Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
52. Pengasuh anak


__ADS_3

Siang ini Diana ikut menjemput Conrad di sekolah bersama Papito. Ini pertama kalinya dia datang ke sekolah Conrad. Dari kejauhan tampak Gedung sekolah yang luar biasa megah dan parkiran luas dimana mobil - mobil mewah sudah berjajar disana. Anak - Anak itu ada yang langsung berlari menuju ke mobil dimana supir sudah menunggu. Beberapa wanita dengan penampilan yang luar biasa cantik dan penuh percaya diri juga turun menyambut anak - anak mereka.


"Papito biarkan saya turun menjemput Conrad."


"Iya nona, Conrad pasti senang sekali melihat anda."


Diana tersenyum dan turun dari mobil menuju gerbang sekolah berwarna hitam yang menjulang tinggi.


Di depan gerbang beberapa wanita cantik dan anggun dengan sepatu tinggi nya menanti juga.


Mereka tampak bak model, pragawati dan ada yang tampak seperti wanita penguasa.


Seorang wanita cantik berambut pirang dengan rambutnya yang tergerai berombak indah menghampirinya.


"Kamu tampaknya baru dilingkungan ini." tanyanya.


"Iya. Aku pertamakali kemari menjemput." Jawabnya ramah.


"Siapa yang kau jemput?" tanya nya.


"Conrad." Jawab Diana singkat.


"Conrad? Hmm... Kamu pengasuh baru nya?" Pertanyaan itu membuat Diana tersentak.


"Dari penampilanmu kamu lebih terpelajar daripada yang biasanya. Berapa mereka menggajimu?" Perkataannya sungguh mengiris hati. Diana hanya terdiam dan memaksakan senyum tipis.


"Ah rahasia ya." Wanita itu menatap Diana dari atas kebawah seperti hendak menilai.


"Untyyy... " Kecanggungan diantara kami dipecahkan dengan kedatangan Conrad yang keluar dari gerbang dan menghampiri Diana dengan senyum yang lebar.


"Hallo mama Melisa." Sapa Conrad kepada wanita yang berbincang dengan Diana sebelumnya.


"Hai Conrad. Pengasuh mu baru ya." Sapa mama Melisa.


"Bukan. Ini unty Diana namanya." Conrad memperkenalkan mereka.


"Aku Bertha." Wanita itu memperkenalkan diri keoada Diana. Diana hanya tersenyum tanpa mengucapkan kalimat apapun.


"Ayo Conrad kita pulang." Ajak Diana.


"Unty, Conrad mau mampir ke kantor Daddy dulu ya..." Ajak Conrad. Sebelumnya Diana belum pernah menginjakan kaki ke kantor Pusat tempat Andrew berkuasa.


"Baiklah." Diana mengiyakan permintaan Conrad.


"Tunggu Diana, bisa kau bantu aku?" Bertha menahan mereka.


"iya?"


"Ini kartu namaku, berikan pada ayah Conrad. Bila ada waktu suruh dia menghubungi aku." Bertha memberikan kartu namanya.


"Baiklah. Kami permisi." Diana menggandeng tangan Conrad yang sudah berpamitan juga pada Bertha.

__ADS_1


"Papito, hari ini ke kantor daddy yaa." Celoteh Conrad setelah masuk kedalam mobil.


"Baik tuan kecil. Daddy sudah tahu belum?"


"Belum. Conrad mau beri kejutan ah."


"Nanti tidak mengganggu Daddy kah?" tanya Diana.


"Hari ini kan Jumat. Daddy pernah bilang kalau Conrad boleh kok ke kantor hari Jumat."


"Ooo.." Diana hanya terdiam mendengar perkataan Conrad. Bahkan seingatnya Andrew tidak pernah memintanya ke kantor. Penandatanganan perpanjangan kontrak kerja pun di bawakan oleh Briant ke Condominium.


Di perhatikannya kartu nama yang di berikan Bertha tadi. Bertha Christina . Public Relation Manager dari Perusahaan Advertising. Wanita itu begitu cantik dan elegant. Tiba - tiba dirinya merasa menciut. Wanita itu bahkan mengira kalau dirinya adalah seorang baby sitter. Perkataan itu begitu menampar.


"Itu punya tante Bertha ya?" Conrad menunjuk pada kartu nama yang dipegang Diana. Diana hanya mengangguk.


"Kata Melisa, papa Melisa sudah tidak tinggal dengan Melisa dan mamanya. Melisa punya dua mama." Celoteh Conrad sambil bersandar di pelukan Diana. Diana mengusap rambut Conrad dan mendengarkan cerita anak itu.


"Tante Bertha juga suka tanya tentang Daddy." Lanjut Conrad.


Diana termenung menatap kearah depan dapat ditangkap dari sudut mata kalau Papito meliriknya.


Sesampai nya di halaman lobby kantor, Papito menahan Diana sejenak.


"Nona kemarikan kartu nama itu."


"Ya?" Diana menatap Papito tidak mengerti.


"Baiklah." Diana menurut dan memberikan kartu nama tersebut kemudian menggandeng Conrad masuk melalui lobby.


Papito melihat sekilas pada kartu nama tersebut dan kemudian menyimpannya pada tas kecil. Tampak disana ratusan kartu nama yang tersimpan.


Melewati Sekutity depan mereka disambut oleh Customer Services yang langsung menyapa Conrad. Tampaknya mereka sudah langsung mengingat Conrad meskipun hanya berkunjung beberapa kali.


"Biasanya Conrad datang bersama Nany." Seorang customer cantik asia berbicara kepada Diana sambil mengantarkan mereka ke lantai atas.


"Nany sedang ada kesibukan."


"Ooo... Enak ya kerja di rumah tuan Andrew?"


Pertanyaan itu kembali seperti sebuah sayatan ditelinga Diana.


"Kalau dikantor tuan Andrew agak keras, jarang tersenyum, tapi pandangan mata nya juga bodynya aduhhh buat kita susah bernafas. Kalau dirumah bagaimana?" Customer Service wanita tersebut masih saja berbicara tanpa henti.


"Dirumah bagaimana?" Desak wanita itu. Diana hanya tersenyum saja.


Dirumah, Andrew banyak bicara dan manja, dan suka mengaturku.


"Ah, kamu pasti juga jarang berbicara dengan dia ya."


"Banyak wanita cantik dan berkelas yang lalu lalang mengunjungi dia." Bisik customer services yang bernama Dila itu ditelingaku takut terdengar Conrad.

__ADS_1


"Ooo." Aku hanya mengiyakan tanpa banyak bertanya. Sedangkan sejujurnya hatiku ingin bertanya banyak.


"Iya. Tapi setahun belakangan ini tampaknya semua wanita dia tolak. Mereka selalu pergi dengan wajah kusut atau marah." Gosip Dila lagi.


"Nah kalian sudah sampai. Itu sekertarisnya ms. Fransisca. Dia cantik tapi agak jutek. Mungkin terlalu sering ditolak sama tuan Andrew. Akhirnya dia menikah dengan tuan Wilmer, salah satu Hotel Manager di kapal." Langkah mereka sudah mendekat pada Fransisca yang langsung tersenyum ceria melihat Conrad. Diana mengamati Fransisca ternyata cantik juga istri Wilmer. Sayang sekali Wilmer tidak belajar untuk setia.


"Hallo Conrad. Mau menemui daddy ya. Sayang sekali daddy masih meeting. Ayo tante antar ke ruang tunggu." Sapa Fransisca dengan hangat.


"Iya tante."


"Kamu boleh pergi." Kata Fransisca kepada Dilla. Dilla mengangguk dan melambaikan tangan pada Diana.


"Kamu pengasuh baru?" tanya Fransisca.


"He.eh..." Diana hanya bergumam. Panas rasanya telinganya. Semua orang mengatakan hal yang sama. Semua orang tampak memandang rendah dirinya. Kenyataan ini membuat Diana merasa kecil hati. Membuat dia bertanya - tanya dalam hatinya pantaskah dia disamping Andrew? Seorang dengan kekuasaan yang terlihat sangat luar biasa dengan setelan suitnya. Yang membuat setiap mata pria maupun wanita melihatnya dengan hormat dan kekaguman. Sedangkan dirinya mereka anggap hanyalah sebagai pengasuh anak.


"Kalian tunggu disini ya." Fransisca pergi meninggalkan mereka.


Tak berapa lama setelah kepegian Fransisca, Conrad yang merasa bosan menunggu tertidur di pangkuan Diana. Sambil melamun Diana mengedarkan pandangan kesekeliling ruangan. Hari ini dia merasa kecil dan tak berarti.


"Permisi." Seorang pria tinggi asal Eropa memasuki ruangan dengan setelan suitnya berwarna hitam dan duduk di kursi samping Diana.


"Kalian sudah lama menunggu Andrew?" tanya orang itu.


"Iya begitulah."


"Tampaknya aku datang disaat yang tidak tepat." Ujar pria tersebut kesal.


"Mike." Pria itu menyodorkan tangannya mengajak berkenalan.


"Diana."


"Nama yang cantik secantik orangnya." Sahut Mike sambil mengerdipkan matanya. Diana tidak menanggapi perkataan Mike.


"Kamu pengasuh baru anak itu?"


Pertanyaan itu lagi! Menjengkelkan bukan?.


"Sayang, kamu terlalu cantik untuk menjadi seorang pengasuh anak." Mike masih tidak melepaskan pandangan matanya dari diri Diana, kemudian dia mengeluarkan kartu namanya.


"Ini simpan kartu namaku. Kalau kau sudah bosan menjadi pengasuh anak, hubungi aku. Aku akan memberi mu pekerjaan dan kedudukan yang lebih bagus." Mike menyodorkan kartu nama dan tak bergeming sampai Diana menerimanya.


Tak lama kemudian, sebuah suara yang dinanti datang.


"Diana." Diana menoleh kearah asal suara yang dia nantikan dan tersenyum manis. Senyuman yang mampu membuat langkah Andrew tercekat dan Mata Mike melotot.


Senyum tipis dari wajah yang cantik dan memancarkan aura kedamaian. Pancaran seorang Dewi bumi.



Dari sudut Mike pun tampak luar biasa cantik. Mata Mike melotot dan air lirunya hampir menetes. Banyak wanita cantik yang dia lihat dan dia gauli. Tapi tidak pernah sedekat ini dengan seorang bidadari yang tampak begitu lembut dan natural kecantikannya.

__ADS_1



__ADS_2