Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Hutang yang belum lunas


__ADS_3

Ini sudah hari kelima sejak masa kritis Diana berlalu, tetapi gadis itu masih saja belum sadar seakan tidak memiliki keinginan untuk hidup. Dia terkulai dengan segala bantuan kesehatan.


Lia masih saja sabar mendampingi kakaknya, bahkan gadis unik ini kedapatan beberapa kali memijat dada kakaknya sambil berbicara, "kakak, kau ingin menyusui bukan, aku akan membantumu melancarkan asi. Meskipun kau lemah dan masih terkulai, aku harap ketika kau bangun kau bisa melakukannya."


Bahkan gadis itu membeli pompa asi, yang dia gunankan untuk merangsang payudara Diana. Tetesan air susu itu mulai sedikit demi sedikit keluar. Meskipun hanya beberapa ml dalam setengah jam.


"Lihat kakak, yang ini aku buang ya. Terlalu banyak obat-obatan di dalamnya, tidak bagus untuk Aaron. Kau harus cepat sadar agar bisa menyusui anakmu meskipun cuma sebentar."


Andrew yang melihat hal tersebut awalnya risih, tapi lambat laun dia mulai terbiasa dan membiarkan interaksi antara kedua bersaudara tersebut. Meskipun begitu melihat pemandangan itu membuatnya merindukan hal yang bertolak belakang dengan tujuan Lia.


Seperti saat ini, ketika Lia melakukannya lagi, Andrew memilih mengunjungi baby Aaron. Hari ke lima di inkubator, anaknya mulai tampak cerah.


"Kenapa anakku tidak memakai oksigen lagi?" tanya Andrew dengan panik melihat bayi nya dalam keadaan biasa tanpa alat bantuan.


"Tenanglah tuan, bayi anda sudah mulai sehat. Semenjak semalam kami sudah melepaskan alat bantuan, karena dia sudah bisa bernafas normal dan lambungnya sudah bisa mencerna susu."


Andrew menarik nafas lega. Sebelumnya hatinya terasa sangat sakit setiap kali melihat baby Aaron harus menggunankan berbagai macam alat di tubuh mungilnya.


Sekarang bayi itu tampak bebas.


"Anda mau menggendongnya?" tanya perawat tersebut.


"Bisakah?" Mata Andrew berpijar penuh kebahagiaan.


Perawat tersebut mengeluarkan baby Aaron dari kotak kaca kecil itu dan meletakan ditangan Andrew. Andrew sangat terharu melihat anak yang begitu dia nantikan saat ini berada dalam pelukannya.


Begitu mungil, lucu dan tanpa daya, bayi itu dalam pelukannya. Andrew menggendong dan memandangnya penuh rasa cinta.


"Pindahkan Aaron diruangan isteriku. Mungkin dengan kehadiran anaknya dia akan cepat sadar." peritah Andrew kepada perawat tersebut.


"Sebentar tuan, akan saya laporkan kepada atasan saya." kata perawat tersebut.


Perawat tersebut kemudian meninggalkan Andrew dengan rekan kerjanya. Hanya perlu beberapa menit dia kembali bersama dokter anak yang bertanggung jawab kemudian memproses pemindah perawatan baby Aaron menjadi satu ruangan dengan Diana.


Baby Aaron tetap akan didampingi oleh perawat dan dokter khusus.


**************


Lia tampak terkejut melihat proses pemindahan baby Aaron. Dia sangat senang sekali dengan keputusan Andrew.


"Kali ini aku mengakui ke briliant an mu brother." ucapnya sambil mengancungkan jempol.


Andrew menggendong bayi dalam pelukannya dan duduk disisi Diana.

__ADS_1


"Mommy, bangun... Aaron sudah disini." kata Andrew sambil menempelkan pipi Aaron di pipi Diana.


"Mommy, ayo gendong baby Aaron." ucapnya lagi membuat setiap orang yang disana meneteskan air mata.


Andrew kemudian meletakan baby Aaron disisi Diana. Dia sengaja melakukan hal itu agar Diana merasakan kedekatan dengan anaknya.


Tepat disaat baby Aaron tidak lagi merasakan kehangatan Andrew, dia mulai menangis kencang di sisi ibunya. Tangan bayi itu bergerak menggapai ke atas seakan mencari sosok yang dapat melindungi nya.


Lia yang melihat hal itu ingin sekali mengangkat baby Aaron dan menenangkannya. Tapi tangan Andrew mencegah nya melangkah lebih lanjut. Andrew membiarkan anaknya menangis keras di sisi Diana.


Dia menanti koneksi batin di antara mereka.


"Sayang.... dengarkan tangisan anakmu, dia perlu engkau. Aku perlu engkau. Bangunlah...


Sayang... dengarkan jeritan Aaron." ucap Andrew dengan nada pilu.


Setelah beberaa saat membiarkan Aaron menangis, akhirnya Andrew membiarkan Lia mengangkat anaknya. Sementara dirinya duduk disisi Diana dan membaringkan kepala nya di ranjang dengan tangan Diana yang ia letakan diatas kepalanya.


Baby Aaron sudah tenang dalam pelukan Lia dan menyedot habis botol susu yang diberikan kepadanya. Bayi itu akhirnya tertidur pulas dengan perut kenyang dan kehangatan pelukan Lia.


Sesaat Andrew memejamkan matanya. Dia membayangkan bagaimana tangan lembut Diana seringkali membelai rambutnya. Hal yang sangat dia rindukan. Hal yang dia inginkan kembali. Saat itu tiba-tiba dia membuka matanya ketika dia rasakan ada gerakan lembut jemari diatas kepalanya.


Gerakan yang halus meskipun hanya sesaat membuat dia tidak pasti apakah itu angan atau kah kenyataan, karena ketika dia mengangkat kepalanya, tangan itu kembali terkulai lemas.


**************


Semenjak Arthur tinggal di mansion Andrew kebersamaannya dengan Conrad semakin terjalin akrab. Saat ini tampak Conrad berganyut manja di lengan Arthur sambil merajuk.


"Daddy bilang, kita tinggal di rumah saja. Mommy belum sadar." jawab Arthur dengan lembut.


"Tapi grandpa, sudah lima hari Conrad tidak bertemu dengan daddy dan unty. Ayolah grandpa... Conrad juga mau melihat adik, please... please..." rajuk Conrad sambil mengatupkan kedua tangannya di dada.


"Baiklah, Grandpa hubungi daddy dulu ya."


"Jangan... kita beri kejutan saja yaaa." ucap Conrad dengan mata berpijar dan wajah penuh harap.


Akhirnya, tuan besar Arthur yang terbiasa menaklukan orang, kini berhasil ditaklukan oleh seorang bocah yang belum genap berusia sembilan tahun.


Conrad memekik girang ketika Arthur menganggukan kepalanya. Butler Jhon yang mendengar hal itu langsung memberi tahu papito untuk mempersiapkan kendaraan dan pengawalan.


Sesampainya di rumah sakit, mereka menuju ke ruangan tempat Diana di rawat kehadiran Conrad dan ayahnya membuat Andrew terkejut. Dia tidak menyangka kalau Arthur akan melanggar larangan dari nya.


"Jangan marah, bocah kecil itu merengek." ucap Arthur melindungi dirinya.

__ADS_1


"Mommy, ayo bangun... Conrad mau bermain sama mommy. Mommy, Conrad kangen sama pisang goreng dan kue tok buatan mommy. Paul dan unty Lia membuatkan tapi tidak seenak mommy." ucap Conrad dengan polos. Mendengar perkataan Conrad, Lia hanya bisa meringis.


"Daddy, kenapa mommy tidak mau bangun? Kenapa mommy tidur nya lama sekali. Apa mommy sakit?" tanya Conrad. Bola mata bocah kecil yang tampan itu menatap Andrew dengan menyelidik.


"Iya mommy sakit. Biarkan dia beristirahat." jawab Andrew.


"Apakah mommy begini karena melahirkan adik? Apakah Conrad juga membuat mommy seperti ini ketika melahirkan Conrad?" tanya bocah kecil itu dengan sedih.


Semua yang di dalam ruangan itu terkejut mendengar perkataan Conrad. Bocah kecil ini tampaknya sudah melupakan kenyataan kalau Diana bukan ibu kandungnya. Kebersamaan mereka yang lebih dari tiga setengah tahun, membuat bocah ini merasa kalau ibu kandungnya adalah wanita yang tergeletak lemah saat ini.


"Tidak sayang, mommy seperti ini bukan karena melahirkan, tetapi karena memang dia sakit." ucap Andrew sendu sambil memeluk Conrad yang berada dipangkuannya.


"Mommy ayo bangun, jangan tidur terusss, ayo kita bermain lagi di taman belakang ketika matahari bersinar cerah." ucapan Conrad benar-benar membuat setiap telinga yang mendengar dan mata yang memandang menjadi terharu.


Bahkan Lia meneteskan mata karena rasa haru hingga tidak menyadari kehadiran Jason dibelakangnya. Pria itu diam dan memperhatikan sosok mungil dihadapannya. Bahkan dirinya sendiri menjadi heran dengan apa yang terjadi. Kenapa dia harus ikut resah membayangkan Lia menangis sendirian.


"Ayo kita lihat Adik." Andrew menggandeng tangan Conrad menuju box kaca tempat Aaron sendang tidur dengan nyenyak.


"Daddy, lucu ya adik Conrad." ucapnya riang ketika melihat Aaron tertidur.


Andrew mengangguk mengiyakan perkataan Conrad.


"Apakah Conrad sekecil ini dulu?" tanya Conrad dengan polos.


"Bahkan daddy pun dulu sekecil ini." jawab Andrew sambil mengecup kepala Conrad.


Sementara Andrew dan Conrad asyik bercakap-cakap sambil melihat baby Aaron.


Tuan besar mendekati Diana.


Dia melihat sosok wanita yang sudah memberikan cahaya bagi anaknya dan mengembalikan hubungan baik antara dirinya dan Andrew terbaring lemah.


Arthur mendekatkan bibirnya ke telinga Diana.


"Kau harus segera sadar, ingat kau masih mempunyai hutang padaku yang belum kau lunasi. Kau menjanjikan kebahagiaan bagi putraku. Aku menagih janji itu. Jika tidak...." Arthur menghentikan kata-katanya dan menoleh kearah semua orang, memastikan mereka berada jauh dari dirinya dan tidak dapat mendengar perkataannya pada Diana.


Ketika dia sadari mereka semua tidak akan bisa mendengar perkataannya, Arthur mendekatkan dirinya kembali ketelinga Diana, " jika tidak aku akan menikahkan adikmu dengan puteraku."


Saat selesai mengucapakan kalimat itu, Arthur berdiri tegak kembali. Sesaat dia melihat pergerakan jemari Diana. Hanya sekali ketukan dari gerakan reflex jemari itu.


"Andrew!" teriak tuan besar. Aku rasa jari nya bergerak sesaat. Tapi entahlah aku tidak yakin." ucap Arthur yang merasa girang karena adanya respon dari tubuh Diana.


"Aku sudah memberitahu hal itu kepada dokter, mereka mengatakan kalau itu hanyalah gerakan reflex dari tubuh." sahut Andrew. Sebelumnya ketika dia merasakan gerakan jemari Diana di kepalanya, dia sempat berharap dan harapan itu terhempas ketika dokter mengatakan hanya gerakan reflex.

__ADS_1


Tampak raut wajah tuan besar kecewa. Dia kembali berbicara di telinga Diana. "Aku bersungguh-sungguh. Kalau kau tidak bisa memberikan kebahagiaan pada anakku, maka akan aku buat adikmu menjadi pengganti dirimu!" ucap tuan besar dengan tegas sambil berbisik.


πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯


__ADS_2