Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Pasca trauma 2


__ADS_3

Tiga setengah bulan kemudian.


"Ayo Aaron... ayo dicoba lagi." kata Diana yang bersemangat ketika melihat anaknya sudah bisa menggulingkan badannya.


Aa...aaa....uuu...


Bayi mungil itu berceloteh riang. Dia tertawa sambil menggerakan kaki dan tangannya, menendang-nendang sambil menghisap jempolnya.


"Iiiii.. anak mommy, mau bercerita apa? Suka yaaaa tadi pagi habis jalan-jalan sama daddy. Iii... Aaron ayoo sekarang berguling lagi, mommy mau ambil video nya, nanti mommy kirim ke daddy." kata Diana sambil menggoda anaknya.


Bayi itu kembali tertawa sambil memamerkan gusi nya yang ompong.


Dia tampak menggoda Diana yang terus memohon agar bayi itu mau berguling lagi.


Diana benar-benar ingin mengabadikan moment itu sekaligus menjadi bukti pada Andrew bahwa Aaron pertama kali melakukan hal itu di hadapannya.


uhhhh aaa..aaa


Bayi itu tetap berceloteh dengan senyum lebar nya sambil menendang-nendang ke udara.


Karena gemas, Diana meletakan handphone nya dan bertepuk tangan menggoda anaknya.


Tepat saat dia baru saja menepuk kan tangannya, Aaron berguling.


"Loh... yaaaa Aaron... mommy kan ingin sekali merekam proses kau berguling." cicit Diana karena meluputkan moment indah itu.


Akhirnya dia hanya bisa puas memotret anaknya yang sudah tengkurap. Mengirim foto tersebut kepada Andrew yang sudah beraktivitas normal ke kantor.


Sesaat kemudian, baby Aaron mulai menangis karena merasa lelah. Diana menggendongnya sementara nanny membuatkan sebotol susu untuk Aaron.


Bayi itu menyedot susu dengan rakus. Setelah menghabiskan sebotol susu berukuran 90 ml baby Aaron tertidur pulas.


Diana mengecup bayo dalam gendongannya dengan penuh kasih sayang.


Siang malam dia tidak hentinya mengucap syukur akan kesempatan yang Tuhan berikan padanya untuk merawat anaknya dan bersama orang-orang yang mencintainya.


Diana meletakan bayi nya di dalam tempat tidur, sementara nanny sudah menyiapkan music lullaby pengantar tidur dan menutup kelambu.


"Nanny tolong jaga anakku. Aku akan di ruang olah raga." pesan Diana pada pengasuh anaknya.


"Baik nyonya."


Tubuh Diana sudah berangsur kembali normal. Wajah yang cekung sudah kembali terisi dan perut yang menggelambir sudah kembali kencang.


Di ruang olahraga tampak Lia sedang melakukan yoga.


"Sudah lama disini?" tanya Diana sambil menggelar matras disisi Lia.


Lia mengangguk.


Diana kemudian melakukan peregangan otot sebelum mengikuti instruksi seperti di layar telivisi.


"Aaron sudah tidur?" tanya Lia.


Heeh... Diana mengangguk.


"Kenapa wajahmu kelihatan murung?" tanya Diana dengan melirik pada Lia.


Lia diam.


"Kakak, hari pernikahanmu apakah kau akan membawa bibi kemari?" tanya Lia.


"Tentu saja, aku sudah meminta mereka untuk mengajukan Visa dan mengirimlan tiket open dated." jawab Diana santai.


"Bagaimana dengan ibu?"


"He... aku sudah mengirim uang kepada ibu untuk membuat visa, untuk dia dan keluarga baru nya. " jawab Diana.


"Tetapi ibu kemarin meminta uang tambahan kepadaku." kata Lia.

__ADS_1


Diana menoleh dan menatap Lia tanpa bicara. Bukan hal yang baru hal itu terjadi. Ibunya memang berbeda. Dulu jika Diana tidak mengirim uang dengan mudahnya ibu akan mengutuk dan bilang anak tidak berbakti. Bahkan memutuskan hubungan.


Meskipun beberapa bulan kemudian kembali ibu menghubungi dirinya hanya karena membutuhkan uang.


"Berikan sekali lagi padanya." jawab Diana.


"Kau tahu kakak, terkadang aku takut bila ibu dan keluarganya datang ke tempat ini dan bertingkah mempermalukan dirimu. Kau otahu ibu dan anaknya bagaimana." ucap Lia dengan sedih.


Semenjak ayah mereka meninggal, ibu sudah melepaskan tanggung jawab untuk mengasuh Diana yang berusia Dua belas tahun dan Lia yang baru berusia lima tahun.


"Bagaimana lagi Lia, dia adalah ibu kita." ucap Diana.


Lia hanya mengangkat bahu. Semenjak kecil dia sudah dirawat oleh adik ayah. Meskipun keras, bibi sangat menyanyangi Lia.


"Kakak, apakah Grisella baik padamu?" tanya Lia lagi dengan raut wajah yang berubah.


"Tentu saja. Dia adalah sahabat pertama yang aku miliki semenjak tidak lagi bekerja di kapal pesiar." jawab Diana.


"Aahhh... " Lia mengangguk.


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa."


"Kalian berhubungan baik bukan?"


"Heeh."


"Grisella dulu berhubungan dengan Briant. Mereka memang sempat putus karena kesalah pahaman. Tetapi aku rasa binar cinta masih ada diantara mereka." Diana menceritakan pada Lia apa yang dia ketahui tentang hubungan mereka.


"Apakah Briant juga masih menyukai Grisella?"


Diana menoleh pada Lia.


"Kau menyukai Briant?"


"Aku pikir kau tampak lebih akrab dengan Jason."


"Ah... kakak sudah jangan bahas tentang diriku. Bagaimana denganmu, kau sudah merasa lebih baik?" Lia menghindari pertanyaan Diana dan sebenarnya dia mengkhawatirkan kondisi pasca stress Diana.


"Aku rasa aku baik-baik saja." ujar Diana yang mulai menyudahi yoganya.


"Masuk yuk. Sebentar lagi Andrew datang aku mau mandi dulu."


"Iya sebentar lagi." ujar Lia sambil membenahi matrasnya.


"Semoga kau baik- baik saja kakak. Ah... aku ingin sekali bekerja agar tidak sia-sia kau membiayai sekolah ku hingga sarjana."


**************


Menjelang malam Andrew datang dari bekerja. Setelah mengecup bibir Diana, Andrew segera menuju kamar mandi, tidak pakai lama dia menghampiri baby Aaron yang langsung tersenyum melihatnya.


"Tunjukan pada daddy bagaimana kau berguling tadi sayangku." kata Andrew dengan senyum lebarnya sambil memegang camera handphone hendak mengabadikannya.


Dan hebatnya, bayi itu langsung berguling ceria. Bukan hanya sekali dia berguling-guling beberapa kali sambil berceloteh riang dan berakhir dengan tengkurap sambil menegadahkan lehernya.


"Hebat anak daddy." ujar Andrew sambio menghadiahkan kecupan ringan di kening bayi itu.


"Aaronnnn... mommy tadi meminta berkali-kali kau tidak mau melakukannya." Cicit Diana pada anaknya.


"Hahahaha... Aaron lebih sayang daddy yaaa..." goda Andrew.


"Iii... mommy mau dong di sayang sama Aaron." balas Diana tidak mau kalah.


Bayi itu kembali menggulingkan badannya dan merebahkan diri. Tangan dan kakinya aktif bergerak-gerak seraya menoleh ke kanan dan ke kiri melihat kedua orang tuanya yang berada disisinya.


"Aaron tampan sekali seperti siapa coba?" tanya Aandrew pada anaknya.


"Gak mungkin kan seperti mommy. Kalau ganteng pasti seperti daddy." lanjut Andrew.

__ADS_1


"Ih... iya deh semua nya sama kaya daddy. Mommy ga kebagian." cicit Diana manja.


"Buat anak perempuan yuk, biar bisa perpaduan kita dan memiliki mata cantikmu." ujar Andrew mesra ditelinga Diana.


"Iya, nanti kalau sudah nikah ya." jawab Diana manja.


Andrew hanya mengangguk. Dia sudah menanti selama tiga bulan apa salahnya kalau harus menunggu tiga bulan lagi.


Andrew menghormati keinginan wanita yang dia cintai itu untuk memulai dari awal.


Tidak ada hubungan intim sebelum mengikar janji nikah.


Diana ingin menikah ketika Aaron berusia enam bulan ketika bayi itu sudah bisa duduk dan memikat lebih banyak orang.


"Aku akan ke bawah ya melihat persiapan makan malam." pamit Diana.


DIa turun kebawah disana sudah ada Lia, Briant dan Grisella. Hari ini Andrew menyuruh Briant makan malam bersama hanya dengan alasan yang sederhana, merayakan Aaron yang sudah bisa tengkurap.


"Hai Grisella, kalian sudah disini?" tanya Diana sambil menghampiri Grisella.


"Kami baru saja datang." sahut Grisella.


Sementara Lia duduk di dekat Briant membahas sesuatu hal, mereka tampak serius.


"Kau tampak semakin cantik dan bugar," kata Grisella sambil memandangi tubuh Diana yang sudah kembali formal.


"Begitulah." jawab Diana dengan senyuman.


"Bagaimana persiapan perniikahanmu?"


"Semuanya lancar. Kami hanya mengundang kerabat terdekat dan pimpinan perusahaan yang bekerja sama dengan Andrew. Sedangkan untuk rekan kerja lainnya kami akan membagikan Vas Crystal, sebagai permohonan maaf karena tidak mengundang mereka." kata Diana.


"Kau tidak ingin pesta mewah di gedung?" tanya Grisella.


Diana menggelengkan kepalanya. Setelah banyaknya pemberitaan tentang dirinya ketika Rachel melecehkan, dia merasa lebih baik mengadakan semua nya simpel sesuia impiannya.


"Sebentar aku akan memanggil Andrew turun." Diana beranjak naik ke lantai atas dan mendapati pemandangan indah dimana Aaron sudah tertidur dalam dekapan Andrew.


Pria tampan itu tersenyum, "lihat aku daddy yang hebat bukan?"


"Tentu saja." bisik Diana seraya mengangkat anaknya dan membaringkan di tempat tidur bayi.


"Ayo, Grisella dan Briant sudah dibawah."


Mereka bergandengan tangan turun ke lantai bawah menuru ruang makan. Disana semua sudah berkumpul termasuk Arthur.


"Hai semua, aku ingin bersulang dengan kalian semua untuk merayakan kesembuhan Diana dan Aaron yang sudah bisa tengkurap." ujar Andrew dengan senyuman lebar.


Pria tampan itu memegang champagne dan mulai membuka penutup botol tersbut.


POP! bunyi tutup yang terlepas dengan kuat membuat Diana terkejut dan selanjutnya wanita itu pucat pasi. Tubuhnya gemetaran dan wajahnya tegang. Detik kemudian dia histeris berteriak sambil memeluk Andrew.


"Tidakkkk!!!! Jangan tembak kami!!!!"


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Hai readers....


Terimakasih sudah setia membaca karyaku.


Jangan lupa like dan bila berkenan Vote yaaa.


Seperti biasa minggu ini, Vote terbanyak akan mendapatkan tanda mata ucapan terimakasih langsung dari author.


Biar makin baper nih penampakan Andrew dan baby Aaron.


😘


__ADS_1


__ADS_2