Hidupku Bersama CEO

Hidupku Bersama CEO
Mie instant


__ADS_3

Hari jumat siang sepulang kuliah, Conrad dan Ruby kembali bekerja paruh waktu. Ruby hanya akan bekerja dari jam satu sampai dengan enam sore. Dia masih mengingat janji pada ibu untuk menjaga ayah nya. Shift malam ibu Ruby dimulai jam sepuluh malam hingga jam tujuh pagi.


Kebetulan hari itu coffe shope tidak terlalu ramai. Mungkin akhir pekan seperti ini, banyak yang menghabiskan waktu di pusat kota. Kesempatan ini digunakan oleh Conrad untuk berbincang dengan Ruby.


"Malam ini apakah kau ada rencana?"


"Tidak ada. Aku harus menjaga ayah." ujar Ruby.


"Ayahmu sakit?"


"Iya. Dia mengalami stroke semenjak dua tahun yang lalu."


Conrad memandang dengan kasihan.


"Jangan pandang aku seperti itu. Aku sudah terbiasa melakukannya. Setiap hari aku selalu merawat ayah. Itu kewajibanku bukan? Aku adalah anaknya." ujar Ruby lagi dengan sendu.


"Kau anak yang baik, Ruby. Orang tua mu pasti bangga padamu. Seperti hal nya aku bangga memiliki teman dekat seperti mu."


Perkataan Conrad yang tulus membuat wajah Ruby bersemu merah. Akhir-akhir ini Ruby merasa senang berada di dekat Conrad. Pemuda yang tampan, baik hati, penuh perhatian dan sangat menyenangkan mengobrol bersamanya. Sayang sekali Conrad pemuda biasa, dengan ekonimi yang sama dengan dirinya. Meskipun sekolah kedokteran, perlu waktu agak lama untuk bisa sukses.


Ting!


Ruby dan Conrad asyik berbincang tanpa menyadari seorang tamu yang masuk.


"Ruby? Conrad?" Jasmine terkejut melihat kedua temannya tersebut berada di tempat yang sama dengan seragam pegawai.


"Jasmine?" Ruby heran melihat Jasmine.


"Kalian bekerja disini?" tanya Jasmine heran.


"Iya." Jawab Conrad.


"Ah.. tentu menyenangkan ya, rumah kalian sudah berdekatan, kuliah di tempat yang sama, sekarang kerja di tempat yang sama pula." ujar Jasmine dengan ceria namun mata nya sendu.


"Kebetulan yang luar biasa bukan?" ujar Ruby tertawa kecil sambil melirik ke arah Conrad.


"Benar. Mungkin aku juga harus pindah ke daerah ini agar dekat dengan kalian." canda Jasmine.


"Hahhahha.... Kau ada-ada saja Jasmine." ujar Conrad menutupi keterkejutan, karena kata-kata Jasmine yang tulus seakan sindiran buat Conrad.


"Ada apa kau kemari? Khusus untuk membeli kopi?" tanya Ruby heran.


"Itu.. Aku sebenarnya... ingin bertemu dengan kalian." ujar Jasmine terbata.


"Kau sendirian kemari?" tanya Conrad heran. Dia melaongok keluar tetapi tidak melihay ada Robert.


"Iya. Robert sedang pergi."


Sebenarnya Jasmine merasa kesepian. Di rumahnya yang besar dan banyak pelayan, tetapi Jasmine merasa sebatang kara. Teman-teman lainnya mereka memiliki kesibukan sendiri dengan kekasih nya. Robert pergi entah kemana. Sedangkan orang tua Jasmine terlalu sibuk di Rumah sakit.


"Kami akan selesai bekerja sebentar lagi. Apakah kau mau makan malam bersama kami?" tanya Conrad.


"Tentu saja." Jasmine merasa senang sekali dengan ajakan Conrad.


"Kau bisa kan Ruby, tidak akan sampai malam." Conrad menatap Ruby yang tampak termenung.


"Ah iya.. iya." ujar Ruby dengan senyuman manis yang sangat disukai Conrad.

__ADS_1


"Menyenangkan sekali. Aku akan menunggu kalian disini." ujar Jasmine.


Setengah jam kemudian, Ruby dan Conrad selesai bekerja. Mereka masih bingung untuk menentukan kemana akan menghabiskan waktu.


"Aku harus ke mini market. Membeli beberapa kebutuhan pesanan mommy." Ruby baru saja menerima pesan dari handphone nya.


"Ayo kita ke mini market juga Conrad. Mungkin kita bisa membeli sesuatu yang bisa dimakan." ajak Jasmine.


"Baiklah."


Mereka bersama-sama menuju ke mini market. Di sana Ruby membeli beberapa mie instant dan makanan kaleng. Jasmine yang tidak pernah memakan mie instant menjadi tertarik. Dia berdiri di depan rak mie instant dengan bingung.


"Kau ingin membeli sesuatu?" tanya conrad.


"Aku ingin mencoba nya. Tapi aku tidak tahu mana yang aku suka. Apakah aku harus membeli semua nya dan mencoba? Menurutmu mana yang paling enak?" Jamine menatap Conrad meminta pendapat.


Pemuda itu pun bingung. Karena dirinya juga tidak pernah memakan mie instant. Diana melarang nya karena alasan kesehatan. Andrew tidak mengizinkan dengan alasan, mie buatan cheft Paul yang paling enak. Namun, Conrad masih mencoba mengingat mie instant yang pernah dimakan oleh Maria.


Dia mengambil sebuah mie instant yang hanya tinggal di seduh dengan air. Membolak-balikan mie tersebut, sambil menyakinkan pilihannya benar. Hingga Ruby tiba menghampiri mereka.


"Ah... itu mie yang enak. Aku menyukainya. Tapi sedikit mahal, ditambahkan telur dan sosis, enak sekali. Kau suka mie itu juga Conrad?" tanya Ruby yang sudah datang dengan sekeranjang belanjaan.


"Eh, iya... aku rasa begitu." Jawab Conrad.


"Kalau begitu kita beli ini. Dan makan malam bersama, bagaimana?" Jasmine dengan cekatan mengambil beberapa varian rasa dari mie tersebut dan mengambil sosis juga telur.


Dia kemudian membayar di kasir begitu juga semua belanjaan Ruby. Mereka memutuskan untuk meracik mie tersebut di mini market tersebut. Air panas dan microwave tersedia disana. Jasmine yang baru pertama kali meracik, tampak bersemangat mempelajarinya dari Ruby. Conrad sangat senang menatap Ruby yang tampak cekatan.


Setelah selesai. Mereka membawa mie instant itu ke meja depann mini market. Jasmine mengeluarkan ponselnya dan langsung mengambil foto selfie.


"Ini akan menjadi hari bersejarah buatku. Pertamakali makan mie instant bersama kalian. Terimakasih sudah menjadi temanku yang baik." uajr Jasmine dengan bersungguh-sungguh.


"Aki malah iri dengan kalian yang memiliki kebebasan menyentuh makanan yang kalian mau." celoteh Jasmine sambil menyeruput mie nya.


"Wah... ini enak. Sangat gurih, tapi sedikit... uhuk...uhuk... pedas." Jasmine terbatuk-batuk.


Conrad dengan cekatan, membuka sebotol air mineral dan memberikannya pada Jasmine. Jasmine menegaknya hingga setengah. Dan dia merasa lebih baik. Sedangkan Ruby yang melihat perhatian Conrad, merasa tidak suka.


"Thanks Conrad." ujar Jasmine.


"Kenapa kau tidak makan mie buatan koki rumahmu, pasti enak sekali, lihat dirimu sampai terbatuk makan mie ini." cicit Ruby.


"Aku sudah bosan."


Ruby menatap Jasmine iri. Bagaimana dia bisa bilang bosan dengan masakan orang kaya, yang pastinya memakai bahan terbaik. Sedangkan dirinya, harus menabung dan mengharapkan traktiran untuk makan yang enak.


"Apa kau mau menginap di rumahku lain waktu, Ruby?" tanya Jasmine tiba-tiba.


Ruby kaget dengan penawaran itu. Tentu saja itu adalah Big Yes bagi Ruby. Jasmine anak orang kaya, Rumahnya pasti mewah dengan makanan kelas atas. Menginap di rumah Jasmine itu artinya dia bisa merasakan bagaimana Hidup sebagai orang kaya. Dan... siapa tahu, isa lebih dekat dengan Robert.


"Kau mengajakku?"


Jasmine mengangguk sambil menyeruput mie nya.


"Tentu saja. Akan aku coba mencari waktu yang pas." ujar Ruby dengan tenang.


"Ahhh.... menyenangkan sekali." Jasmine merasa senang.

__ADS_1


Conrad memperhatikan kedamua wanita dihadapannya. Si kaya dan si miskin. Yang selalu ceria dan yang pemalu. Yang tidak pernah mengalami beban dan yang selalu menderita. Mereka berbeda namun bisa bersahabat.


"Aku ingin mencoba satu lagi. Apakah ada yang mau berbagi dengan ku?" tanya Jasmine.


Ruby menggeleng.


"Sudah. Cukup. Aku sudah sangat kenyang."


Jamine kemudian memandang Conrad. Kedua tangan dia satukan didepan dada. Raut wajahnya sangat menggemaskan dan mengharap bantuan Conrad. Conrad tertawa dengan sikap Jasmine yang tampak lucu. Dia mengiyakan.


Dengan riang Jasmine kembali menyeduh mie instant. Memasuka dua buah sosis dan dua buah telur. Kemudian dia memasukan mie tersebut kedalam microwafe. Sambil menunggu selama tiga menit. Jasmine menatap kearah luar.


Dia melihat bagaimana Conrad dan Ruby berbincang. Mereka tampak akrab sekali. Cara Conrad memandang Ruby sangat lembut. Saat itu lah, pertama kalinya Jasmine merasa dadanya sakit. Cara pria itu menatap dirinya sangat berbeda dengan menatap Ruby.


Jasmine hampir saja terlupa dengan mie instant yang dia letakan dalam microwave. microwave itu sudah berhenti selama beberapa waktu, hingga pelayan mini market menegurnya.


"Nona, mie anda sudah selesai." tegur pelayan Mini market.


"Oh.. ah.. iya, terimakasih."


Dengan hati-hati, Jasmine membawa mie itu keluar. Dalam hati dia mengeluh karena sudah melamun, mie sudah mekar, pasti terlalu matang. Kuahnya juga sudah tidak terlau panas lagi. Jasmine dengan setengah kesal memandangi mie instant nya yang kematangan. Sungguh memalukan harus menyajikan mie seperti ini di depan Conrad. Dengan pelan, Jasmine menghampiri meja teman-temannya.


Karena tidak fokus, jasmine tersandung ketika tinggal satu langkah mencapai meja. Di terjatuh dengan lutut menghantam lantai dan dahinya membentur meja. Mie yang di pegang terlempar. Sambil memegang dahi nya yang sakit dan terasa pusing, Jasmine mendengar teriakan.


Dengan masih pusing akibat benturan yang keras di meja kayu itu, dia melihat Ruby berteriak dan berdiri dengan Conrad yang panik. Ternyata mie yang di pegang oleh Jasmine terlempar ke pangkuan Ruby. Pakaian Ruby tampak kotor dan Conrad membantu membersihkan.


Tidak ada yang perduli padanya. Kening dan lutut Jasmine terasa perih.


"Panas... Panaassss... Sakit Conraddd.." rengek Ruby dengan panik.


"Panas ya?" Conrad mengambil tisyu dan membantu Ruby membersihkan jeans nya.


"Aow, kaki ku sakit." Ruby merengek.


"Terkena air panas?" tahya Conrad.


"Tidak kayanya aku tersandung kursi karena terkejut tadi. Hikkk... aku mau pulang. Aow.. sakit." Ruby hendak melangkah, tapi tertahan karena merasa kakinya sakit.


"Biar aku antar kau pulang. Naiklah ke punggungku." ujar Conrad sambil jogkok di hadapan Ruby.


"Tapi... aku berat."


"Tenang saja. Ayo aku antar pulang."


Ruby naik ke atas punggung Conrad. Pemuda itu kemudian membopong Ruby.


"Lihat aku kuatkan." ujarnya melucu. Ruby tertawa manja.


Conrad menoleh ke arah meja hendak mengambil kantong belanjaan Ruby. Saat itu dia melihat Jasmine yang sudah dibantu berdiri oleh pelayan toko. Jasmine sudah duduk di kursi sambil memegang dahi nya.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Conrad.


Jasmine menggeleng.


"Baiklah, aku akan mengantarkan Ruby ke rumahnya dulu."


Jasmine mengangguk.

__ADS_1


"Ruby. Maaf ya, aku tidak sengaja." ujar Jasmine tulus.


"Iya tidak apa-apa. " ujar Ruby sambil mengalungkan tangannya ke leher Conrad dan menyandarkan kepalanya di punggung pria itu.


__ADS_2