Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
41. Tinggal bersamanya


__ADS_3

Seperti biasa setiap home port kami akan selalu bertemu di Condominium hingga satu setengah jam sebelum keberangkatan kapal kembali. Dan saat ini kami sedang duduk di dapur sambil menikmati sarapan yang telah aku siapkan . Semua bahan sudah tersedia aku tinggal mengolahnya saja. Mungkin Papito yang sudah berbelanja . Meskipun sering kali Andrew bergelanyut manja menggodaku yang sedang menggoreng bacon dan telur, tapo akhirnya dia mau melepaskanku ketika bunyi toster berdenting.


Kami menikmati sarapan pagi dengan ceria.


"Siapa Meredith, Andrew?" Pertanyaan pertama yang aku ajukan ketika pertama kali bertemu dengan Andrew di hari Rabu pagi.


Andrew tampak terkejut mendengar aku bertanya tentang nama itu. Dia menatapku tajam .


"Bagaimana kau mengenal dia?" tanya Andrew kembali tanpa menjawab pertanyaanku.


"Aku bertemu dia di kapal pesiar. " jawab ku.


"Apa yang dia katakan?" ada nada penasaran dan geram dari pertanyaannya.


"Tidak banyak. " jawabku berusaha menutupi.


"Ceritakan apa saja yang dia katakan padamu!" Nada suara Andrew lebih tegas dan memaksa. Aku menghela nafas mengurangi rasa sesak di dada. Dari sikap Andrew tampaknya memang ada sesuatu hal yang dia tidak ingin aku ketahui.


"Dia bilang kalau kau adalah kekasihnya. Dan keberadaanku membuat kau mencampakannya. " Andrew diam tidak menimpali perkataanku


" Apa dia menyakiti mu?" tanya Andrew lagi dengan enasaran.


Aku hanya mengangkat bahuku. Aku tidak tahu apakah insiden yang terjadi di kapal pesiar akan mengganggunya atau justru mempermalukan diriku dihadapan Andrew.


"Katakan padaku apa dia menyakitimu?" tanya Andrew kembali.


Aku menggelengkan kepalaku.


"Aku tidak percaya kalau dia diam saja ketika bertemu denganmu." Andrew kemudian mengambil ponsel di meja dan menghubungi seseorang sambil keluar ke balcony. Pertama kali bagiku melihat wajah nya yang tampak begitu gusar.


Aku tidak dapat mendengar percakapannya di telphone dengan jelas, tampak sesekali Andrew mengepalkan tangannya dan memukul pagar pembatas balcony.


Merasa situasi yang tidak menyenangkan, segera


aku menyeduh earl grey tea untuk Andrew dan diriku.


Ketika dia datang segera aku sodorkan teh hangat kepadanya sebelum dia membuka percakapan. Ini adalah usaha kecil ku untuk meredakan ketegangan.


"Sudah aku katakan kalau kau tidak perlu bekerja kembali." Andrew meletakan gelas teh pada coster.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa ." Aku menggelengkan kepalaku dan tersenyum manis kepadanya berusaha meyakinkan diri.


"Jangan katakan kau tidak apa-apa lagi." Andrew menjentik keningku pelan.


"Aow."


"Kau tidak perlu kembali lagi ke kapal !" Suara Andrew terdengar lebih tegas dan memaksa.


"Tapi bagaimana dengan statusku sebagai perkerja. Aku tidak mau dianggap buronan negara mu . "


"Itu tidak akan terjadi. Kemarikan id mu . " Kembali Andrew menghubungi seseorang.


"Papito naiklah keatas ada tugas untukmu. " Andrew memanggil supir pribadinya. Supir berkebangsaan latin dan telah mengabdi pada keluarga nya semenjak dia bayi


Ketukan di pintu menandakan Papito sudah sampai.


Andrew beranjak dan membuka pintu.


"Papito kembali lah ke kapal dan bawa id ini. Berikan pada Anthony dia tahu apa yang harus dilakukan."


"Baik tuan." Papito pergi meninggalkan kami.


"Kau tidak perlu kuatir. Aku bisa membuatkan kontrak kerja baru bagimu sehingga kau bisa tetap tinggal disini." Andrew kembali duduk di sofa dengan masih memikirkan sesuatu.


Aku menghampiri nya dan duduk disampingnya.


"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi. " tanyaku yang masih penasaran.


Andrew menghela nafas dan mulai menatapku.


"Meredith adalah sepupu dari kenalanku." jawab Andrew singkat.


"hmmm. " Aku mengurungkan niat untuk bertanya lebih lanjut. Banyak hal yang bergayut dalam pikiranku. Seberapa dekat hubungan mereka dan bagaimana mereka melalui hari sebelumnya. Seberapa banyak wanita di sisi nya. Tiga orang wanita yang sudah menghinaku merebut Andrew pertama Gladys, Lisa dan Meredith.


"Perusahaan kami pernah melakukan hubungan kerjasama . Sebagian furniture di kapal diambil dari erusahaan keluarga Meredith." Andrew menjelaskan.


"Kau tahu bukan aku adalah lelaki gampan yang menjadi rebutan banyak wanita. Dan kau harus bersyukur sebab hanya kau satu - satunya yang aku pilih. " Mendengar perkataanya entahlah haruskah aku bahagia atau menjitak kepalanya yang sombong.


Kenyataannya aku hanya menganggukan kepala dan masih tenggelam dengan pikiranku. Apa sebenarnya yang aku lakukan sekarang? Aku begitu mudah jatuh dalam pesona nya dan sekarang terseret semakin dekat dengan dirinya.

__ADS_1


Wanita-wanita disekelilingnya tentu adalah wanita yang luar biasa, wanita hebat dan kaya. Status sosial mereka setara. Benar kata Maya status sosial kita berbeda. Aku benar-benar seperti ulat bulu. Bisahkan aku berubah menjadi kupu-kupu indah dengan keanggunan dan pesonanya.


"Kau tidak perlu memikirkan apapun yang dia katakan. Kau adalah satu-satunya wanita yang berarti bagiku. " Andrew menarikku jatuh kedalam pangkuannya dan mulai memelukku.


"Tinggalah dekat denganku aku akan menjagamu akan aku buat kau merasa lebih aman." Bisik Andrew ditelinga sambil menciumi leherku. Tangannya mulai merajalela ke sekujur tubuhku. Mere*as bagian - bagian sensitifku membuatku terengah dan mendesah.


Cumbuan nya semakin lama semakin bernafsu. Tangan-tangan Andrew mulai masuk kedalam pakaianku dan bergerilya disana. Sesaat aku melupakan tentang Meredith dan kosah aoa saja yang pernah terjado diangara mereka. Aku hanya ingin menatap hari ini dan kedepan .


Bunyi handphone yang berkali-kali membuatnya menghentikan cumbuan. Dan ia tampak geram melihat pesan-pesan yang masuk disana. Kemudian dengan marah Andrew menelphone sesorang.


"Jangan campuri urusanku! Pergilah menjauh!"


terdiam sesaat mendengarkan perkataan orang diseberang sana kemudian Andrew tampak marah.


"Okey ! aku akan menemuimu sekarang di kantor!" wajah Andrew tampak merah menahan amarah. Aku tidak pernah melihat sisi nya yang seperti ini sebelumnya.


"Bawa kartu ini dan belilah segala sesuatu yang kamu perlukan. Ajak Papito bersamamu. Aku akan kembali ke kantor. Kita akan makan malam bersama."


Andrew mencium keningku sebelum pergi.


Aku tidak mengucapkan apa apa karena Andrew segerapa pergi setelah itu.


Telphone di kamar berdering.


"Siang nona, Kalau anda sudah siap saya ada dibawah. " suara Papito diseberang sana.


Aku segeraoa merapikan diriku dan memoles lipstik yang sudah berantakan di bibirku dan bergegas turun menemui Papito .


"Mau kemana nona ?" tanya Papito kepadaku.


"Kita ke Bayside saja ya Papito, aku hendak membeli beberpa pakaian. "


"Yakin nona di bayside ?" tanya Papito ragu.


"Iyaa. kenapa ?" tanyaku heran.


"Setau saya tuan melarang nona ke bayside, saya antar ke tempat biasa tuan berbelanja ya nona. " Papito tidak menunggu jawabanku dan mulai melajukan mobil kearah Mall mewah.


Ah.. Jiwa miskinku ternyata masih belum bisa hilang. Aku hanya diam sambil bergidik membayangkan harga di Mall mewah itu. Bayangkan sepasang pakaian dalam bisa dibandrol $50-150. Kalau saja tidak ada kartu hitam ini, aku pasti menolak menghamburkan uang disana.

__ADS_1


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


__ADS_2