi."


"Aku ubah dua hari lagi oke. "


"Jangann. Aku masih ingin bersama adikku. "


"Manja sekali adikmu." Diana yang membaca wa Andrew tersenyum lebar.


"Bukannya kamu yang manja. "


"Adikmu yang manja. "


"Okey okey. Sudah sana minum kopi dan mandi. "


"Aku sudah sedari tadi minum kopi dan kau menahanku yang hendak mandi ?"


"Oh ya?"


"Ini kalau tidak percaya." Andrew mengirimkan foto.


"Aku tau kau merindukan ku. Mau minta foto ku saja malu-malu." Diana menepuk jidat membaca wa Andrew dan tersenyum sendiri melihat foto Andrew yang tampak tampan. Diusapnya foto itu seraya berbisik

__ADS_1


aku rindu



__ADS_2