Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Kotak kecil


__ADS_3

Satu bulan sebelum pernikahan.


Diana akhirnya dapat mengatasi trauma yang dia alami akibat penculikan dan peristiwa tembakan yang dia alami.


Kunci utama adalah doa dan dukungan dari mereka yang begitu mengasihi dia. Selain itu Diana bersedia membuka diri dan berbicara dengan psikiater yang membantunya menerima kenyataan bahwa semua yang dia alami adalah masa lalu.


Menerima kenyataan... mungkin itu lah jalan satu-satunya agar kita bisa melangkah menuju masa depan.


"Ingat kakak, Kau hidup bukan untuk masa lalu tapi untuk masa depan. Untuk kebahagianmu, kebahagiaan anakmu, kebahagiaan brother Andrew. Yang terpenting kebahagian keluarga kecilmu." ujar Lia setiap kali mendapati Diana menangis.


"Seandainya aku tidak datang di antara mereka, mungkin Rachel tidak harus mengalami hal tragis seperti itu." sesal Diana.


"Tapi kau akan membuat brother Andrew tersiksa hidup dengan wanita dan keluarganya yang gila!" seru Lia mengingatkan pada Diana.


"Seandainya aku memahami Rachel, mungkin semua ini tidak akan terjadi."


"Kau tidak dapat menyelamatkan mereka semua. Kau hanya bisa menyelamatkan mereka yang mau membuka hati." nasihat Lia pada kakaknya. Dia masih tidak dapat mengerti jalan pikiran Diana. Bagaimana seorang wanita bisa mengorbankan kebahagiaannya untuk kebahagiaan orang lain.


"Hiduplah untuk kebahagianmu. Perjuangkan kebahagiaan keluargamu. Jangan perdulikan yang lain." lanjut Lia yang berusaha memberi semangat pada Diana.


Diana tersenyum dia mengusap air matanya dan memandang pada Lia. Beruntung dia memiliki seorang adik yang selalu mendukung dan setia disampingnya.


"Sejak kapan adikku yang manja berubah menjadi begitu dewasa?" ucap Diana lirih menggoda.


"Hallooo.... darimana saja kakak? Aku kan dari dulu memang bijaksana." ujar Lia yang memancing tawa diantara mereka.


"Oh ya? Lalu bagaimana kebijaksanaanmu dalam memilih antara Briant dan Jason?" goda Diana balik.


Lia yang diserang balik spontan cemberut.


"Kenapa tiba-tiba membahas diriku?" Cicit Lia dengan kesal.


"Karena aku melihat kau amat bergantung pada keduanya. Katakan bagaimana perasaanmu pada mereka?" selidik Diana.


"Kakak! Kita kan sedang membicarakan tentang dirimu." cicit Lia lagi dengan jengkel.


"Jangan menghindar dari pertanyaanku! Kau tidak ingin kan aku menangis terus menerus menyesali yang terjadi bukan? Sekarang biarkan aku melupakan semua dan berpaku pada dirimu." serang Diana balik yang membuat Lia terdiam.


"Bagaimana perasaanmu dengan Briant?"


Lia diam dan menimbang.


"Dia membuatku merasa damai. Sikapnya yang tenang, dewasa dan tampan membuatku merasa aman didekatnya. Jujur aku tidak suka sahabatmu Grisella dekat dengan Briant. Dia.... seperti merampas benda kesayanganku." ucap Lia dengan lirih sambil menerawang jauh.


"Lalu Jason?"


"Dia kan menyukaimu kakak. Dia tidak akan melirik padaku. Dan aku tidak akan dapat bersaing dengan bayanganmu."


"Hei.. hei... kau tahu aku unvailable. Yang aku tanya perasaanmu, bukan bagaimana dengan Jason."


"Huh! Dia selalu membuatku kesal. Aku tidak dapat menahan diri jika berbicara dengan dia. Dia menjengkelkan!"


"Tapi...." sela Diana sambil menatap Lia.


"Tapi.... saat dia lembut aku menyukainya. Dia selalu penuh dengan kejutan, membuat jantungku berdebar."


Diana tersenyum.


Liaa... jantung berdebar itulah kuncinya sayang.


Ujar Diana dalam hati


seperti Andrew yang selalu membuatku berdebar.


Dia sengaja tidak mengatakan pada Lia, karena dia tahu adikknya pasti akan menyangkal. Biarkan waktu yang alan memberi jawaban.

__ADS_1


"Dimana dia sekarang?" tanya Diana.


Lia mengangkat bahunya. Karena memang Jason selalu datang dan pergi dengan tiba-tiba. Bahkan terkadang chatt dari Lia tidak dia balas sehingga membuat Lia menghapus no pribadi dari Jason di ponselnya karena jengkel. Tapi meskipun begitu tanpa sadar Lia sudah hafal no Jason diluar kepala.


Seperti saat itu, sebuah panggilan tanpa nama masuk. Diana melirik dengan heran pada ponsel Lia. Belum sempat dia bertanya, Lia mengambil ponselnya dan menjauh.


"Ada apa lalat buah?!" sahutnya kesal.


Terdengar kekehan diseberang sana.


"Kau merindukanku kucing liar?"


Lia mencibir.


"Memangnya kau Hyu Bin sehingga aku harus merindukan mu?"


"Tentu saja, karena aku lebih segalanya dari aktor itu." sahut Jason dengan percaya diri.


"Dasar kau!"


Melihat Diana yang tertawa kecil, saat itu Lia baru sadar kalau dia telah menghidupkan speaker phone. Entah terlalu bahagia atau terlalu gugup.


Buru-buru Lia memantikan speaker phone nya dan pergi keluar dari kamar Lia. Disaat Lia keluar saat itu nanny membawa baby Aaron yang sudah bangun.


"Anank mommy, kemarilah mommy merindukanmu."


Bayi berusia lima setengah bulan itu tertawa riang melihat ke arah ibunya. Tangan dan lakinya bergerak- gerak lucu menggapai kearah Diana.


Dan saat dia sudah berada di pelukan ibunya. Dia langsung menyandarkan kepala nya di bahu Diana dengan manja sementara tangan kecilnya memeluk dada Diana.


Diana mengusap punggung anaknya dengan penuh kasih sayang.


"Ya sayang, mommy akan terus berjuang untuk kebahagianmu. Kebahagiaan keluarga kecil kita."


**************


Andrew yang awalnya melarang, akhirnya hanya bisa menuruti, sedangkan dirinya tidak dapat menemani karena sedang diburu pekerjaan yang harus segera dia selesaikan sebelum pernikahan.


Sekarang di tanah perkuburan yang terhampar rerumputan hijau dengan batu nisan bernama Rachel Willingthon, Diana meletakan seikat mawar berwarna merah.


Dia berpikir itu pasti bunga yang disukai oleh Rachel karena sewaktu di sekap di mansion milik Rachel dia melihat seikata mawar merah disana.


Diana menghela nafas memandang batu nisan itu.


"Semoga kau tenang di sana. Maafkan aku tidak bisa menjadi teman baik bagi mu." ujar Diana dengan tulus.


Naif?! Mungkin bagi sebagian heaters apa yang dilakukan Diana adalah hal naif. Bagaimana mungkin istri dan wanita simpanan bisa berteman? Tapi, mungkin di bagian dunia lain, hal itu bisa saja terjadi ketika hati mulai bisa memaafkan.


"Nyonya." sebuah suara mengejutkan mereka.


"Kau..." Diana melihat kepada sosok wanita tua yang sudah berada di dekatnya.


Pengawal yang berada di sekitar Diana mulai mendekati wanita tua itu dan mencekal tangannya.


"Lepaskan dia. Tidak apa-apa, kalian menjauhlah." ujar Diana kepada mereka.


Mereka mundur.


"Siapa dia kakak?" tanya Lia berbisik. Diana tidak menjawab perkataan Lia. Dia tetap memandang ramah pada wanita tua itu.


"Apakah anda mengingat saya, nyonya?" tanya wanita itu.


"Tentu saja. Kau yang menjagaku di mansion Rachel. Terimakasih." ujar Diana.


"Saya bersyukur, anda baik-baik saja. Saya tidak dapat menemukan kabar tentang anda sebelumnya."

__ADS_1


"Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu sekarang, apakah kau masih di mansion itu?"


Wanita itu mengangguk.


"Bulan ini adalah hari terakhir saya akan merawat mansion itu. Tuan Andrew sudah begitu baik memberi kami pesangon." tuturnya dengan penuh ucapan terimakasih.


"Lalu, kau akan kemana?"


"Saya akan kembali ke tempat asal saya. Uang yang diberikan tuan Andrew untuk kami cukup untuk bercocok tanam di desa dan menikmati hari tua." jawab nya dengan senyum kebahagiaan.


Wanita itu merasa senang, karena pada akhirnya para pelayan bisa lepas dari ikatan di mansion Rachel. Dimana sebelumnya mereka terikat harus bekerja di mansion tersebut akibat terbelit hutang yang tidak akan pernah habis seumur hidup.


"Nyonya, ini." wanita itu menyerahkan sebuah kotak berwarna gold. Kotak tersebut terbuat dari tembaga berlapis emas sangat indah dan mahal.


"Apa ini?" tanya Diana tidak mengerti.


"Ini adalah diary milik nona Rachel. Awalnya saya akan menguburnya disini. Tetapi ketika melihat anda, saya berpikir nyonya harus memilikinya." ujar nya bersungguh-sungguh.


"Tapi kenapa?"


"Anda akan memahami setelah membacanya."


Dengan ragu Diana menerima kotak itu.


Apakah ini kehendakmu ya Tuhan, untuk aku


memiliki buku diary Rachel? Aku bertemu


dengan pelayan ini bahkan tanpa kesengajaan.


"Baiklah. Aku akan menyimpannya."


"Terimakasih nyonya, saya permisi."


Wanita itu menganggukan kepalanya hormat kepada Diana dan Lia kemudian berlalu.


Diana masih memegang kotak itu sampai akhirnya Lia merebutnya.


"Aku yang akan menyimpan kotak ini. Kakak tidak perlu memikirkannya." kata Lia dengan tegas.


"Bisakah aku membacanya sedikit?" ujar Diana memohon.


"Tidak! Saat ini berkonsentrasi lah untuk menjadi pengantin cantik. Suatu saat akan tiba waktunya kau membaca ini." ujar Lia bersikeras.


Di dalam mobil, Lia menintip kotak kecil tersebut dengan perasaan kalut.


Kotak kecil, aku tidak tahu apa rahasia yang kau


simpan, tapi tidak akan aku biarkan kau


menghancurkan kebahagiaan kakakku. Tetaplah


diam ditempat persembunyianmu.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Rahasia?


Semoga rahasia yang membahagiakan.


Ayoop semangat like, coment dan vote ya.


Event akhir bulan, Vote terbanyak akan


mendapatkan tanda mata langsung dari Author

__ADS_1


sebagai ucapan terimakasih yaa.


Terimakasih atas dukungan kalian semua.


__ADS_2