
Pencarian akan Diana tetap berlanjut. Anthony yang takut akan ancaman dari Andrew memerintahkan semua anak buahnya dari bartender hingga barboy untuk mencari keberadaan Diana. Awalnya mereka tidak perduli hanya mengiyakan perkataan Anthony, tetapi ketika Anthony mengatakan, "Mr.Andrew mencari Diana untuk urusan penting dan siapa yang menemukannya, akan mendapatkan libur satu hari penuh di port day."
Mendengar kata libur satu hari penuh, hal itu tentu saja merupakan hal yang berharga bagi pekerja kapal pesiar.
Semua tampak sibuk mencari informasi tentang Diana, hingga menjadi suatu rahasia umum diantara para crew member.
Sementara itu Diana dikamarnya sedang berbicara dengan Mona melalui telphone kamar.
"Mona please tukar jadwal ya dengan aku." Kata Diana dengan nada memelas.
"Tapi kenapa Din?" tanya Mona diseberang sana dengan tidak mengerti. Mona seharian ini belum keluar dari cabinnya jadi dia tidak tahu kalau ada pencarian akan sahabatnya itu.
"Aku takut bertemu dengan tuan Anthony." Jawab Diana dengan nada kuatir.
"Kenapa?"
"Dia..." Diana sedikit malu bercerita tentang kejadian semalam. Mengingat hal itu kembali wajahnya bersemu merah dan jantungnya berdesir. Ribuan kupu-kulu mengelitik dari dada ke perut.
"Dia kenapa? Apakah kau melakukan kesalahan? Apa dia membentakmu?" Tanya Mona dengan kuatir sebab melalui telphone dia tidak dapat melihat expressi wajah Diana. Diana diam membisu membuat Mona tidak sabar lagi.
"Tunggu aku ke kamarmu." Mona sangat penasaran dengan keadaan sahabatnya. Dia segera keluar dari Cabinnya dan menuju ke cabin Diana.
"Ceritakan padaku apa yang terjadi." tanya Mona langsung ketika sudah tiba di cabin Diana dan duduk dihadapan gadis itu.
"Dia..." kembali suara Diana tercekat. Melihat wajah Diana yang bersemu merah Mona langsung mengambil kesimpulan, "Apakah dia berbuat mesum? Apa dia menciumu?" Pertanyaan Mona semakin membuat Diana bersemu merah dengan malu dia mengangguk.
"What's boss tampan dan tajir itu berbuat itu padamu? Sampai sejauh mana? Apa dia melakukan itu?" tanya Mona dengan penasaran. Diberondong begitu banyak pertanyaan membuat Diana menjadi bingung.
"Tidak tidak kami tidak sampai begitu." Jawab Diana gugup meyakinkan sahabatnya.
"Dia menciummu? Kau suka?" tanya Mona langsung.
"Entahlah aku takut saat itu." jawab Diana yang tidak mengerti apa yang dia rasakan
"Tapi kau suka?" Diana terdiam dengan pertanyaan Mona. Dia mengutuki dirinya sendiri yang bisa menikmati ciuman dan sentuhan dari Andrew. Betapa murahannya diriku ini.
"Kau menyukainya itu tidak masalah, semua wanita pasti menginginkannya. Dan lagi tampaknya Dia masih single, tidak ada berita tentang keluarganya di tabloid cruise. Tapi, jual mahal dikit say, jangan langsung dikasih. Aku senang kalau kau senang." Diana terdiam dengan perkataan Mona.
"Aku tidak yakin dia menyukaiku. Meskipun aku menyukai sentuhannya dan kharisma yang terpancar, tetapi aku sebal karena dia selalu sok berkuasa. Dia bertindak seakan-akan aku miliknya dan terlalu usil." Sahut Diana sebal apalagi mengingat seragam dan stocking bolongnya yang masih tertinggal disana.
"Hahahha kau lucu say, sudah terlalu lama menjomblo kau."
"Sudah ah aku balik ke cabin mau dandan dulu. Lobby jam 16.00 kan?" Diana hanya mengangguk menjawab pertanyaan Mona.
"Oke, ingat dinning room dimulai jam 17.00" Mona mengingatkan Diana. Dia segera meninggalkan Diana sendiri di kamar.
*Aku pikir kau akan kena skors tapi ternyata di cium boss tampan*.
__ADS_1
Sore harinya.
Dengan santai melalui lorong karyawan, Diana menuju ke dalam kerjanya sebuah bar kecil di ruangan tertutup didalam restaurant khusus fine dinning besar yang muat setidaknya tujuh ratus lima puluh orang. Dalam sebuah kapal pesiar besar ini bisa memuat lebih dari tiga ribu penumpang. Dan ada dua restaurant formal yang besar disisi yang berbeda. Setiap restaurant memiliki dua jadwal makan malam setiap harinya. Restaurant lainnya adalah open buffet yang terdapat dilantai sembilang berhadapan dengan open deck dan swimming pool. Alternatif lain adalah room services ataupun Executive lounge dimana justru tamu harus membayar setiap makanannya, ini area exclusive tempat Andrew biasa menikmati makannya.
Sebab itu Diana merasa lebih nyaman berada di bar tertutup disalah satu fine dinning restaurant. Restaurant yang selalu ramai oleh penumpang kapal.
Dia tidak menyadari detik dia masuk kedalam ruangan, seorang waitrees dari negara B menghubungi Anthony, "Dia disini bos, dinning room starbordside." (starbordside adalah istilah sebelah kanan kapal)
"Pastikan dia tidak keluar dan tetap didalam." Ujar Anthony yang kemudian segera menghubungi Andrew.
"Diana ada di bar pantry starbordside dinning room. Saya akan membawa dia ketempat anda sir." lapor Anthony.
"Jangan. Aku akan turun kesana." jawab Andrew dengan cepat.
"Hehe Diana, kita lihat bagaimana kau bisa menghindariku kali ini." Andrew terkekeh mengetahui gadis incarannya berhasil ditemukan.
Setelah mengenakan tshirt lengan panjang berwarna abu-abu dan celana panjang hitamnya Andrew menuju ke dinning rooms starbordside.
Dalam bar pantry
"Din, seharian semua orang mencarimu."ujar Febi.
"Aku? Tapi kenapa?" tanya Diana heran.
"Anthony yang memerintahkan semua untuk mencarimu dan imbalan menemukanmu adalah off satu hari penuh." Febi menjelaskan.
"Mau kemana kau, diam disini dan lakukan tugasmu. Awas kalau pergi, aku ceburin ke laut." Anthony tiba-tiba sudah ada dihadapan mereka. Meskipun bercanda tapi tampang Anthony terlihat sangat serius.
Diana terpaksa diam dengan gelisah sementara Febi meninggalkan mereka atas perintah Anthony.
Dan Andrew sudah ada diantara mereka. Tanpa permisi Anthony segera meninggalkan Andrew dengan Diana yang terpojok dalam kegelisahannya. Ada campuran rasa takut tapi malu.
Dasar Anthony managers merangkap germo
Kutuk Diana dalam hatinya.
Andrew menghampiri Diana, dia merasa geli melihat wajah polos gadis dihadapannya yang tampak bingung. Dan dia sengaja menggoda gadis itu tanpa mengeluarkan sepatah katapun tapi berjalan semakin mendekatinya dan membuat Diana terpojok di dinding ruangan.
"Maaf tuan, an...anda mau apa?" tanya Diana dengan gugup melihat Andrew semakin dekat. Andrew berhenti tepat didepan Diana satu tangannya menyentuh didinding sebelah kanan gadis itu. Dia dekatkan tubuhnya bertindak seakan-akan hendak menciumnya sementara Diana gelisah sambil memejamkan matanya. Tapi tidak terjadi apa-apa. ketika dia buka matanya tampak Andrew duduk di meja bar sambil memegang satu botol bir dan menatapnya sambil tersenyum.
Diana bernafas lega sekaligus malu dipandang sedemikian rupa oleh Andrew. Masih dengan kesadaran dia melirik kearah pintu bar pantry yang telah tertutup.
*pasti ulah Anthony. pantas saja tidak ada yang berani masuk mem**bawa orderan*.
__ADS_1
"Jangan coba-coba kabur lagi." Andrew sepertinya tahu jalan pikiran Diana.
Diana hanya dapat menyeringai kikuk.
"Katakan kenapa kau pergi dari kamarku?" tanya Andrew.
"Hmm aku rasa miss Lisa sudah ada untuk menemani anda." Jawaban asal Diana.
aku takut dekat-dekat denganmu boss mesum.
"Kau cemburu?" Diana terbelalak mendengar pertanyaan Andrew dan menjawabnya dengan cepat, "Tentu tidak. Miss Lisa tampak lebih baik menemani anda tuan." Diana mencari-cari alasan yang tepat.
"Oh ya, kenapa?" tanya Andrew lagi.
"Karena dia cantik dan pintar juga anggun."
"Berarti kau jelek dan bodoh?" goda Andrew sambil menahan senyumannya dengan menegak bir ditangan.
"Dibandingkan miss Lisa, mungkin."
" Tapi aku sukanya dengan kamu." kata Andrew lagi dan tentu saja membuat Diana mati kutu bingung hendak menjawab apalagi.
"Meskipun kau jelek dan bodoh seperti katamu. Tapi aku maunya kamu yang menemaniku." bisikan Andrew terdengar lembut di telinga. Hembusan nafas yang sengaja ditiupkan ditelinga membuat jantung Diana semakin berdebar.
"Ayo sekarang temani aku makan." ujar Andrew setelah menghabiskan sebotol bir.
"Maaf saya lagi bertugas tuan." Diana mencari-cari alasan lagi.
"Kau pikir siapa pemilik kapal ini, heh?"
"Tapi tuan, apakah anda suka memiliki karyawan yang malas?" serang Diana balik.
"Jangan coba-coba mencari alasan lagi. Sekarang ikut aku baik-baik atau harus aku gendong?" ancam Andrew seraya menyodorkan tangan kanannya dihadapan Diana menanti gadis itu menyambutnya.
Setelah beberapa saat Diana akhirnya mengulurkan tangannya yang segera digenggam erat oleh Andrew seraya menarik gadis itu dalam pelukannya. Dia peluk dan usap lembut punggung gadis itu dan mencium aroma tubuhnya yang bagaikan extasy.
baru setengah hari aku sudah begitu merindukannya
Puas memeluk Diana, Andrew menggandengnya keluar dari bar pantry diikuti pandangan iri dari setiap karyawan dan senyum kemenangan dari Anthony.
naik pangkat naik pangkat. Thanks Diana.
ujar Anthony dalam hatinya.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
__ADS_1
Ini ada gambaran besarnya dining rooms di kapal pesiar ya. Ada dua lantai dimasing-masing sisi.