Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Tamu tak di duga


__ADS_3

"Kau serius akan berangkat ke Itally?" tanya Briant yang baru saja masuk kedalam kantor Andrew tanpa mengetuknya.


Andrew menengadahkan wajahnya, beralih dari laptop di hadapannya dan memandang Briant.


"Iya." jawabnya singkat.


"Kau yakin, akan berbisnis dengan dia?"


tanya Briant lagi dengan wajah tidak percaya.


"Tawaran yang di berikan cukup bagus. Aku hanya tinggal memeriksa kualitas anggur mereka," sahut Andrew sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan mengaitkan kedua jemari tangan di dada.


"Entahlah bro, aku tidak yakin dengan dia. Kenapa dia harus muncul lagi setelah..."


Briant menggantungkan kalimatnya sambil menatap tajam pada Andrew.


"Aku mengerti maksudmu. Tapi dia adalah kenangan masa lalu lebih dari lima belas tahun yang lalu dan telah aku kubur," sahut Andrew dengan tenang.


"Terkadang kenangan itu bisa bangkit dan menghantui kita," ujar Briant sambil menatap tajam Andrew.


"Seperti dirimu dan Grisella?" tanya Andrew dengan terkekeh.


"Benar bisa jadi seperti aku dan Grisella. Jangan sepelekan masa lalu bro. Akhirnya aku kembali ke pelukan masa lalu ku," timpal Briant dengan menyungging senyuman.


"Itu karena ada kekosongan dalam hati mu. Lagi pula masa lalu mu tidak sekelam itu."


"Justru karena masa lalu mu begitu kelam, kenapa kau harus berdamai dengannya," ujar Briant dengan gusar karena tidak mengerti jalan pikiran Andrew.


"Aku hanya murni ingin membantu nya. Meskipun dia pernah menjadi sesuatu yang kelam dalam hidupku, tapi berkat Diana, aku belajar memaafkan dan berdamai dengan masa lalu," sahut Andrew dengan merenung.


"Heh..." Briant menghela nafas panjang, ada kekuatiran dalam setiap nada bicara juga keresahan di raut wajahnya.


"Semoga memang seperti perkataanmu, aku harap dalam hati mu tidak ada rasa penasaran, " ujar Briant dengan menekankan kata penasaran.


"Penasaran?"


"Ya, alasan dia meninggalkanmu." Briant menegaskan.


"Kau salah, pertanyaan itu sudah hilang seriring berjalannya waktu, aku tidak lagi perduli dengan alasannya," ujar Andrew dengan mantap.


"Berhati-hati lah Bro, jangan sampai kau menyakiti kakak ipar ku, jika tidak..." kembali Briant menggantungkan kalimatnya.


"Itu tidak akan terjadi, jika tidak kau bisa berbuat seperti yang telah kita sepakati," ujar Andrew dengan tegas.


Kedua pria tampan dan gagah itu kemudian terdiam. Mereka masuk dalam pikiran masing-masing. Rencana kepergian Andrew tampaknya membuat Briant resah.


*


FLASH BACK


Tiga haru yang lalu.


"Tuan Andrew ada tamu meminta untuk bertemu dengan anda." disuatu siang, Patricia masuk dan mengabarkan pada Andrew seseorang yang sudah menanti.


"Apakah sudah ada janji?" tanya Andrew sambil tetap berkutat pada berkas-berkas diatas mejanya.


"Belum tuan, tapi nyonya itu mendesak untuk bertemu. Dan dia berkata jika anda pasti mau menemuinya."


"Tidak ada janji? Suruh dia buat janji terlebih dahulu dan masukan dalam jadwalku," kata Andrew dengan tegas.


"Katakan padaku, apa tujuan nya datang,"


"Dia menawarkan kerja sama untuk produk minuman anggur merah, agar bisa masuk dalam label fantasy cruise line." Patricia menjelaskan maksud kedatangan tamu yang memaksa untuk bertemu.


"Masukan saja dalam list daftar tunggu manager pemasaran, banyak bukan pengusaha wine yang mau bekerja sama," ujar Andrew dengan santai.


Andrew tidak suka menerima tamu yang datang tanpa dijadwalkan terlebih dahulu.


Dia tidak suka kejutan dan tidak suka dengan tipe tamu yang memaksa untuk bertemu.


Mereka memang punya kesibukan dan kepentingan sendiri. Tapi demikian juga bagi dirinya, setiap hal yang dia kerja kan tentunya mendesak.


Patricia menganggukan kepala tanda mengerti. Sekretaris berusia hampir lima puluh tahun itu masih tampak cantik dan menarik. Dia sudah mendampingi Andrew lebih dari sepuluh tahun.


Baru saja tiga puluh detik, Patricia keluar, pintu ruang kerja Andrew kembali dibuka dengan sedikit keras dan seorang wanita cantik masuk.

__ADS_1


"Andrew... benarkah kau tidak ingin menemuiku?"


"Maaf tuan, nyonya ini memaksa masuk." ujar Patricia yang berada dibelakang wanita itu.


Andrew mengangkat wajahnya dan menatap wanita dihadapannya yang memaksa masuk dengan terkejut. Dia melepaskan kacamata bacanya dan memberikan tanda pada Patricia untuk keluar.


"Aku yakin kau pasti mau menemuiku, bukan?" ujar wanita tersebut sambil berjalan dengan anggun dan santai kemudian duduk di hadapan Andrew dengan anggun seraya menyilangkan kakinya


Andrew masih menatap wanita dihadapannya. Tampaknya dia terkejut dengan kedatangan wanita tersebut. Andrew terpaku menatapnya seolah tidak yakin apa yang dia lihat adalah nyata.


"Bagaimana kabarmu?" ujar wanita cantik dihadapannya yang tersenyum dengan sangat manis.


Andrew berusaha membenahi keterkejutannya. Dia mulai dapat mengatur ketegangan yang dirasakannya. Pria itu kemudian menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sebelum menjawab pertanyaan wanita itu.


"Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?" Jawaban dan pertanyaan standard di setiap pertemuan.


"Keadaanku baik-baik saja, kau lihat aku sehat-sehat saja bukan?" ujar wanita cantik tersebut dengan menggerakan tangan menunjuk kearah tubuhnya.


"Aku dengar Rachel sudah meninggal, aku turut prihatin ya," ucapnya lagi sambil menunjukan mimik wajah yang sedih.


"Hentikan basa-basi mu, ada perlu apa kau kemari," ucap Andrew dengan datar.


"Aku hanya ingin bertemu denganmu. Kau tahu aku merindukanmu," ucap wanita itu dengan lembut.


Andrew tersenyum sinis.


"Hampir sepuluh tahun kau menghilang tanpa berita, sekarang kau datang mengatakan rindu," ucap Andrew dengan tajam.


"Memang itu salahku karena pergi tanpa memberimu kabar," ucapnya lagi dengan nada suara dan raut wajah menyesal.


"Sudahlah itu semua sudah berlalu, bukan sesuatu untuk dikenang," balas Andrew dengan ringan.


Andrew mengalihkan pandangannya dari wajah wanita cantik nan anggun di hadapannya. Dia beranjak menjauh dari kursi singgasananya dan menghampiri jendela kaca yang lebar.


Pandangannya menatap pada keramaian lalu lintas kota Miami. Langit hari itu cerah, awan bergerak menjauh dari matahari. Membiarkan raja langit itu berkuasa dengan perkasa.


"Tapi aku selalu mengingatmu, Andrew," suara wanita itu tampak mendesah dengan nada dalam.


"Tidak sedetik pun dalam hidupku, aku melupakan dirimu. Tidak pernah," wanita itu beranjak dari kursinya dan berjalan menghampiri Andrew.


Tangan wanita itu kemudian melingkari pinggang Andrew dan memeluk pria itu dari belakang dengan erat. Andrew terkejut dengan apa yang dilakukan oleh wanita itu. Dia tidak menyangka mendapat serangan mendadak seperti itu.


"Apa yang kau lakukan, lepaskan!" Seru Andrew seraya mencengkeram tangan wanita tersebut dan berusaha melepaskan pelukannya.


Andrew sangat tidak menyukai hal yang dilakukan oleh wanita itu. Dalam benaknya dia khawatir jika saja seseorang tiba-tiba masuk dan melihat posisi mereka, maka akan ada kesalahpahaman. Lebih buruk lagi jika Diana tiba-tiba datang, meskipun istrinya itu selalu memberi kabar sebelum datang.


"Tolong, biarkan aku memelukmu untuk sesaat. Aku mohon..." ucapnya dengan memelas, seraya mempererat pelukannya.


Wanita itu menyandarkan kepalanya di punggung Andrew yang bidang. Tangan-tangannya menempel erat di dada Andrew dan mencengkeram erat jas yang dikenakan. Dia memejamkan matanya, merasakan setiap kehangatan dari tubuh Andrew seraya mencari debar jantung Andrew.


Mungkin dia sedang mencari sebuah perasaan yang tertinggal melalui debaran jantung Andrew. Tapi ketika dia merasakan debaran itu berbeda dengan masa lalu, saat itu lah dia sadar jika dia telah terkubur dalam kenangan masa lalu.


Andrew terdiam dan merenggangkan cengkeraman tangannya. Sesungguhnya dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan ketika berhadapan dengan wanita yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya. Wanita yang pernah mengisi hatinya.


Lima belas tahun yang lalu wanita itu adalah cinta pertama Andrew. Dengannya Andrew merasa sangat bahagia, setelah rasa sesak ketika ibunya meninggal karena kanker. Andrew yang kesepian, akibat ayahnya yang mulai bertingkah semenjak kepergian sang istri, tidak pernah menghiraukan dirinya.


Tak lama kemudian kedua kakek dan nenek nya juga meninggal menambah rasa sepi Andrew. Dia menjalani masa remaja dengan kesendirian juga rasa sesak, dan ia menenggelamkan diri belajar lebih keras daripada anak-anak yang lain. Tujuannya adalah agar Arthur Knight bangga padanya dan berubah lebih memperhatikan dirinya.


Tetapi semua tidak sesuai dengan harapan. Arthur yang melihat prestasi luar biasa Andrew, menganggap anaknya mandiri dan tidak memerlukan siapapun. Anak luar biasa yang membanggakan. Dan Arthur Knight kembali menenggelamkan diri dari kesedihannya dengan wanita dan pekerjaan. Tanpa sedikit pun pernah memeluk Andrew.


Saat usianya menginjak sembilan belas tahun, ketika baru saja dia menginjak semester tiga di untiversitas bisnis ternama, Andrew mulai dekat dengan seorang adik kelasnya. Wanita cantik dan anggun, yang selalu tersenyum dan memberikan perhatian pada Andrew.


Kebersamaan mereka meรฑimbulkan binar cinta yang tak terelakan. Dengan nya lah Andrew menjalin cinta selama tiga tahun. Percintaan mereka yang mendalam, hingga janji menikah.


Tapi, tepat setelah enam bulan Andrew menjadi wakil Ceo di Fantasy Cruise Line, terjadilah kekacauan di bisnis ayahnya yang mengakibatkan pada kebangkrutan.


Disaat itu lah Andrew sangat memerlukan dukungan yang lebih, namun... cinta pertamanya menghilang!


Andrew menjadi sangat kacau dibuatnya. Wanita pertama yang membuatnya jatuh cinta, wanita yang pertama dia cium, wanita pertama yang begitu mengisi kekosongan hatinya, dan wanita pertama yang hendak ia nikahi, wanita itu... menghilang tanpa jejak.


Kehampaan Andrew semakin besar ketika, Arthur Knight memaksanya menikahi Rachel. Pernikahan paksa untuk memulihkan kerajaan bisnis dan nasib puluhan ribu karyawan, harus ia jalani. Pernikahan Bisnis.


Seberapa besar dia mencoba untuk menyukai Rachel, tapi tidak dapat dilakukannya. Hatinya begitu mengeras apalagi ketika dia menyadari bagaimana Rachel memanfaatkan dirinya.


Tepat setelah empat tahun pernikahannya dengan Rachel, wanita itu ... cinta pertamanya kembali hadir dengan mata yang sayu dan senyuman kerinduan.

__ADS_1


Wanita itu kembali datang dan menawarkan cinta. Wanita itu kembali menyeruakan cinta masa lalu dan berjanji akan mengobati setiap luka yang ia berikan pada Andrew.


Mereka kembali berjanji untuk berhubungan dan saling mencintai, dia berjanji akan menanti proses perceraian Andrew dengan Rachel. Dia berjanhi untuk setia dan tidak akan pernah pwrgi lagi. Tetapi kenyataannya, sebulan kemudian wanita itu kembali menghilang lagi tanpa jejak.


Membuat Andrew frustasi lagi dengan lebih hebat. Menenggelamkan diri pada pekerjaan dan wanita, sama seperti Arthur Knigt dahulu. Mungkin benar apa yang dikatakan pepatah, buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.


Hanya ketika Conrad datang setahun setelah wanita itu pergi, Andrew merasa sedikit lebih tenang. Kehadiran bocah itu mulai sedikit merubah Andrew, meskipun dia masih memiliki rongga kosong yang sangat dalam dan baru terpupuk penuh dengan kehadiran Diana dan Aaron.


Sekarang, wanita itu kembali muncul dengan tiba-tiba dihadapannya. Membangkitkan kenangan masa lalu yang telah dia kubur dalam-dalam.


Wanita itu menyeruakan lagi sejumlah pertanyaan yang tidak pernah dia ketahui jawabannya.


"Lepaskan pelukanmu. Sudah cukup terakhir kali kau melakukan hal ini padaku. Aku sudah menikah lagi dan sangat mencintai istriku," ujar Andrew seraya melepaskan genggaman wanita itu di jas nya.


"Ah iya... aku juga sudah mengetahuinya," ujar nya seraya melepaskan pelukan dan bergerak menjauhi Andrew.


Andrew mengebaskan jas nya yang sedikit berkerut akibat cengkeraman wanita itu. Keningnya sedikit berkerut, khawatir jika Diana akan salah paham.


"Bagus kau sudah tahu. Sekarang kau bisa pergi." Ujar Andrew dengan dingin.


Wanita itu berjalan menuju sofa yang tersedia di ruang kerja Andrew. Seraya melirik ke arah ruangan kamar di dalam kantor tersebut, tempat yang kadang digunakan oleh Andrew untuk beristirahat.


"Apakah kau sering menggunakan kamarmu itu untuk bercinta dengan istri baru mu?" tanyanya.


Andrew mengernyitkan keningnya dengan raut wajah kesal.


"Bukan urusanmu."


"Ah, aku sangat merindukan tempat ini." wanita itu berjalan menuju ke ruang kamar di dalam kantor Andrew, membuka pintu kemudian merebahkan tubuhnya dengan sensual.


"Ruangan ini masih sehangat ketika dulu kita memadu kasih. Hingga berjam-jam lamanya," ujar nya seraya mengusap kasur dan menggigit bibir nya.


Andrew tetap diam di dalam kantor dan tidak berusaha mengikuti wanita itu. Dia tidak menghiraukan perbuatan wanita itu. Andrew memilih kembali duduk di singgasananya dsn memegang berkas kerja.


"Cepat pergilah sebelum aku memanggil pengawal ku." kata Andrew dengan dingin dan datar.


Wanita itu tampak terkejut mendengar perkataan Andrew yang dingin. Dia mengangkat tubuhnya dan duduk di pinggir kasur untuk sesaat sambil merapikan rambutnya.


Dia dapat merasakan aura dingin yang di lontarkan oleh Andrew. Namun, dia tidak ingin mengakui kenyataan itu. Dia tidak percaya cinta Andrew padanya mulai menghilang.


Kembali dia melangkah menghampiri Andrew dan duduk dihadapan nya. Jarak mereka terpisah dengan meja kerja Andrew yang luas. Dia menatap Andrew yang tidak memperdulikan dirinya.


"Kau sudah terlalu lama di tempat ini. Sebaiknya kau pergi sekarang juga."


Andrew kemudian menekan saluran telphone no 101 di hadapannya yang langsung dijawab oleh Patricia.


"Ya tuan?"


"Bawa wanita ini pergi dari hadapanku," ujar Andrew dengan datar.


Wanita itu terkejut dengan reaksi Andrew, dia tidak menyangka bahwa Andrew akan sungguh-sungguh mengusirnya.


Patricia datang dengan dua orang pengawal, kemudian berjalan menghampiri wanita tersebut.


"Tunggu!" serunya sambil memberikan kode dengan tangannya agar Patricia dan pengawalnya berhenti.


"Andrew, kau haru mendengarkan aku. Aku datang menemuimu murni karena urusan bisnis. Benar-benar karena bisnis. Tidak ada maksud lain. Aku bersumpah." ucapanya cepat dengan panik ketika pengawal itu kembali berjalan mendekatinya.


๐Ÿ’—๐Ÿ’—๐Ÿ’—๐Ÿ’—๐Ÿ’—๐Ÿ’—๐Ÿ’—๐Ÿ’—๐Ÿ’—๐Ÿ’—๐Ÿ’—๐Ÿ’—๐Ÿ’—๐Ÿ’—๐Ÿ’—


Duh... apa lagi ini yaaaa.


Sekedar mengumumkan ya rekan pembaca setia.


Tanggal 1 Desember akan di tayangkan kisah cinta Jason dan Lia.


Jangan sampai ketinggalan yaaaa...


Hari pertama, langsung Crazy updated untuk cerita awal pertemuan Jason dan Lia.


Jangan lupa Like, Vote, coment, rate bintang lima dan Share yaaaa....


Thankyouuuu


__ADS_1


__ADS_2