
Pukul enam sore, Andrew sudah kembali ke mansion. Dia tidak berani pulang terlalu larut malam, karena semenjak jam tiga sore Diana sudah kerap mengingatkannya. Akhirnya Andrew menyelesaikan pekerjaan jam empat sore dan menuju asia market. Untuk hal berbelanja tentu saja Supir yang menjadi andalannya.
Sepanjang perjalanan Andrew menggunakan masker. Meskipun buah durian itu berada di bagasi tetap saja jejak baunya sedikit masuk ke dalam mobil. Dan pada akhirnya ketika sampai di area mansion, Andrew membuka kaca mobil. Namanya gak suka dipaksa juga tidak suka kan.
Sesampainya di mansion, bukan kecupan hangat yang dia dapatkan, melainkan tangan yang terulur kedepan.
"Bawa durian tidak?" Tanya Diana langsung menodong ketika melihat Andrew datang.
"Iya ini aku sudah bawa ini ada di dalam kantong." Ujar Andrew sambil menunjukan kantong kertas berwarna coklat.
Diana tersenyum gembira sambil membawa kantong itu kedalam. Diana langsung menuju ke ruang makan dan meletakan kantong itu diatas meja. Dia mengeluarkan isinya dan tersenyum melihat buah durian yang sudah di kupas dan diletakan dalam wadah dengan plastik wrap. Diana mencium aroma durian itu dengan sangat puas.
Dia juga mengeluarkan dan menyimpan teh chrysanteum ke dalam lemari makanan. Hari ini semua yang dia inginkan hampir lengkap semuanya. Tinggal giliran korbannya, Andrew.
Diana menyeduh teh Chrysantenum itu dan menikmati aroma wanginya. Dia menyiapkan dua gelas teh tersebut. Satu untuk dirinya dan satu untuk Andrew. Untuk minuman ini tidak masalah bagi Andrew. Aroma dan baunya masih dapat dia terima. Teh chrisanteum pun bagus di minum setelah makan durian, untuk meredakan hawa panas dari buah eksotik tersebut.
"Sini sayangku." Diana memanggil Andrew dan menepuk-nepuk meja di sampingnya.
Andrew dengan langkah gontai duduk di sebelah Diana. Dia menyesap secangkir ter di hadapannya dan mempertahankan gelas itu di dekat hidung, aroma wanginya cukup mampu mengalahkan aroma menyengat durian.
"Kau yakin aku harus memakannya?" Tanya Andrew perlahan, mencoba bernegosiasi lagi.
Diana sebenarnya melihat kegelisahan dan rasa enggan diraut wajah Andrew. Dia hampir saja tidak tega, tapi jika mengigat seharian dia begitu menginginkan melihat Andrew menikmati durian dia harus menguatkan hati, agar si jabang bayi tidak ngambek.
Diana mengangguk manja. Matanya berbinar bagaikan seorang remaja yang menginginkan sesuatu. Dan Andrew tidak kuasa menolak wajah dan sinar mata yang polos itu.
"Baiklah demi dirimu dan triplet, sayang." Ujar Andrew pasrah.
"Terimakasih cintaku." Ujar Diana lembut.
"Sebentar, aku minta cheft Paul untuk meletakannya di piring. PAUL!!" Teriak Andrew memanggil juru masak utamanya.
"Biar aku saja yang membuka plastiknya," ujar Diana.
"Jangan. Nanti tanganmu kotor dan kau ingin mencicipinya." Andrew mencegah Diana menyentuh bungkusan durian itu.
"Ya tuan," Cheft Paul sudah berada di dekat mereka.
"Letakan di piring." Andrew menatap tajam pada koki andalannya yang membawa sebungkus durian ke belakang.
"Baik tuan." Cheft Paul segera masuk ke dapur kering yang bersebelahan dengan ruang makan. Tak lama kemudian cheft Paul kembali dengan membawa sepiring durian lengkao dengan sendok kecil dan meletakan di depan Andrew.
Andrew menatap cheft Paul dengan tajam dan dia melirik piring yang berisi durian itu.
Kemudian dia memandang Diana lagi dengan penuh harap, agar wanita itu merasa kasihan dan menghentikan permintaannya.
Tapi sia-sia karena keinginan Diana tetap kuat.
"Ayo sayang makanlah. Enak kok. Kaya moose." Ujar Diana bersemangat.
"Baiklah."
Andrew tampak enggan memotong durian itu dengan sendok kecil dan memasukan kedalam mulut. Dia menunjukan raut wajah tidak suka. Satu potongan kecil lagi dan memakannya dengam cepat. Wajah Andrew tampak menunjukan ketidaksuakaan dan tampak sangat menderita. Setelah tiga suapan kecil, Diana menyudahinya.
"Sudah sayang, cukup. Aku sudah merasa puas dan bahagia kau rela melakukannya untuk ketiga bayi ini." Ujar Diana dengan bersyukur.
"Ah, Jika begitu akan aku tambah satu suap lagi untuk dirimu." Ujar Andrew sambil memotong daging durian porsi besar dan memakannya.
Mata Diana berkaca-kaca melihat tindakan Andrew, dia sangat terharu. Diana beranjak dari kursi hendak memeluk Andrew. Namun sebelumnya Andrew dengan segera meminum segelas air putih, kemudian dia membalas pelukan istrinya. Andrew dengan segera menggendong Diana masuk ke dalam kamar, ketika Aaron dan Francesca mulai masuk ke dalam ruang makan.
Di dalam kamar Diana mencium Andrew dari lembut dan mengganas. Dia melucuti pakaian suaminya. Perasaannya saat ini sangat bahagia karena merasa dimanja dan diutamakan oleh Andrew. Diana mengambil kontrol kali ini.
__ADS_1
Andrew sangat senang sekali, karena sikap sang istri. Hasrat Diana mudah meledak ketika hamil ini, meskipun sebagian besar lebih sering tertidur pulas sebelum tersalurkan.
Tapi hari ini Andrew tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Kali ini dia harus bergerak cepat, sebelum ada keinginan aneh lagi dari Diana dan berakhir tertidur pulas sebelum hasrat tersalurkan. Dia mengangkat tubuh telanjang Diana ke atas tempat tidur. Dengan posis miring dimana dirinya bisa memeluk dan menjelajahi tubuh istrinya dengan mudah, di posisi itu lah mereka saling menyalurkan keinginan yang terpendam.
Sang Naga merasa menang dan puas menggeliat di dalam gua kenikmatan.
Desahan sensual keluar dari bibir Diana ketika penyatuan terjadi. Andrew menggoyangkan panggulnya dengan amat sangat perlahan. Dia memperlakukan Diana dengan sangat lembut. Posisi yang dia lakukan saat ini adalah posisi aman yang tidak akan mengganggu janin.
Satu lengan Andrew menopang Diana, sedangkan satu tangan yang lainnya, meraba, meremas dan memberikan rangsangan lebih di bagian inti kewanitaan. Ciuman Andrew di seputar leher dan bahu menambah gairah ibu hamil satu ini.
Diana terkulai lemah karena kehebatan suaminya dia bisa menikmati puncak kenikmatan selama beberapa kali. Sedangkan Andrew sudah harus cukup puas dengan hanya sekali saja.
Diana tertidur dengan lelap dan puas. Berbeda dengan Andrew yang masih terjaga dan membersihkan ceceran hasil percintaan mereka. Meskipin demikian, Andrew tersenyum puas, berkat durian dia mendapatkan jatah hari ini. Tidak ada salahnya kan meneyenangkan hati wanita hamil.
Tetapi jangan sampai Diana tahu rahasia dibalik durian. Karena jika dia tahu kebohongan Andrew, Hahahaha. Bisa panjang masalahnya.
FLASH BACK
Setelah mendapatkan telphone dari Diana yang meminta dirinya membeli dan memakan durian dihadapannya. Andrew merasa galau seharian. Keinginan nya untuk menolak takut berakibat panjang dan bisa terusir tidur di samping Diana lagi. Sedangkan Andrew akan mengalami sindrom susah tidur tanpa Diana di sisi nya.
Patricia sekretaris nya yang sudah bekerja puluhan tahun, masuk dan memandang heran pada tuannya. Beberapa hari tidak masuk kerja bukannya tambah bersemangat, tapi pria yang dulu nya penggila kerja itu tampak lesu.
"Ada apa tuan, kenapa wajahmu keruh?" tanyanya penasaran.
Andrew mengangkat kepalanya dan menatap Patricia.
"Diana hamil. Kembar tiga." Gumam Andrew.
"Wow! Selamat! Ini hebat sekali bibit dan ladangnya sungguh premium." Kata Patricia dengan bersemangat. Tetapi sekali lagi dia merasa heran, bagaimana mungkin Andrew berwajah masam dengan kejadian luar biasa yang dialami dirinya.
"Tapi, kenapa anda tampak tidak bersemangat? Apakah bayi kembar tiga membuat anda tidak suka?" Tanya Patricia heran.
"Lalu, kenapa anda tidak bersemangat? Apakah perihal kerjasama dengan pabrik bir yang belum mencapai kata sepakat?" tanya Patricia.
"Keinginannya itu yang membuat aku pusing. Kau bayangkan sekarang dia meminta aku membeli durian dan memakan buah aneh itu dihadapannya. Kau tahu kan kalau aku tidak menyukai buah dengan bau menyengat itu." Gerutu Andrew kesal.
Patricia tertawa kecil dan segera menghentikannya ketika Andrew melotot padanya.
"Gampangg buat saja tiruannya." Ujar Ptricia santai.
"Tiruan? Maksudnya?" Andrew penasaran.
"Buat saja cake yang menyerupai durian dan yang pasti jangan sampai nyonya Diana mengetahuinya. Aman sudah. Dia senang anda pun aman." Patricia memberikan ide pada Andrew.
"Ah benar juga. Paul harus bisa membuatnya. Kau hebat. Terimakasih Patricia." Kata Andrew dengan lega.
"Tentu saja. Semoga berhasil tuan. Fighting!" Patricia memberi semangat.
Wanita itu kemudian keluar dengan senang hati karena berhasil memberi ide luar biasa pada tuannya. Tapi tak lama kemudian, Patricia mengetuk pintu dan masuk lagi.
"Ada apa?" tanya Andrew heran.
"Maaf, sata sampai lupa meletakan dokumen ini." ujar Patricia. Dia kemudian meletakan dokumen dihadapan Andrew dan berjingkat keluar.
Saat itu juga Andrew tidak menyianyiakan kesempatan untuk menghubungi butler Jhon.
"Jhon, perintahkan Paul untuk membuat cake yang menyerupai durian." Perintah Andrew langsung.
"Durian tuan?" Tanya Butler Jhon heran.
"Iya harus persis."
__ADS_1
"Seperti kulitnya?" Butler Jhon tidak mengerti
"Tidak perlu. Seperti dalam kemasan saja. "
"Lalu apa yang akan dilakukan dengan kue itu tuan?"
"Ya dimakan lah. Jangan sampai nyonya tau. Aku akan membawa pulang durian asli. Dan Paul harus menukarnya dengan cake buatannya di piring. INGAT JANGAN SAMPAI NYONYA TAHU. Dan satu hal, jika Paul tidak bisa membuatnya dengan sangat mirip, lebih baik dia kembali berkerja di kapal pesiar saja." Ancam Andrew dengan menekankan setiap kata dalam kalimatnya.
Begitu lah awalnya. Dan siang itu dapur di hebohkan dengan mecari tutorial cara menghias cake seperti durian. Cheft Paul harus belajar dengan kilat. Taruhannya sangat berat, yaitu masa depan pekerjaannya. Dia tidak ingin meninggalkan Mansion ini dan meninggalkan tambatan hatinya, Matilda.
Ya... diam-diam cheft Paul menyukai Matilda. Pengasuh satu ini adalah seorang janda tanpa anak. Dan sifat lugu juga penyanyang nya menjadikan dirinya seringkali di kerjai oleh duo kurcaci, tapi Matilda tidak pernah marah ataupun kecil hati. Karena itu lah cheft Paul menyukainya.
Dengan segenap hati, diam-diam cheft Paul bersembunyi di gudang makanan untuk mengolah cake tersebut. Perintah jangan sampai nyonya tahu, membuat semua pelayan harus bekerja sama, mencegah nyonya ke dapur. Dan untuk hal ini yang paling mengambil andil adalah Matilda dan Maria. Kedua pengasuh ini menanamkan ide pada Aaron dan Francesca agar meminta Diana menemani mereka tidur siang.
Saat sore hari, Ketika Andrew sudah pulang dan saat dia meminta cheft Paul meletakan duria diatas piring, pandangan tajam sedingin es dari Andrew merupakan isyarat. Jantung Cheft Paul berdebar kencang menangkap isyarat tersebut.
Dan disaat cheft Paul meletakan sepiring cake bermotif durian itu dihadapan Andrew, dia lebih berdebar lagi. Dia takut jika nyonya tiba-tiba mencolek atau mencium aromanya. Dan cheft Paul hanya dapat berdoa, berharap hal itu tidak terjadi. Dibutuhkan kerjasama yang cerdik dari tuan Andrew.
Saat Andrew mulai menyantap cake itu, cheft Paul pun mulai gelisah. Jika dia gagal dan penipuan itu terungkap, maka tamatlah kehidupan menyenangkan berkerja di Mansion.
Dan ketika Diana menghampiri Andrew karena terharu saat melihat pria itu memakan durian drngan terpaksa untuknya, Andrew cepat-cepat meminum air putih untuk menghilangkan aroma harum dari cake.
Tak lama setelah mereka berpelukan, kedua kurcaci, Aaron dan Francesca bermain kejar-kejaran dan masuk ke dalam ruang makan. Mata mereka terbelalak melihat cake unik di meja yang baru saja Andrew makan.
Itu sebabnya Andrew dengan segera menggendong Diana dan membawa wanita itu bergegas masuk ke dalam kamar. Sayup-sayup dia mendengar Aaron dan Francesca berebutan makan cake mirip durian itu. Dan Andrew merasa lega, karena Diana tidak mengira jika yang diperebutkan kedua bocah itu adalah cake tiruan yang sudah di makan oleh dirinya.
Di ruang makan, Aaron dan Francesca berebut memakan kue mirip durian itu dan ketika mereka beranjak ke arah dapur, mereka melihat sepiring lagi. Tangan mereka sudah siap menggapai dan memakan cake yang asli. Hampir saja ketahuan.
Untung Butler Jhon memanggil mereka dan mengatakan jika kartun Marsha and the Bear sudah dimulai. Kedua bocah itu secepat kilat berebutan menuju ke ruang keluarga. Dan cheft Paul bisa bernafas lega. Sambil memandang durian itu, dia beranggapan jika ini rejeki dirinya menikmati buah eksotik tersebut.
Andrew kini mengerti menghadapi ibu hamil, dia harus cerdik. Bukan semata-mata menuruti keinginan dan mengorbankan diri sendiri.
Baru saja dia akan tertidur pulas, terdengar ketukan di pintu kamar. Andrew segera membuka pintu dan masuklah Aaron juga Francesca tanpa menunggu ijin.
"Daddyyyyy." Aaron meminta ayahnya untuk menggendong. Sementara Francesca berlari dan berbaring di sisi Diana yang masih terlelap.
"Aaron dan Frances jangan ribut ya. Mommy masih tidur." ujar Andrew.
"Aaon tidak ramai kok. Daddy, tadi cheft buat kue enak sekali. Tapi modelnya jelek, kaya telur kurang gizi." cerita Aaron pada ayahnya.
"Maksudnya cake yang mana?" tanya Andrew heran.
"Cake di ruang makan, yang daddy makan tadi." celoteh Aaron.
Andrew seketika tegang. Dia segera menghampiri Francesca dan menggendong anak gadis itu. Dia harus membawa kedua anak itu keluar dengan segera sebelum Diana terbangun.
"Ayo main diluar, jangan ganggu mommy." ajak Andrew.
"Enak kan Frances, cake telur pucat tadi, sisa daddy. Kenapa tidak dihabiskan dad?" Kata Aaron dengan lantang
"Kue apa Aaron?" Diana menggeliat bangun dari tidurnya.
"Mommyyyy... Dad mommy sudah bangun. Aaron mau ke mommy dulu."
Andrew kaget. Langkahnya tercekat di ambang pintu. Dia saat ini galau maju dan keluar kamar atau berbalik dan berjuang terhadap tragedi yang bisa saja terjadi.
"OH TUHAN, tolong hamba-Mu ini." jerit Andrew dalam hati.
...ππππππππ...
__ADS_1