Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Mengunjungi flat Conrad


__ADS_3

Hari yang cerah, Conrad sengaja berjalan kaki menuju halte bus. Dia yakin, akan bertemu dengan Ruby disana. Dan benar seperti dugaannya. Ruby ada disana. Gadis itu awalnya duduk, tetapi kemudian berdiri dan mempersilahkan seorang kakek untuk duduk ditempatnya. Conrad yang melihatnya dari jauh menjadi tersentuh. Dia semakin yakin Ruby adalah pilihan yang terbaik.


"Hai Ruby.."


"Conrad?"


"Kau naik bus?" tanya Ruby heran.


"Iya." Conrad tersenyum.


Bus tiba. Conrad yang pertama kali menggunakan bus, tidak memunyai kartu untuk membayar. Dia merogoh sakunya, mengeluarkan dompet dan mengambil uang sepuluh dolar. Conrad memberikan uang itu pada supir bus.


"Tidak ada kembalian. Bayar saja pakai kartu." ujar si supir sambil menjalankan busnya.


Conrad yang masih berdiri di depan supir bus, keseimbangannya hampir oleng, karena terkejut dengan bus yang tiba-tiba melaju. Di saat dia bingung harus bagaimana membayar ongkos bus, Ruby mengeluarkan uang satu dolar dan memberikan pada supir bus.


"Ini untuk temanku."


"Terimakasih Ruby. Ini untuk menggantinya." Conrad memberikan uang sepuluh dolarnya untuk Ruby


"Hahhaha tidak perlu Conrad. Anggap saja aku mentraktirmu hari ini." ujar Ruby.


"Baiklah. Aku pasti akan mentraktirmu balik." sahutnya sambil duduk disebelah Ruby.


Mereka asyik berbincang dengan akrab di dalam bus. Ruby banyak bertanya mengenai ilmu kedokteran. Dan Conrad dengan senang hati menjelaskan. Conrad senang sekali ketika Ruby memperhatikan dirinya ketika menjelaskan. Bagi Conrad Ruby selain cantik sangat pandai.


Tanpa terasa mereka sudah tiba di kampus. Conrad berjalan berdampingan dengan Ruby. Ditengah perjalanan Robert menghampiri, dia menepuk pundak Conrad.


"Hallooo... Selamat pagi."


"Hei Robert." sapa mereka bersamaan.


"Aku cuma ada mata kuliah satu hari ini. Bagaiman dengan kalian?" tanya Robert.


"Aku dua." jawab Ruby.


"Aku satu." sahut Robert.


"Kalau begitu kita akan menunggu mu di perpustakaan. Bagimana Conrad. Aku akan mengajak kalian keluar hari ini."


"Baiklah Robert." sahut Ruby.


Conrad menoleh pada Ruby yang tampak bersemangat hari ini.


"Oke. Kita akan berkumpul di tempat biasanya."


Mereka kemudian masuk ke dalam ruang kelas masing-masing.


***


Di Cafe.


"Malam minggu besuk kalian ada acara apa ?" tanya Robert.


Rubi menggelengkan kepala.


"Kalau kau Conrad?" tanya Jasmine.

__ADS_1


"Aku ada janji dengan adik-adikku. Sabtu sore mereka akan bermain musik di jalanan Riverview, Pengamen cilik." Conrad terkekeh.


"Benarkah?" Mata Jasmine berbinar.


"Apakah kau juga akan bermain musik disana?" tanya Jasmine lagi.


"Mungkin tidak. Aku hanya membantu mereka mempersiapkan sound system."


"Bagaimana kalau kita semua kesana? Kita bisa santai sambil menyuport adik-adik Conrad. Bagaimana?" Jasmine bersemangat.


Conrad memandang Jasmine heran. Reaksi Jasmine dan Ruby sangat berbeda. Jasmine tampak bersemangat untuk bertemu dengan adik-adiknya. Semalam ketika dia mengatakan gak yang sama, Ruby hanya diam saja tanpa reaksi. Conrad menepis perasaan anehnya. Bagaimanapun juga kedua orang ini berbeda.


"Tampaknya asyik. Riverview di hari sabtu, menyenangkan juga." Timpal Robert.


"Okey. Kalau begitu kita deal akan kesana. Kau ikut kan Ruby? Aku bisa menjemputmu." ujar Jasmine bersemangat.


"Baiklah."


"Deal!"


Tanpa terasa hari sudah mulai gelap. Robert mengantarkan Conrad dan Ruby. Mobil Robert tiba di depan Flat yang di tempati oleh Conrad. Ketika Ruby juga turun di tempat tersebut, Jasmine menjadi heran.


"Kalian tinggal se apartment?"


"Tentu tidak. Kediaman Ruby hanya beberapa blok dari tempatku." sahut Conrad. Sementara Ruby mengalihkan pandangan.


"Ah.. pasti asyik ya, ada teman akrab satu kompleks. Apakah keluargamu semua ada disini?" tanya Jasmine sambil menatap Conrad.


"Tidak. Aku hanya sendiri di flat ini."


"Kalau begitu. Bolehkan kita bertamu sebentar?" tanya Jasmine lagi.


"Sebentar aja, kan masih jam tujuh. "


"Baiklah." Robert mengalah


"Boleh, Conrad?" tanya Jasmine penuh harap.


"Boleh saja. Tapi jangan kaget ya. Kediamanku kecil dan kotor."


"Asal tidak berjamur saja." Jasmine terkekeh.


"Ayo Ruby, kita ke rumah pemuda ini." Jasmine mengamit tangan Ruby.


Ruby tidak bisa menolak lagi. Dia sebenarny enggan masuk kedalam flat Conrad. Dia khawatir jika teman-temannya itu akan berkeinginan mendatangi kediamannya juga. Ruby merasa risih.


"Wahhh Conrad. Kediamanmu bersih juga. Tidak berdebu kok." ujar Jasmine yang sudah masuk ke dalam flat Conrad. Dia mengusapkan jari telunjuknya dan tidak ada debu disana.


Conrad terkekeh. Tentu saja bersih. Setiap dua hari seorang pelayan di mansion datang membersihkan kediamannya. Mereka mengambil baju kotor dan membawa ganti baju bersih. Mesin cuci hanya menjadi hiasan.


Flat kecil itu terdiri dari satu kamar tidur, satu ruang tamu yang menyatu dengan dapur dan meja makan, satu kamar mandi dan satu ruang perlengkapan, dimana mesin cuci juga ada disana.


Jasmine tanpa malu, membuka lemari dapur, dan hanya menemukan beberapa kotak Cereal. Dalam lemari es, terdapat beberapa minuman kaleng dan Satu jiirigen susu cair. Tidak ada bahan makanan maupun cemilan.


"Apa seperti ini ya, tempat tinggal laki-laki." ucap Jasmine.


"Memang kenapa?" tanya Ruby.

__ADS_1


"Kosong. Tidak ada makanan." Jasmine terkekeh.


"Pria itu simpel. Biasanya kalau lapar juga tinggal, pencet aplikasi, delivery datang." Kata Ruby.


"Aplikasi Delivery? Bagaimana caranya?"


"Kau tidak pernah menggunakannya?"


Jasmine menggeleng. Karena pada kenyataannya, di rumah Jasmine sudah ada koki yang siap membuatkan makanan apapun yang dia inginkan. Jikalau ada yang mereka tidak bisa, maka kepala pelayan akan memasan makanan terbaik di restaurant ternama.


"Ah.. ini aku tunjukan." Ruby menunjukan aplikasi nya. Dan Jasmine segera mendowlod di handphone nya.


"Apakah kita perlu memesan sesuatu sekarang?" tanya Jasmine.


"Aku masih kenyang." Tolak Ruby.


"Kalian mau camilan gak?" teriak Jasmine pada kedua pria yang asyik mengobrol di balcony sempit.


"No Jasmine. Aku harus pergi. Ada rapat dengan..."


"Ya... ya.. aku mengerti." potong Jasmine mendengar alasan kakaknya. Jasmine sebenarnya tidak suka jika Robert bergaul dengan Hans dan Fandrey. Bagi Jasmine kedua teman kakaknya itu terlalu liar, meskipun mereka baik dan menghormati dirinya.


"Kalau begitu. Sampai bertemu besuk ya. Selamat malam Conrad."


Conrad mengantarkan ketika temannya sampai lantai bawah. Saat Mobil Robert dan Jasmine hilang dari pandangan, Conrad mengantarkan Ruby pulang.


Mereka berjalan tanpa berbicara apapun. Ruby masuk ke dalam gedung flatnya, meniti tangga dengan jumlah yang sama seprti flat Conrad.


"Kau baru pulang, Ruby?" tanya ibu nya.


"Ya mom."


"Besuk, ambil cuti kerja dan temani ayahmu di rumah. Mommy ada shift malam. Rose ada audit di tempatnya bekerja dan Ryan akan kemping."


Ruby menghela nafas.


"Ya mom."


Wanita setengah baya yang masih terlihat cantik itu membaringkan suaminya di kamar, kemudian menghampiri Ruby.


"Bagaimana? Apa kau sudah mendapatkan seorang pria kaya di kampus?" tanya nya sambil mengambil stoples kacang.


Ruby menggeleng.


"Aku sudah berinfestasi banyak padamu. Lihat dirimu, cantik dan mulus bagaikan pualam. Kau harus mendapatkan pria kaya yang bisa menopang hidupmu. Ketampanan itu nomor dua. Untuk apa tampan jika akhirnya tidak berguna." wanita itu melirik kamar, khawatir jika suaminya mendengar.


"Aku mengerti mom."


"Jangan hidup sepert diriku. Lihat sampai tua pun aku harus menderita. Aku harus bekerja keras membanting tulang mencukupi kebutuhan kalian semua."


"Ya mom."


"Tapi ingat, jangan sia-siakan beasiswa mu. Aku sudah mati-matian memohon pada direktur rumah sakit, agar beasiswa tahunan itu jatuh padamu, kau mengerti?"


"Ya mom, aku mengerti."


Rubu beranjak hendak masuk kamar.

__ADS_1


"Tapi ingat Ruby, meski bagaimanapun kau harus menghargai daddy mu. Meskipun kau lelah menjaganya, tapi dia tetap suamiku. Kau mengerti?"


Ruby mengangguk. Dia menutup pintu kamarnya dan membaringkan diri di tempat tidur.


__ADS_2