
Episode 269.
Tangan Bertha semakin memperkuat tusukan pisau yang dapat dia rasakan sudah menghujam kearah sasaran. Tawanya membahana menatap Andrew yang terkejut dan darah yang mengenai wajah dan tubuh Andrew. Bertha menyeriangai puas melihat expressi Andrew. Akhirnya dia merasa lega karena bisa membalaskan dendam.
Di saat mata Andrew menunduk ke arah bawah, mata Bertha mengikutinya. Dan betapa sangat terkejutnya Bertha. Pisau yang dia arahkan untuk Andrew. Pisau yang seharusnya mengambil nyawa pria itu terlebih dahulu. Rencana yang sudah dia pertimbangkan dengan masak-masak. Kesempatan terakhir itu... lenyap begitu saja.
Saat ini tubuh Bertha di penuhi oleh darah. Tangannya bergetar melepaskan pisau yang menancap pada leher korban. Emosi didalam tubuhnya, membuat dia tidak menyadari jika dirinya terluka akibat tembakan polisi yang mengenai dada kanan nya. Bertha dalam kondisi shock.
Bahkan saat polisi menarik tubuhnya, Bertha tidak bisa melepaskan pandangan pada pisau yang menacap pada leher korban. Matanya nanar menatap pisau yang salah sasaran itu. Dia tidak percaya jika dirinya sudah gagal menuntaskan dendam.
Ya... hal yang mengerikan telah terjadi. Hal yang berada di luar dugaan dan perhitungan semua orang disana. Disaat Bertha berlari hendak mencelakai Andrew, disaat itu pula Bill berbisik, "tobat mommy." Dan tangan lemah itu menggerakan tuas, sehingga kursi roda nya meluncur dihadapan Andrew.
Pandangan buas mata Bertha yang tertuju pada Andrew, tidak melihat gerakan Bill yang spontan. Dia tidak menyadari jika pisau itu menancap pada leher Bill. Bertha saat itu mengincar perut Andrew. Dan ketika pisau yang meminta korban itu sudah menancap, butuh waktu lebih dari tiga puluh detik untuk Betha menyadari, jika darah yang ada di wajah dan pakaian Andrew adalah darah Bill yang menyembur keras.
Bertha mematung, menatap darah yang menyembur dari leher Bill. Darah sudah mengalir pula di bibir dan mata Bill. Pemuda cacat itu menggelepar di kursi roda sambil menatap Bertha. Tubuhnya berlumuran darah. Tangannya terangkat mengusap wajah Bertha.
__ADS_1
Sesaat dunia Bertha seakan menghilang. Pikirannya berada dalam ruang kehampaan. Bertha tidak mengeluarkan suara apapun juga tidak memberontak, ketika tangan polisi menarik dirinya. Hingga dia ditarik keluar dan masuk dalam ambulance dalam keadaan kritis akibat tembakan di dada, Bertha masih termangu. Diam membisu dengan mata terbuka tanpa berkedip.
Polisi segera membawa petugas medis lainnya untuk menangani Bill dan Leonel. Beruntung sekali Leonel saat itu sudah pingsan, sehingga dia tidak perlu melihat kejadian tragis di depan matanya. Meski bagaimanapun, Leonell sudah menyayangi Bill.
Suasana sibuk dan gerakan tangkas dari polisi membenahi kekacauan itu. Puluhan wartawan sudah menyerang di depan garis polisi. Mereka haus akan pertanyaan akan kejadian disana. Polisi berusaha memberi pengertian, jika saat ini bukan saat yang tepat untuk bertanya.
Sementara Andrew terduduk di kursi. Dia mencuci wajahnya dengan air dan mengambil saputangan dari saku celananya. Kejadian ini berakhir, jauh dari harapannya. Terlalu tragis, seorang ibu membunuh anaknya sendiri, meskipun tanpa sengaja. Entah apa yang terjadi pada Bertha kemudian, Andrew enggan berpikir.
"Tuan Andrew, terimakasih atas kerjasamanya. Kami akan memproses perkara ini lebih lanjut. Apa yang akan anda lakukan pada nyonya Bertha dan anak-anaknya?" tanya Kepala Polisi dengan hormat kepada Andrew.
"Anda benar tuan, hal ini akan kami ajukan kepada pihak kejaksaan. Bagaimana dengan Leonel?"
"Anak itu, dia hanyalah korban. Aku akan membayar biaya perawatan dan konseling. Setelah itu, kau bisa meletakan anak itu di panti asuhan. Ini, alamat panti asuhan yang aku sponsori." Andrew mengeluarkan kartu nama tuan Ron yang mengelola panti asuhan.
"Dan untuk pemuda malang yang sudah mengorbankan dirinya. Heh! Pemuda itu sungguh malang.... Kasihan sekali nasibnya. Biarkan dia di kuburkan di sisi kakeknya, Keluarga Willingthon." Ujar Andrew memberi keputusan.
__ADS_1
"Baiklah tuan, semua permintaan anda akan kami kerjakan. Sekali lagi, terimakasih atas kerja samanya. Anda bisa meninggalkan tempat ini. Mengenai wartawan, kami akan mengadakan konferansi pers besok siang."
Andrew mengangguk mengiyakan perkataan Kepala Polisi. Setelah Kepala Polisi pergi, seorang pengawal segera memberikan baju ganti untuk Andrew. Beruntung sekali, mereka membawa mobil pribadi Andrew. Setelah selesai berganti pakaian Andrew segera kelaur dari rumah.
Para pengawal sudah bekerja keras. Mereka merampas semua kamera wartawan dan melarang penduduk sipil untuk mengambil foto Andrew ketika keluar dari rumah Bertha. Setelah mobil yang di tumpangi Andrew bergerak pergi, pengawal baru memgembalikan kamera wartawan dan menegaskan pada mereka untuk tidak memuat artikel apapun tentang Andrew, sebelum konferansi pers dari polisi.
Sesampainya di Mansion.
Diana dengam tidak sabar berlari memeluk Andrew. Air mata nya menetes deras, penuh dengan ucapan syukur. Dia bahagia juga terharu ketika Andrew pulang dalam keadaan sehat. Kedua insan itu saling berpelukan erat, terlepas dari segala masalah yang baru saja menghadang.
"Daddy... mommy..."
Keenam anak-anak itu menghampiri Andrew dan Diana. Pelukan kedua insan ini terbuka dan menggapai masuk keenam anak yang terkasih itu. Mereka mengucap syukur atas kembalinya Andrew. Para pelayan yang melihatnya, ikut terharu, menitikan air mata sekaligus saling berpelukan.
Tuhan Itu Ada. Rahmatnya tak pernah berkesudahan. Kuasa doa yang dipersembahkan dengan segala kerendahan hati, oleh setiap hamba-Nya, akan Dia dengarkan. Telinga Tuhan tak kurang tajam untuk mendengar. Tangan Tuhan tak kurang panjang untuk menolong.
__ADS_1
...❤❤❤❤❤❤❤...