Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Pasca trauma


__ADS_3

"Andrew..." Diana menyebut nama Andrew lirih sambil menyentuh jenggot di wajah Andrew.


"Ya..."


"Kenapa kau berantakan sekali. Kau sudah lama tidak pernah merapikan jambang dan jenggotmu?"


"Aku menantimu melakukannya." sahut Andrew sambil tersenyum lebar.


Selama lebih dari dua minggu ini dia memang tidak pernah memikirkan penampilan dirinya.


Diana tersenyum mendengar jawaban Andrew.


"Rambutmu juga perlu di rapikan. Lakukan besuk ya." ujar Diana lirih.


"Andrew..." suara Diana kembali memanggil namanya dengan lirih


"Ya sayang." ucap Andrew yang berbaring disisinya dengan takΔΊl hentinya memeluk dan memandangi mata cantik yang dia rindukan.


"Kenapa aku berbaring di sini? Kenapa Aaron sudah lahir?" tanya nya lirih dengan wajah tidak mengerti.


Andrew memandang Diana. Seperti yang dokter katakan sebelumnya bahwa pasien yang baru saja sadar dari koma belum bisa mengingat keseluruhan peristiwa apa lagi hal yang membuatnya trauma.


"Iya sayang, anakmu ingin segera kau gendong, itu sebabnya dia cepat-cepat minta dilahirkan." jawab Andrew.


"Tapi, dia masih tujuh setengah bulan, dia belum siap lahir." bantah Diana yang merasa ucapan Andrew adalah hal yang tidak masuk akal.


"Kenyataannya seperti itu. Tapi tenang kau merawat dia secara luar biasa dalam kandungan. Kau sudah melihat Aaron bukan, dia sehat dan tampan seperti ku bukan?" ujar Andrew sambil meletakan jari telunjuknya mengitari lekuk wajah Diana.


"Ah... Aaron memang lebih mirip denganmu." ucap Diana dengan lirih namun kesal.


"Dan dia akan tumbuh tampan seperti diriku." Andrew terkekeh.


"Oh ya, menurutmu kau tampan?" sahut Diana menggoda.


"Tentu saja, jika tidak kau tak akan tergoda bukan?" goda Andrew balik sambil memeluk Diana dan membiarkan wajah wanita itu bersandar dalam dadanya.


Diana memukul lengan Andrew perlahan yang ditimpali dengan tawa Andrew.


"Aku belum bertemu Conrad, dimana dia?"


"Dia masih sekolah. Sore hari nanti Conrad pasti akan senang bertemu denganmu. Dia merindukanmu. Berulangkali dia bercerita bagaimana dia merindukan makanan buatanmu." cerita Andrew.


"Ah... pasti sudah lama ya. Katakan padaku, berapa lama aku tidak sadarkan diri?"


"Empat belas hari sayang."


"Pasti sekarang aku jelek sekali ya."


"Kau selalu cantik di mataku. Dalam beberapa hari lagi kecantikanmu akan bersinar." ujar Andrew penuh kasih sayang.


Meskipun wajah Diana cekung, tetapi kecantikannya tidak memudar.


Diana terdiam. Dirinya masih lemah dan rasa kantuk mulai melandanya lagi.


"Sayang apa hal terakhir yang kau ingat?" tanya Andrew penasaran.


"Hem.. aku ingat saat berada di mall dengan Lia dan Conrad kemudian aku pergi ke toilet, setelah itu entahlah. Aku tidak ingat. Aku merasa tertidur dengan mimpi yang panjang." Diana bercerita dengan lirih. Tiba-tiba air matanya menetes.


Andrew mengusap air mata Diana. Hatinya ikut sedih dengan apa yang dialami oleh kekasih hatinya.


"Sudah... jangan menangis. Kau sekarang ada bersamaku bersama kami keluargamu."


"Andrew aku takut dalam mimpi panjangku aku kehilangan kalian. Aku bisa menengar dan merasakan tapi aku tidak dapat melihat kalian seakan aku buta." ceritanya lirih di bagian akhir kalimat hingga dirinya jatuh tertidur.


Andrew membelai dan mencium wajah Diana yang tertidur penuh kasih sayang.


*A*ku mencintaimu


Beberapa waktu yang lalu.


Dokter datang dan memeriksa keadaan Diana yang baru saja sadar dari koma. Mereka memeriksa dengan teliti.


Lia berdiri disisi Andrew sambil menangis tiada henti. Segala puji syukur dipanjatkan kepada Tuhan akan kebesarannya. Ternyata Mujijat itu masih ada.

__ADS_1


Setelah dokter meninggalkan ruangan. Lia dan Andrew mendekat. Lia duduk disisi Diana.


"Kakak... aku rindu padamu." ucap Lia disela isak tangis nya.


"Jangan menangis." bisik Diana.


"Iya... ahh.. aku terlalu bahagia kakak. Kau akhirnya kembali pada kami." ucap Lia sambil berusaha menenangkan dirinya dari emosi.


"Bantu aku untuk duduk." pinta Diana. Dia merasa punggungnya panas dan pegal sekali.


Perlahan Andrew membantu menegakan tubuh Diana.


"Aaaargggghhhh..." Diana menjerit kesakitan.


"Maaf. Maafkan aku, mana yang sakit?" tanya Andrew panik.


"Perutku sakit." ucap Diana sambil menunjuk pada bekas jahitan ceasar.


"Kau tidak sadarkan diri terlalu lama kakak. Itu sebabnya otot didaerah bekas jahitanmu masih kaku. Pelan-pelan saja ya." ucap Lia yang sudah mendapat peringatan dari dokter sebelumnya.


Diana mengangguk.


Kemudian dia menoleh pada lengan sebelah kirinya yang masih di perban.


"Apa yang terjadi padaku? Ada apa dengan lenganku, kenapa sakit?" pertanyaan beruntun yang dilontarkan Diana memebuat Lia dan Andrew saling berpandangan heran.


"Kau tidak ingat bagaimana luka itu terjadi?" tanya Andrew.


Diana menggelengkan kepalanya.


"Apa yang terjadi?" tanyanya tidak mengerti.


Dia merasa heran dengan mimik wajah kedua orang dihadapannya yang tampak menyembunyikan sesuatu.


"Ah tidak kakak, kau kejatuhan manekin sewaktu di mall. Itu sebabnya pundak mu sakit." jawab Lia cepat- cepat


"Bagaimana bisa? Aku begitu ceroboh." Sesal Diana.


Saat itu lah Andrew dan Lia memahami jika Diana lupa dengan peristiwa yang terjadi yang mengakibatkan dirinya mengalami koma.


***************


"Tentu saja daddy. Aku senang kau tinggal bersama kami. Maafkan aku yang tidak bisa menyambut dan melayanimu." ucap Diana lirih dengan tersenyum tipis kepada tuan besar Arthur.


"Kau tidak perlu bertingkah formal kepadaku. Aku senang kau sudah sadar. Cepatlah pulih dan buat anakku bahagia." ujar tuan besar dengan tegas namun masih terlihat kelembutan dibalik kalimatnya.


"Terimakasih daddy."


Saat itu pintu kamar terbuka tampak bocah kecil masuk dan langsung berlari memeluk Diana. Diana meringis kesakitan tetapi dia tahan ketika pelukan Conrad menyenggol luka di bahu nya.


"Mommyy... Conrad kangen. Mommy kenapa tidur lama sekali. Banyak hal bisa kita lakukan saat kita bangun." ujar Conrad dengan manja.


"Tentu saja. Maafkan mommy ya, karena mommy baru bangun. Mommy juga kangen bermain dengan Conrad." sahut Diana sambil menciumi kening Conrad dengan penuh kerinduan.


"Sekarang ceritakan apa yang mommy lewatkan." tanya Diana yang langsung disambut dengan kicauan dari bibir mungil tersebut.


Conrad berapi- api menceritakan banyak hal kecuali bagian dimana Diana menghilang dari mall karena Lia sudah memperingati Conrad kalau hal itu tidak bagus untuk kesehatan ibunya. Meskipun penuh tanda tanya, Conrad menuruti.


Sedangkan tentang penembakan, Conrad memang tidak mengetahui kejadian itu.


Diana dan tuan besar Arthur sesekali tertawa mendengarkan cerita Conrad.


"Mommy, apakah kau sudah bisa berjalan?" tanya Conrad.


"Belum sayang. Mungkin beberapa hari lagi, mommy akan terbiasa."


"Tentu saja. Conrad akan menjaga mommy." ujar Conrad sambil menepuk dadanya.


***************


Andrew keluar dari ruang olah raga di lantai atas yang memiliki jacuzzi. Dia sudah mempersiapkan kolam berendam itu untuk Diana. Lilin aromatherapi telah di persiapkan. Semua dia lakukan untuk mempercepat pemulihan tubuh Diana.


Andrew masuk ke lantai bawah di mana Diana berada dan wanita sudah bisa duduk dengan tegak saat ini. Rasa kaku di bagian operasi telah melentur kembali berkat tekatnya yang kuat untuk sembuh.

__ADS_1


Andrew mengangkat tubuh Diana yang semakin ringan itu menuju ke lantai atas di ruang jacuzzi.


Dengan lembut dia melepaskan pakaian Diana dan menggosok seluruh tubuh wanita itu dengan air hangat.


Setelah dirasa cukup bersih, Andrew meletakan Diana di dalam kolam jacuzzi bersama dirinya.


Dia menekan beberapa tombol untuk mengatur kehangatan air juga gelombangnya.


"Bagaimana apakah Γ§ukup hangat untukmu?" tanya Andrew lembut di telinga Diana.


"Heemh.." Diana bersandar di dada pria itu dengan nyaman.


Andrew memencet tombol lainnya sehingga ruangan di hadapan mereka berubah suasana seperti diatas pegunungan.


"Begitu kau sehat, aku akan menikahimu. Kita akan menikah di taman terbuka seperti yang kau inginkan." ucap Andrew lembut sambil mengecup jari-jari Diana.


Jari jemari sederhana itu hanya memiliki satu cincin yang melingkar manis. Itu adalah cincin pemberian darinya. Meskipun berulangkali Andrew membelikannya perhiasan. Tapi Diana hanya memakai seadanya saja.


Diana mendongakan kepala ya menatap Andrew tidak mengerti.


"Apakah kita sudah bisa menikah?"


Andrew tersenyum.


"Tentu saja sayang. Kita sudah bisa menikah."


"Lalu bagaimana dengan dia, apakah dia sudah menandatangani surat cerai dan tidak akan menghina ku lagi?" tanya Diana masih tidak mengerti.


"Iya sayang. Jalan kebahagiaan untuk kita tidak akan ada lagi penghalang." ujar Andrew lembut sambil memeluk bahu Diana.


"Apakah kau bersungguh-sungguh? Apakah Rachel melakukannya dengan tulus tanpa tekanan?"tanya Diana kembali tidak mengerti.


Andrew mengangguk mantap. Karena pada akhirnya, Rachel telah mengorbankan dirinya untuk keselamatan Andrew. Rachel telah membuka jalan bagi kebahagiaan mereka.


Diana belum bisa mengingat semua peristiwa yang membuatnya koma. Dia tidak menyadari ketika saat itu Rachel tertembak.


"Ah..." Diana mendesah dan menyandar kembali di dada Andrew sambil tersenyum bahagia.


"Swiss." ucap Diana tiba-tiba.


"Ya sayang?"


"Aku ingin pergi melihat Swiss."


"Tentu saja. Saat honeymoon nanti kita akan ke Swiss. Kenapa kau tiba-tiba menginginkan Swiss?" tanya Andrew heran.


"Aku melihatnya begitu indah di crash landing on you. "


"Heh?"


"Hahahahahha sebuah serial Korea. Aku dan Lia menontonnya bersama dan kami sama-sama menyukai Hyu Bin."


"U bin ?"


Diana memukul pundak Andrew.


"H Y U B I N N." menekankan setiap kata.


"Apakah dia tampan?"


"Tentu saja!"


"Lebih tampan dariku?" tanya Andrew dengan nada tidak suka.


"Kau cemburu?" jawab Diana menggoda.


"Bagaimana tidak cemburu jika wanitamu mengagumi pria lain?" sahut Andrew kesal.


"Dia hanya aktor sayanggg... Dan kau jauh lebih tampan dari pada dirinya. " ujar Diana sambil memutar tubuhnya mengahadap Andrew dan mencubit kedua pipi pria itu dengan gemas.


"Benarkah?"


Diana mengangguk mantap sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


Saat itu Andrew menyambut senyumannya dengam ******* hangat di bibir.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


__ADS_2