
Seperti yang di perkirakan, kali ini Diana harus menghadiri pertemuan di sekolah. Dua orang anak yang berkelahi dengan Aaron mengalami luka yang cukup parah. Orang tua mereka menuntut keadilan.
Dua belas orang tua murid berkumpul diruang kepala sekolah. Lima orang tua dari yang berada di pihak Aaron dan Tujuh orang di pihak Leonel. Semua pihak saling berhadapan dengan tegang. Mereka menatap kehadiran Diana dengan penuh kebencian.
Dengan tenang ibu dari enam anak itu duduk dihadapan mereka. Dia sudah memperkirakan dan mempersiapkan diri dengan segala cercaan dan tuntutan mereka. Diana tersenyum hangat menyambut pandangan dingin dari beberapa orang yang ada disana.
"Jadi kita semua sudah berkumpul disini, untuk mendiskusikan masalah perkelahian anak-anak kemarin." Kepala sekolah memulai diskusi.
"Tidak ada yang harus dibicarakan! Anak wanita itu harus dikeluarkan dari sekolah!" ujar wanita dengan lipstik merah menyala.
"Lihat ini foto-foto dan hasil visum dari dokter. Bukti ini juga rekaman cctv sudah bisa membuktikan tindakan brutal, anak dari wanita ini. Anak yang tidak pernah diajarkan tata krama, anak liar tidak pantas berada disekolah ini." ujar wanita lainnya.
"Maaf, ibu dari Leonel dan Teddy. Kita harus membicarakan dulu dengan baik. Ini perkelahian anak-anak yang masih di bawah umur." Kepala sekolah berusah menenangkan situasi yang mulai memanas.
"Apa yang harus dibicarakan lagi? Gigi depan anak ku sudah rontok empat. Belum lagi hidung nya yang patah dan pipi nya yang lebam. Anak tidak tahu aturan seperti itu harus dikeluarkan. Contoh buruk!" Kali ini ibu nya Teddy angkat suara dengan lebih nyaring.
"Benar. Anak ku sampai tidak bisa berjalan."
"Anakku hidungnya patah."
"Anakku perutnya lebam."
"Anakku trauma untuk pergi sekolah. Dia menangus ketakutan, takut dihajar lagi oleh Aaron dan genk nya."
Mereka semua bersuara, menunjukan aksi protes.
"Perkelahian ini tidak akan terjadi jika anda mengajarkan tata krama pada anak-anak." ujar seorang wanita dari genk Aaron.
"Benar. Masalah orang dewasa tidak seharusnya anak sekolah ikut campur." ujar Ibu lainnya.
"Doni juga mengatakan jika Leonel dan Teddy sengaja memancing kemaran anak-anak kami." ujar ibu Doni setelah mereka semua protes.
"Mulut ya dibalas dengan mulut. Apakah karena tidak ada hal yang dapat dihina dari keluarga kami, makanya tindakan anak anda yang menghajar temannya hendak dibilang betul?" ujar ibu Leonel dengan garang. Kesalahan Aaron karean dia bertindak secara fisik terlebih dahulu.
"Jelas-jelas di cctv anak wanita itu, yang memulai duluan. Sok menjadi orang hebat. Apa dia ketua gengster disekolah ini? Benar-benar contoh buruk. Katakan pada saya kepala sekolah, apakah dia yabg selalu nenjadi citra kebanggaan sekolah ini? Tak lebih dari seroang anak mucikari." Tambah ibu Leonel.
"Jaga bicara anda nyonya! Saya bisa menuntut anda dan anak anda sebagai tersangka pencemaran nama baik." Desis Diana dengan geram.
Sedari tadi dia diam tidak bersuara dan membiarkan mereka melampiaskan emosi. Diana menyadari jika tindakan Aarin memang keterlaluan. Menghajar teman-temannya hingga tak berbentuk. Foto-foto keadaan mereka yang sudah dihajar oleh Aaron, terpampang rapi sebagai bukti visum. Dia tidak akan lepas tanggung jawab mengenai hal itu.
Tetapi, jika menyangkut penghinaan terhadap nama baik, itu harus diluruskan. Apa hak mereka untuk campur tangan dengan masalah yang dihadapi. Toh, semua itu masih di proses secara hukum. Belum terbukti jika suaminya bersalah. Bagaimana bisa mereka yang begitu berpendidikan, memiliki pemikiran dan mulut tanpa tata krama. Bahkan gelandangan pun tidak akan bergosip.
"Oh ya? Aku hanya menyatakan bukti yang sudah tersebar, apa kah itu salah? Apa keluarga dengan contoh buruk seperti ini, hendak dibiarkan bersekolah disini?" ujar wanita itu lagi dengan garang.
Ibu-ibu yang berada disana saling berbicara sendiri dan mulai sibuk mengemukakan pendapat mereka masing-masing. Ibu dari Leonel tampaknya berhasil memperngaruhi wanita disana. Dia tersenyum puas melihat kepala sekolah yang kebingungan. Keluarnya Aaron dan Francesca akan membuat sekolah juga akan kehilangan dana bantuan. Dan itu sangat merugikan pihak sekolah.
"Ini masalah anak-anak, ibu-ibu tidak perlu se ekstrim ini. Kita hanya perlu memberikan skors." ujar kepala sekolah.
"Skors? Itu terlalu ringan. Seharus ya aku melapor kepolisi." ujar Ibu nya Leonel
"Jika anda melaporkan anak saya ke polisi, saya juga akan menyeret anak anda untuk bertanggung jawab juga." gertak ibu Doni dengan menahan amarah.
__ADS_1
"Silahkan saja.. Kau ingin anakku di penjara menemani anakmu? Tidak menjadi masalah bagiku." ujar nya dengan raut wajah mengejek.
Diana maupun nyonya Dania ibu dari Doni, memandang iby nya Leonel dengan heran. Bagaimana mungkin wanita ini, rela mengorbankan anaknya sampai sedemikian rupa, hanya demi untuk menyakiti Aaron. Ibu macam apakah wanita di hadapan mereka ini. Kebencian yang dia pancarkan dari raut wajahnya, begitu mengerikan.
Sementara ibu-ibu lain mulai bertengkar dengan hebat, karena mereka tentu saja tidak ingin anaknya masuk kedalam penjara. Anak-anak yang masih remaja, tidak ada satupun yang ingin membiarkan latar belakang mereka ada catatan buruk di kepolisian.
Diana dan ibunya Leonel saling bertatapan dengan tajam. Diana bisa merasakan aura dingin dari pandangan wanita itu. Bukan saja dingin tapi sorot mata yang penuh kebencian. Kebencian yang dia pancarkan seakan ingin menguliti dirinya hidup-hidup. Dan semakin lama memandang wanita itu, dia bisa melihat sorot mata yang mirip. Sorot mata dan sedikit garis wajah wanita itu membuat dirinya teringat masa lalu.
Diana mengernyitkan keningnya tidak yakin dengan apa yang terlintas dalam pikirannya. Masa lalu itu, bukannya sudah dituntaskan, tapi kenapa dia harus merangkak lagi dari lembah kekelaman? Apakah benar wanita yang dihadapannya ini adalah salah satu sisa di masa lalu?
"Nyonya Diana. Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan." bisikan nyonya Dania menyadarkan Diana dari lamunan.
Dia memandang ke pada semua wanita yang masih bersitegang. Diana tahu dia harus bertindak tegas, menyudahi semua kekacauan. Dia tidak tahu sebenarnya masalah pribadi apa yang ada diantara dirinya dengan ibu Leonel, yang sedari tadi tiada henti menyerang nama baik keluarganya.
"Tenanglah, saya tidak akan membiarkan anak-anak anda mendapatkan catatan kriminal di polisi. Aaron dan Francesca tidak akan muncul lagi disekolah ini. Mereka lebih memilih untuk homescholing daripada bergaul dengan mereka, yang tidak dapat bersikap baik dan saling menghargai sesama teman ." ujar Diana dengan tenang.
"Tapi nyonya, hal ini masih bisa dibicarakan. Aaron dan Francesca biarkan saja belajar disini. Sayang sekali, Francesca masih kurang setengah tahun lagi," ujar Kepala sekolah dengan panik.
"Ini adalah jalan yang terbaik untuk nama baik sekolah juga bukan? Jika kasus ini bergulir di kepolisian, bukankah semua akan merugi?"
Pandangan mata Diana yang tajam membuat kepala sekolah diam.
"Akhirnya sekolah ini sudah terbebas dari serangga pengganggu yang menyebarkan bau busuk." ujar Ibu nya Leonel dengan penuh kemenangan.
"Keinginan anda sudah terkabul, bisa puas sekarang bukan, nyonya..... Bisa saya tahu nama anda?" tanya Diana. Dia merasa penasaran dengan siapa wanita yang, memandangnya dengan dingin dan penuh kebencian itu.
Wanita itu mengulurkan tangannya pada Diana. Diana memandang tangan yang terulur itu sebelum menjabatnya. Tangan mereka bertautan dengan kaku, pandangan mata mereka sama-sama menghujam. Wanita itu menarik tangan Diana, hingga mereka berdiri sejajar, dan dia berbisik dengan dingin.
Mata Diana terbelalak untuk beberapa detik. Nama itu, nama yang dia kenal. Nama yang dia baca goresan kisahnya dalam diary Rachel. Pantas saja Mata dan Raut wajah mereka mirip. Keluarga psikopat.
"Tidak! Kau yang harus mengingat, jika ini baru permulaan dari kebinasaanmu!" Ancam Diana kembali tak kalah dingin.
"Aku nantikan pembalasanmu, wanita si@lan. Aku akan membuat kau dan keluargamu hancur karena membunuh kekasihku." desis Bertha dingin.
Tautan tangan mereka terlepas dan seringai menyeramkan terukir dari wajah Bertha. Diana memandang wanita itu dengan jijik. Jika dulu Rachel bersikap kejam pada Diana, karena begitu mencintai Andrew dan menginginkan pria itu menjadi bonekanya seumur hidup, tetapi berbeda dengan Bertha. Dia ingin balas dendam untuk kekasihnya. Kekasihnya? Pria tua, ayah kandung yang sudah melecehkan dirinya dia sebut kekasih? Benar-benar tidak bermoral dan psikopat.
Diana melepaskan tangannya dengan paksa dan bergerak mundur menjauhi wanita itu. Dia segera meninggalkan ruang kepala sekolah, tanpa menghiraukan lelaki setengah baya yang memanggil-manggil dirinya. Kepala sekolah takut benar-benar mengkhawatirkan dana bantuan yang dikucurkan Andrew akan terhenti.
Saat Diana sudah keluar dari gerbang dengan diikuti nyonya Dania. Kepala sekolah berdiri dengan lemas. Dia tidak dapat berbuat apapun, karena dua wanita yang biasa menyokong sekolah sudah lepas dari genggaman. Diana dan Dania tidak perduli. Sekolah yang tidak bisa mengendalikan isyu dan melindungi anak-anak mereka untuk apa lagi dipertahankan, bukan?
"Baguslah, pembawa bau busuk sekolah sudah hilang." ujar seorang wanita dengan mengejek.
"Benar. Anak ku sekarang bisa bersekolah dengan tenang."
"Anda hebat sekali nyonya Bertha, berhasil membuat nyonya Diana menarik anak nya dari sekolah ini."
Pujian dari wanita-wanita itu mengalir untuk Bertha dan ibunya Teddy. Mereka mengejek Aaron dan genk nya sebagai anak berandal.
Kepala sekolah membalikan tubuh nya dan menatap mereka dengan kesal. Wanita-wanita banyak mulut, yang suka bergosip dan menyalahkan orang lain tanpa sadar kesalahannya sendiri. Dalam kasus ini, tidak akan ada api bila tidak ada pemantiknya. Aaron dan genknya tidak akan menyerang, jika saja mereka tidak menyulutkan jika saja anak-anak mereka tidak menggeseknya dengan hinaan dan gosip.
Tapi sayang kepala sekolah juga lupa dengam peranannya. Jika saja guru dan kepala sekolah bisa lebih berbaur dengan murid, pasti dia bisa mencegah pembulian itu menyebar dan merambat kemana-mana. Tidak ada perkelahian, jika saja semua diatasi dengan tegas sebelumnya.
__ADS_1
"Terimakasih pada anda semua, nyonya-nyonya. Dan berkat anda, mulai bulan depan uang sekolah akan naik tiga kali lipat." ujar kepala sekolah dengan tegas.
"Hai! Bagaimana bisa begitu. Kami baru saja membantumu mengusir biang kerok yang memalukan di sekolah."
"Dasar kepala sekolah tidak tahu terimakasih. Sudah dibantu sekarang malah mencekik kami."
"Benar! Tidak tahu diuntung. Harus nya kau nebaskan biaya sekolah anak-anak kami." ujar yang lainnya.
"Benar anda sudah mengusir Aaron dari sekolah ini. Anda semua hebat bukan. Tapi anda juga lupa kalau sudah mengusir donatur terbesar disekolah ini!" Sahut Kepala sekolah dengan tegas.
Rasa kesal tampak jelas di wajah kepala sekolah. Sekolah bergengsi yang selama ini selalu terkenal karena mutu pendidikan dengan uang sekolah yang murah, sekarang dipastikan akan lenyap. Sekolah ini tak akan lebih baik dari sekolah lain. Dan mereka harus kembali merangkak dari nol, karena juga kehilangan ikon sekolah.
*****
Di mobil Diana yang berjalan meninggalkan sekolah dengan diikuti oleh supir dari nyonya Dania.
"Maafkan saya nyonya Dania. Kejadian ini melibatkan Doni." ujar Diana dengan bersungguh-sungguh.
"Saya mengerti nyonya Diana. Doni sudah menceritakan semuanya. Dan dia telah melakukan hal yang benar dengan membela sahabatnya." ujar nyonya Dania dengan tulus.
"Lalu, bagaimana dengan pendidikan Doni?"
"Doni mengatakan pada saya, dimana Aaron sekolah, disana dia akan ikut. Bisakah selama setahun terakhir ini, Doni belajar dengan Aaron?" pinta nyonya Dania dengan tulus.
"Tentu saja nyonya Dania. Tentu saja. Saya sudah memanggil seorang profesor dengan kuakifikasi mengajar home scholling. Ini pasti akan menyenangkan sekali jika Aaron dan Doni bisa selalu bersahabat." ujar Diana yang merasa gembira karena masih ada orang yang tidak terpengaruh pada masalah, yang dihadapi oleh perusahaannya Fantasy Cruise Line.
"Tentu saja. Sahabat rerbaik yang dibina sejak usia muda, akan bisa saling menopang ketika mereka dewasa nantinya. Bagaimana kalau kita tidak saling memanggil nyonya. Anda memanggil saya Dania dan saya akan memanggil anda Diana."
Usulan nyonya Dania disambut dengan anggukan setuju dari Diana. Mereka berdua sama-sama bersyukur karena anak-anak mereka dapat berteman dengan baik.
Mereka kemudian berpisah. Nyonya Dania keluar dari mobil Diana dan kembali ke mobilnya sendiri. Saat itulah Diana melihat Bertha keluar dari sekolah. Segera dia meminta pada supirnya untuk mengikuti Bertha, mencari tahu dimana wanita itu tinggal dan dengan siapa saja dia berhubungan.
Sementara itu Diana turun dari mobil dan memilih menggunakan taxy menuju kantor Andrew. Hal penting ini harus segera dia sampaikan pada Andrew. Semua yang terjadi pasti ada hubungannya dengan wanita psikopat itu.
Sesampainya di kantor Andrew, Diana berhasil melewati para wartawan dan demonstran yang berkumpul di luar gedung. Diana langsung melangkah dengan anggun menuju ke lantai atas. Wajahnya tampak tenang,dia tidak ingin memberikan energi buruk bagi para karyawan dengan sikap tegang.
Diana disambut oleh Patricia, Sekretaris yang sudah lama bekerja dengan suami nya. Sekretaris itu mengatakan jika saat ini Andrew sedang rapat dengan tim pengacara dan detektif yang berusaha memecahkan kasus mengenai kejadian di kapal pesiar.
Mengetahui hal itu, Diana menghubungi Andrew di ponselnya. Dia bisa saja langsung masuk, tapi Diana tetap ingin menjaga wibawa sang suami. Dia menahan diri untuk menghargai suaminya.
"Aku sedang rapat," sahut Andrew lewat ponselnya.
"Aku tahu. Aku ada di kantor." jawab Diana.
"Andrew, aku tahu siapa yang menjadi dalang fitnah yang merusak nama baik perusahaan dan keluarga kita. " ujar Diana lagi.
"Siapa?"
"Bertha."
"Apa?!"
__ADS_1