
"Kau mau tunggu disini atau mau ikut ke parkiran?" tanya Conrad.
"Aku ikut. Serem disini sendirian. Nanti ada yang nyulik aku lagi. hiiiii... serem." ujar Jasmin berbicara sendiri.
"Hahhaha... yang nyulik bakalan kapok." sahut Conrad.
"Kok begitu?" tanya Jasmine heran.
"Kapok, mereka gak kuat dengerin kicauanmu." ujar Conrad menggoda.
"Ah... gitu ya, jadi menurutmu aku cerewet ya..." suara Jasmine terdengar sedih. Kepalanya menunduk menyembunyikan raut wajah nya. Rambut panjang yang terurai menutupi pandangan Conrad. Pemuda itu tidak menyangka jika kata-katanya menyakiti perasaan Jasmine. Conrad menjadi tidak enak hati dengan sikapnya.
"Maaf. Maaf. Aku hanya bercanda. Jangan sedih dan marah yaaa." ujar Conrad memelas.
"hmm..." Jasmine hanya menggumam sambil menundukan kepalanya.
"Ayolahh... jangan bersedih. Kamu lucu kok. Kicauanmu merupakan hiburan tersendiri." Conrad masih berusaha menenangkan Jasmine.
"Tapi tetap saja menjengkelkan, kan? Heh! mungkin aku lebih baik diam saja." keluh Jasmine sambil tetap menunduka kepalanya. Mereka sudah tiba di depan mobil Conrad. Tapi Jasmine masih saja menunduk. Conrad jadi merasa bersalah.
"Jangan salah paham. Aku suka dengan gaya mu yang selalu banyak ide dan ceritamu selalu berhasil mencairkan suasana. Tadi, aku hanya bercanda. Karena menurutku penculik pasti mengira jika dirimu akan menangis, tetapi malah sibuk dengerin ceritamu." ujar Conrad panjang lebar, tanpa mengerti apa yang dia ucapkan.
"Benarkah?"
"Iya."
"Kalau begitu aku tidak jadi sedih. Hahhaha, ayo buka pintunya." Jasmine tertawa melihat Conrad yang bingung.
Sedari tadi ternyata dia hanya menggoda pemuda tampan. Conrad hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena sudah dikerjain Jasmine. Sedangkan Jasmine tetap terus tertawa sambil duduk di kursi depan mobil ford keluaran lama tersebut.
"Kau tahu rumahku?" tanya Jasmine.
Conrad menggeleng.
Jasmine menyebutkan sebuah alamat.
Conrad mengenali alamat tersebut sebagai perumahan mewah.
"Aku hanya dua bersaudara. Robert adalah kakakku satu-satunya. Kalau dirimu, berapa saudara yang kau miliki?" tanya Jasmine.
"Aku punya enam adik." ujar Conrad.
__ADS_1
"Apa? Gilaaa! Kerennn banget. Pasti di rumah mu selalu ramai dan tidak pernah kesepian."
Jasmine benar-benar senang mengetahuinya.
"Hemm.. selalu ramai." Conrad tersenyum membayangkan betapa ramai rumahnya.
"Wah pasti seru ya. Karakter yang berbeda dalam sebuah keluarga."
"Hemhhh."
"Kau pasti tidak pernah kesepian."
"Tidak. Adik-adikku selalu mempunyai ulah yang membuat ku tertawa." sahut Conrad sambil membayangkan Aaron yang selalu percaya diri, Francesca yang rendah hati, Archie yang cool, Adelaide yang lembut hatinya dan Anna yang periang dan ceriwis seperti Jasmine.
"Kau seperti adikku yang paling kecil. Dia sangat lincah dan ceriwis, kadang terkesan tomboy." Conrad terkekeh.
"Benarkah. Wahhh... lain kali aku harus bertemu dengan Anna." sahut Jasmine dengan riang.
"Tentu saja." Conrad tersenyum.
Mereka sudah tiba di depan rumah Jasmine. Gadis itu menoleh ke jendela sambil menghela nafas.
"Sama-sama."
Jasmine turun dari mobil. Dia memencet bel dan menyebutkan namanya melalui interkom. Tak lama kemudian pintu gerbang terbuka. Jasmine menoleh pada Conrad yang masih menunggu hingga dirinya masuk. Gadis itu melambaikan tangan pada Conrad. Dia masih memandangi mobil Conrad dari balik pagar besi, hingga hilang dari pandangan.
Jasmine berbalik dan menatap rumahnya. Rumah megah berlantai dua. Rumah yang indaha namun begitu sepi. Dengan Robert yang tidak ada di rumah, maka dia hanya sendiri dengan para pelayan. Jasmine kesepian. Kedua orang tua Jasmine selalu sibuk bekerja. Ayah Jasmine adalah ahli bedah ternama sekaligus Directur Rumah sakit, sedangkan ibunya adalah Presiden Directur di rumah sakit yang sama.
Dan sekarang Robert menuruni bakat dari ayahnya. Sedangkan Jasmine yang lebih menyukai Fashion designer, harus mengorbankan mimpinya dan kuliah di jurusan Bisnis Ekonomi.
Jasmine harus menguburkan angan demi keluarga nya.
*
Sementara itu, disebuah pub yang terkenal di pusat kota Miami. Robert masuk kedalam pub tersebut. Dia langsung masuk sebagai pelanggan VIP tanpa harus mengantri. Robert naik kelantai dua dalam ruangan VIP. Ruangan khusus dengan dinding dari kaca. Dari atas sana mereka bisa melihat manusia yang mulai berdatangan dan bergoyang mengikuti irama
Robert segera masuk menemui Fandrey dan Hans. Di dalam ruangan tersebut sudah terdapat berbagai macam botol minuman dan wanita cantik.
"Hi bro, lama banget sih." ujar Hans.
"Iya lagi keluar sama adik." jawab Robert.
__ADS_1
"Sejak kapan loe doyan keluar sama adik loe?" tanya Fandrey.
"Hehehehe..." Robert cengar-cengir.
"Tumben dapat yang lumayan." ujar Robert melirik ke arah tiga wanita yang asyik bergoyang dihadapan mereka.
"iya bro. Yang dua itu fresh graduate janda, sudah cerai tiga kali dan yang disana anak yatim," sahut Hans dengan terkekeh.
"Benar... kita harus berbuat sosial dengan berbagi dan mendukung anak yatim." Fandrey tertawa.
"Setuju! Aku mau yang anak yatim. Kayaknya masih fresh. " ujar Robert yang sudah mengincar targetnya.
"Aku lebih suka janda. Lebih hot dan ahli." Hans dan Fandrey saling mengerdipkan mata.
"Gadis-gadis cantik kemarilah, peluk hot daddy ini." Hans menghampiri salah satu wanita yang cantik dan bertubuh montok. Fandrey juga sudah mendekati targetnya. Sedangkan Robert terkekeh ketika seorang wanita yang paling muda menghampiri dirinya.
"Kau cantik dan mirip dengan wanita yang aku sukai." ujar Robert sambil mengangkat dagu wanita berdarah Asia dan berambut hitam legam.
"Kalau begitu, bagaimana jika kakak menganggapku sebagai dirinya." ujar wanita tersebut dengan lembut dan malu-malu.
"Aku suka usulmu."
Robert mulai mendaratkan kecupan lembut di bibir gadis, yang dia sendiri tidak tahu dan tidak mau tau namanya. Mereka saling berpelukan dan berciuman, seiring irama musik.
"Hey bro! Minum dulu! Mainnya ntar saja, agak malaman." Hans menepuk bahu Robert yang tampak buas mencium gadis tersebut.
"Ah loe, ganggu aja. Gue lagi pingin nih." Desih Robert kesal.
"Gue tahu. Ajak gadis itu minum dulu, biar makin hot." Fandrew menuangkan minuman alkohol yang berwarna seperti teh, dan memberikan pada Robert.
Robert menerima minuman tersebut dan menempelkan di mulut gadis yang menempel disisinya. Gadis tersebut menyesap perlahan dan sedikit menutup mata merasakan rasa panas yang membakar kerongkongannya.
Robert menuangkan lagi segelas dan mulai menegaknya habis. Dia melakukannya lagi dan memberikan gelas tersebut pada gadis yang kulai terbuai alkohol. Robert menikmati alkohol sambil asyik meraba bagian tubuh yang diinginkannya.
Setelah beberapa saat, tampak Robert sudah tidak dapat menahan lagi keinginannya.
"Gue lupa bawa ******." bisik Robert pada Hans.
"Ambil tuh, gue bawa banyak."
Robert segera membawa beberapa ****** dengan berbeda varian. Kemudian dia menggandeng gadis tersbut menuju ruangan kamar yang menyatu di ruangan ViP pub tersebut.
__ADS_1