Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Putri yang berharga


__ADS_3

Berbeda lagi dengan kesibukan di mansion Diana. satu mobil sudah siap mengangkut perlatan musik Francesca dan sound system. Gadis ini memang belajar mengasah kemampuannya dan rasa percaya diri dengan dengam tampil di depan umum. Tentu saja Pertokoan Riverview adalah pilihan yang tepat, karena selalu ramai oleh pengunjung.


Satu mobil lagi di penuhi oleh anak-anak Diana. Aaron duduk di depan, Diana dan Adel duduk ditengan sedangkan Anna, Archie dan Velina duduk di belakang.


Francesca memilih duduk bersama dengan biola juga Matilda dan Maria. Seharusnya Aaron biasanya yang menemani Francesca, tetapi karena Velina semobil dengan Anna. Membuat Aaron bersikeukuh dudu di mobil yang sama. Meskipun... dia hanya diam saja di dalam mobil. Aaron yang biasanya suka bercerita dan menggoda adik-adiknya, kali ini diam mematung.


Aaron hanya melirik Velina sesekali dari kaca spion. Tawa dan senyumannya begitu menarik bagi Aaron. Gadis yang menginjak remaja itu tampak berbeda, dengan bayi yang ada di album foto. Velina yang cantik manis, kulitnya halus bagaikan kulit Asia, tetapi raut wajahnya bagaikan wanita keturunan Eropa.


Velina tampak lebih tenang dan anggun. Dia cukup tegas dan ceria untuk ukuran anak yang tinggal di panti asuhan. Mungkin karena Velina menyakini jika tuan dan nyonya Ron adalah orang tua angkat nya. Sikap rendah hati dan pengertiannya, terbentuk dari bergaul dengan banyak anak di panti asuhan.


Sesekali tanpa sadar, pandangan mata mereka bertemu. Namun, Aaron buru-buru memalingkan pandangannya. Dia merasa gugup karena tertangkap sedang memperhatikan Velina. Sedangkan gadis itu yang masih memiliki jiwa anak-anak, merasa jika Aaron tidak menyukainya. Aaron tidak pernah berbicara dan menatapnya langsung.


Sesampainya di Riverview Squere. Pengawal membantu mempersiapkan peralatan. Mereka kemudian mulai mengambil tempat dengan duduk di cafe yang terletak tepat di depan Francesca akan bermain musik. Hari ini Aaron akan bermain keybord menemani Francesca bermain biola.


Sementara Conrad baru saja sampai dengan Ruby, menggunakan mobil tua nya. Ruby tampak manis hari ini. Dia mengenakan blouse model sabrina dengan bahu sedikit terbuka dan rok panjang selutut. Mereka bertemu dengan Robert dan Jasmine. Jasmine mengenakana bluse dengan kancing tertutup dan rok panjang semata kaki.


"Hai Jasmine." sapa Ruby dengan ceria.


"Hai Ruby, bagaimana keadaanmu?" tanya Jasmine langsung.


"Aku sudah baik-baik saja berkat salep yang dibelikan Conrad." ujar nya dengan ceria.


"Memangnya apa yang terjadi?" tanya Robert heran.


Ternyata Jasmine tidak menceritakan kejadian kemarin kepada Robert


"Aku tidak sengaja menyiram Ruby dengan kuah mie instant." cerita Jasmine.


Robert terkekeh.


"Lalu... bau micin dong kau Ruby, hahhaha." Robert menanggapi nya dengan tertawa geli.


"Kakak! Ruby sampai menjerit kesakitan loh. Bahkan Conrad harus menggendongnya untuk pulang." Jasmine menegur kakaknya yang tidak berperasaan.


"Ah... benarkah? Tapi gak apa-apa kah aku tertawa sekarang. Kalau dibayangkan lucu. Putri noodle." Robert kembali terkekeh. Jasmie mencubit kakaknya yang tidak berhenti tertawa, dia merasa tidak enak dengan Ruby yang tersipu dan Conrad yang tampak dingin padanya.


"Apakah mereka adik-adikmu?" tanya Ruby. Dengan dagu nya dia menunjuk ke arah Aaron dan Francesca yang sedang cek sound.


"Iya benar. Sini aku perkenalkan kalian dengan keluarga ku." Conrad menarik tangan Ruby. Ruby dengan senang hati mengikuti langkah Conrad.


Jasmine dan Robert mengikutinya dari belakang. Melihat Conrad menggandeng tangan Ruby, Robert menolek ke arah adiknya. Dia melihat raut wajah Jasmine tampak datar, seakan tidak terpengaruh dengan pemandangan dihadapannya.


"Kau cemburu?" bisik Robret.


"Apaan sih kakak?"


"Kalau kau cemburu, aku bisa mengganggu mereka." ujar Robert lagi.


"Tinggalkan mereka! Biarkan semua mengalir apa adanya."


"Kau yakin?" bisik Robert sambil mengerenyitkan keningnya.


"Sstt diamlah. Jadilah kakakku dan teman mereka yang baik." sahut Jasmine.


"Terserah padamu."


Robert memutuskan untuk menahan diri. Meskipun dia ingin mendekati dan menggoda Ruby, tetapi karena Jasmine melarang dia ikut campur, maka Robert belum mengambil langkah apapun. Jasmine khawatir jika kakaknya akan mempermainkan Ruby dan membuat temannya itu patah hati. Jasmine tidak ingin itu terjadi.


Jasmine yang semenjak awal pertemuan mulai menyukai Conrad. Berkenalan dengan memaksa dan tak jemu menemui Conrad di perpustakaan. Baru kali ini, ada seorang pria yang begitu tidak perduli dengan dirinya. Semenjak sekolah dasar, banyak pria yang menyukai Jasmine. Jasmine cantik yang manja namun baik hati. Dia lincah dan cerdas, membuat semua teman, baik pria dan wanita menyukainya.

__ADS_1


Jasmine sudah sering membuat pria patah hati karena ditolak oleh dirinya. Jasmine belum pernah merasakan jatuh cinta. Karena seperti yang orang tuanya katakan dan selalu diulangi oleh Lupita, jika Jasmine itu adalah putri yang berharga. Dan yang boleh memiliki Jasmine hanyalah seorang pangeran yang bisa melindungi dan mencintai dirinya.


"Berhati-hatilah memilih pangeranmu. Tidak semua pria tampan itu baik. Kau harus mengenali mereka terlebih dahulu. Mereka harus mencintai dan menghargai dirimu."


Pesan itu lah yang membuat Jasmine tidak pernah jatuh cinta, sebelum bertemu Conrad. Semakin dekat dengan Conrad, semakin dia menyukainya. Conrad anak yang cerdas, mudah bergaul dan sangat macho. Meskipun dia lahir dari keluarga biasa dengan banyak adik.


"Ruby, perkenalkan ini mommy ku. Mommy Diana."


"Hallo tante," sapa Ruby dengan lembut.


"Oh hai Ruby, teman baik Conrad ya, kau cantik sekali." Puji Diana langsung.


"Terimakasih tante." Ruby tersipu.


"Adik-adik Conrad tampak cantik dan tampan sekali ya. Tante juga sangat cantik." ujar Ruby memuji dengan tulus.


"Terimakasih Ruby."


"Semua anak tante, pandai bermain musik?" tanyanya lagi.


" Lumayan lah. Conrad juga pandai loh. Apakah kamu tahu?"


"Benarkah? Aku tidak tahu itu. Dia tidak pernah menceritakan padaku. Apakah boleh aku melihat kemahiranmu kali ini?" Ruby menoleh dan menatap Conrad penuh arti.


"Hemm.. kau benar ingin melihatku bermain musik?" Conrad memandang Ruby dengam hangat.


Ruby mengangguk dan tersenyum hangat.


Percakapan antara Ruby, Conrad dan Diana terus berlangsung. Ruby tidak hentinya bersikap ceria dan memuji Diana. Dia mendominasi percakapan. Conrad menyukai sikap Ruby yang sudah terbuka. Hingga dia lupa untuk memperkenalkan Jasmine dan Robert pada Diana.


Berkali-kali Diana melirik pada Jasmine, yang menyapa nya dengan mengangguk dan tersenyum sopan. Gadis itu tidak berusaha masuk dalam percakapan merek bertiga. Dengan tenang dia duduk di dekat Adelaide. Sedangkan Robert dengan santai duduk di meja lain sambil memesan makanan.


"Iya benar. Kakak teman kak Conrad?" tanya Adel.


Jasmine mengangguk.


"Itu kakak ku, Robert dan dia Ruby." Jasmine menunjukan pada mereka kearah Robert dan Ruby.


"Wah... kakak cantik sekali." Anna tiba-tiba bergabung dengan mereka. Gadis itu langsung berdiri dihadapan Jasmine dan menatap gadis itu.


"Oh hai. Kamu juga cantik sekali. Namamu siapa?"


"Aku Anna, Dia Adelaide. Itu Archie. Kami saudara kembar loh. Tapi gak mirip ya. Hahhahaha.. Karena kata mommy, kami dari sel telur yang berbeda. Hebat ya daddy ku, bisa membuahi tiga sel telur sekaligus. Hahhaha." Anna bercerita dengan bangga seakan-akan mengerti bagaimana proses pembuahan itu terjadi.


"Iya Hebat. Meskipun tidak sama, tapi kalian semua cantik dan tampan." sahut Jasmine.


"Nah, yang di depan sana Kakakku Francesca nomor dua dan Aaron nomor tiga. Tumben ya, kak Aaron mau tampil menemani kak Frances." Anna meletakan telunjuk kanannya ke dagu, berpikir.


"Pasti kalah taruhan!" sahut Archie tiba-tiba.


"Taruhan apa?" tanya Adelaide.


"Mana aku tau." Archie mengangkat bahu nya.


"Huuu dasar. Kirain kamu tahu." sahut Anna jengkel.


Jasmine tertawa kecil. Dia senang sekali melihat keakraban diantara mereka. Jasmine yang selalu merasa kesepian, menjadi sangat senang berada ditengah-tengah mereka.


"Yang ini siapa?" tanya Jasmine kepada Velina.

__ADS_1


"Ini velina, sahabat kami. Dia anak teman baik mommy." jawab Anna.


"Hai kakak Jasmine."


"Hai Velina."


"Kak, mau pastel?" Adel menawarkan pastel yang sudah dipersiapkan oleh Diana.


"Pastel?"


"Iya, enak loh kaya taco. Tapi aku lebih suka ini." Anna mencomot saru buah pastel lagi.


"Jangan makan terus." omel Archie.


"Biarin. Memangnya dibuat untuk apa kalau bukan dimakan." balas Anna.


"Enak kak?" tanya Archie saat dia melihat Jasmine mulai memakan kue buatannya.


"Enak sekali. Kalian yang membuat?"


"Archie yang paling pandai." celetuk Anna.


"Wah, Archie hebat sekali."


Archie tersenyum bangga.


"Boleh kakak minta untuk Kakakku, biar dia tahu kehebatan Archie. "


Archie mengangguk dengan senang.


Jasmine kemudian melambaikan tangan kepada Robert. Pemuda itu mematikan rokok nya dan menghampiri mereka. Dia tersenyum ramah dan berkenalan dengan adik-adik Conrad.


*Ngapain juga aku harus disini dan menjadi pengasuh anak. Ah... yang satu itu cantik juga*.


"Yang main biola itu siapa?" tanya Robert penasaran.


"Ooo.. itu adik pertama Conrad."


"Namanya?"


"Francesca."


"Ooo... Francesca."


"Kenapa?" tanya Jasmine heran pada kakaknya.


"Tanya saja. Umur berapa dia?" Robert masih penasaran.


"Entahlah. Sekitar lima belas atau enam belas mungkin." Jasmine memandang kakak nya yang tampak menikmati permainan lincah dari Francesca.


"Jangan main-main ya sama dia. Masih kecil kakak. Jangan kau rusak dia! Awas, aku rebut semua saham mu!" ancam Jasmine. Dia meloto ke arah kakak nya yang memang seorang playboy.


"Duh... masih kecil enggak lah. Tapi kalau tiga, empat tahun lagi makin ranum tuh." ujar Robert dengan terkekeh.


"Kakak!"


"Iya tuan putri, aku mengerti."


Mereka kemudian terdiam menikmati alunan musik yang dimainkan oleh Francesca dan Aaron. Jasmine sesekali melirik ke arah Conrad yang duduk di samping Ruby. Pemuda itu sedari tadi tidak mengajaknya berbicara. Conrad hanya tersenyum sepintas saja pada Jasmine.

__ADS_1


Hati Jasmine penuh tanda tanya. Karena semalam dia sedikit tersentuh dengan perhatian Conrad, yang kembali ke mini market mencari dirinya. Tentu saja Jasmine tidak ingin merepotkan Conrad dan membuatnya merasa bersalah dengan mengatakan keadaan dirinya. Meskipun kedua lutut Jasmine masih perih dan terbalut perban, dia tetap datang dengan. Dan memar di keningnya berhasil dia tutupi dengan make up dan poni.


__ADS_2