Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Kenyataan


__ADS_3

Malam hari nya. Setelah selesai makan malam bersama dengan Caroline dan Francesca, Conrad masuk ke kamarnya seperti yang di perintahkan Caroline.


Wanita itu beralasan, jika dia ada pertemuan dengan seseorang. Orang yang hendak berinvestasi terhadap perkebunan anggur miliknya. Caroline berjanji akan pulang di malam hari dan esok hari akan membawa Conrad dan Francesca berjalan-jalan.


Conrad yang merasa kesepian karena tidak berbuat apapun, berjalan mengelilingi rumah. Dia merasa heran, kenapa rumah sebesar ini hanya ada dua orang pelayan. Pelayan wanita yang mengasuh Francesca sekaligus membersihkan seluruh rumah dan pria besar yang selalu menjaga gerbang.


Conrad kembali ke lantai atas dan melihat ke kamar Francesca. Di sana dia mendapati jika pengasuh itu tengah menyisiri rambut Francesca dengan penuh kasih sayang, seraya menyanyikan sebuah lagu yang merdu.


Kegiatan mereka terhenti ketika Conrad masuk. Mereka menatap Conrad dengan penuh selidik. Conrad dapat merasakan aura keraguan dari pancaran mata mereka.


"Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama kalian. Aku merasa kesepian disini. Bisakah aku berteman dengan kalian?" tanya Conrad perlahan.


Lena menatapnya sesaat sebelum akhirnya melanjutkan nyanyian dan menyisir rambut Francesca.


"Bibi Lena, kenapa rumah ini sangat sepi sekali?" Tanya Conrad akhirnya.


Lena terdiam.


"Apakah benar kau anak Nyonya Caroline?" Tanya balik Lena.


"Itulah yang dia katakan."


"Bagaimana bisa kau percaya?"


"Dia menunjukan bukti test DNA."


"Ah... pasti kau bahagia bisa bertemu dengan ibu kandungmu." Pertanyaan pancingan dari Lena. Wanita itu memperhatikan raut wajah Conrad yang berubah sendu.


"Entahlah... aku tidak tahu, haruskah aku bahagia?"


"Kau tidak bahagia? Tapi kenapa?"


"Semua ini begitu tiba-tiba. Disana ada wanita lain, istri ayahku, dia begitu lembut dan menyayangiku. Dia selalu merawatku dan tidak pernah lupa dengan segala keperluanku.Tapi... dia bukan ibu kandungku." Ujar Conrad dengan putus asa.

__ADS_1


Lena dan Francesca saling memandang.


"Kau menyayangi istri ayahmu?" tanya Lena menyelidik.


Conrad mengangguk.


"Disana ada adik kecil ku juga. Aku sekarang bisa merasakan, betapa aku merindukan mereka. Mereka selalu membuatku merasa sebagai bagian keluarga yang utuh. Tapi, mommy Caroline dia..." Conrad kebingungan dnegan kalimat yang harus dia sampaikan.


Dia menahan kalimatnya juga, karena khawatir jika perkataanya disalah artikan oleh Francesca dan Lena. Bagaimanapun juga Francesca adalah anak Caroline. Dan dia merupakan saudara satu rahim dengan Conrad.


"Kenapa kau kemari, kenapa kau harus mengikuti nyonya Caroline. Kembalilah kepada keluargamu. Mereka pasti lebih bisa membahagiakanmu. Kau tidak seharusnya melepaskan seorang ibu yang begitu mencintaimu, meskipun kau bukan darah daging nya." Ucap Lena dengan berapi-api.


Conrad menatap mereka heran, kenapa mereka tidak menginginkan dirinya disini. Sebegitu tidak sukanya kah mereka dengan kehadiran nya di tempat ini?


"Kalian tenang saja. Aku tidak akan merebut perhatian mommy Caroline dari Francesca. Aku juga tidak akan mengambil apapun dari tempat ini."


"Kau salah paham nak, bukan itu maksud kami. Coba kau perhatikan kamar ini, tidakkah kau lihat ada sesuatu yang ganjil?" Ujar Lena.


Conrad memandang sekali lagi sekeliling kamar Francesca. Dari awal dia merasa sesuatu yang aneh, tetapi dia tidak tahu apa itu. Kemudian Conrad menyentuh sprei yang kasar milik Francesca. Dia menatap Lena dengan heran.


"Wanita itu sangat egoise. Perkebunan ini adalah milik Francesca, tapi dia bahkan tidak menghiraukan anak kandungnya dan menggunakan uang hasil perkebunan hanya untuk memenuhi gaya hidup mewahnya." Lanjut Lena dengan berapi-api.


Disana Conrad bisa melihat perbedaan besarnya. Kamar itu sangat indah dan luas. Karpet berbulu menghiasi lantai. Seprei dengan kualitas terbaik. Belum lagi closet yang penuh berisi pakaian mewah dan sepatu juga tas yang berjajar. Sangat berbanding terbalik dengan kamar milik Francesca.


Conrad menatap kasihan pada bocah itu, Francesca. Dia tidak mengerti bagaimana bisa Caroline begitu tega. Nasib Francesca ternyata lebih buruk.


"Apakah Francesca bukan anak kandungnya?" Tanya Conrad heran.


"Mungkin masuk akal jika Gadis kecil ini bukan anak kandung wanita itu. Tapi nyatanya, aku melihat sendiri bagaimana dia melahirkan Francesca." Ujar Lena dengan sendu.


Conrad menjadi sangat bersalah kepada Diana. Wanita itu benar-benar ibu yang baik bagi dirinya. Ketika berbelanja pun, dia lebih mengutamakan kebutuhan nya dan Aaron diatas keperluan dirinya.


Sekarang ibu kandung yang dia pikir adalah wanita luar biasa dan tersakiti, ternyata tega bersikap seperti ini terhadap anak gadisnya. Conrad tiba-tiba merasa jika dia hanya dimanfaatkan.

__ADS_1


Terdengar suara mobil berhenti dan pintu gerbang dibuka. Caroline sudah datang. Mereka buru-buru keluar dari kamar wanita itu. Dari jendepa lantai atas, Lena bisa melihat jika wanita itu kembali mabuk.


"Cepat masuk kamarmu, jangan buka pintu kamar itu bagaimana pun dia menggetuknya." Ujar Lena memperingatkan.


Conrad lalu melihat, bagaimana Francesca masuk kedalam lemari pakaian dengan memeluk bonekanya. Dia bisa melihat raut wajah ketakutan dari anak itu. Conrad bingung, kenapa bisa seperti ini.


Kembali dengan tatapan matanya dia melihat Lena menyuruhnya untuk pergi. Dengan segera Conrad masuk kedalam kamar nya yang bersebelahan dengan kamar Francesca. Dia mengunci pintu rapat-rapat.


*


Caroline masuk kedalam rumah dengan terhuyung. Dia sudah setengah mabuk, setelah menikmati malam yang indah dengan Theodore. Sebenarnya wanita itu masih ingin tinggal dengan Theodore, tapi tampaknya ada hal yang mendesak sehingga pria itu mengantarkan Caroline pulang lebih awal.


Dan Caroline kesal akan hal itu. Dengan terhuyung dia naik ke lantai atas, masuk ke dalam kamarnya. Dia melepaskan sepatu dan melemparkan tas di semabrang arah.


Caroline kemudian menuju ke lemari penyimpanan minunan beralkohol. Menuangkan segelas anggur merah, menyetel musik dan meminumnya perlahan.


Dia kembali menuang anggur di gelasnya yang telah kosong. Menyesap anggur itu sambil menari sendiri mengikuti alunan musik.


Gelas ketiga sudah kosong. Dan tuangan terakhir di gelas keempatnya. Caroline dengan terhuyung menatap dirinya di depan cermin.


"Aku masih cantik dan mempesona. Aku akan mendapatkanmu Andrew! Aku akan mendapatkan semua pria yang aku mau! Aku tidak akan kalah dengan siapapun! Aku juga tidak akan kalah dengan kau!" Tunjuk Caroline pada pantulan dirinya sendiri.


Caroline kemudian menghabiskan gelas terakhirnya dengan sekali tegak.


"Aku harus memperingatkan Francesca, jangan sampai merusak rencanaku."


Wanita itu kemudian melangkah menuju ke kamar Francesca. Dia menutup pintu kamar Francresca, sayangnya tidak terlalu rapat.


"Francesca dimana kau darling. Mommy mau bicara padamu sayang." Caroline membuka selimut di atas tempat tidur dan tidak menemukan gadis kecil itu.


Kemudian dia mencari ke bawah kolong. Kosong. Mencari ke kamar mandi, kosong.


"Sudah aku katakan untuk tetap tinggal di kamar ini. Tetapi dia tidak mendengarkanku. Kau harus diberi pelajaran." Rancau Caroline dengan emosi.

__ADS_1


Caroline hendak keluar dari kamar itu, ketika dia mendengar samar-samar isak tangisan. Caroline kembali dan mencari asal suara itu. Kemudian matanya tertuju pada lemari yang terkunci rapat. Tangan Caroline terulur hendak menyentuh gagang pintu lemari itu.


...πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—...


__ADS_2