
"Francesca.... Francescaaaa.... yuhuuuuu... dimana kau sayanggg... kemarilahhh... mommy rindu pada mu." Suara Caroline berkumandang di pagi hari, berteriak dengan lembut dan mendayu.
Rambutnya masih berantakan, wajahnya masih agak kusut. Tampaknya Caroline baru saja terbangun dari tidur dan seperti seorang nenek sihir, memanngil anak nya dengan suara lembut di balik seringai.
"Dimana Francesca?!" teriak Caroline kepada Lena pelayan wanita satu-satunya.
"Dia sudah sekolah, nyonya."
"Heh...sekolah!" Dengus Caroline kesal.
Bersekolah berati ada biaya yang harus dikeluarkan.
"Pastikan dia bersekolah dengan baik. Jangan sampai sia-sia uang yang aku keluarkan. Saat dewasa nanti, dia harus menemukan pria kaya yang bisa menyokong hidupku." Ujar nya dengan sinis.
Lena mematung dan menundukan kepalanya.
"Buatkan aku omlet!" Perintah Caroline.
Pelayan wanita itu segera menyiapkan tang di minta Caroline. Memanggang dua lembar roti, mengolesinya dengan mentega dan meletakan di sisi omlet bersama segelas kopi.
Tiap bulan Caroline hanya memberikan uang yang cukup untuk berbelanja makanan.Tetapi di tidak pernah memperhatikan hal lain untuk Francesca, apalagi biaya tambahan untuk buku di sekolah. Lena, mengatur keuangan dengan baik dan terkadang mengorbankan gaji kecilnya untuk kebutuhan sekolah Francesca.
Francesca hanya memiliki sedikit mainan yang di berikan oleh Caroline. Boneka kesayangannya hanyalah satu, pemberian Lena ketika ada pasar malam.
Sewaktu Manuel masih hidup, dia sering membanjiri Francesca dengan mainan.
Namun, semua mainan itu hampir usang setelah setahun Manuel meninggal. Caroline hampit tidak pernah membelikan mainan atau pakaian, kecuali ketika tahun baru. Sepasang pakaian baru dan sebuah mainan baru hanya untuk di pamerkan.
Francesca selalu menjadi anak yang pendiam dihadapan Caroline. Karena tindakan yang salah sedikit saja akan berakibat fatal. Hanya sesekali dia bergaul dengan teman sebaya nya di luar sekolah. Tetapi jika Caroline tidak ada, bocah kecil itu menjadi sedikit lebih ceria.
Yang di perhatikan oleh Caroline hanya penampilan Francesca. Meskipun demikian, wanita ini masih sering membelikan anak gadisnya pakaian, sepatu dan pita rambut. Karena penampilan Francesca adalah penting bagi dirinya. Dia ingin semua orang melihat, betapa dia menyayangi dan memperhatikan Francesca.
"Aku akan pergi ke Amerika besuk. Dan malam ini aku akan pulang larut," ujar Caroline.
Malam ini, Caroline berencana untuk mendekati Theodor dan memberikan pria itu harapan. Dia berencana menyetujui tawaran Theodore. Dia memerlukan sesorang yang membantunya untuk mengurus perkebunan dan mengirimkan pundi-pundi uang ke rekeningnya.
Saat ini hanya Theodore yang dia miliki. Semua pria lain sudsh meninggalkan Caroline. Dan setelah merayu Theodore, dia akan mencari mangsa yang lebih besar, jika rencananya mendekati Andrew tidak berhasil.
Lena merasa senang, akhirnya Caroline akan meninggalkan rumah ini. Dia tidak akan membuat keributan lagi dan menyakiti Francesca. Lena tidak perduli apapun urusan Caroline asalkan wanita itu tidak menyakiti anak yang sudah dia asuh dengan penuh kasih sayang sejak bayi.
*
MIAMI
__ADS_1
Malam sudah bergulir berganti pagi yang ceria. Kicauan burung camar dan suara debur ombak terdengar samar-samar di dalam cabin(bilik yacht). Bias sinar Mentari pagi, beranjak dari tidurnya dengan malu-malu.
Diana menggeliat, melepaskan dirinya dari pelukan Andrew dengan perlahan. Sekujur tubuhnya terasa pegal. Dia turun dari tempat tidur dan mengenakan bath rub, melangkah keluar dari cabin.
Diana duduk di depan ruang keluarga dan memandang keluar jendela. Sebenarnya dia masih mengantuk dan ingin mendekam di dalam selimut. Tetapi, dia tidak ingin melewatkan pagi indah ini begitu saja.
Di buatnya segelas kopi susu hangat dan menatap keluar ruangan. Dibukanya jendela dan hembusa angin dingin pagi menerpa wajahnya.
Semalam setelah Andrew tahu, jika Diana tidak melanjutkan suntikan kb, pria itu begitu bahagia. Dan kebahagiaan itu di lampiaskan dengan gempuran berkali-kali. Jedah hanya setengah jam dan entah dari mana nafsu itu bisa muncul kembali.
Aaron sudah berusia hampir tiga tahun. Dan Conrad sudah berusia hampir sebelas tahun. Sudah cukup jarak bagi mereka untuk memiliki anak lagi. Dan dia berharap dapat segera hamil lagi.
"Aku mau tiga anak lagi," ujar Andrew semalam.
"Gak mau. Satu saja lagi." Tolak Diana.
"Ayolahhh... kita bisa menambah pengasuh." Rengek Andrew.
"Ih... kamu pikir hamil itu mudah?"
"Jangan kuatir masalah itu, aku yang akan membuat mu hamil. Aku yakin bibit unggul ku akan bersemi dengan cepat di dalam ladang subur mu."
"Ihhh... urusan menghamili kau langsung suka. Proses hamil nya itu sayanggg... dan juga itu berarti kau harus mengurangi jatahmu secara drastis." Ujar Diana yang masih memiliki trauma saat proses kehamilan Aaron dulu.
Mata Diana terbelalak. Tangan dia bilang? Oh no. Didalam gua nya saja naga pria itu bisa tahan lama. Dan jika menggunakan tangan, bisa dipastikan tangan Diana bisa kram.
"Tidak ada tangan. Pakai tanganmu sendiri," elak Diana dengan manja seraya membenamkan wajahnya di dalam dada Andrew.
"Beda sensasinya sayanggg... coba ini rasakan." Andrew mengambil telunju jari Diana dan dimasukan dalam gua. Sesaat kemudian di tariknya jemari Diana dan berganti dengan jari telunjuk Andrew.
Diana melenguh. Sensaninya memang berbeda. Dan perkataan suaminya yang mantan Casanova itu benar adanya.
Argumentasinya di patahkan dengan pembuktian oleh Andrew.
Diana tertawa kecil mengingat percakapan mereka semalam. Dia merasa bahagia dengan keinginan Andrew. Tapi dalam hati Diana membulatkan tekad, hanya akan hamil satu kali lagi. Dia tidak ingin kerepotan membagi waktu untuk dekat dengan anak-anaknya nanti.
"Apa yang membuatmu tersenyum sayang?" suara parau Andrew terdengar di belakangnya.
"Kau sudah bangun sayang? Duduklah akan aku buatkan kopi untukmu." Diana berdiri dan berjalan menuju dapur. Dia menghindari pertanyaan Andrew, karena pria itu akan kembali berbicara mesum dan berakhir dengan tindakan mesum. Akibatnya mereka akan menghabiskan hari hanya dengan kemesuman Andrew.
"Mau aku hangatkan croisant, sayang?" tanya Diana
"hemm..." gumam Andrew mengiyakan.
__ADS_1
Diana memasukan empat buah croisant kedalam microwave dan mulai menggoreng telur setengah matang, sosis dan bacon. Aroma harum memenuhi ruangan membangkitkan rasa lapar.
Setelah siap, dengan dibantu Andrew, mereka menikmati sarapan di luar deck sambil menikmati terpaan udara pagi. Pagi yang cerah untuk mengawali hari yang indah.
"Siang ini kita kembali pulang ya, aku sudah merindukan Aaron."
"Baiklah."
"Dan lagi malam ini, Briant akan datang ke rumah. Mereka akan mengadakan barbeque. Sudah lama kan kita tidak berkumpul dengan Briant dan Grisella."
Andrew mengangguk.
"Suruh saja mereka menginap."
"Ah, benar. Ide yang bagus. lagipula hari ini kan weakend." ujar Diana dengan girang.
"Sayang..." Andrew menyibakan bathrobe yang dikenakan Diana dan meletakan tangannya di paha bagian dalam wanita itu.
"Andrew sudah!"
"Pleasaeee... sebelum pulang."
"Gak mau. Aku capai."
"Aku tidak akan membuatmu lelah. Cukup sekali saja." Andrew langsung menyerang istrinya tanpa memberi kesempatan wanita itu menilak lagi.
Dengan mudahnya Andrew mengangkat tubuh Diana dan meletakan di kursi bulat yang empuk. Alam pagi hari sekali lagi menjadi saksi, indan yang saling memadu kasih. Dari posisi terlentang, hingga berdiri sambil bersandar di dinding kapal dan kaki-kakinya yang melingkar lemah di pinggang Andrew.
πππππ
Selanjutnyaaaaa.... Silahkan dilanjutkan dengan tingkat kemesuman diri kalian sendiri. Hahahah. ayooo kalian mikir apa hayoooo... posisi enak apa ayoooo.
πππππ
Jangan lupa yaaaaa... periode untuk vote nya masih berlangsung sampai akhir Desember.
Tiga orang dengan Vote tertinggi akan mendapatkan hadiah tahun baru.
Oh iya, jangan lupa mampir juga di kisahnya Jason dan Lia yang lagi proses bucin.
Trimakasih dan stay Healthy
__ADS_1