Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Berkumpul


__ADS_3

"Hai... Diana. Kumpul yuk, kita ketemuan di luar. Aku sedang bosan karena suami ku lagi keluar negri." Chatt dari Yoora di suatu pagi.


"Hai Yoora, kenapa kau tidak ikut suami mu?" balas Diana


"Males ah, Dia pergi ke Malaysia dan Brunai, mungkin juga Indonesia. Keliling beberapa negara, aku terlalu lelah untuk mengikutinya. Atau... bagaimana jika kita bertemu di rumahku. Tidak ada kata tidak. Aku tunggu kedatanganmu. Sebentar akan aku hubungi yang lain." chatt Yoora.


"Aku pamit dulu ya."


"Yaelahhh... suami di luar juga, kenapa harus ribet pamit pula."


Diana mengirimkan icon smile.


Kemudian Diana beralih ke chatt Andrew.


"Andrew, Yoora mengundang ku berkunjung ke rumah nya siang ini."


Tampaknya Andrew tidak terlalu sibuk sehingga langsung membaca dan membalas chatt Diana.


"Pergilah jika kau menginginkannya."


"Benarkah aku boleh berkunjung ke kediaman Yoora?"


"Tentu saja."


"Trimakasih Daddy sayang."


"Aaron akan ikut bersamamu juga?"


"Tentu saja. Aku akan berpesan kepada nanny Maria tentang Conrad."


"Baiklah. Bersenang-senanglah dengan teman-teman baru mu."


"Trimakasih sayang, aku akan pulang sebelum kau kembali."


"Okey."


"Muah.."


"Muah. I LOVE YOU."


Diana sangat senang sekali karena Andrew mengijinkannya keluar. Bukannya Andrew melarang, tetapi memang pada dasarnya Diana lebih senang tinggal diam di rumah bermain dengan Aaron apalagi semenjak Lia pergi.


Ini pertamakalinya dia memiliki teman lain selain Grisella yang selalu mengunjungi nya.


Diana meletakan smartphone nya dan berjalan membuka pintu kamarnya.


"Nanny Alma." Diana memanggil pengasuh yang biasa merawat Aaron.


"Iya nyonya." Alma bergegas menghampiri nyonya muda nya.


"Tolong persiapkan perlengkapan Aaron kita akan pergi ke kediaman Kim Yoora." ujar Diana pada pengasuh itu yang dibalas dengan anggukan hormat.


Setelah persiapan selesai, Diana berpesan pada butler Jhon agar menjaga Conrad ketika anak itu kembali dari sekolah.


"Nyonya tidak perlu khawatir, saya akan menjaga tuan muda Conrad. Saya juga sudah menyiapkan pengawal untuk mendampingi anda."


"Apakah itu perlu?"


"Tuan Andrew yang memerintahkan, nyonya."


Diana enggan membantah, meskipun baginya tindakan Andrew berlebihan. Dia hanya pergi ke rumah seorang teman.


*

__ADS_1


*


Diana tiba di kediaman Kim Yoora yang hanya berjarak tiga puluh menit dari nya. Tampak beberapa kendaraan sudah terparkir di rumah megah tersebut.


Kedatangan Diana disambut oleh YooRa, Elina, Caroline dan Grisella.


Mereka langsung membawa Diana ke sebuah ruangan utama dengan menikmati pemandangan taman yang sangat indah. Ada serupa air terjun yang mengalir mengelilingi kolam ikan.


Dan Kim Yoora menunjukan sebuah kamar yang di desain untuk anak-anak. Kamar itu penuh dengan mainan anak-anak. Disanalah nanny dan Aaron bermain.


"Apakah ini kamar bermain untuk anakmu?" tanya Diana


"Iya."


"Dimana mereka sekarang?"


"Mereka mengikuti study camp."


"Ah.."


Diana meninggalkan Aaron dan mulai berbincang dengan para wanita tersebut.


"Hei, aku baru tahu ternyata Grisella adalah seorang design interior." ucap Elina yang sedari tadi duduk di dekat Grisella.


"Yang terbaik. Dia mendesign kediaman kami dengan sangat indah dan elegant." sahut Diana membanggakan Grisella.


"Benarkah? Mungkin lain kali kita harus berkumpul di kediamanmu Diana dan menikmati hasil karya Grisella." ujar Caroline dengan anthusias.


"Boleh kami berkunjung ke mansion mu?" tanya Elina dengan anthusias.


"Tentu saja boleh." sahut Diana.


"Kau yakin tidak perlu bertanya dulu lepada suamimu. Karena... aku dengar kalau suamimu pria dingin dan posesive." ujar Caroline.


"Kau mengenal Andrew?" tanya Diana balik.


"Kau terlalu melebihkannya. Dia pribadi yang hangat," bela Diana.


"Apakah dia sudah berubah?" mata Caroline terbelalak heran.


"Tentu saja Andrew akan berubah menjadi pribadi yang hangat berkat sentuhan malaikat cintanya " celetuk Grisella.


"Ah benar. Aku jadi penasaran bagaimana kalian awal pertemuan kalian." Caroline beranjak mendekati Diana dengan antusias.


Diana merasa jengah.


"Karena setauku setelah bisnis keluarganya yang hancur dulu dan patah hati, dia berubah menjadi pria dingin dan play boy," Caroline tidak hentinya berbicara mengenai masa lalu Andrew.


"Dan.. ah, wanita itu yang bertemu denganmu, Grisella, ya model itu, bukankah dia salah satu wanita yang pernah di jamah oleh Andrew bukan?"


"Hemmmh... sebenarnya saat di pesta itu bukan saja Grisella, yang aku dengar, anak pewaris hotel Filton, wanita pemilik perusahaan furniture, perancang busana dan.."


"Nona Carol anda tampaknya sudah banyak mengetahui tentang suamiku. Anda benar-benar sangat hebat menggali setiap informasi, apakah itu penting?" potong Diana yang merasa jengah dengan setiap kata yang keluar dari mulut Caroline.


"Ah... maafkan aku jika perkataanku menyinggungmu. Mungkin aku terlalu jujur." Caroline menyesap anggur ditangannya dengan perlahan.


"Bagaimana denganmu Carol, dimana kau bertemu dengan suami mu?" Grisella yang sedari tadi diam mulai bertanya balik kepada Caroline dengan pertanyaan yang sama.


"Hahahhaha... tidak ada yang menarik dari cerita hidupku. Aku menikahi duda dari Itally yang mempunyai kebun anggur dan mengubahnya menjadi minuman yang nikmat." ujar Caroline sambil menggoyangkan wine di tangannya.


"Dan apa yang membuatmu pindah ke tempat ini." tanya YooRa dengan penasaran.


"Aku hendak memperlebar bisnisku. Aku ingin bekerja sama dengan perusahaan disini. Mungkin si Raja Kapal Pesiar berminat?" tanya Caroline sambil menoleh ke arah Diana.

__ADS_1


"Maaf urusan pekerjaan aku tidak ikut campur." sahut Diana yang mengerti arah pembicaraan Caroline.


"Ah. Tentu saja." sahut Caroline datar.


"Hei... ladies mari kita nikmati makan siang." Kim Yoora memecahkan ketegangan dengan menawarkan makanan.


"Kau memang yang terbaik Yoora." pekik Elina dengan gembira.


Gadis cantik itu berdarah campuran America dan Mexico merupakan seorang putri dari gubenur. Meskipun manja, Elina merupakan gadis yang baik hati.


Diusianya yang ke dua puluh enam dia belum memiliki kekasih. Elina pernah patah hati ketika pria yang dia cintai menjadi duta besar di Thailand dan kemudian memutuskan menikahi wanita setempat.


"Bagaimana kalau kita mengadakan pertemuan lagi. Aku senang sekali berkumpul bersama kalian," ajak Caroline dengan bersemangat.


"Tentu saja. Dimana kita akan bertemu selanjutnya?" tanya Yoora dengan bersemangat.


"Aku yang mengajak berarti aku yang akan menentukannya. Akan aku kirim kan alamat dan waktunya." ujar Caroline dengan bersemangat.


"Asal jangan hari jumat sampai dengan minggu." kata Diana sambil memotong ikan di piringnya.


"Tentu saja. Suami mu melarang?" tanya Caroline dengan menyungging senyuman tipis di sudut bibir.


"Bukan hanya karena itu. Hari itu adalah saat dimana anakku Conrad lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Kami selalu berusaha menghabiskan waktu bersama." Diana menjelaskan dengan tenang. Diraihnya segelas air putih untuk mendorong makanan yang terasa menyangkut di tenggorokan.


"Kau ibu yang baik, Diana. Bahkan anakku menghabiskan waktu nya dengan bermain game." keluh Yoora yang hanya dibalas dengan senyuman.


"Ah .. aku ingin memiliki keluarga seperti mu Diana," kata Elina dengan tersenyum manja.


"Makanya lepaskan dirimu dari masa lalu. Banyak pria tampan yang menanti mu." celetuk Yoora sambil menepuk bahu Elina.


"Kau belum memiliki kekasih?" Caroline bertanya dengan menaikan salah satu alis matanya.


"Aku tampaknya akan menjadi perawan tua." keluh Elina.


"Hahaha... jangan khawatir, aku pasti akan memperkenalkanmu dengan seseorang." Ujar Caroline dengan bersemangat.


"Benarkah?"


"Tentu saja."


Elina tampak gembira dengan janji dari Caroline.


"Aku permisi sebentar, saatnya menengok anakku," pamit Diana kepada keempat wanita tersebut.


"Aku ikut. Aku kangen sekali dengan Aaron." ujar Grisella yang berjalan menyusul Diana.


Setelah agak jauh dari ke tiga wanita yang masih saja berbincang. Grisella berkata pada Diana, "aku tidak suka dengan Carol. Menurutku dia terlalu berlebihan."


"Maksudmu?" Diana menoleh pada Grisella.


"Tampaknya kita, terutama dirimu, harus berhati-hati dengan Carol."


"Kenapa bisa begitu?"


"Entahlah aku menangkap nada suara dan pandangan yang aneh dari nya kepada mu."


"Dia memang banyak berbicara tentang Andrew, tapi itu dari sudut masa lalu Andrew yang memang suram dan baabyak menjadi gosip.Tapi mungkin dia tidak bermaksud mengungkit hal itu." sanggah Diana.


"Mungkin kau benar. Tapi aku tetap tidak suka." Grisella mengangkat bahu nya.


Pertemuan hari itu berlangsung dengan percakapan hingga pukul empat sore, Diana dan Grisell pamit sementara Caroline dan Elina memutuskan untuk tetap tinggal di rumah Yoora hingga makan malam.


Setelah kepergian Diana dan Grisella. Mereka memutuskan untuk berenang. Dan disaat itu Caroline mulai mengatakan sesuatu yang membuat Yoora dan Elina heran.

__ADS_1


"Aku kasihan dengan Diana." ucap Caroline sambil menegak soda ditangannya.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


__ADS_2