
"Kau yakin tidak akan ke kantor hari ini ?" tanya Diana sambil berbaring di dada Andrew.
Andrew mengusap punggung telanjang Diana dengan menggumam. Matanya masih terpejam setelah melakukan "fitness pagi" di ranjang.
"Semalam kau bilang ada janji pertemuan dengan seseorang." tanya Diana lagi sambil memandang pria yang masih memejamkan mata.
"Aku bisa mengganti jadwalnya lain kali, bukan perkara penting. Sabtu ini aku akan menghabiskan waktu bersamamu." jawab Andrew sambil mengusap lembut rambut Diana.
"Terserah padamu." Diana bergulir dan tidur disisi Andrew yang masih tetap memeluknya.
Beberapa saat kemudia dia melepaskan diri dari pelukan Andrew dan beranjak ke kamar mandi karena merasakan sesuatu yang aneh di bagian bawah tubuhnya.
Sesampainya di kamar mandi dia menyadari ternyata tamu bulanan datang. Segera dia membersihkan diri, mandi dan mencuci rambut. Untung saja dia sudah membeli persediaan pembalut sebelumnya.
Setelah selesai dia menyiapkan makan pagi dan mulai membangunkan Andrew.
"Ayo bangun sayang." dia tepuk bahu Andrew perlahan. Andrew berbalik dan merengkuh tubuhnya dalam pelukan.
"Hei.. hei.. ayo bangun sudah siang."
"Hemm..." Mata Andrew masih terpejam sedangkan tangannya mulai bergerak aktif.
"Hentikan. Sudah.. hahhaha.. geli." Diana berontak dari pelukan dan mulai duduk kembali. Sedangkan tangan Andrew mulai bergerak mengusap bagian bawah.
"Apa ini kenapa tebal?" tanyanya setengah mengantuk.
"Itu pembalut yang aku pakai, hahahaha... hahahahh.." Diana tergelak ketika Andrew segera menarik tangannya dan duduk sambil mengusap matanya.
"Tamu bulananku baru saja datang." Kata Diana sambil menahan geli.
"Berani - beraninya dia datang saat akhir pekan." gerutu Andrew kesal.
"Memangnya bisa dijadwal ya?" Sahut Diana dengan geli. " Cuci muka sana, sarapan sudah siap."
Andrew menurut masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri kemudian duduk di meja makan.
"Berapa lama tamu bulanannya?" tanya nya kesal.
"Lima sampai Tujuh hari."
"...." Andrew diam dan menyendok omlet kedalam mutlutnya. Kemudian dia teringat sesuatu. Dan beranjak ke tas kerja mengeluarkan sebuah kartu dan meletakan di meja.
"ini kartu kredit dan member club khusus wanita." Andrew menyodorkan dua kartu kepada Diana.
"Apa yang harus aku lakukan di Club House?" tanyanya polos.
__ADS_1
"Disana ada spa, gym dan berbagai olah raga untuk wanita." Andrew menjelaskan.
"Tempatnya tak jauh dari condominium. Kartu kredit gunakan untuk membeli dan mencukupi kebutuhanmu. Limitnya $100.000 per bulan?"
"$100.000?" Diana bertanya dengan nada tidak yakin akan pendengarannya.
"Iya. Apakah kurang?" tanya Andrew cemas.
"Eh.. tidak..tidak."
"Tiap bulan Aku akan mengirimkan $50.000 dolar ke rekeningmu." Perkataan Andrew membuatnya bengong untuk sesaat.
Belum tentu juga satu kontraknya bekerja di kapal pesiar membawa uang sebanyak itu. Sekarang dia akan mendapatkan uang sebanyak itu tiap bulannya, tentu membuatnya sedikit syok.
"Kenapa, apakah kurang?" tanya Andrew heran lagi melihat wajah diam Diana.
"Tidak. Aku rasa cukup."
"Okey, bila kurang cukup katakan apa yang kau perlukan lainnya."
Diana mengangguk mengiyakan perkataan Andrew.
Diana beranjak dari meja makan hendak mencuci piring. Saat itu kaosnya dengan potongan leher lebar turun memamerkan bahu putih nya sementara rambut panjang Diana tergerai kearah pundak satunya. Pemandangan dari belakang itu membuat Andrew menelan ludahnya sendiri. Gadis ini yang berusia lebih muda lima belas tahun darinya selalu saja membuat gairahnya bangkit.
"Mau kemana?"
"Fitnes."
" Okey. Aku tunggu disini ya."
Andrew mengangguk dan segera turun kebawah setelah mengganti pakaian untuk fitness. Biasanya dia tidak pernah melakukan aktifitas olahraga di condominium karena dia memiliki member khusus Executive untuk spa dan fitness hingga cigar lounges. Tapi saat ini dia ingin meredakan gairahnya yang mudah sekali terbakar ketika melihat gadis pujaannya.
Sepeninggal Andrew, diana mulai membersihkan rumah. Sebenarnya Andrew sudah melarangnya karena ada petugas kebersihan yang biasa datang. Tapi Diana menolak kedatangan mereka setiap sabtu dan minggu. Bukanlah hal sulit membersihkan Condominum apalagi semua alat otomatis dengan vakum bukan sapu manual.
Baru dua puluh menit, handphonenya berbunyi. Grisella meneplhone.
"Hai Ella." Sapa Diana.
" Diana, kau dimana?" Sahut Ella tanpa membalas salam darinya.
"Dirumah."
"Turunlah kemari ke area fitness. Segera!" perintah Ella membuatnya heran.
"Memangnya kenapa Ella?"
__ADS_1
"Kau harus menjaga kekasihmu dari wanita-wanita gila disini!" Jawab Ella tegas.
"tunggu aku." Diana bergegas turun ke lantai 3 area olahraga.
Disana Grisella sudah menantinya dan kemudian dia menarik tangan Diana kearah pintu kaca dan menunjuk kedalam.
"Itu Andrew bukan?" Diana mengangguk. Disana dia melihat Andrew sedang melakukan angkat beban dengan berbaring di tumpuan. Sementara beberapa wanita tampak berdiri disamping dan memandangi sambil sesekali bergosip, salah satu wanita itu dia kenal bernama Eva. Tingakh laku wanita itu tidak sebagaimana mestinya. Dengan barbel kecil ditangan mereka melakukan olahraga dengan posisi yang sengaja menonjolkan dada dan bokong.
Selesai melatih otot dada nya, Andrew pindah ke alat lain untuk membentuk otot punggung dan para wanita itu kembali mengekor dan seperti dayang berjajar disekeliling Amdrew. Diana tertawa melihat hal itu yang membuat Grisella menegurnya.
"Kenapa kau malah tertawa?"
"Bukannya lucu, semua wanita itu menggerombol, mengekor dan mengajaknya bicara tapi Andrew tidak menghiraukan." jelas Diana dengan santai.
"Kau ini dasar gadis lugu." Grisella menggelengkan kepalanya. Kemudian melanjutkan perkataannya, "Kau harus mengerti aturan main di dunia ini. Kau harus kesana dan tunjukan kepada wanita itu kalau dia adalah milikmu. Buat mereka menyerah." Saran Grisella.
"Hmm.. apakah hal itu harus?" tanya nya dengan polos.
"Tidak harus, kecuali kau ingin kehilangan dia." jawab Grisella jengkel.
"Tapi, kalau aku tampak cemburu, apakah tidak mempermalukan Andrew?"
"Ck..ck..ck.. Dengarkan aku! Masuk kedalam dan dampingi dia. Tunjukan kecemburuanmu secara wajar. Beri tanda jika perlu agar wanita - wanita materialistik dan genit itu tahu dia adalah milikmu."
"Tidak selamanya pria bisa bertahan dalam godaan, meskipun dia mencintaimu dari langit ke bumi." sambung Ella lirih. Tampaknya dia pernah mengalami patah hati dan tidak ingin gadis yang baru saja dia anggap sebagai sahabat mengalami hal yang sama.
Melihat kesungguhan Grisella, Diana masuk kedalam mengikuti saran sahabat barunya. Disana dia secara nyata mendengar wanita itu menggoda kekasih hatinya.
"Hei tampan, bantu aku dong untuk melatih otot dadaku." Eva berbicara sambil menyentuh punggung Andrew.
Andrew yang sedang berkonsentrasi tidak menghiraukan.
"Otot punggungmu indah sekali." Sambung eva yang tampaknya ketua dari tiga orang wanita disebelah Andrew.
Diana berjalan semakin mendekati Andrew tidak lagi dengan ragu - ragu, sikap sok manja Eva membuatnya panas. Menembus kerumunan mereka Diana menghampiri Andrew seraya tersenyum manis.
"Hai sayang." Diana berdiri dihadapan Andrew menutupi pandangan Eva yang jengkel.
"Kau disini?" tanya Andrew tanoa menghentikan kegiatannya.
"Ho oh. Aku bosan diatas sendiri."
"Tunggu sebentar lagi aku selesai." Andrew meletakan barbel dan menggandeng tangan Diana menuju bagian lagi untuk melatih otot paha dan kakinya. Sambil berjalan dengan digandeng Andrew, Diana menoleh kearah wanita - wanita yang sebelumnya berkerumun dan berkata, " Nona disana ada pelatih handal yang bisa membuat kalian lebih sexy." Perkataan Diana membuat wanita tersebut menjadi semakin jengkel karena usaha mereka menjadi sia - sia.
Setelah selesai Andrew memeluk Diana dengan mesra sambil berbisik,"Aku suka melihatmu cemburu." Mereka berpelukan meninggalkan area Gym diiringi dengan pandangan jengkel Eva dan temen-temannya.
__ADS_1